Kuru
Seorang anak suku Fore dengan penyakit kuru stadium lanjut. Ia tidak mampu berjalan atau duduk tegak tanpa bantuan dan menderita kurang gizi parah.
Pelafalan
SpesialisasiNeuropatologi, penyakit menular
GejalaTremor tubuh, ledakan tawa tiba-tiba, degradasi emosional, hilangnya koordinasi secara bertahap
KomplikasiInfeksi dan pneumonia pada stadium akhir.
Awitan umum5 hingga 50 tahun setelah paparan awal
DurasiAngka harapan hidup 11 hingga 14 bulan setelah timbulnya gejala[1]
PenyebabPenularan protein prion infeksius
Faktor risikoKanibalisme, terutama konsumsi otak manusia
Metode diagnostikAutopsi
Diagnosis bandingPenyakit Creutzfeldt-Jakob
PencegahanTidak memakan orang yang terinfeksi
PengobatanPerawatan suportif
PrognosisSelalu berakibat fatal
FrekuensiLangka
KematianSekitar 2.700

Kuru adalah gangguan neurodegeneratif yang langka, tidak dapat disembuhkan, dan mematikan, yang dahulunya umum ditemukan di antara suku Fore di Papua Nugini. Kondisi ini merupakan penyakit prion yang menyebabkan tremor dan hilangnya koordinasi akibat neurodegenerasi. Istilah kúru berarti "gemetar" dan berasal dari kata dalam bahasa Fore kuria atau guria ("berguncang").[2][3] Penyakit ini juga dikenal sebagai "penyakit tawa" karena ledakan tawa yang tidak normal dari para penderitanya.

Penyakit ini menyebar di kalangan suku Fore melalui praktik kanibalisme pemakaman. Secara tradisional, anggota keluarga yang telah meninggal akan dimasak dan dimakan, sebuah praktik yang diyakini dapat membantu membebaskan roh orang mati tersebut.[4] Perempuan dan anak-anak biasanya memakan bagian otak, tempat di mana prion infeksius paling terkonsentrasi, sehingga mereka menjadi kelompok yang paling sering terjangkit. Wabah ini kemungkinan berawal dari seorang penduduk desa yang mengidap penyakit Creutzfeldt-Jakob sporadis, yang kemudian menyebar ke orang lain melalui konsumsi otak mendiang tersebut.[5]

Menyusul larangan oleh pemerintah administratif Australia di Papua Nugini, suku Fore sebagian besar telah berhenti memakan daging manusia sekitar tahun 1960, bertahun-tahun sebelum adanya hubungan antara kanibalisme dan kuru dipertimbangkan secara serius.[6] Namun, hal ini tidak serta-merta menghentikan munculnya kasus-kasus baru, karena masa inkubasi penyakit yang panjang, yang dapat mencapai lebih dari 50 tahun.[7] Sekitar tahun 1957, pada puncak wabah, sekitar 200 orang meninggal akibat penyakit ini setiap tahunnya. Lebih dari setengah abad kemudian, wabah tersebut berakhir, dengan dua kematian terakhir yang diketahui terjadi pada tahun 2005 dan 2009.[8][9][10]

Tanda dan gejala

sunting

Kuru, sebuah ensefalopati spongiform menular, adalah penyakit sistem saraf yang menyebabkan efek fisiologis dan neurologis yang pada akhirnya berujung pada kematian. Penyakit ini ditandai dengan ataksia serebelar progresif, atau hilangnya koordinasi dan kendali atas pergerakan otot.[11][12]

Fase praklinis atau tanpa gejala, yang juga disebut masa inkubasi, rata-rata berlangsung selama 10–13 tahun, tetapi bisa juga sesingkat lima tahun dan diperkirakan dapat berlangsung hingga 50 tahun atau lebih setelah paparan awal.[13]

