Oratorio Paskah
BWV 249 ยท 249.3โ€“5
Oratorio oleh J. S. Bach
Halaman judul naskah asli tahun 1738; judul dan keterangan acara ditulis dalam bahasa Latin di tengah, dengan daftar instrumen pemusik dalam satu kolom di bagian kanan
Halaman judul naskah asli tahun 1738
dengan judul dalam bahasa Latin
Judul asliOster-Oratorium (Kommt, eilet und laufet)
Dalam rangkaPaskah
BerdasarkanKantata Penggembala, BWV 249a (BWV 249.1)
Ditampilkan01 April 1725ย (1725-04-01)ย โ€“ Leipzig (kantata)
6 April 1738 (oratorio)
Gerakan11
VokalSolois dan koor SATB
Instrumental

Oratorio Paskah (Latin: Oratorium Festo Paschali; Jerman: Oster-Oratorium),[1] BWVย 249,[a] adalah sebuah oratorio karya Johann Sebastian Bach.[2] Ia menulis salah satu naskah asli di Leipzig pada tahun 1738 dengan judul ini, menyesuaikan dengan Oratorio Natal dan Oratorio Kenaikan karyanya. Bach telah menggubah karya tersebut pada tahun 1725, ketika ia menggunakan sebagian besar musiknya untuk dua komposisi: Kantata Penggembala, BWV 249a (BWV 249.1) sebagai ucapan selamat, dan sebuah kantata gereja untuk Minggu Paskah, Kommt, gehet und eilet ('Datanglah, beranjaklah, dan bergegaslah') BWV 249.3, yang kemudian menjadi oratorio tersebut. Kedua karya tahun 1725 tersebut, yang dipentaskan perdana dalam selang beberapa minggu, merupakan drama musikal yang melibatkan beberapa tokoh: dalam kantata sekuler terdapat dua gembala laki-laki dan dua gembala perempuan, sedangkan dalam kantata Paskah terdapat empat tokoh Alkitab dari narasi Paskah dalam Injil Lukas dan Injil-Injil lainnya. Dalam oratorio, Bach kemudian mengalihkan musik tersebut ke dalam bagian-bagian suara.

Bach mementaskan Kantata Penggembala pada tanggal 23 Februari 1725 untuk patronnya, Christian, Adipati Sachsen-Weissenfels. Teksnya ditulis oleh Picander, dalam kolaborasi pertama mereka yang terdokumentasi. Picander mungkin juga mengadaptasi teks tersebut untuk kantata Paskah yang pertama kali dipentaskan Bach pada Hari Minggu Paskah, 1 April 1725, baik dalam ibadah pagi di Nikolaikirche maupun ibadah vesper di Thomaskirche.

Pada tahun 1738, Bach merevisi kantata Paskah sebagai Oratorio Paskah, BWV 249.4. Ia menulis sebuah manuskrip naskah asli dari partiturnya dengan judul Oratorium Festo Paschali (Oratorio Paskah), dengan hanya melakukan perubahan kecil pada teks dan musiknya. Versi ini juga dikenal sebagai Kommt, eilet und laufet ('Datanglah, bergegaslah, dan berlarilah'). Berbeda dengan oratorio karya J. S. Bach lainnya, karya ini secara unik tidak menyertakan teks Alkitab asli, narator Penginjil, maupun chorale.

Karya ini terstruktur dalam sebelas gerakan. Dua bagian instrumental yang kontras diikuti oleh sebuah duet untuk tenor dan bas. Dalam kantata ini, peran tersebut merepresentasikan dua murid yang berlari menuju makam Yesus, di mana mereka kemudian bertemu dengan dua wanita pengikut Yesus (sopran dan alto). Gerakan tengah karya ini terdiri atas selang-seling antara resitatif berbentuk percakapan dan aria yang bersifat kontemplatif. Seluruh rangkaian ini kemudian ditutup dengan chorus ucapan syukur pada bagian akhir. Komposisi ini disusun untuk ansambel instrumental Barok yang megah, terdiri dari tiga trompet, timpani, berbagai alat musik tiup kayu, alat musik dawai, serta continuo. Pada tahun 1740-an, Bach merevisi kembali karya ini (BWV 249.5), yang tampaknya ia hargai secara istimewa, dengan mengaransemen sebagian gerakan ketiga untuk koor. Ia mementaskan oratorio ini sekali lagi pada tahun 1749, setahun sebelum ia meninggal.

