Kecurangan akademik, kebohongan akademik, kesalahan akademik dan integritas akademik adalah konsep-konsep terkait yang merujuk kepada berbagai tindakan di kalangan murid yang berlawanan dengan aturan sekolah, universitas dan lembaga pendidikan lain. Definisi kecurangan akademik biasanya dijelaskan dalam kebijakan-kebijakan institusional.[1][2][3]

Wilayah

sunting

Indonesia

sunting

Bentuk-bentuk kecurangan akademik di wilayah yang kini disebut Indonesia, dari masa awal peradaban hingga masa kini

Periode Waktu Latar Sejarah Bentuk Kecurangan Akademik Cara Penyalahgunaan Sistem Administrasi Motif atau Penyebab Dampak terhadap Mutu Akademik Sumber atau Rujukan
Masa Awal Peradaban (sebelum abad ke-7) Masyarakat masih bersifat tradisional dengan pendidikan informal melalui guru dan tokoh adat. Sistem administrasi pendidikan masih belum terstruktur.[4] - Pelintiran isi ajaran atau manipulasi cerita oleh guru atau tetua. - Penggunaan ilmu secara eksklusif dan tertutup. - Penyembunyian ilmu untuk mempertahankan kekuasaan. - Sistem guru murid yang berdasarkan kepercayaan, tanpa pengawasan. - Keterbatasan administratif sehingga tidak tercatat resmi. - Manipulasi informasi oleh elite lokal. - Motif mempertahankan kekuasaan dan status sosial. - Kurangnya pengawasan administrasi. - Ketidakmerataan akses ilmu. Mutu pendidikan terbatas pada komunitas tertutup, perkembangan ilmu relatif lambat dan terfragmentasi. Hipotesis berdasar konteks historis
Masa Kerajaan Klasik (abad ke-7 s.d. abad ke-15) Kerajaan Hindu-Buddha dan awal Islam di Nusantara mulai membangun sistem pendidikan pesantren dan istana. Politik dan agama kuat memengaruhi pendidikan. - Penyalahgunaan nilai ajaran agama untuk menutupi kekurangan ilmiah. - Nepotisme dalam pengangkatan guru atau ustaz. - Menyontek secara verbal dalam ujian lisan. - Dokumen ilmu dan ajaran dikelola secara tertutup oleh istana/pesantren. - Pencatatan nilai lisan tidak resmi dan rentan manipulasi. - Penyalahgunaan jabatan ulama/guru. - Kepentingan mempertahankan legitimasi agama dan politik. - Administrasi yang tertutup dan otoriter. - Kurangnya standar ilmiah terpadu.[5] Pendidikan bersifat eksklusif, bias kepentingan politik-agama, sehingga kualitas ilmu tidak uniform dan terkekang. Prasasti, naskah kuno, hipotesis berdasar konteks historis
Masa Penjajahan Belanda (abad ke-16 s.d. awal abad ke-20) Sistem pendidikan formal mulai dikenalkan Belanda, namun berbeda untuk kalangan pribumi dan Eropa. Administrasi birokrasi diperkenalkan. - Pemalsuan dokumen dan nilai ujian oleh siswa dan oknum guru. - Penjualan ijazah palsu. - Mencontek terorganisir pada ujian sekolah. - Penyalahgunaan dokumen administratif oleh pegawai pendidikan. - Korupsi dan kolusi dalam penerbitan ijazah. - Manipulasi nilai oleh guru tanpa pengawasan ketat. - Motivasi ekonomi (suap, jual beli ijazah). - Tekanan sosial memperoleh status pendidikan. - Sistem administrasi yang belum transparan. Mutu pendidikan menurun karena praktik kecurangan meluas dan menjadi sistemik. Kepercayaan terhadap sistem pendidikan menurun. Arsip kolonial, catatan pemerintahan, hipotesis berdasar konteks historis
Masa Kemerdekaan Awal (1945–1980an) Sistem pendidikan nasional didirikan dengan berbagai tantangan infrastruktur dan pemerataan sumber daya manusia. Kebijakan pendidikan belum stabil.[6] - Mencontek saat ujian nasional dan sekolah. - Pemalsuan dokumen kelulusan. - Kolusi dan nepotisme dalam seleksi siswa dan guru. - Kurangnya pengawasan administrasi di sekolah dan lembaga pendidikan. - Sistem nilai dan pelaporan yang manual dan mudah dimanipulasi. - Praktik suap dalam penempatan guru. - Kebutuhan cepat masuk pendidikan formal. - Sistem administratif yang masih berkembang dan belum efektif. - Ketimpangan sosial dan ekonomi. Kualitas pendidikan menurun pada beberapa jenjang, perilaku kecurangan mulai muncul secara luas dan sering dilakukan.[7] Catatan pemerintahan, laporan akademik[8]
Era Modern (1990an–sekarang) Penerapan teknologi informasi mulai diterapkan, jumlah institusi pendidikan meningkat tajam, serta persaingan akademik sangat ketat. - Plagiarisme dan menyontek daring. - Pemalsuan ijazah dan sertifikat. - Kolaborasi curang saat ujian. - Pemalsuan data akademik pada sistem alur daring.[9] - Penyalahgunaan sistem informasi pendidikan secara daring. - Perjudian nilai dan kerja sama curang dengan staf administrasi. - Penjualan jasa pembuatan tugas dan skripsi.[10] - Tekanan persaingan, hasil akademik sebagai penentu karier. - Kemudahan teknologi mendukung kecurangan. - Lemahnya pengawasan dan etika. Mengikis integritas akademik dan merusak reputasi lembaga pendidikan, menurunkan kualitas lulusan dan pengembangan ilmu. Penelitian akademik, laporan media, studi kasus, arsip digital