Stadium klinis, yang dimulai saat gejala pertama kali muncul, berlangsung rata-rata selama 12 bulan. Perkembangan klinis penyakit kuru dibagi menjadi tiga stadium spesifik: stadium ambulan, sedenter, dan terminal. Meskipun terdapat sejumlah variasi dalam stadium-stadium ini dari satu individu ke individu lainnya, tahapan tersebut sangat seragam di antara populasi yang terdampak.[11] Sebelum timbulnya gejala klinis, seorang individu juga dapat menunjukkan gejala prodromal yang meliputi sakit kepala dan nyeri sendi di kaki.[14]

Stadium ambulan

sunting

Pada stadium ambulan, individu yang terinfeksi dapat menunjukkan postur dan gaya berjalan yang tidak stabil, penurunan kendali otot, kesulitan mengucapkan kata-kata (disartria), dan tremor (titubasi). Stadium ini dinamakan ambulan karena penderita masih mampu berjalan-jalan terlepas dari gejala yang dialaminya.[14]

Stadium sedenter

sunting

Pada stadium sedenter, individu yang terinfeksi tidak mampu berjalan tanpa bantuan dan mengalami ataksia serta tremor parah. Selain itu, individu tersebut menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan emosi dan depresi, namun kerap menunjukkan tawa yang tidak terkendali dan sporadis. Terlepas dari gejala neurologis lainnya, refleks tendon masih utuh pada stadium penyakit ini.[14]

Stadium terminal

sunting

Pada stadium terminal, gejala-gejala dari individu yang terinfeksi sebelumnya, seperti ataksia, berkembang ke titik di mana penderita tidak mungkin lagi duduk tegak tanpa bantuan. Gejala-gejala baru juga bermunculan: individu tersebut mengalami disfagia (kesulitan menelan), yang dapat mengarah pada malnutrisi parah, dan juga dapat mengalami inkontinensia, kehilangan kemampuan atau kemauan untuk berbicara, serta menjadi tidak responsif terhadap lingkungan sekitarnya meskipun masih dalam keadaan sadar.[14] Menjelang akhir stadium terminal, mereka yang terinfeksi sering kali mengalami luka ulkus dekubitus kronis yang dapat dengan mudah terinfeksi. Orang yang terinfeksi biasanya meninggal dunia dalam kurun waktu tiga bulan hingga dua tahun setelah gejala stadium terminal pertama kali muncul, sering kali karena pneumonia aspirasi[15] atau infeksi sekunder lainnya.[16]

Neuropatologi

sunting

Penelitian terhadap orang-orang yang terinfeksi kuru telah mengungkap penjelasan mengenai efek yang ditimbulkan penyakit ini pada otak. Pada stadium awal penyakit, orang yang terinfeksi mungkin mengalami penarikan diri, inkoordinasi, tremor, serta jari-jari kaki dan telapak kaki yang menekuk.[17] Untuk memahami kesulitan dalam keseimbangan dan koordinasi, sejumlah penelitian dilakukan dengan menganalisis otak individu yang terinfeksi. Penelitian oleh Klatzo dkk. ini menemukan bahwa neuron pada otak yang terinfeksi kuru berukuran abnormal lebih kecil dan berwarna lebih terang dibandingkan dengan neuron yang sehat.[17] Neuron yang terdampak tampak seperti "dimakan ngengat" karena deformasi karakteristiknya.[17] Kelainan pada neuron otak yang terinfeksi kuru ini serupa dengan kelainan pada pengidap penyakit Creutzfeldt-Jakob (CJD).[17]

Penyebab

sunting
Subdomain protein prion PrPC yang terlipat normal—Residu 125–228. Perhatikan adanya heliks alfa (biru).

