Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (April 2022) |


Pasir isap, juga dikenal sebagai pasir tenggelam, adalah suatu koloid yang terdiri atas material granular halus (seperti pasir, lanau, atau lempung) dan air. Pasir isap terbentuk pada pasir lepas yang jenuh air ketika pasir tersebut tiba-tiba terganggu. Ketika air di dalam pasir tidak dapat keluar, terbentuklah tanah yang tercairkan sehingga kehilangan kekuatannya dan tidak mampu menopang beban. Pasir isap dapat terbentuk di perairan yang tenang maupun pada aliran air ke atas (seperti dari mata air artesis). Dalam kasus aliran air ke atas, gaya-gaya yang bekerja berlawanan dengan gaya gravitasi sehingga partikel tanah tetap tersuspensi.
Efek bantalan dari air memberikan pasir isap, serta sedimen tercairkan lainnya, tekstur yang menyerupai spons dan cairan. Sesuai dengan prinsip Archimedes, benda yang berada dalam pasir yang tercairkan akan tenggelam hingga mencapai tingkat di mana berat benda sama dengan berat campuran tanah dan air yang dipindahkan, dan benda yang terendam akan mengapung karena daya apungnya.
Likuifaksi tanah dapat terjadi pada tanah yang sebagian jenuh ketika diguncang oleh gempa bumi atau gaya serupa lainnya. Pergerakan tersebut, yang disertai peningkatan tekanan pori (air tanah), menyebabkan hilangnya kohesi antarpartikel, sehingga bangunan atau benda lain di atas permukaan tersebut dapat amblas.
Sifat
sunting
Pasir isap merupakan fluida non-Newtonian yang bersifat penipisan geser: ketika tidak terganggu, pasir isap sering tampak sebagai padatan (bentuk "gel"), tetapi perubahan kurang dari 1% pada tegangan yang bekerja padanya akan menyebabkan penurunan mendadak dalam viskositasnya (berubah menjadi bentuk "sol"). Setelah terjadi gangguan awal—misalnya seseorang mencoba berjalan di atasnya—air dan pasir dalam pasir isap akan terpisah dan membentuk daerah-daerah sedimen pasir yang padat; pembentukan daerah dengan fraksi volume tinggi inilah yang menyebabkan viskositas pasir isap tampak menurun secara tiba-tiba. Seseorang yang menginjaknya akan mulai tenggelam. Untuk dapat bergerak di dalam pasir isap, seseorang atau suatu benda harus memberikan tekanan yang cukup pada pasir yang telah memadat agar cukup banyak air kembali masuk dan membuatnya mencair lagi. Gaya yang diperlukan untuk melakukan hal ini sangat besar: untuk menarik satu kaki keluar dari pasir isap dengan kecepatan 1 cm/detik diperlukan gaya yang setara dengan gaya untuk mengangkat sebuah mobil.[1]
Mustahil bagi manusia untuk tenggelam sepenuhnya ke dalam pasir isap,[2] karena massa jenis fluida tersebut lebih tinggi daripada massa jenis tubuh manusia. Pasir isap memiliki massa jenis sekitar 2 gram per sentimeter kubik, sedangkan massa jenis tubuh manusia hanya sekitar 1 gram per sentimeter kubik. Dengan massa jenis seperti itu, seseorang tidak mungkin tenggelam lebih dalam dari kira-kira setinggi pinggang. Bahkan benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi daripada pasir isap pun akan mengapung di atasnya selama tidak bergerak. Sebagai contoh, aluminium memiliki massa jenis sekitar 2,7 gram per sentimeter kubik, tetapi sepotong aluminium akan tetap mengapung di atas pasir isap sampai gerakan tertentu menyebabkan pasir tersebut mencair.[3]
Namun, gerakan yang terus-menerus atau dilakukan secara panik dapat menyebabkan seseorang tenggelam lebih jauh ke dalam pasir isap.[4] Karena hal ini semakin menghambat pergerakan, keadaan tersebut dapat menyebabkan faktor lain seperti paparan lingkungan (misalnya sengatan panas, dehidrasi, dan hipotermia), tenggelam akibat air pasang yang naik, atau serangan hewan pemangsa maupun hewan agresif lainnya membahayakan orang yang terjebak apabila tidak segera diselamatkan.[5]
Pasir isap dapat dilepaskan dengan menggerakkan kaki secara perlahan untuk meningkatkan viskositas fluida, serta memutar tubuh agar mengapung dalam posisi telentang (berbaring mendatar dengan wajah dan badan menghadap ke atas).[3]
Dalam budaya populer
suntingPasir isap merupakan sebuah motif dalam fiksi petualangan, khususnya film, yang biasanya dan secara tidak realistis digambarkan memiliki efek isap sehingga siapa pun atau apa pun yang melangkah ke dalamnya akan terus tenggelam hingga seluruh tubuh terendam dan berisiko mati tenggelam. Gambaran ini menimbulkan kesalahpahaman umum bahwa manusia dapat tenggelam sepenuhnya dan mati di dalam pasir isap, padahal hal tersebut tidak mungkin terjadi.[6] Menurut sebuah artikel tahun 2010 yang diterbitkan oleh Slate, penggunaan unsur ini mencapai masa kejayaannya pada dekade 1960-an, ketika hampir 3% dari seluruh film menampilkan tokoh yang tenggelam ke dalam tanah liat, lumpur, atau pasir.[7]
Lihat pula
sunting- Bulldust
- Pasir isap kering
- Perangkap biji-bijian
- Kondisi cepat
- Semburan pasir
- Saprik
- Kubangan tar
- Tiksotropi
Referensi
sunting- ^ Khaldoun, A., E. Eiser, G. H. Wegdam, and Daniel Bonn. 2005. "Rheology: Liquefaction of quicksand under stress." Nature 437 (29 Sept.): 635. DOI:10.1038/437635a
- ^ "Will Quicksand Really Kill You?". The Science Explorer (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-04-08.
- ^ a b Bakalar, Nicholas (September 28, 2005). "Quicksand Science: Why It Traps, How to Escape". National Geographic News. Diarsipkan dari asli tanggal February 21, 2021. Diakses tanggal October 9, 2011.
- ^ Gleeson, Bill (24 August 2016). "Sinking sand is notorious near Crosby - here's what you need to know". Liverpool Echo (dalam bahasa Inggris).
- ^ Discovery Channel. MythBusters. Season 2. Killer Quicksand. October 20, 2004.
- ^ Reaney, Patricia (29 September 2005). "Quicksand myth exposed". www.abc.net.au (dalam bahasa Australian English). Reuters. Diakses tanggal 2020-04-08.
- ^ Engber, Daniel (23 August 2010). "Terra Infirma: The rise and fall of quicksand". Slate. Diakses tanggal 23 August 2010.