Abrasi atau pelelasan[1] adalah suatu proses pengikisan pantai yang diakibatkan oleh tenaga gelombang laut dan arus laut atau pasang surut arus laut yang bersifat merusak.[2] Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, tetapi manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya abrasi adalah dengan penanaman hutan bakau. Hutan bakau sangat bermanfaat agar tidak terjadi pengikisan pantai. Pengikisan pantai dapat berakibat daratan sekitarnya tergenang air.

Suatu daratan atau pantai mengalami abrasi apabila angkutan sedimen pada suatu titik melebihi atau lebih besar dari jumlah sedimen yang terbawa oleh air ke luar titik tersebut. Istilah abrasi memiliki makna yang hampir sama dengan erosi pantai. Padahal realitasnya abrasi dan erosi pantai merupakan dua fenomena alam yang berbeda.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "Arti kata lelas". Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
  2. ^ Kurniawati, Dini Aprilia (2019-06-10). "Abrasi: Pengertian, Penyebab, Mekanisme, Dampak, dan Pencegahan". Forester Act !. Diakses tanggal 2020-12-30.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Abrasi kornea

Abrasi kornea adalah goresan di atas permukaan kornea mata. Gejalanya meliputi nyeri, kemerahan, sensitivitas terhadap cahaya, dan perasaan seperti ada

Hutan mangrove

bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya abrasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan

Jembatan Nasional Suramadu

Irsyam MSE, Phd (ITB) - Geologi Teknik Dr. Ir. Suripin, M Eng (UNDIP) - Abrasi Pantai & Konservasi Lingk. Dr. Dunat Indratmo, MT (ITS) - Lingkungan Drs

Pengelolaan wilayah pesisir

lingkungan, ekonomi, dan kesehatan. Upaya yang dimaksud juga termasuk pencegahan abrasi dan banjir. Perlindungan terhadap kenaikan muka air laut akibat perubahan

Direktorat Jenderal Cipta Karya

(saat itu) melalui Ditjen Cipta Karya TA 2023 membangun prasarana dasar bagi relokasi warga terdampak abrasi pantai Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan

Aceh

tercatat meliputi banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, serta abrasi pantai di sejumlah kabupaten dan kota. Peristiwa tersebut dipicu oleh intensitas

Erosi

akhirnya meningkatkan aliran permukaan dan memicu jenis erosi lainnya. Abrasi Daerah aliran sungai Danau tapal kuda (oxbow) Dataran banjir Daya rusak

Ekosistem Mangrove Indonesia

dan sosial-ekonomi yang signifikan, mulai dari perlindungan pesisir dari abrasi hingga fungsi sebagai penyerap karbon biru global. Namun, lebih dari 50%