Penyakit kuru sebagian besar terlokalisasi pada suku Fore dan orang-orang yang melakukan kawin campur dengan mereka.[18] Suku Fore secara ritual memasak dan mengonsumsi bagian tubuh anggota keluarga mereka yang telah meninggal untuk menyatukan "tubuh orang yang mati ke dalam tubuh kerabat yang masih hidup, sehingga membantu membebaskan roh orang mati tersebut".[19] Karena prion infeksius sangat terkonsentrasi di otak, perempuan dan anak-anak—sebagai konsumen utama jaringan otak tersebut—memiliki kemungkinan terinfeksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yang biasanya mengonsumsi otot.[20]

Prion

sunting

Agen infeksiusnya adalah bentuk salah lipat dari protein yang dikodekan oleh inang yang disebut prion (PrP). Protein prion dikodekan oleh Gen Protein Prion (PRNP).[21] Dua bentuk prion ini ditetapkan sebagai PrPC, yang merupakan protein yang terlipat secara normal, dan PrPSc, bentuk salah lipat yang memicu timbulnya penyakit tersebut. Kedua bentuk ini tidak memiliki perbedaan dalam urutan asam aminonya; akan tetapi, isoform PrPSc yang patogenik berbeda dari bentuk normal PrPC dalam struktur sekunder dan tersiernya. Isoform PrPSc lebih banyak mengandung lembaran beta, sedangkan bentuk PrPC normal banyak mengandung heliks alfa.[20] Perbedaan konformasi ini memungkinkan PrPSc untuk beragregasi dan menjadi sangat resisten terhadap degradasi protein oleh enzim atau cara kimiawi dan fisik lainnya. Sebaliknya, bentuk normalnya rentan terhadap proteolisis total dan dapat larut dalam detergen non-denaturasi.[14]

Diduga bahwa PrPSc yang sudah ada sebelumnya atau yang didapat melalui paparan dapat mendorong konversi PrPC menjadi PrPSc, yang selanjutnya akan mengonversi PrPC lainnya. Hal ini memicu reaksi berantai yang memungkinkan penyebarannya secara cepat, yang berujung pada patogenesis penyakit prion.[14]

Penularan

sunting

Pada tahun 1961, peneliti medis Australia Michael Alpers dan antropolog Shirley Lindenbaum melakukan studi lapangan ekstensif di kalangan suku Fore.[22] Penelitian historis mereka menunjukkan bahwa epidemi ini kemungkinan besar bermula pada awal tahun 1900-an dari satu individu yang tinggal di pinggiran wilayah suku Fore dan yang diyakini secara spontan mengembangkan suatu bentuk Penyakit Creutzfeldt-Jakob.[23] Penelitian Alpers dan Lindenbaum secara meyakinkan membuktikan bahwa penyakit kuru menyebar dengan mudah dan cepat pada masyarakat Fore akibat praktik pemakaman endokanibalisme mereka, di mana kerabat mengonsumsi jenazah orang yang meninggal untuk mengembalikan "kekuatan hidup" orang tersebut ke dusun, sebuah subunit sosial Fore.[24]

Distribusi demografis yang terlihat jelas dari tingkat infeksinya—pada puncaknya, prevalensi kuru delapan hingga sembilan kali lebih tinggi pada perempuan dan anak-anak dibandingkan pada laki-laki—disebabkan karena laki-laki Fore menganggap bahwa mengonsumsi daging manusia akan melemahkan mereka di masa konflik atau pertempuran. Para perempuan dan anak-anak lebih cenderung memakan jenazah yang meninggal, termasuk otaknya, tempat di mana partikel prion sangat terkonsentrasi.[25] Selain itu, ada kemungkinan besar bahwa penyakit ini ditularkan kepada perempuan dan anak-anak dengan lebih mudah karena merekalah yang mengambil tugas untuk membersihkan kerabat setelah kematian dan mungkin memiliki luka terbuka serta goresan di tangan mereka.[20]

