📑 Table of Contents

Feminisme perbedaan (dalam bahasa Inggris : Difference feminism) adalah suatu arus dalam teori feminis yang berkembang dari perdebatan mengenai persamaan (equality) dan perbedaan (difference) dalam feminisme, khususnya di Amerika Serikat pada akhir abad ke-20.[1] Istilah ini merujuk pada pandangan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan yang bermakna, tetapi perbedaan tersebut tidak mengandung hierarki nilai. Keduanya dipandang memiliki status moral yang setara sebagai manusia.[2]

Berbeda dengan feminisme kesetaraan yang menekankan kesamaan antara laki-laki dan perempuan sebagai dasar tuntutan perlakuan setara dalam hukum dan masyarakat, difference feminism berpendapat bahwa kesetaraan tidak mensyaratkan kesamaan atau identitas mutlak. Aliran ini menilai bahwa pengakuan terhadap perbedaan gender tidak harus mengarah pada diskriminasi, dan bahwa karakteristik yang secara historis diasosiasikan dengan perempuan seperti etika kepedulian , kebiasaan berpikir yang relasional,[3] atau ciri-ciri kepribadian tertentu[4] perlu dipahami dan dihargai tanpa dianggap lebih rendah.[5] Sebagian besar aliran difference feminism tidak menyatakan bahwa perbedaan tersebut bersifat biologis, kodrati, atau esensial. Pendekatan ini lebih berfokus pada kondisi sosial dan historis yang membentuk pengalaman perempuan dan laki-laki secara berbeda. Dalam konteks ini, istilah gender feminism kadang digunakan untuk merujuk pada bentuk difference feminism yang menekankan konstruksi sosial atas perbedaan tersebut.[6][7]

Namun, terdapat pula pemikir yang menafsirkan perbedaan secara lebih normatif. Teolog Mary Daly mengemukakan kritik tajam terhadap struktur patriarkal dan menilai bahwa nilai-nilai yang diasosiasikan dengan perempuan memiliki kualitas yang lebih unggul dibandingkan nilai-nilai maskulin.[5][8]Pandangan semacam ini memicu perdebatan mengenai esensialisme, yaitu anggapan bahwa kategori “perempuan” dan “laki-laki” memiliki sifat tetap dan inheren.[8][9]

Sejarah

sunting

Gagasan mengenai pentingnya perbedaan telah memiliki akar lebih awal. Pada abad ke-19, penulis Jerman Elise Oelsner menyatakan bahwa perempuan seharusnya tidak hanya diizinkan memasuki ranah publik dan institusi yang sebelumnya didominasi laki-laki, tetapi juga bahwa institusi tersebut perlu berubah agar mengakui dan mengintegrasikan nilai-nilai yang secara tradisional dilekatkan pada perempuan, seperti kepedulian dan tanggung jawab etis.[3]

Pada dekade 1980-an, feminisme perbedaan berkembang sebagai tanggapan terhadap kecenderungan netralitas gender dalam feminisme liberal (yang kemudian disebut dengan feminisme kesetaraan atau equality feminism) . Para pendukungnya berpendapat bahwa kebijakan atau norma yang dianggap “netral” sering kali didasarkan pada standar maskulin, sehingga justru mengharuskan perempuan menyesuaikan diri dengan model laki-laki. Dengan demikian, mereka menilai bahwa pengakuan terhadap perbedaan dapat menjadi sarana untuk mencapai kesetaraan substantif.[10][11]

Memasuki dekade 1990-an, sejumlah pemikir feminis mulai mengkritik dikotomi biner antara “persamaan” dan “perbedaan”. Pendekatan posmodernisme dan dekonstruksi berupaya membongkar oposisi tersebut dan menunjukkan bahwa identitas gender bersifat kompleks, kontekstual, dan tidak sepenuhnya dapat dipahami melalui kerangka biner.[1][12][13]

Kritik

sunting

Beberapa pengamat berpendapat bahwa pemikiran sejumlah tokoh gelombang feminisme kedua, seperti psikolog Carol Gilligan dan teolog feminis Mary Daly, bersifat esensialis, yaitu cenderung melekatkan sifat-sifat tetap atau hakikat tertentu pada kategori “perempuan” dan “laki-laki”. Pandangan ini menimbulkan kritik karena dianggap mengaitkan identitas gender dengan karakter yang inheren dan tidak berubah.[14] Namun, interpretasi esensialis terhadap karya Gilligan dan Daly masih diperdebatkan. Sejumlah peneliti feminis menilai bahwa tuduhan esensialisme sering digunakan sebagai kritik tajam atau label negatif, bukan sebagai analisis teoretis yang didasarkan pada bukti,[15][16] sehingga tidak selalu mencerminkan pandangan asli kedua tokoh tersebut.[15][17]

