📅 24 May 2026⏱️ 9 menit baca📝 1,608 kata

Introduction

Last and First Men adalah sebuah film eksperimental yang dirilis pada tahun 2020, disutradarai oleh almarhum Jóhann Jóhannsson. Film ini lebih dari sekadar narasi konvensional; ia adalah meditasi visual dan auditif tentang waktu, kemanusiaan, dan kemungkinan kehancuran. Menggabungkan elemen-elemen fiksi ilmiah, dokumenter, dan seni instalasi, film ini menciptakan pengalaman yang unik dan membekas bagi penonton. Dengan narasi yang dibacakan oleh Tilda Swinton, film ini mengajak kita untuk merenungkan masa depan umat manusia jutaan tahun dari sekarang, dan bagaimana kemanusiaan itu sendiri mungkin telah berubah. Film ini bukan untuk semua orang; pendekatannya yang abstrak dan tempo yang lambat membutuhkan kesabaran dan keterbukaan pikiran. Namun, bagi mereka yang bersedia menyerahkan diri pada pengalamannya, Last and First Men menawarkan perjalanan yang mendalam dan tak terlupakan. Film ini menantang gagasan kita tentang penceritaan dan kekuatan gambar dan suara dalam menyampaikan ide-ide yang kompleks dan mendalam. Film ini, yang digambarkan sebagai kombinasi unik dari fiksi ilmiah dan dokumenter, menampilkan serangkaian monumen beton di bekas Yugoslavia, menciptakan visual yang mencolok dan menghantui. Monumen-monumen ini berfungsi sebagai latar belakang untuk visualisasi masa depan umat manusia yang jauh, yang diceritakan melalui narasi puitis. Last and First Men bukan hanya film; itu adalah pengalaman audio-visual yang bertujuan untuk membangkitkan rasa kagum dan renungan tentang siklus waktu dan keberadaan. Bagi para penonton yang mencari sesuatu di luar hiburan arus utama, film ini memberikan pendekatan yang unik dan menantang untuk sinema.

Plot Synopsis

Last and First Men tidak mengikuti struktur naratif tradisional. Sebaliknya, ia menyajikan serangkaian adegan dan visual yang abstrak dan simbolis, yang dihubungkan oleh narasi suara Tilda Swinton. Narasi tersebut berbicara dari sudut pandang anggota umat manusia masa depan—juta tahun dari sekarang—yang mengirimkan pesan kepada kita di masa lalu. Manusia masa depan ini, yang sangat berbeda dari kita secara fisik dan mental, menghadapi kepunahan akibat kondisi yang memburuk di tata surya. Melalui monumen-monumen beton yang ditampilkan dalam film, kita melihat sisa-sisa peradaban bumi, dan kita mendengar tentang perjuangan dan evolusi umat manusia melalui berbagai bentuk dan era. Film ini mengeksplorasi tema-tema seperti siklus kelahiran dan kematian, evolusi kesadaran, dan potensi kehancuran diri. Plotnya berfokus pada perjuangan manusia masa depan untuk bertahan hidup dan menyampaikan pesan kepada umat manusia di masa lalu dengan harapan memperingatkan atau bahkan mengubah takdir. Last and First Men tidak memberikan solusi yang mudah atau kesimpulan yang memuaskan. Sebaliknya, ia meninggalkan kita dengan pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang tempat kita di alam semesta dan tanggung jawab kita terhadap masa depan. Penting untuk dicatat bahwa film ini sangat bergantung pada visual dan suara untuk menyampaikan ceritanya. Dialognya jarang, dan aksinya minimal. Penekanannya adalah pada menciptakan suasana dan membangkitkan emosi melalui lanskap dan musik yang menghantui. Film ini bukan narasi langkah demi langkah, tetapi lebih merupakan puisi visual yang mengundang penonton untuk menafsirkan dan merenungkan maknanya sendiri.