Meskipun penelanan partikel prion dapat menyebabkan infeksi,[26] tingkat penularan yang tinggi terjadi jika partikel prion tersebut mencapai jaringan subkutan. Dengan dihapuskannya kanibalisme berkat penegakan hukum kolonial Australia dan upaya misionaris Kristen setempat, penelitian Alpers menunjukkan bahwa penyakit kuru sudah mulai menurun di kalangan suku Fore menjelang pertengahan tahun 1960-an. Namun, rata-rata masa inkubasi penyakit ini adalah 14 tahun, dan tujuh kasus dilaporkan memiliki latensi selama 40 tahun atau lebih bagi mereka yang paling tangguh secara genetik, sehingga kasus-kasusnya terus bermunculan selama beberapa dekade berikutnya. Orang terakhir yang mengidap penyakit kuru meninggal pada tahun 2009.[8][9][10]

Diagnosis

sunting

Penyakit kuru didiagnosis dengan meninjau riwayat tanda dan gejala serebelar individu, melakukan pemeriksaan neurologis, dan menyingkirkan kemungkinan penyakit neurologis lainnya selama pemeriksaan.[15] Gejala yang dievaluasi biasanya berupa masalah koordinasi dan pergerakan otot tak sadar, tetapi penanda ini dapat dikelirukan dengan penyakit lain yang memengaruhi sistem saraf dan otot; pemindaian fisik sering kali diperlukan untuk membedakan penyakit kuru dari gangguan lainnya.[27][28] Tidak ada tes laboratorium untuk menentukan keberadaan kuru kecuali evaluasi pascamati pada jaringan sistem saraf pusat (SSP), sehingga diagnosis dicapai dengan menyingkirkan kemungkinan gangguan lainnya.

Elektroensefalogram (EEG) digunakan untuk membedakan penyakit kuru dari penyakit Creutzfeldt-Jakob, sebuah ensefalopati (penyakit apa pun yang memengaruhi struktur otak) yang serupa.[28] EEG mendeteksi aktivitas listrik di otak seseorang dan mengukur frekuensi setiap gelombang untuk menentukan apakah ada masalah dengan aktivitas otak tersebut.[29] Kompleks periodik (PC), yaitu pola berulang dengan kompleks gelombang paku yang terjadi pada interval tertentu, sering terekam pada beberapa penyakit tetapi tidak muncul dalam hasil pembacaan penderita kuru.[30] Pemeriksaan dan pengujian, seperti EEG, MRI, tes darah, dan pemindaian dapat digunakan untuk menentukan apakah orang yang terinfeksi mengidap kuru atau ensefalopati lainnya. Akan tetapi, pengujian selama kurun waktu tertentu bisa menjadi hal yang sulit dilakukan.

Resistensi

sunting
Otak kecil dari seseorang yang terinfeksi kuru.

Pada tahun 2009, para peneliti di Dewan Riset Medis menemukan varian yang terjadi secara alami dari sebuah protein prion (PrnP) pada populasi di Papua Nugini yang memberikan resistensi kuat terhadap kuru. Dalam penelitian yang dimulai pada tahun 1996 tersebut,[31] para peneliti menilai lebih dari 3.000 orang dari populasi Dataran Tinggi Timur yang terdampak dan di sekitarnya, serta mengidentifikasi sebuah variasi pada protein prion: G127V (penggantian glisin pada posisi 127 dengan valin).[32] Polimorfisme G127V merupakan hasil dari mutasi salah arti, dan secara geografis sangat terbatas pada wilayah-wilayah di mana epidemi kuru paling luas menyebar. Para peneliti meyakini bahwa varian PrnP ini baru saja muncul, dengan perkiraan bahwa nenek moyang bersama yang paling baru hidup pada 10 generasi yang lalu.[32]

Temuan penelitian ini dapat membantu para peneliti untuk lebih memahami dan mengembangkan pengobatan bagi penyakit prion terkait lainnya, seperti Penyakit Creutzfeldt-Jakob[31] serta penyakit neurodegeneratif lainnya seperti Penyakit Alzheimer.[33]