Para pakar Bach terdahulu, dimulai dengan penulis biografinya, Philipp Spitta, bersikap kritis terhadap Oratorio Paskah karena libretonya dan karakternya sebagai drama musikal. Kritik tersebut makin tajam pada tahun 1940 setelah ditemukannya keterkaitan karya ini dengan Kantata Penggembala, yang memicu kecaman terhadap penggunaan musik parodi di dalamnya. Dalam studi yang lebih baru, Christoph Wolff menilai karya ini sebagai sebuah transformasi mahir "dari musik teatrikal menjadi musik devosional".[3] Sejalan dengan pandangan tersebut, Markus Rathey memandang oratorio tersebut sebagai sekuel dari Kisah Sengsara menurut Yohanes, "melanjutkan narasi dramatisnya, tetapi juga interpretasi teologis dan musikalnya".[4]

Sejarah

sunting

Latar belakang

sunting

Pada tahun 1723, Bach ditunjuk menjadi Thomaskantor (direktur musik gereja) di Leipzig. Dalam jabatan ini, ia bertanggung jawab atas penyelenggaraan musik di empat gereja utama, serta mengemban tugas untuk melatih dan mendidik para anggota paduan suara putra, Thomanerchor. Ia mulai menjabat di pertengahan tahun liturgi, tepat pada hari Minggu pertama setelah Trinitatis, 30 Mei 1723.[5] Bach memutuskan untuk menggubah kantata bagi hampir seluruh perayaan liturgi selama dua belas bulan pertama masa jabatannya. Kumpulan karya ini kemudian menjadi siklus kantata pertamanya.[6] Perayaan-perayaan tersebut jatuh pada hari Minggu, kecuali pada masa sunyi Adven (sebelum Natal) dan Prapaskah (sebelum Paskah), serta hari-hari raya tambahan. Beberapa hari peringatan orang kudus turut dirayakan di Leipzig, dan setiap hari raya besar dirayakan selama tiga hari berturut-turut. Dengan demikian, Pekan Suci dan Paskah menjadi masa-masa yang paling sibuk.[7] Untuk Jumat Agung tahun 1724, Bach menggubah Kisah Sengsara menurut Yohanes, sebuah oratorio sakral dramatis berdurasi panjang.[8] Untuk Paskah tahun itu, ia membawakan Christ lag in Todes Banden, BWV 4, pada hari Minggu. Karya tersebut telah ia gubah jauh sebelumnya, pada awal kariernya.[9] Selama dua hari berikutnya, ia menyajikan kantata Paskah yang diadaptasi dari kantata ucapan selamat bagi istana Kรถthen. Ia cukup menyisipkan teks baru ke dalam musik yang sudah ada, seperti pada Erfreut euch, ihr Herzen, BWV 66, yang disadur dari serenata Der Himmel dacht auf Anhalts Ruhm und Glรผck,[10] dan Ein Herz, das seinen Jesum lebend weiรŸ, BWV 134, dari Die Zeit, die Tag und Jahre macht, BWV 134a, sebuah kantata untuk merayakan Tahun Baru 1719 di Kรถthen.[11]

Pada tahun berikutnya, Bach mulai menyusun siklus kantata kedua yang masing-masing digubah berdasarkan kidung pujian Lutheran.[12] Christoph Wolff menggambarkan upaya tersebut sebagai "proyek yang sangat menjanjikan dengan homogenitas yang tinggi, yang lingkupnya dapat ia tentukan sendiri".[12] Bach mempertahankan format tersebut hingga Minggu Palma tahun 1725, yang pada saat itu bertepatan dengan Perayaan Anunsiasi sehingga memerlukan pementasan kantata. Ia menggubah dan membawakan Wie schรถn leuchtet der Morgenstern, BWV 1, untuk perayaan tersebut,[12] hanya satu minggu sebelum rangkaian musik Paskah dimulai. Lima hari kemudian, pada hari Jumat Agung, ia mementaskan versi revisi kedua dari Kisah Sengsara menurut Yohanes.[1][13]

Versi sekuler, BWV 249.1

sunting

Pada tahun 1725, menjelang perayaan Paskah keduanya sebagai Thomaskantor, Bach menggubah sebuah kantata ucapan selamat berjudul Entfliehet, verschwindet, entweichet, ihr Sorgen, BWV 249a. Karya ini lebih dikenal sebagai Kantata Penggembala, yang ditulis untuk memperingati ulang tahun ke-43 patronnya, Christian, Adipati Sachsen-Weissenfels.[14][15][16] Selama masa Prapaskah, Bach memanfaatkan waktu luangnya untuk menyusun komposisi meriah dengan durasi panjang ini sebagai upaya menjaga hubungan baik dengan istana.[17]