Cast & Characters

Film ini didominasi oleh visual dan musik, dengan hanya satu anggota pemeran utama: * Tilda Swinton sebagai Narrator (suara): Suara Swinton adalah penting dalam menghidupkan perspektif manusia masa depan. Pengucapannya yang tenang dan berwibawa memberikan bobot dan urgensi pada pesan yang disampaikan. Meskipun dia tidak muncul di layar, suaranya adalah kehadiran yang konstan, yang membimbing pemirsa melalui panorama waktu dan ruang film. Kehadiran Swinton dalam film, meskipun hanya melalui suara, sangat penting dalam menyampaikan esensi film. Kemampuannya untuk menyampaikan emosi dan nada yang kompleks sangat meningkatkan pengalaman bagi penonton. Faktanya bahwa hanya ada satu anggota pemeran menekankan tema isolasi dan detasemen yang meresapi film. Film ini bukanlah tentang karakter individual, tetapi tentang keadaan umat manusia secara keseluruhan. Meskipun tidak ada karakter tradisional, monumen-monumen beton di bekas Yugoslavia dapat dilihat sebagai karakter itu sendiri. Mereka memiliki kehadiran fisik yang kuat dan mewakili sisa-sisa peradaban masa lalu dan masa depan. Arsitektur itu sendiri menceritakan sebuah kisah, membangkitkan rasa kagum, misteri, dan kehancuran.

Director & Production

Last and First Men adalah karya terakhir dari komposer dan sutradara Islandia Jóhann Jóhannsson, yang meninggal dunia tak lama setelah menyelesaikan film tersebut. Ini adalah debut penyutradaraannya dan mewakili perpaduan unik dari bakat musik dan visi visualnya. Jóhannsson dikenal karena skor filmnya yang atmosfer dan menghantui, yang telah ditampilkan dalam film-film seperti *Sicario*, *Arrival*, dan *Prisoners*. Film ini didasarkan pada novel berjudul sama karya penulis fiksi ilmiah Inggris Olaf Stapledon, yang diterbitkan pada tahun 1930. Buku ini adalah eksplorasi spekulatif dari sejarah dan evolusi umat manusia selama dua miliar tahun ke depan. Jóhannsson dan José Enrique Macián mengadaptasi buku tersebut menjadi skenario film yang menekankan tema waktu, memori, dan kehancuran. Produksi film ini melibatkan pengambilan gambar di berbagai lokasi di bekas Yugoslavia, khususnya berfokus pada monumen-monumen beton yang dibangun selama era komunis. Monumen-monumen ini dipilih dengan cermat karena arsitekturnya yang mencolok dan rasa misterius yang mereka bangkitkan. Jóhannsson mengubahnya menjadi representasi lingkungan tempat tinggal umat manusia masa depan. Musik, tentu saja, memainkan peran penting dalam film. Skor Jóhannsson adalah perpaduan dari suara-suara orkestra, elektronik, dan ambien, yang menciptakan lanskap suara yang menghantui dan atmosfer. Musik ini tidak hanya mengiringi visual, tetapi juga meningkatkan dampak emosional dan tematik film.

Critical Reception & Ratings

Last and First Men telah menerima tinjauan yang beragam dari para kritikus. Sementara beberapa memuji visi artistik, ambisi, dan dampak visualnya, yang lain mengkritik tempo yang lambat, kurangnya narasi tradisional, dan aksesibilitasnya yang terbatas. * Di TMDB, film ini memiliki peringkat 6.3/10 berdasarkan 136 suara. * Rotten Tomatoes melaporkan persentase persetujuan sebesar 78%, dengan konsensus yang menyatakan bahwa film tersebut "merupakan pengalaman sinematik yang provokatif dan visual yang menakjubkan yang kemungkinan besar akan menghantui [pemirsa] lama setelah kredit bergulir." Beberapa kritikus mencatat bahwa film ini paling efektif ditonton di bioskop dengan sistem suara yang bagus, di mana efek visual dan sonik dapat diapresiasi sepenuhnya. Terlepas dari perbedaan pendapat kritis, secara umum diakui bahwa Last and First Men adalah pengalaman sinematik yang unik dan menantang yang mendorong penonton untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan besar tentang keberadaan dan takdir manusia. Beberapa kutipan penting termasuk:
"Sebuah simfoni visual yang menghantui dan atmosfer yang merenungkan sementara umat manusia di masa depan yang sangat jauh, sangat berbeda dari kita, yang menghadapi pengecualian mereka dari tata surya kita, memohon umat manusia saat ini dengan harapan memperingatkan atau bahkan mengubah masa depan." — The Hollywood Reporter
"Karya terakhir almarhum Jóhann Jóhannsson adalah kombinasi yang tak terlupakan dari fiksi ilmiah surealis dan tontonan yang aneh." — Variety

