Sangga Ribut pada rumah Bubungan Tinggi Wasaka di Banjarmasin
Pertemuan Tihang Pitugur di posisi tengah dengan Balok Rentang pada rumah Bubungan Tinggi Wasaka di Banjarmasin
Pertemuan Tihang Pitugur di posisi sudut dengan Balok Rentang pada rumah Bubungan Tinggi Wasaka di Banjarmasin

Sasangga Ribut atau Sangga Ribut (Jawa: Tumpang Sari) adalah susunan ke 8 buah Tihang Pitugur (Saka Guru) yang membentuk konstruksi utama bangunan yang menyangga kuda-kuda atap utama yang disebut Bubungan Tinggi. Kontruksi tiang utama (Tihang Pitugur) yang berjumlah 8 buah ini merupakan titik tengah rumah atau pusat rumah adat Banjar. Ke-8 tiang ini langsung ditancapkan ke dalam tanah dan didirikan terlebih dahulu, setelah itu barulah tiang-tiang lainnya. Ruangan di mana terletak 8 buah tiang utama yang menyangga konstruksi utama rumah Bubungan Tinggi disebut Ruang Palidangan atau Panampik Panangah.

Sasangga artinya penyangga/penahan, sedangkan Ribut artinya angin ribut (riwut, rivotra). Ruang Palidangan ini secara kosmologis merupakan pusat rumah atau titik tengah rumah, yang secara filosofi merupakan ruang yang paling penting (private) di dalam rumah tradisional Banjar.



Rujukan

sunting
  1. Tim Depdikbud, Rumah Adat Banjar dan Ragam Hiasnya, Proyek Rehabilitasi dan Perlusan Museum Kalsel, Depdikbud, 1977/1978.
  2. Tim Museum Lambung Mangkurat, Rumah Tradisonal Banjar Rumah Bubungan Tinggi, P3 Kalsel, Depdikbud, 1980/1981.
  3. Seman, Symasiar, Drs.H. Rumah Adat Banjar Arsitektur Tradisional Kalimantan Selatan, Direktorat Perumahan, Dirjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum, Pusat Informasi Teknik Pembangunan, Proyek Pembinaan Umum Pembangunan Perumahan Kalsel, 1983.
  4. Tim Depdikbud, Album Seni Budaya Kalimantan Selatan, Proyek Media Kebudayaan, Depdikbud, 1983/1984.
  5. Tim Depdikbud, Arsitektur Tradisional Daerah Kalimantan Selatan, Proyek Inventarisasi dan Dolumentasi Kebudayaan Daerah, Depdikbud, Jakarta, 1986.
  6. Sjarifuddin, Drs, Pengantar Pameran Khusus Rumah Tradisional Bubungan Tinggi dan Kelengkapannya, Depdikbud, Dirjen Kebudayaan, Direktorat Permuseuman, Museum Negeri Provinsi Kalsel Lambung Mangkurat, 1992/1993.
  7. Tim KKL Angkatan '90 Arsitektur Undip, Laporan "Kuliah Kerja Lapangan Banjar Kalimantan Selatan" 23-28 September 1993, Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro, 1993.
  8. Azan, Seminar Tata Ruang dan Karaktaristik Rumah Tradisional Suku Banjar di Kalimantan Selatan, Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro, Juni 1994.
  9. Hakim, Tedy Avianto, Seminar Pengaruh Arsitektur Tradisional Bubungan Tinggi pada Bangunan Kantor Pemerintah di Banjarmasin, Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro, Februari 1997.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Tihang Pitugur

membentuk konstruksi utama bangunan yang menyangga kuda-kuda atap utama yang disebut Sangga Ribut. Kontruksi Sangga Ribut pada rumah adat Banjar memiliki 8 buah

Rumah Baanjung

sakral. Di tengah-tengahnya tepat berada di bawah konstruksi rangka Sangga Ribut di bawah atap Bubungan Tinggi adalah Ruang Palidangan yang merupakan

Pakis, Malang

daerah satelit, Pakis memiliki perumahan hingga industri besar untuk menyangga Kota Malang. Beberapa kawasan hunian besar di Pakis misalnya Araya dan

Bubungan Tinggi

yang disebut Tihang Pitugur. Tiang utama ini menyangga konstruksi kuda-kuda atap utama disebut Sangga Ribut. Ruang Palidangan ini secara kosmologis merupakan

Tawing Halat

Banjarmasin Ujung balok-balok rentang yang muncul keluar dari arah area dalam (Sangga Ribut) yang terlihat di tepi atas dinding pada Tawing Halat pada rumah Bubungan

Batalyon Infanteri 330

Pungky Irawanto, S.I.P., M.I.Pol.. (2023-2025) Danyon ke-42: Letkol Inf. Ribut Yodo Apriantono, S.M. (2025-2026) Danyon ke-43: Mayor Inf. Putra Yudha Wijaya

Palidangan

menyangga Bubungan Tinggi yang disebut Tihang Pitugur atau Tihang Guru. Tihang Pitugur membentuk konstruksi utama bangunan yang disebut Sangga Ribut.

Muawiyah bin Abu Sufyan

hari pada tahun 33 H atau 653/654 M, ada sekelompok orang yang mencari ribut di Kufah sampai hampir menyulut pertempuran. Utsman yang mendengar masalah