Referensi

sunting
  1. ^ a b Scott, Joan (1988). "Deconstructing Equality-Versus-Difference: Or, the Uses of Post-structuralist Theory for Feminism". Feminist Studies. 14 (1): 33–50. doi:10.2307/3177997. hdl:2027/spo.0499697.0014.104. JSTOR 3177997.
  2. ^ "Carol Gilligan". Psychology's Feminist Voices. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-02-22. Diakses tanggal 2017-05-10.
  3. ^ a b Schiebinger, Londa (2000). "Has Feminism Changed Science?". Signs. 25 (4): 1171–1175. doi:10.1086/495540. PMID 17089478. S2CID 225088475.
  4. ^ Grande Jensen, Pamela. Finding a New Feminism: Rethinking the Woman Question for Liberal Democracy. hlm. 2 footnote 4.
  5. ^ a b Tandon, Neeru. Feminism: A Paradigm Shift. hlm. 68.
  6. ^ Fowler, Robert Booth (1999). Enduring Liberalism: American Political Thought Since the 1960s. University Press of Kansas. hlm. 133. ISBN 978-0-70-060974-1.
  7. ^ Ford, Lynne E. (2008). Encyclopedia of Women and American Politics. New York: Facts on File. hlm. 187. ISBN 978-0-81-605491-6.
  8. ^ a b Sandilands, Catriona (1999). The Good-Natured Feminist Ecofeminism and the Quest for Democracy. hlm. chapter 5: "Cyborgs and Queers".
  9. ^ Hoagland, Sarah Lucia; Frye, Marilyn, ed. (2000). Feminist interpretations of Mary Daly. Re-reading the canon. University Park, Pa: Pennsylvania State University. ISBN 978-0-271-02018-1.
  10. ^ Voet, Rian (1998). Feminism and Citizenship. SAGE Publications Ltd.
  11. ^ Grande Jensen, Pamela. Finding a New Feminism: Rethinking the Woman Question for Liberal Democracy. hlm. 3.
  12. ^ Bock, Gisela; James, Susan (1992). Beyond Equality and Difference. Routledge. ISBN 9780415079891.
  13. ^ Voet, Rian (1998). Feminism and Citizenship. London: SAGE Publications Ltd. ISBN 9781446228043.
  14. ^ "Accidental vs Essential Properties". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 21 March 2017.
  15. ^ a b Heyes, Cressida J. (1997). "Anti-Essentialism in Practice: Carol Gilligan and Feminist Philosophy". Hypatia. 13 (3): 142–163. doi:10.1111/j.1527-2001.1997.tb00009.x. S2CID 143747304.
  16. ^ Braidotti, Rosi (1992). "Essentialism" in Feminism and Psychoanalysis: A Critical Dictionary.
  17. ^ Suhonen, Marja (2000). "Toward Biophilic Be-ing: Mary Daly's Feminist Metaethics and the Question of Essentialism" in Feminist Interpretations of Mary Daly. Penn State University Press. hlm. 112.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Informasi

doi:10.5038/2162-4593.3.1.1. Bateson, Gregory (1972). Form, Substance, and Difference, in Steps to an Ecology of Mind. University of Chicago Press. hlm. 448–466

Gianni Vattimo

società trasparente, Garzanti, Milan, 1989 (1993) The Adventure of Difference: Philosophy after Nietzsche and Heidegger Translated by Thomas Harrison and

Ateisme

530-534. Cline, Austin (2006). "Strong Atheism vs. Weak Atheism: What's the Difference?". about.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-02-05. Diakses tanggal

Astrofisika

primarily for terrestrial applications. Kolesnikova Tasha (2023-07-17). "The Difference Between Astronomy and Astrophysics". studybay.com. Hearnshaw, J. B. (1990-04-19)

Pengetahuan

our ideas into words, or better, writing them down, makes an important difference. ... It is what I call 'knowledge in the objective sense'. Scientific

Ilmu

"From Molecules to Brains, Normal Science Supports Sexist Beliefs about Difference". Im/partial Science: Gender Identity in Molecular Biology. Indiana University

Daftar buku terlaris

sold more than 50 million copies worldwide." (17 August 1987) Screening Difference: How Hollywood's Blockbuster Films Imagine Race Diarsipkan 2016-09-26

Metafora

Mouton de Gruyter. Fass, Dan (1988). "Metonymy and metaphor: what's the difference?". Proceedings of the 12th conference on Computational linguistics. Vol