Libretis untuk Kantata Penggembala adalah Picander,[14][18] yang menandai kolaborasi pertama mereka yang terdokumentasi secara resmi.[19][20][21] Tampaknya sejak awal Bach memang berniat menggunakan sebagian besar musik tersebut untuk sebuah kantata Paskah, sehingga Picander pun menyusun teksnya dengan tujuan ganda tersebut.[1][22][23] Pada tahun 1728, Picander menuliskan kesannya mengenai kerja sama mereka: "Saya merasa bangga bahwa kurangnya pesona puitis ini dapat dikompensasi oleh keindahan musik dari Kapellmeister Bach kita yang tiada bandingnya, dan semoga lagu-lagu ini dapat dinyanyikan gereja-gereja utama di Leipzig kita yang saleh."[24][25] Keduanya juga berkolaborasi dalam karya Kisah Sengsara menurut Matius tahun 1727, yang Wolff sebut sebagai "karya puisi sakral terbaik" Picander,[24] serta sejumlah kantata sakral dan sekuler lainnya.[24]

Picander menulis naskah untuk sebuah dramma per musica yang melibatkan interaksi antara dua penggembala pria dan dua penggembala wanita.[17] Nama-nama tokoh pria, Menalcas dan Damoetas, muncul dalam Idylls karya Theocritus dan Eclogues karya Virgil, sedangkan nama-nama tokoh wanita, Doris dan Sylvia, muncul dalam berbagai karya sastra dari abad ke-17.[26] Picander menerbitkan libreto tersebut pada tahun 1727[17] dengan judul Tafel-Music bei Ihro Hochfรผrstlichen Durchlaucht zu Weissenfels Geburts-Tage den 23. Februar 1725 ('Musik perjamuan untuk hari ulang tahun Yang Mulia dari Weissenfels pada 23 Februari 1725'), yang mencatat rincian pementasannya.[26] Para ahli berpendapat bahwa pertunjukan tersebut kemungkinan berlangsung di istana sang Adipati, Istana Neu-Augustusburg,[26] dalam bentuk drama penggembala musikal dengan kostum lengkap[20][27] di tengah sebuah perjamuan.[19]

Kantata Paskah, BWV 249.3 (1725)

sunting

Bach menggunakan musik dari Kantata Penggembala dengan urutan yang persis sama,[17] menggubah hanya beberapa resitatif baru, untuk sebuah kantata gereja bagi Minggu Paskah pada tahun yang sama. Judulnya pada awalnya adalah Kommt, gehet und eilet ('Datanglah, beranjaklah, dan bergegaslah'), tetapi segera diubah menjadi Kommt, fliehet und eilet ('Datanglah, berlarilah, dan bergegaslah').[28][29] Sifat perayaan dari bahan aslinya sangat sesuai dengan perayaan Paskah. Beberapa pakar memperhatikan bahwa karya ini dapat dilihat sebagai sebuah drama Paskah.[17][28][29] Alfred Dรผrr menunjukkan bahwa hal ini mengikuti sebuah tradisi dari "scenic representation of the Easter story".[28]

It seems likely that Picander, who wrote the libretto for the Shepherd Cantata, also wrote the text for the Easter cantata. Both texts share the same metrical pattern in order to use the arias and the chorus without modifications.[1][16] The librettist possibly based his work on an Easter narrative that the theologian Johannes Bugenhagen had compiled from the four Gospels.[17] The librettist created text for dialogues and arias involving four Biblical characters who were assigned to the four voice parts: the disciples Simon (tenor) and John (bass) who appear in the first duet hurrying to Jesus's grave and finding it empty, and who meet there Mary Magdalene (alto) and Mary Jacobe (soprano).[1][17][30] The Bach scholar Hans-Joachim Schulze wrote: "On the whole, the unidentified librettist deserves every recognition for his work to appropriately transform the arias and ensembles of the secular original into the subject matter of Easter with verbal skill and fealty to content."[31]

While the Shepherd Cantata was opened by one instrumental movement, the Easter cantata is unusually opened by two (other) instrumental movements that are probably taken from a concerto of the Kรถthen period.[28][30][32] The work is, like the Shepherd Cantata, a musical drama[17] and features no chorales, which is rare in Bach's liturgical music.[33]

Engraving of a square with a church on the right, with a high tower as part of the facade
1749 engraving of Nikolaikirche, Leipzig

The cantata was first performed on Easter Sunday, 1 April 1725.[1][32][4] Bach led the Thomanerchor, with boys singing the women's roles;[17] they gave two performances, one in the morning service at the Nikolaikirche where Salomon Deyling gave the sermon, and the other in a vespers service at the Thomaskirche, with a sermon by Johann Gottlob Carpzov.[32] Markus Rathey points out that this music was Bach's first and only for Easter that matched the dramatic approach of the Passions.[4] Perhaps because of the lack of chorales and original Bible text in the new cantata, the early Easter cantata Christ lag in Todes Banden, was also performed in these services.[1][13]