Sejarah

sunting

Penyakit kuru pertama kali dideskripsikan dalam laporan resmi oleh petugas Australia yang berpatroli di Dataran Tinggi Timur Papua Nugini pada awal tahun 1950-an.[8] Beberapa catatan tidak resmi menyebutkan keberadaan penyakit kuru di wilayah tersebut sejak tahun 1910.[34] Pada tahun 1951, Arthur Carey adalah orang pertama yang menggunakan istilah kuru dalam sebuah laporan untuk mendeskripsikan penyakit baru yang menimpa suku Fore di Papua Nugini (PNG). Dalam laporannya, Carey mencatat bahwa kuru sebagian besar menyerang perempuan Fore, yang pada akhirnya merenggut nyawa mereka. Kuru tercatat pada suku Fore, Yate, dan Usurufa pada tahun 1952–1953 oleh antropolog Ronald Berndt dan Catherine Berndt.[34] Pada tahun 1953, kuru diobservasi oleh petugas patroli John McArthur, yang memberikan deskripsi mengenai penyakit ini dalam laporannya. McArthur meyakini bahwa kuru hanyalah sebuah episode psikosomatik yang diakibatkan oleh praktik perdukunan suku-suku di wilayah tersebut.[8] Setelah penyakit ini berkembang menjadi epidemi yang lebih besar, masyarakat suku tersebut meminta Charles Pfarr, seorang petugas medis Lutheran, untuk datang ke daerah itu guna melaporkan penyakit tersebut kepada pihak berwenang Australia.[34]

Pada awalnya, suku Fore meyakini penyebab kuru adalah ilmu sihir atau guna-guna.[35] Mereka juga mengira bahwa sihir yang menyebabkan kuru menular. Penyakit ini juga disebut negi-nagi, yang berarti orang bodoh karena para korbannya tertawa pada jeda waktu yang spontan.[36] Penyakit ini, sebagaimana diyakini oleh suku Fore, disebabkan oleh hantu, mengingat adanya guncangan dan perilaku aneh yang menyertai kuru. Sebagai upaya untuk menyembuhkannya, mereka akan memberi makan para korban dengan kulit kayu cemara.[37]

Ketika kuru telah menjadi sebuah epidemi, Daniel Carleton Gajdusek, seorang ahli virologi, dan Vincent Zigas, seorang dokter medis lainnya, mulai melakukan penelitian mengenai penyakit tersebut.[10] Pada tahun 1957, Zigas dan Gajdusek menerbitkan sebuah laporan di Medical Journal of Australia yang mengemukakan bahwa kuru memiliki asal-usul genetik, dan bahwa "setiap variabel etnis-lingkungan yang beroperasi dalam patogenesis kuru belum dapat ditentukan."[38]

Kanibalisme telah dicurigai sebagai kemungkinan penyebab sejak awal, tetapi belum secara resmi diajukan sebagai hipotesis hingga tahun 1967 oleh Glasse, dan secara lebih resmi pada tahun 1968 oleh Mathews, Glasse, dan Lindenbaum.[36]

Bahkan sebelum antropofagi dikaitkan dengan kuru, kanibalisme telah dilarang oleh pemerintah administratif Australia di Papua Nugini, dan praktik tersebut hampir sepenuhnya dihilangkan pada tahun 1960. Seiring menurunnya jumlah kasus kuru, para peneliti medis akhirnya mampu menyelidiki penyakit ini dengan saksama, yang pada akhirnya mengarah pada pemahaman modern tentang prion sebagai penyebabnya.[6]

