Nama pena adalah sebuah nama samaran yang diadopsi oleh seorang penulis. Sebuah nama pena dapat digunakan untuk berbagai tujuan, seperti: untuk membuat nama penulis lebih khas; untuk menyamarkan gender-nya; untuk memberi "jarak" antara seorang penulis dengan beberapa atau semua karyanya; untuk melindungi penulis dari bahaya yang ditimbulkan oleh tulisan-tulisannya; atau untuk sejumlah alasan yang berkaitan dengan pemasaran atau presentasi estetika dari karya yang terkait. Nama penulis yang sebenarnya bisa saja hanya diketahui oleh penerbit buku dan dijaga kerahasiaannya, atau mungkin akan menjadi pengetahuan publik.

Etimologi

sunting

Dalam istilah asing, nama pena juga sering disebut sebagai dengan istilah bahasa Prancis "nom de plume" walaupun istilah ini tidak berasal dari Prancis. Istilah "nom de plume" "berevolusi" di Britania, di mana orang yang menginginkan sebuah frasa "sastra", gagal untuk memahami istilah "nom de guerre", yang sudah ada dalam bahasa Prancis. Karena "guerre" berarti "perang" dalam bahasa Prancis, frasa "nom de guerre" tidak masuk akal bagi Inggris, yang tidak mengerti metafora Prancis tersebut. Istilah ini kemudian diekspor ke Prancis.[1] Istilah ini menjadi salah satu istilah ekspresi Prancis, walaupun di antara penutur bahasa Prancis istilah "pseudonyme" jauh lebih umum sebagai istilah untuk nama samaran.[2]

Penggunaan

sunting

Penyembunyian identitas

sunting

Sebuah nama pena samaran dapat digunakan untuk melindungi uraian penulis untuk buku-buku tentang politik, spionase atau kriminal. Contohnya nama Ibn Warraq yang telah digunakan oleh para penulis pemberontak Muslim. Di Irlandia penulis Brian O'Nolan menggunakan nama pena O'Brien Flann dan Myles na gCopaleen untuk menulis di bidang novel dan jurnalistik dari tahun 1940 ke tahun 1960 karena pada saat itu di Irlandia seorang pegawai negeri tidak diperbolehkan untuk menerbitkan karya tulis di bawah nama mereka sendiri.

Nama kolektif

sunting

Beberapa seri fiksi dapat diterbitkan di bawah satu nama pena meskipun mungkin ada lebih dari satu penulis yang telah berkontribusi terhadap seri tersebut. Dalam beberapa kasus, buku pertama dalam seri ini ditulis oleh seorang penulis, tetapi buku-buku berikutnya dalam seri tersebut akan ditulis oleh penulis lain dengan menggunakan nama yang sama, dalam hal ini penulis berikutnya akan dikenal dengan istilah "penulis bayangan" atau "penulis siluman", yang penggunaannya banyak dikritik oleh sastrawan karena kecenderungannya dalam mengaburkan sejarah sastra.

Kadang-kadang beberapa penulis akan menulis buku-buku yang saling terkait di bawah nama samaran yang sama; contohnya seperti nama Nicolas Bourbaki di ragam non-fiksi sains. Nicolas Bourbaki adalah nama samaran kolektif sekelompok ahli matematika Prancis abad ke-20 yang menulis serangkaian buku untuk menyajikan sebuah eksposisi matematika modern pada awal tahun 1935. Dengan tujuan untuk mengkonvensionalisasi teori himpunan dalam matematika, kelompok tersebut bekerja sangat keras dalam menciptakan beberapa terminologi dan konsep-konsep baru dalam bidang tersebut.

Nama pena di Indonesia

sunting

Di Indonesia, banyak penulis yang menggunakan nama pena dalam menerbitkan tulisan mereka, terutama pada zaman Orde Baru, untuk melindungi identitas mereka dari ancaman bahaya politik. Di dunia seni dan sastra, dalam bidang yang berlainan seorang tokoh dapat menggunakan berbagai nama untuk bidang sastra yang berbeda, sebagai contoh adalah adanya nama seperti "Remy Sylado" untuk novel dan "Dova Zila", "Alif Danya Munsyi", "Juliana C. Panda", atau "Jubal Anak Perang Imanuel" untuk bidang lainnya, di mana semuanya adalah nama pena / samaran Yapi Tambayong, penulis dan sastrawan asal Indonesia.

Di Indonesia, banyak novel yang bernuansa erotis, terutama yang beredar di dunia maya ditulis menggunakan nama pena atau nama samaran untuk melindungi reputasi penulis sebenarnya.

Nama pena di Malaysia

sunting

Mahathir Mohamad pernah menggunakan nama pena 'Che Det' saat menulis tentang kisah-kisah yang menimpa masyarakat Melayu yang dimuat di surat kabar-surat kabar lokal se-Malaysia.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ H.W. Fowler. Modern English Usage
  2. ^ H.W. Fowler & FG Fowler. The King's English Bab. 1, Hal. 43 (Foreign Words, #5),

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Alain de Benoist

terlibat lebih jauh dengan gerakan tersebut. Salan devant l'opinion (sous le pseudonyme de Fabrice Laroche) (Saint-Just, 1963). Les Indo-Européens (G.E.D., 1966)

Jacques Bergier

près de 30 années d'articles puis de chroniques hebdomadaires, sous le pseudonyme de Jérôme Cardan) Tout savoir 1957 à 1968 (magazine) Planète 1961 à 1971

Numa Sadoul

d'écrits, Fondation Royaumont, 1987. (Prancis) Carnaval des vampires (pseudonyme Frank Henry), Collection "Gore" n° 107, Éditions Vaugirard, 1990. (Prancis)

Claude Mauriac

Trans-Amour-Étoiles, Grasset, 1989 Journal d'une ombre, Sables, 1992 sous le pseudonyme de Harriet Pergoline Le Fauteuil Rouge, Flammarion, 1990 La Conversation

Claude Lefort

Kebiadaban). La Brèche, en collaboration avec Edgar Morin, P. Coudray (pseudonyme de Cornelius Castoriadis), Fayard, Paris, 1968. Éléments d'une critique

Jacques Laudy

Bruxelles) (1993). 1 - Le Voleur de Bagdad, scénario Jacques Alexander (pseudonyme de Jacques Van Melkebeke), éd. Bédéscope, 1978 (1000 ex.) 2 - Le Miroir