Musik

sunting

Struktur dan instrumentasi

sunting

Bach menyusun karya ini dalam sebelas gerakan. Setelah dua gerakan instrumental pada pembukaan, gerakan ketiga merupakan sebuah duet yang aslinya merepresentasikan dua murid yang berjalan menuju makam Yesus. Gerakan-gerakan selanjutnya, yaitu gerakan 4 hingga 10, menyajikan secara bergantian antara resitatif, yang di dalamnya para karakter berinteraksi, dan aria, yang di dalamnya mereka mengekspresikan reaksi emosional.[1] Karya ini ditutup dengan chorus puji-pujian. Aransemen musiknya disusun untuk empat solois vokal (sopran (S), alto (A), tenor (T), dan bas (B)), sebuah koor empat bagian, serta ansambel instrumental Barok yang meriah, terdiri dari tiga trompet (Tr), timpani, dua obo (Ob), oboe d'amore (Oa), fagotto (Fg), dua rekorder (Rec), flauto traverso (Ft), dua biola (Vl), biola alto (Va), dan basso continuo (Bc).[34][35]

Tabel di bawah ini memuat rincian gerakan-gerakan dari versi revisi tahun 1740-an, sedangkan informasi untuk versi-versi sebelumnya dicantumkan dalam tanda kurung. Data mengenai instrumentasi, kunci, dan tanda birama diambil dari Dรผrr, dengan menggunakan simbol untuk common time. Dรผrr mencatat durasi total karya ini sekitar 47 menit.[36] Timpani tidak disebutkan secara spesifik karena hanya dimainkan bersamaan dengan trompet.

No. Jenis Teks (sumber) Vokal Alat musik tiup Dawai Bas Kunci Birama
1 Sinfonia 3(2)Tr 2Ob Fg 2Vl Va Bc D mayor 38
2 Adagio Ft (Ob) 2Vl Va Bc B minor 34
3 Chorus Kommt, eilet und laufet SATB (T B) 3Tr 2Ob 2Vl Va Bc D mayor 38
4 Resitatif O kalter Mรคnner Sinn S A T B Bc common time
5 Aria Seele, deine Spezereien S Ft Bc B minor 34
6 Resitatif Hier ist die Gruft A T B Bc common time
7 Aria Sanfte soll mein Todeskummer T 2Rec 2Vl Bc G mayor common time
8 Resitatif Indessen seufzen wir S A Bc common time
9 Aria Saget, saget mir geschwinde A Oa (Ob) 2Vl Va Bc A mayor common time
10 Resitatif Wir sind erfreut B Bc common time
11 Chorus Preis und Dank SATB 3(2)Tr 2Ob 2Vl Va Bc D mayor common time 38

Gerakan-gerakan

sunting

Musik untuk bagian aria dan chorus penutup, yaitu gerakan 3, 5, 7, 9, dan 11 dalam versi kantata maupun oratorio, diadaptasi dari gerakan 2, 4, 6, 8, dan 10 dalam Kantata Penggembala, sementara bagian resitatif baru digubah khusus untuk Paskah.[1] Dirigen John Eliot Gardiner dan penulis keterangan program Yvonne Frindle menunjukkan bahwa urutan aria tersebut menyerupai struktur sebuah suita tari.[22][37] Meskipun Bach tidak lagi menyematkan tokoh-tokoh Alkitab pada bagian suara tertentu dalam versi oratorio, penokohan tersebut tetap dipertahankan dalam deskripsi musik tersebut demi kejelasan narasi. Schulze mengamati bahwa pendengar langsung dilibatkan ke dalam aksi dan refleksi melalui seruan pembuka "Kommt, eilet und laufet".[31]

1 dan 2

sunting

Oratorio ini dibuka dengan dua gerakan instrumental yang saling bertolak belakang: sebuah Sinfonia, yaitu concerto grosso bertempo cepat untuk orkestra yang lengkap, dan sebuah Adagio, yang menonjolkan instrumen tunggal dengan iringan alat musik dawai.[1]

Frindle menjelaskan bahwa hadirnya Sinfonia dengan iringan trompet dan timpani menandai kembalinya musik meriah setelah berakhirnya masa sunyi Prapaskah.[22] Bagian ini didominasi oleh trompet alami, dengan peran solo untuk biola serta trio untuk obo dan celo. Musik tersebut melambangkan kemenangan, serupa dengan koor pembuka dari karya Bach tahun 1715, Der Himmel lacht! Die Erde jubilieret, BWV 31.[17]