Box Office & Release

Karena sifat eksperimentalnya, *Last and First Men* tidak mendapatkan rilis box office yang luas. Sebaliknya, film ini terutama diputar di festival film, galeri seni, dan bioskop khusus. Film ini dirilis pada **25 Februari 2020**. Film ini tersedia untuk streaming dan sewa di berbagai platform digital. Informasi box office spesifik untuk film tersebut langka, namun daya tariknya terletak pada pengalamannya yang unik dan artistik daripada kesuksesan komersial. Ini menargetkan audiens khusus yang menghargai sinema yang menantang dan bukan konvensional. Karena film ini dirilis sebelum kematian Jóhannsson yang tragis, film ini mendapat perhatian tambahan sebagai karya terakhir dari artis visioner. Hal ini mungkin berkontribusi pada daya tariknya di kalangan penggemar musik dan penggemar film eksperimental. Kemampuan streaming film tersebut membuatnya dapat diakses oleh audiens yang lebih luas daripada yang mungkin didapatnya di bioskop.

Themes & Analysis

Last and First Men menyelidiki sejumlah tema mendalam, termasuk: * **Waktu dan Keabadian:** Film ini mengeksplorasi sifat waktu yang berubah-ubah dan gagasan bahwa umat manusia akan berubah dan berkembang jutaan tahun dari sekarang. * **Evolusi dan Hancurnya:** Film ini menggambarkan evolusi umat manusia yang terus-menerus, serta potensi kehancuran yang selalu membayangi. * **Memori dan Warisan:** Narasi dari manusia masa depan menekankan pentingnya memori dan warisan, dan bagaimana ini membentuk pemahaman kita tentang diri kita sendiri dan tempat kita di alam semesta. * **Isolasi dan Hubungan:** Film ini membangkitkan rasa isolasi dan detasemen, tetapi juga menyarankan bahwa bahkan dalam menghadapi kepunahan, ada kemungkinan untuk hubungan dan makna. * **Alam dan Teknologi** Monumen monumental beton yang membusuk sebagai simbol alam vs. peradaban manusia. Signifikansi budaya film terletak pada tantangannya terhadap konvensi sinematik tradisional. Ini adalah karya seni yang bertujuan untuk memprovokasi dan menginspirasi, daripada sekadar menghibur. Film ini menyuarakan pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan kita dan warisan yang akan kita tinggalkan. Ini meminta kita untuk mempertimbangkan dampak kita terhadap planet dan masa depan umat manusia. Selain itu, narasi manusia masa depan menjadi cerminan tentang momen-momen masa lalu kemanusiaan yang kita kenal.

Should You Watch It?

Last and First Men direkomendasikan untuk pemirsa yang menghargai sinema eksperimental, film seni, dan film yang menantang secara intelektual. Ini bukan film untuk ditonton jika Anda mencari alur cerita yang cepat atau hiburan yang mudah. Namun, jika Anda bersedia meluangkan waktu untuk terlibat dengan visual yang menghantui film, audio yang atmosfer, dan tema-tema mendalam, Anda mungkin akan menemukan pengalaman yang kuat dan bermanfaat. Film ini sangat cocok untuk: * Penggemar karya Jóhann Jóhannsson. * Penggemar novel Olaf Stapledon. * Siapa pun yang tertarik dengan pertanyaan eksistensial dan spekulasi ilmiah. * Pemirsa yang mencari pengalaman film yang unik dan tak terlupakan. Namun sebaliknya, film ini MUNGKIN TIDAK cocok untuk: * Pemirsa yang lebih menyukai film-film komersial dan menghibur. * Mereka yang kesulitan dengan tempo yang lambat dan narasi abstrak. * Mereka yang mencari alur cerita yang jelas atau resolusi tertentu.

Conclusion

*Last and First Men* adalah film yang menghantui dan menggugah pikiran yang tetap bersama Anda lama setelah kredit bergulir. Ini adalah bukti bakat visioner Jóhann Jóhannsson, dan eksplorasi yang kuat dari tema-tema waktu, kemanusiaan, dan takdir. Sementara itu mungkin bukan untuk semua orang, mereka yang bersedia untuk terjun ke dalam pengalamannya, akan menemukan lapisan makna yang kaya dan renungan yang dalam.

References

  1. TMDB — Last and First Men Movie Page
  2. Rotten Tomatoes — Last and First Men Reviews
  3. IMDb — Last and First Men Movie Page
  4. The Hollywood Reporter — Last and First Men Review
  5. Variety — Last and First Men Review
  6. IndieWire — Last and First Men Review