Dalam upaya untuk memahami patologi penyakit kuru, Gajdusek merancang uji eksperimental pertama pada simpanse untuk penyakit kuru di National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat.[34] Michael Alpers, seorang dokter Australia, berkolaborasi dengan Gajdusek dengan menyediakan sampel jaringan otak yang telah diambilnya dari seorang anak perempuan suku Fore berusia 11 tahun yang meninggal karena kuru.[39] Dalam pekerjaannya, Gajdusek juga merupakan orang pertama yang menyusun daftar pustaka mengenai penyakit kuru.[40] Joe Gibbs bergabung dengan Gajdusek untuk memantau dan mencatat perilaku kera-kera tersebut di NIH serta melakukan autopsi pada mereka. Dalam kurun waktu dua tahun, salah satu simpanse, Daisy, telah mengidap kuru, yang membuktikan bahwa faktor penyakit yang tidak diketahui telah ditularkan melalui biomaterial yang terinfeksi dan bahwa agen tersebut mampu melewati batasan spesies ke primata lainnya. Setelah Elisabeth Beck mengonfirmasi bahwa eksperimen ini telah menghasilkan penularan kuru secara eksperimental yang pertama, temuan tersebut dianggap sebagai kemajuan yang sangat penting dalam kedokteran manusia, yang mengantarkan Gajdusek meraih Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1976.[34]

Selanjutnya, E. J. Field menghabiskan sebagian besar waktunya pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an di Nugini untuk menyelidiki penyakit ini,[41] lalu menghubungkannya dengan skrapie dan sklerosis ganda.[42] Ia mencatat interaksi penyakit ini dengan sel glia, termasuk pengamatan penting bahwa proses infeksinya mungkin bergantung pada penataan ulang struktural molekul inang.[43]

Dalam budaya populer

sunting
  • Penulis naskah drama Josh C. Manheimer menulis sebuah komedi panggung—yang juga berjudul Kuru—mengenai penemuan penyakit tersebut.[44] Drama ini dipentaskan pertama kali pada musim tayang perdana Purple Rose Theatre Company pada tahun 1991.
  • Seorang imunolog dan penyair asal Ceko, Miroslav Holub, menulis "Kuru, or the Smiling Death Syndrome" (Kuru, atau Sindrom Kematian yang Tersenyum) mengenai penyakit ini.[45]
  • The X-Files musim ke-7 episode "Theef" menampilkan sebuah karakter yang didiagnosis mengidap kuru stadium lanjut setelah kematiannya secara mendadak.[46] Penelitian tentang kuru juga memengaruhi naskah untuk episode musim ke-2 yang berjudul "Our Town."[47]
  • Permainan video Dead Island, serta Dead Island: Riptide, menyebut kuru sebagai penyakit yang telah melanda pulau fiksi Banoi dan Palanai.[48]
  • Dalam film We Are What We Are, pemeriksa medis mampu mengidentifikasi keluarga tersebut sebagai kanibal setelah ia menyadari bahwa mereka menderita kuru.[49]
  • Dalam permainan video DayZ, kuru digambarkan sebagai mekanika alur permainan, di mana pemain yang mengonsumsi daging manusia akan mengalami gejala-gejala seperti tawa yang tidak terkendali, tremor, dan gangguan tindakan, yang mencerminkan penyakit di dunia nyata.[50]
  • Dalam acara televisi Scream Queens, karakter Dean Munsch mengidap kuru.[51]
  • Dalam acara televisi Watson, tim tersebut mendiagnosis seorang karakter bernama Wren pada Musim ke-2, Episode 12, yang menderita kuru akibat memakan orang tuanya setelah kecelakaan pesawat di Kutub Utara.[52]