Bagian Adagio ini, yang menampilkan motif rintihan (Seufzermotive) pada alat musik dawai,[1] menurut Gardiner mengingatkan pada gaya gerakan lambat Venesia.[37] Karakter ratapannya kemungkinan besar menggambarkan suasana pemakaman Yesus, yang menghubungkan bagian ini dengan bagian akhir Kisah Sengsara menurut Yohanes.[17] Bach mengubah alat musik solonya dari obo menjadi flauto traverso pada versi oratorio tersebut.[1]

The two movements may come from a lost concerto from Bach's Kรถthen period;[1][28] the first movement is similar to the Brandenburg Concertos. It had been suggested that Bach derived the third movement from the same concerto, but this was rejected on the grounds that no Bach concerto had three movements in triple metre.[1][28][37]

3

sunting

The first movement to be sung is the third movement, "Kommt, eilet und laufet" ('Come, hasten and run').[2] It has a double function: closing the concerto of the beginning in the same key and time as the first movement, and opening the dramatic section. Formally a da capo aria, it is dominated by fast runs in violins, oboes and the voices.[17]

In the secular version, the music is always a duet, first of tenor and bass singing "Entfliehet, verschwindet, entweichet, ihr Sorgen" (Flee, dissolve, fade away, you cares).[38] The middle section is full of coloratura that illustrate laughter and mirth in the secular work,[39] often in parallels of thirds to illustrate the harmony of the hearts mentioned in the text.[17] The beginning is repeated, now in response by soprano and alto.[38]

The music for the Easter work began in the 1725 version as a duet of tenor and bass, depicting the two disciples Simon and John running to the tomb of Jesus. The upward runs now illustrate their motion. Bach retained this duet when he named the work an oratorio in 1738. In a 1740s version, Bach set its outer sections for choir, but leaving the middle section as a duet.[19][28]

4

sunting
A page of sheet music, an autograph of J.S. Bach, showing in 7 staffs the end of the first recitative, marked on top for four voices, and the beginning of an aria with an instrumental ritornello for a flute and basso continuo in the fourth staff, and the first phrases for the soprano voice in the sixths staff
A page of the 1738 autograph, of the end of the first recitative and the beginning of the first aria

All solo voices are involved in the first recitative, "O kalter Mรคnner Sinn!" (O cold hearts of men!),[2] meeting at the empty grave.[30] The tone of the women throughout the oratorio represents the "mysticism of the bride" that shows in the Song of Songs.[31]

5

sunting

The first of the arias is given to the soprano, originally as Maria Jacobe: "Seele, deine Spezereien" (O soul, your spices).[2] While the secular original talked about "Hunderttausend Schmeicheleien" (A hundred thousand pleasantries),[38] the woman at the grave reflects that now, told that Jesus was no longer there, the ointments they brought for the corpse are no longer needed, and she imagines a laurel wreath for the victor.[30] Gardiner compares the music with an obbligato flute to a minuit.[37]

6

sunting

In the second recitative, "Hier ist die Gruft" (Here is the grave),[2][30] the alto (originally Mary Magdalene) shares with the disciples that an angel told her that Jesus is risen.[2]

7

sunting

The second aria is sung by the tenor, originally as Simon: "Sanfte soll mein Todeskummer nur ein Schlummer, Jesu, durch dein SchweiรŸtuch sein" (Gentle shall my death-throes be only a slumber, Jesus, because of your shroud).[2] In the secular aria, the topic was the sleep of the sheep: "Wieget euch, ihr satten Schafe, in dem Schlafe" (Rock yourselves, you contented sheep, into sleep),[38]

The shroud relates to the story of Lazarus from the Gospel of John,[17][31] understood as an anticipation of the Resurrection.[31] Death is imagined as peaceful now that the shroud indicates that Jesus is risen.[30] The gentle music of muted strings and recorders over a bass with a pedal-like calm pulse is reminiscent of a cradle song.[39] Gardiner compares it to a bourrรฉe and points out that recorders were also used in Bach's Actus tragicus funeral music.[37] Rathey notes that the mood again connects to the end of the St John Passion, "Ruht wohl, ihr heiligen Gebeine".[4]

8

sunting

The third recitative is a dialogue of a man and a woman in the secular work. In the Easter music, the two women express their burning desire to see Jesus again,[17] "Indessen seufzen wir" (Meanwhile we sigh).[2][30] They sing in parallel lines or imitation. The motif of burning hearts is taken from the Road to Emmaus narrative.[17]

