Perbandingan dari berbagai turunan aksara Brahmi.

Abugida atau alfasilabis adalah aksara segmental yang didasarkan pada konsonan dengan notasi vokal yang diwajibkan tetapi bersifat sekunder. Hal ini berbeda dengan alfabet yang vokalnya memiliki status sama dengan konsonan serta abjad yang penandaan vokalnya tidak ada atau manasuka (opsional). Keluarga aksara Brahmi yang banyak digunakan di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk dalam jenis aksara abugida.[1]

Istilah abugida diusulkan oleh Peter T. Daniels (1990) dan merupakan nama Ethiopia (yang khusus) untuk aksara Ge'ez.[2] Sedangkan istilah alfasilabis (bahasa Inggris: alphasyllabary) diusulkan oleh William Bright (1997).[3] Istilah lain yang juga pernah diusulkan adalah neosilabis (Février 1959), pseudoalfabet (Householder 1959), semisilabis (Diringer 1968; istilah yang juga memiliki makna lain), serta alfabet silabis (Coulmas 1996; yang juga merupakan sinonim dari aksara silabis).

Referensi

sunting
  1. ^ Sharma, Devendra Kumar; Balas, Valentina Emilia; Son, Le Hoang; Sharma, Rohit; Cengiz, Korhan (2020-04-02). Micro-Electronics and Telecommunication Engineering: Proceedings of 3rd ICMETE 2019 (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. ISBN 978-981-15-2329-8.
  2. ^ Peter T. Daniels: Fundamentals of Grammatology
  3. ^ William Bright (2000:65–66): A Matter of Tpology: Alphasyllabaries and Abugidas. In: Studies in the Linguistic Sciences. Volume 30, Number 1, pages 63–71


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Aksara Nusantara

Indonesia. Istilah ini umumnya digunakan untuk merujuk pada aksara-aksara abugida turunan Brahmi yang digunakan oleh masyarakat Indonesia pra-kemerdekaan

Aksara Nagari Timur

Timur (juga dikenal sebagai Aksara Purvi) adalah sebuah sistem penulisan abugida yang termasuk dalam keluarga tulisan Brahmik, sekarang digunakan untuk

Aksara Jawa

kehidupan sehari-hari relatif terbatas. Aksara Jawa adalah sistem tulisan abugida yang terdiri dari sekitar 20 hingga 33 aksara dasar, tergantung dari penggunaan

Aksara Bali

kehidupan sehari-hari telah berkurang. Aksara Bali adalah sistem tulisan abugida yang terdiri dari sekitar 18 hingga 33 aksara dasar, tergantung dari penggunaan

Aksara Kharoṣṭhī

juga banyak digunakan di Asia Tengah. Aksara Kharosthi merupakan sebuah abugida dan dipakai mulai abad ke-3 SM hingga berhenti dipakai di wilayah asalnya

Aksara Lontara

terbatas dalam kehidupan sehari-hari. Aksara Lontara adalah sistem tulisan abugida yang terdiri dari 23 aksara dasar. Seperti aksara Brahmi lainnya, setiap

Alfabet

abjad, yang biasanya tidak memiliki lambang vokal, dan berbeda dengan abugida dan aksara silabis, yang setiap hurufnya melambangkan fonem tetapi dalam

Huruf

nilai bunyi yang berbeda-beda. Dalam aksara jenis alfabet, abjad, dan abugida, biasanya suatu huruf melambangkan suatu fonem atau bunyi. Berbeda dengan