Referensi

sunting
  1. ^ "The epidemiology of kuru in the period 1987 to 1995", Departemen Kesehatan (Australia), diakses tanggal 5 February 2019
  2. ^ Hoskin, J.O.; Kiloh, L.G.; Cawte, J.E. (April 1969). "Epilepsy and guria: The shaking syndromes of New Guinea". Social Science & Medicine. 3 (1): 39–48. doi:10.1016/0037-7856(69)90037-7. PMID 5809623.
  3. ^ Scott, Graham (1978). The Fore Language of Papua New Guinea. Pacific Linguistics. hlm. 2, 6. doi:10.15144/PL-B47. hdl:1885/146489. ISBN 978-0-85883-173-5.
  4. ^ Whitfield, Jerome T; Pako, Wandagi H; Collinge, John; Alpers, Michael P (27 November 2008). "Mortuary rites of the South Fore and kuru". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 363 (1510): 3721–3724. doi:10.1098/rstb.2008.0074. PMC 2581657. PMID 18849288.
  5. ^ Bichell, Rae Ellen (6 September 2016). "When People Ate People, A Strange Disease Emerged". NPR.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 8 April 2018.
  6. ^ a b Kennedy, John (15 May 2012). "Kuru Among the Foré — The Role of Medical Anthropology in Explaining Aetiology and Epidermiology". ArcJohn.wordpress.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 21 November 2016.
  7. ^ "Kuru". MedlinePlus Medical Encyclopedia. Diakses tanggal 14 November 2016.
  8. ^ a b c d Shirley Lindenbaum (14 April 2015). "An annotated history of kuru". Medicine Anthropology Theory. Diarsipkan dari asli tanggal 15 September 2018. Diakses tanggal 12 November 2016.
  9. ^ a b Rense, Sarah (7 September 2016). "Here's What Happens to Your Body When You Eat Human Meat". Esquire.
  10. ^ a b c "Kuru". UCL Faculty of Brain Sciences (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 22 December 2025.
  11. ^ a b Alpers, Michael P (December 2005). "The epidemiology of kuru in the period 1987 to 1995". Communicable Diseases Intelligence. 29 (4): 391–399. PMID 16465931. Diakses tanggal 10 November 2016.
  12. ^ Liberski, Pawel P.; Sikorska, Beata; Lindenbaum, Shirley; Goldfarb, Lev G.; McLean, Catriona; Hainfellner, Johannes A.; Brown, Paul (February 2012). "Kuru". Journal of Neuropathology & Experimental Neurology. 71 (2): 92–103. doi:10.1097/NEN.0b013e3182444efd. PMC 5120877. PMID 22249461.
  13. ^ Collinge, John; Whitfield, Jerome; McKintosh, Edward; Frosh, Adam; Mead, Simon; Hill, Andrew F; Brandner, Sebastian; Thomas, Dafydd; Alpers, Michael P (27 November 2008). "A clinical study of kuru patients with long incubation periods at the end of the epidemic in Papua New Guinea". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 363 (1510): 3725–3739. doi:10.1098/rstb.2008.0068. PMC 2581654. PMID 18849289.
  14. ^ a b c d e f Imran, Muhammad; Mahmood, Saqib (24 December 2011). "An overview of human prion diseases". Virology Journal. 8 (1): 559. doi:10.1186/1743-422X-8-559. PMC 3296552. PMID 22196171.
  15. ^ a b Mahat, Sanjay; Asuncion, Ria Monica D. (2023), "Kuru", StatPearls, Treasure Island (FL): StatPearls Publishing, PMID 32644529, diakses tanggal 19 October 2023
  16. ^ Wadsworth, Jonathan D. F.; Joiner, Susan; Linehan, Jacqueline M.; Desbruslais, Melanie; Fox, Katie; Cooper, Sharon; Cronier, Sabrina; Asante, Emmanuel A.; Mead, Simon; Brandner, Sebastian; Hill, Andrew F.; Collinge, John (11 March 2008). "Kuru prions and sporadic Creutzfeldt–Jakob disease prions have equivalent transmission properties in transgenic and wild-type mice". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 105 (10): 3885–3890. Bibcode:2008PNAS..105.3885W. doi:10.1073/pnas.0800190105. PMC 2268835. PMID 18316717.