9

sunting
wood wind instrument

The alto (Mary Magdalene) expresses in the aria "Saget, saget mir geschwinde, saget, wo ich Jesum finde" (Tell me, tell me quickly, say where I can find Jesus),[2] her desire to find Jesus. The expression and phrasing allude to mystic language in the Song of Songs,[1][17] namely 3:1โ€“4.[17] The scene narrated in the Gospel of John of Mary Magdalene searching for Jesus in the garden remains in the background. The aria has been described as a thrilling expression of unbridled longing for personal community with Jesus.[17]

In the secular model, "Komm doch, Flora, komm geschwinde" (Come, Flora, come quickly), Flora is called to bless the fields so that the peasants can pay their duties to the dedicatee of the music, Christian, Duke of Saxe-Weissenfels. The voice is accompanied by oboe and strings in the cantata version, but Bach replaced the oboe by an oboe d'amore in the 1938 oratorio. The piece opens with a concertante ritornello; the voice picks up the oboe's theme, while the oboe accompanies.[39]

In the middle section of the Easter work the woman says that without her beloved, she is "ganz verwaiset und betrรผbt" (completely orphaned and desolate).[2] This passage is, deviating from the secular model, set as Adagio.[17][28] The words and emotions are close to those opening of Part Two of the St Matthew Passion. Gardiner, who compares the music to a gavotte, saw the Adagio phrase as "almost a blueprint of a Mozartian tragedienne's grief".[37]

10

sunting

In the last recitative, "Wir sind erfreut, daรŸ unser Jesus wieder lebt" (We are delighted that our Jesus lives again),[2][30] the bass (John) expresses joy that Jesus lives again; he calls for songs of joy. The vocal line for "Wir sind erfreut" recalls the trumpet fanfares from the first movement.[17]

11

sunting

In the final movement the choir offers praise and thanks, "Preis und Dank bleibe, Herr, dein Lobgesang" (Praise and thanks remain, Lord, your hymn of praise).[2] In the secular work, the conclusion was a congratulation, beginning with "Glรผck und Heil bleibe dein bestรคndig Teil!" (May Fortune and health remain your constant portion!).[2] The movement is structured in two contrasting sections, resembling the Sanctus composed for Christmas 1724 and later made part of the Mass in B minor;[17][28] both pieces feature in a first section dotted rhythm in common time and mostly chordal vocal parts.[39]

The trumpets begin with a fanfare which the voices imitate with a marked "Glรผck und Heil" in the secular work and "Preis und Dank" for Easter. In both texts follows "bleibe", and the "remaining" is expressed in melismas. The following section, without the trumpets, is in B minor, for the text of victory over hell and devil.[17]

Picander had closed his secular poetry with a dactyl. The corresponding Easter text is "Erรถffnet, ihr Himmel, die prรคchtigen Bogen, der Lรถwe von Juda kommt siegend gezogen! (Open, O heavens, your magnificent drawbridges, the Lion of Judah approaches in triumph!), alluding to an image from Revelation 5:5.[17] Rathey notes that the same imagery had also been used in the middle section of the aria "Es ist vollbracht", in the St John Passion, immediately after the death of Jesus.[4]

For this passage Bach returned to the metre and fanfare motifs of the opening Sinfonia,[1] which Gardiner compares to a gigue.[37] The work ends with a short fugato, "crowned" by the trumpets.[17]

Penerimaan

sunting

Para pakar Bach, dimulai dari penulis biografinya, Philipp Spitta, bersikap kritis terhadap Oratorio Paskah karena libretonya dan karakternya sebagai drama musikal.[17] Spitta, yang tidak tahu bahwa karya ini didasarkan pada teater musik sekuler, menulis pada tahun 1880: "Kita tidak bisa tidak merasa terkejut mendapati bahwa Bach dapat merasa puas dengan teks seperti itu.", yang kemudian diikuti oleh ulasan kritis mendalam terhadap libreto tersebut.[31]

Sekitar tahun 1940, Friedrich Smend menemukan keterkaitan oratorio tersebut dengan apa yang saat itu dikenal sebagai Schรคfergesprรคch (percakapan gembala) karya Picander.[31] Hal ini memicu kritik yang lebih tajam karena adanya prasangka terhadap musik parodi: membahas hari raya gereja yang penting tanpa narasi Injil dan lagu chorale dianggap tidak cukup, dan susunan kata barunya diasumsikan sebagai "teks perantara yang disusun dengan sembrono dan tanpa penghayatan".[31] Analisis Dรผrr pada tahun 1971 masih menunjukkan pandangan yang kritis,[17] tetapi ia mengakui karya tersebut sebagai bagian dari tradisi drama Paskah.

