Beude Trieng adalah sebuah tradisi budaya masyarakat di Kabupaten Pidie, Aceh, yang secara etimologis berasal dari kata "Beude" yang berarti meriam atau senjata api, dan "Trieng" yang berarti bambu.[1][2][3] Tradisi ini telah diakui secara nasional dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada tahun 2025 dalam domain Tradisi dan Ekspresi Lisan dengan nomor registrasi 202500459.[4][2][5][6]

Referensi

sunting
  1. ^ Meuseuraya.id (2024-04-18). "Sejarah 'Toet Budee Trieng' yang Menjadi Tradisi Lebaran di Pidie". Meuseuraya.id. Diakses tanggal 2026-02-06.
  2. ^ a b Aceh, Budaya. "Cagar Budaya Aceh". Budaya Aceh. Diakses tanggal 2026-02-06.
  3. ^ "Tradisi Perang Meriam Karbit, Senjata Warga Aceh kala Dijajah Belanda". kumparan. Diakses tanggal 2026-02-06.
  4. ^ "Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2026-02-06.
  5. ^ Nushratu, Hana. "Kemenbud Tetapkan 514 Warisan Budaya Takbenda Indonesia". detiknews. Diakses tanggal 2026-02-06.
  6. ^ TV, Metro. "Kemenbud Tetapkan 514 Warisan Budaya Tak Benda Baru di 2025". https://www.metrotvnews.com. Diakses tanggal 2026-02-06.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Rumah Tanggo Rumoh Aceh Sa'er Sarune Kalee Sepak Raga Sunatan - Aceh Taktok Trieng Tambo Alas Tari Binih Tari Damping Guel Tari Landok Sampot Likok Pulo Tari

Meriam bambu

meriam betung atau badia batuang, sedangkan di Aceh disebut dengan teโ€™t beude trieng. Di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, permainan ini lebih familiar