Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (November 2024)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
|
Kecurangan akademik, kebohongan akademik, kesalahan akademik dan integritas akademik adalah konsep-konsep terkait yang merujuk kepada berbagai tindakan di kalangan murid yang berlawanan dengan aturan sekolah, universitas dan lembaga pendidikan lain. Definisi kecurangan akademik biasanya dijelaskan dalam kebijakan-kebijakan institusional.[1][2][3]
Wilayah
suntingIndonesia
suntingBentuk-bentuk kecurangan akademik di wilayah yang kini disebut Indonesia, dari masa awal peradaban hingga masa kini
| Periode Waktu | Latar Sejarah | Bentuk Kecurangan Akademik | Cara Penyalahgunaan Sistem Administrasi | Motif atau Penyebab | Dampak terhadap Mutu Akademik | Sumber atau Rujukan |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Masa Awal Peradaban (sebelum abad ke-7) | Masyarakat masih bersifat tradisional dengan pendidikan informal melalui guru dan tokoh adat. Sistem administrasi pendidikan masih belum terstruktur.[4] | - Pelintiran isi ajaran atau manipulasi cerita oleh guru atau tetua. - Penggunaan ilmu secara eksklusif dan tertutup. - Penyembunyian ilmu untuk mempertahankan kekuasaan. | - Sistem guru murid yang berdasarkan kepercayaan, tanpa pengawasan. - Keterbatasan administratif sehingga tidak tercatat resmi. - Manipulasi informasi oleh elite lokal. | - Motif mempertahankan kekuasaan dan status sosial. - Kurangnya pengawasan administrasi. - Ketidakmerataan akses ilmu. | Mutu pendidikan terbatas pada komunitas tertutup, perkembangan ilmu relatif lambat dan terfragmentasi. | Hipotesis berdasar konteks historis |
| Masa Kerajaan Klasik (abad ke-7 s.d. abad ke-15) | Kerajaan Hindu-Buddha dan awal Islam di Nusantara mulai membangun sistem pendidikan pesantren dan istana. Politik dan agama kuat memengaruhi pendidikan. | - Penyalahgunaan nilai ajaran agama untuk menutupi kekurangan ilmiah. - Nepotisme dalam pengangkatan guru atau ustaz. - Menyontek secara verbal dalam ujian lisan. | - Dokumen ilmu dan ajaran dikelola secara tertutup oleh istana/pesantren. - Pencatatan nilai lisan tidak resmi dan rentan manipulasi. - Penyalahgunaan jabatan ulama/guru. | - Kepentingan mempertahankan legitimasi agama dan politik. - Administrasi yang tertutup dan otoriter. - Kurangnya standar ilmiah terpadu.[5] | Pendidikan bersifat eksklusif, bias kepentingan politik-agama, sehingga kualitas ilmu tidak uniform dan terkekang. | Prasasti, naskah kuno, hipotesis berdasar konteks historis |
| Masa Penjajahan Belanda (abad ke-16 s.d. awal abad ke-20) | Sistem pendidikan formal mulai dikenalkan Belanda, namun berbeda untuk kalangan pribumi dan Eropa. Administrasi birokrasi diperkenalkan. | - Pemalsuan dokumen dan nilai ujian oleh siswa dan oknum guru. - Penjualan ijazah palsu. - Mencontek terorganisir pada ujian sekolah. | - Penyalahgunaan dokumen administratif oleh pegawai pendidikan. - Korupsi dan kolusi dalam penerbitan ijazah. - Manipulasi nilai oleh guru tanpa pengawasan ketat. | - Motivasi ekonomi (suap, jual beli ijazah). - Tekanan sosial memperoleh status pendidikan. - Sistem administrasi yang belum transparan. | Mutu pendidikan menurun karena praktik kecurangan meluas dan menjadi sistemik. Kepercayaan terhadap sistem pendidikan menurun. | Arsip kolonial, catatan pemerintahan, hipotesis berdasar konteks historis |