Beberapa studi yang lebih baru menunjukkan bahwa bentuk oratorio, dengan memisahkan musik dari karakter individu, mampu melibatkan pendengar secara lebih mendalam. Sebagaimana dikemukakan oleh Schulze, baris pembuka "Kommt, eilet und laufet" ('Datanglah, bergegaslah, dan berlarilah') bukan lagi sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah "seruan untuk bermeditasi". Ia membandingkan hal ini dengan pembukaan Kisah Sengsara menurut Matius, yaitu "Kommt, ihr Tรถchter, helft mir klagen" (Datanglah, wahai putri-putri, bantulah aku meratap).[31] Wolff, yang mengategorikan ketiga oratorio tersebut sebagai sebuah trilogi, menyimpulkan: "Bach berhasil mengubah karakteristik oratorio secara signifikan dengan kemahirannya mentransformasi musik teatrikal menjadi musik devosional".[3] Sementara itu, Rathey memandang oratorio ini sebagai sekuel dari Kisah Sengsara menurut Yohanes, yang tidak hanya "melanjutkan narasi dramatisnya, tetapi juga interpretasi teologis dan musikalnya".[4]

Manuskrip dan publikasi

sunting

Sumber tertua dari Kantata Paskah adalah 14 bagian manuskrip, kemungkinan berasal dari kantata sekuler, yang digunakan untuk pertunjukan Paskah tahun 1725; kemungkinan besar menggunakan partitur karya sekuler dengan teks tambahan.[1]

Naskah asli partitur Oratorio Paskah tahun 1738 masih ada hingga saat ini. Partitur tersebut memiliki penanda artikulasi dan dinamika yang sangat terperinci. Penyuntingnya, Ulrich Leisinger, menyebutnya sebagai salah satu partitur J. S. Bach yang paling indah.[1] Bach menulis ulang bagian vokal pada tahun 1743.[1] Meskipun bagian untuk trompet ketiga sudah ada dalam partitur tahun 1738, satu-satunya partitur untuk alat musik tersebut baru muncul pada pertunjukan terakhir pada tahun 1749.[17]

Oratorio Paskah diterbitkan pada tahun 1874 oleh Bach-Gesellschaft dalam Bach-Gesellschaft Ausgabe (BGA), yang merupakan edisi perdana dari karya-karya Bach. Diethard Hellmann kemudian menerbitkan sebuah edisi pada tahun 1962.[1] Bentuk final dari oratorio ini diterbitkan dalam Neue Bach-Ausgabe pada tahun 1977 di bawah penyuntingan Paul Brainard,[1] yang kemudian diikuti oleh laporan kritis pada tahun 1981.[32] Pada tahun 2003, Carus-Verlag menerbitkan manuskrip tahun 1738 beserta variannya sebagai bagian dari Stuttgarter Bach-Ausgaben yang disunting oleh Leisinger.[1]

Rekaman

sunting

Sebuah daftar rekaman tersedia di situs web Bach Cantatas.[40][41] Koor dengan dengan satu suara per bagian (SSPB) dan ansambel memainkan alat musik periode dalam praktik pertunjukan historis ditunjukkan dengan latar belakang berwarna hijau. Michael Wersin membandingkan beberapa rekaman pada tahun 2014.[29]