Referensi

sunting
  1. ^ Bretag, T., Mahmud, S., Wallace, M., Walker, R., James, C., Green, M., . . . Partridge, L. (2011). Core elements of exemplary academic integrity policy in Australian higher education. International Journal for Educational Integrity, 7(2), 3-12.
  2. ^ Bretag, T., Mahmud, S., East, J., Green, M., & James, C. (2011). Academic integrity standards: A preliminary analysis of the Academic integrity policies at Australian Universities. Paper presented at the Proceedings of AuQF 2011 Demonstrating Quality, Melbourne.
  3. ^ Eaton, Sarah Elaine (2017-01-17). "Comparative Analysis of Institutional Policy Definitions of Plagiarism: A Pan-Canadian University Study". Interchange (dalam bahasa Inggris). 48 (3): 271–281. doi:10.1007/s10780-017-9300-7. hdl:1880/106472. ISSN 0826-4805.
  4. ^ "Peran budaya integritas akademik" (PDF). unnes.
  5. ^ Humas. "Mencari Makna di Balik Kecurangan Akademik: Peran Spiritualitas dalam Pendidikan – Kanal Pengetahuan Psikologi" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-20.
  6. ^ "Kecurangan Akademik Pada Mata Kuliah Kebijakan Publik". SELAMI IPS.
  7. ^ Srirejeki, Kiky (2025-04-09). "Riset: Lemahnya budaya akademis mendorong maraknya kecurangan di kalangan mahasiswa". The Conversation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-20.
  8. ^ "PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PRAKTIK". Proceeding Unindra.
  9. ^ "PERBEDAAN KECURANGAN AKADEMIK DITINJAU DARI JENIS KELAMIN DAN BIDANG ILMU PADA MAHASISWA" (PDF). PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA. ;
  10. ^ "Perilaku Kecurangan Akademik Mahasiswa Akuntansi". Universitas Tidar.

Pranala luar

sunting

Templat:Disinformation

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Integritas akademik

University Grants Commission (India) memberlakukan "UGC (Promotion of Academic Integrity and Prevention Plagiarism in Higher Educational Institutions) Act

Shen Yinhao

to get tough on academic integrity - Science & Tech". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-04-30. 李松. "Academic misconduct standards

Tujuh karunia Roh Kudus

with familiarity. Macfarlane, Bruce (2008). Researching with Integrity. The Ethics of Academic Enquiry. London: Routledge. hlm. 36. ISBN 978-0-203-88696-0

Rusia

Ukraine as Russian Troops Keep Watch." "Backing Ukraine's territorial integrity, UN Assembly declares Crimea referendum invalid". UN News Centre. 27 Maret

Daftar negara berdaulat

Dinah (2009). "The Conflict between Self-Determination and Territorial Integrity: the South Ossetian Paradigm". Geopolitics Vs. Global Governance: Reinterpreting

Filipina

Diakses tanggal 15 Agustus, 2024. The Philippines Corruption Report. GAN Integrity (Report). May 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 12 Agustus 2022. Diakses

Edward Said

"Standing up for Academic Integrity on Campus". Dalam Pollack, Eunice G. (ed.). Antisemitism on the Campus: Past and Present. Boston: Academic Studies Press

Kitosan

Chitosan, the deacetylated form of chitin, is necessary for cell wall integrity in Cryptococcus neoformans". Eukaryotic Cell 6 (5):855-867. Yunizal dkk