| Masa Kemerdekaan Awal (1945–1980an) | Sistem pendidikan nasional didirikan dengan berbagai tantangan infrastruktur dan pemerataan sumber daya manusia. Kebijakan pendidikan belum stabil.[6] | - Mencontek saat ujian nasional dan sekolah. - Pemalsuan dokumen kelulusan. - Kolusi dan nepotisme dalam seleksi siswa dan guru. | - Kurangnya pengawasan administrasi di sekolah dan lembaga pendidikan. - Sistem nilai dan pelaporan yang manual dan mudah dimanipulasi. - Praktik suap dalam penempatan guru. | - Kebutuhan cepat masuk pendidikan formal. - Sistem administratif yang masih berkembang dan belum efektif. - Ketimpangan sosial dan ekonomi. | Kualitas pendidikan menurun pada beberapa jenjang, perilaku kecurangan mulai muncul secara luas dan sering dilakukan.[7] | Catatan pemerintahan, laporan akademik[8] |
| Era Modern (1990an–sekarang) | Penerapan teknologi informasi mulai diterapkan, jumlah institusi pendidikan meningkat tajam, serta persaingan akademik sangat ketat. | - Plagiarisme dan menyontek daring. - Pemalsuan ijazah dan sertifikat. - Kolaborasi curang saat ujian. - Pemalsuan data akademik pada sistem alur daring.[9] | - Penyalahgunaan sistem informasi pendidikan secara daring. - Perjudian nilai dan kerja sama curang dengan staf administrasi. - Penjualan jasa pembuatan tugas dan skripsi.[10] | - Tekanan persaingan, hasil akademik sebagai penentu karier. - Kemudahan teknologi mendukung kecurangan. - Lemahnya pengawasan dan etika. | Mengikis integritas akademik dan merusak reputasi lembaga pendidikan, menurunkan kualitas lulusan dan pengembangan ilmu. | Penelitian akademik, laporan media, studi kasus, arsip digital |
Referensi
sunting- ^ Bretag, T., Mahmud, S., Wallace, M., Walker, R., James, C., Green, M., . . . Partridge, L. (2011). Core elements of exemplary academic integrity policy in Australian higher education. International Journal for Educational Integrity, 7(2), 3-12.
- ^ Bretag, T., Mahmud, S., East, J., Green, M., & James, C. (2011). Academic integrity standards: A preliminary analysis of the Academic integrity policies at Australian Universities. Paper presented at the Proceedings of AuQF 2011 Demonstrating Quality, Melbourne.
- ^ Eaton, Sarah Elaine (2017-01-17). "Comparative Analysis of Institutional Policy Definitions of Plagiarism: A Pan-Canadian University Study". Interchange (dalam bahasa Inggris). 48 (3): 271–281. doi:10.1007/s10780-017-9300-7. hdl:1880/106472. ISSN 0826-4805.
- ^ "Peran budaya integritas akademik" (PDF). unnes.
- ^ Humas. "Mencari Makna di Balik Kecurangan Akademik: Peran Spiritualitas dalam Pendidikan – Kanal Pengetahuan Psikologi" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-20.
- ^ "Kecurangan Akademik Pada Mata Kuliah Kebijakan Publik". SELAMI IPS.
- ^ Srirejeki, Kiky (2025-04-09). "Riset: Lemahnya budaya akademis mendorong maraknya kecurangan di kalangan mahasiswa". The Conversation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-20.
- ^ "PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PRAKTIK". Proceeding Unindra.
- ^ "PERBEDAAN KECURANGAN AKADEMIK DITINJAU DARI JENIS KELAMIN DAN BIDANG ILMU PADA MAHASISWA" (PDF). PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA. ;
- ^ "Perilaku Kecurangan Akademik Mahasiswa Akuntansi". Universitas Tidar.
Pranala luar
sunting- Max A. Eckstein, Combating academic fraud: Toward a culture of integrity, International Institute for Educational Planning, UNESCO, 2003 (101 pages)
- The great university cheating scandal, Maclean's magazine, February 9, 2007
- Richard P. Phelps, Dismissive Reviews: Academe's Memory Hole, Academic Questions, May 30, 2012.