Rekaman Oratorio Paskah
Judul Dirigen / Koor / Orkestra Solois Label Tahun Jenis koor Jenis orkes
J. S. Bach: Oster-Oratorium BWV 249[29] Marcel Couraud
L'ensemble vocal et instrumental de Stuttgart
Erato 1956ย (1956)
Oratorio de Pรขques Fritz Werner
Heinrich-Schรผtz-Chor Heilbronn
Pforzheim Chamber Orchestra
Erato 1964ย (1964)
Osteroratorium BWV 249 Wolfgang Gรถnnenwein
Sรผddeutscher Madrigalchor
Sรผddeutsches Kammerorchester
HMV 1965ย (1965)
J. S. Bach: Easter Oratorio; Cantata BWV 10[29] Karl Mรผnchinger
Wiener Akademiechor
Stuttgarter Kammerorchester
Decca 1968ย (1968)
Die Bach Kantate Vol. 11[29][42] Helmuth Rilling
Gรคchinger Kantorei
Bach-Collegium Stuttgart
Hรคnssler 1981ย (1981)
J. S. Bach: Cantatas BWV 11 "Ascension" ยท "Himmelfahrts-Oratoriun"; BWV 249 Easter" ยท "Pรขques" ยท "Oster-Oratorium" Gustav Leonhardt
Orchestra & Choir of the Age of Enlightenment
Philips 1993ย (1993) Periode
J. S. Bach: Christ lag in Todes Banden; Oster-Oratorium ยท Easter Oratorio (BWV 4, 249)[29] Andrew Parrott
Taverner Consort & Players
Virgin Classics 1993ย (1993) SSPB Periode
J. S. Bach - Easter Oratorio BWV 249; Cantata BWV 66 "Erfreut euch, ihr Herzen[29][43] Philippe Herreweghe
Collegium Vocale Gent
Harmonia Mundi 1994ย (1994) Periode
Oster-Oratorium BWV 249 Philippe Herreweghe
Collegium Vocale Gent
Brilliant Classics 1994ย (1994) Periode
Easter Oratorio Ton Koopman
Amsterdam Baroque Orchestra & Choir
Erato 1998ย (1998) Periode
J. S. Bach: Magnificat ยท Easter Oratorio[29] Paul McCreesh
Gabrieli Consort
Archiv Produktion 2001ย (2001) SSPB Periode
J.S. Bach: Easter Oratorio ยท Ascension Oratorio[29][42] Masaaki Suzuki
Bach Collegium Japan
BIS 2004ย (2004) Periode
J. S. Bach: Cantatas for the Complete Liturgical Year Vol. 13: "Oster-Oratorium" (Cantatas BWV 249, 6)[44] Sigiswald Kuijken
La Petite Bande
Archiv Produktion 2009ย (2009) SSPB Periode
J. S. Bach: Easter Oratorio, BWV 249[23] Frans Brรผggen
Cappella Amsterdam
Orchestra of the 18th Century
Glossa 2011ย (2011) Periode
Bach: Easter Oratorio; Actus Tragicus[37][45] John Eliot Gardiner
Monteverdi Choir
English Baroque Soloists
  • Hannah Morrison
  • Margaret Bragle
  • Nicholas Mulroy
  • Peter Harvey
Soli Deo Gloria 2013ย (2013) Periode
J. S. Bach: Osteroratorium ยท C. P. E. Bach: Danket dem Herrn / Heilig[29] Frieder Bernius
Kammerchor Stuttgart
Barockorchester Stuttgart
Carus 2014ย (2014) Periode
J.S. Bach: Easter Oratorio - Magnificat[46] Nicholas McGegan
Cantata Collective
Avie 2025ย (2025) Periode

Catatan

sunting
  1. ^ "BWV" adalah Bach-Werke-Verzeichnis, sebuah katalog tematik untuk karya-karya Bach

Referensi

sunting

Daftar pustaka

sunting

Bach Digital

sunting

Sumber diurutkan berdasarkan nama penulis

sunting

Sumber lainnya

sunting

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Gott der Herr ist Sonn und Schild, BWV 79

184". Bach Digital. 2025. Diakses tanggal 18 July 2025. "Alles, was von Gott geboren (Weimar version) BWV 80.1; BWV 80a; BC [A 52]". Bach Digital. 2025

1 April

[gehet] und eilet, ihr flรผchtigen FรผรŸe BWV 249.3; BWV 249; BC D 8a". Bach Digital. 2025. Diakses tanggal 2 April 2025. Jenkins, Jeffery A.; Stewart, Charles

Sejarah kecerdasan buatan

Thomas (1651), Leviathan. Hofstadter, Douglas (1999) [1979], Gรถdel, Escher, Bach: an Eternal Golden Braid, Basic Books, ISBNย 978-0-465-02656-2, OCLCย 225590743

143 (album)

September 20, 2024. Diakses tanggal September 20, 2024. "143: I Love You More Digital Album". Universal Music Group. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September

Kami Berdoa, Ya Roh Kudus

169; BC A 143 / Sacred cantata (18th Sunday after Trinity)". Bach Digital, managed by Bach Archive, SLUB, SBB and Leipzig University. 2016. Diakses tanggal

Jurus'lamat, Datanglah

Bach Digital. 2018. Diakses tanggal 13 December 2018. "Nun komm, der Heiden Heiland BWV 62; BC A 2 / Chorale cantata (1st Sunday of Advent)". Bach Digital

Wabtec

rencananya untuk membeli G&B Specialties yang memproduksi produk rel dan Bach-Simpson yang memproduksi komponen lokomotif. Akuisisi terhadap G&B Specialties

Cicada 3301

Pengabjadan Anglo-Saxon Rune Johann Sebastian Bach Cuneiform Ecclesiastes M. C. Escher Francisco Goya Gรถdel, Escher, Bach, sebuah buku karya Douglas Hofstadter