  17. ^ a b c d Liberski, Pawel P.; Sikorska, Beata; Lindenbaum, Shirley; Goldfarb, Lev G.; McLean, Catriona; Hainfellner, Johannes A.; Brown, Paul (February 2012). "Kuru: Genes, Cannibals and Neuropathology". The American Association of Neuropathologists. 71 (2): 92–103. doi:10.1097/NEN.0b013e3182444efd. PMC 5120877. PMID 22249461 – via Journal of Neuropathology and Experimental Neurology.
  18. ^ Lindenbaum, Shirley (1 January 2001). "Kuru, Prions, and Human Affairs: Thinking About Epidemics". Annual Review of Anthropology. 30 (1): 363–385. doi:10.1146/annurev.anthro.30.1.363. S2CID 162196301.
  19. ^ Whitfield, Jerome T.; Pako, Wandagi H.; Collinge, John; Alpers, Michael P. (27 November 2008). "Mortuary rites of the South Fore and kuru". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 363 (1510): 3721–3724. doi:10.1098/rstb.2008.0074. ISSN 0962-8436. PMC 2581657. PMID 18849288.
  20. ^ a b c Kuru di eMedicine
  21. ^ Linden, Rafael; Martins, Vilma R.; Prado, Marco A. M.; Cammarota, Martín; Izquierdo, Iván; Brentani, Ricardo R. (April 2008). "Physiology of the Prion Protein". Physiological Reviews. 88 (2): 673–728. doi:10.1152/physrev.00007.2007. PMID 18391177.
  22. ^ "A life of determination". Monash University — Faculty of Medicine, Nursing and Health Sciences. 23 February 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 10 December 2015. Diakses tanggal 20 January 2016.
  23. ^ Kuru: The Science and the Sorcery (Siamese Films, 2010)
  24. ^ Diamond J.M. (1997). Guns, germs, and steel: the fates of human societies. New York: W.W. Norton. hlm. 208. ISBN 978-0-393-03891-0.[halaman dibutuhkan]
  25. ^ "Kuru | About the Disease | GARD". rarediseases.info.nih.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-29.
  26. ^ Gibbs, Clarence J.; Amyx, Herbert L.; Bacote, Alfred; Masters, Colin L.; Gajdnsek, D. Carleton (August 1980). "Oral Transmission of Kuru, Creutzfeldt-Jakob Disease, and Scrapie to Nonhuman Primates". The Journal of Infectious Diseases. 142 (2): 205–208. doi:10.1093/infdis/142.2.205. PMID 6997404.
  27. ^ "Kuru: MedlinePlus Medical Encyclopedia". medlineplus.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 October 2023.
  28. ^ a b "Kuru: What Is It, Causes, Signs and Symptoms, and More | Osmosis". www.osmosis.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 October 2023.
  29. ^ Services, Department of Health & Human. "EEG test". www.betterhealth.vic.gov.au (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 October 2023.
  30. ^ Smith, S. J. M. (1 June 2005). "EEG in neurological conditions other than epilepsy: when does it help, what does it add?". Journal of Neurology, Neurosurgery & Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 76 (suppl 2): ii8 – ii12. doi:10.1136/jnnp.2005.068486. ISSN 0022-3050. PMC 1765689. PMID 15961870.
  31. ^ a b "Brain disease 'resistance gene' evolves in Papua New Guinea community; could offer insights into CJD". ScienceDaily. 21 November 2009. Diakses tanggal 12 November 2016.
  32. ^ a b Mead, Simon; Whitfield, Jerome; Poulter, Mark; Shah, Paresh; Uphill, James; Campbell, Tracy; Al-Dujaily, Huda; Hummerich, Holger; Beck, Jon; Mein, Charles A.; Verzilli, Claudio; Whittaker, John; Alpers, Michael P.; Collinge, John (19 November 2009). "A Novel Protective Prion Protein Variant that Colocalizes with Kuru Exposure" (PDF). New England Journal of Medicine. 361 (21): 2056–2065. doi:10.1056/NEJMoa0809716. PMID 19923577.
  33. ^ "Natural genetic variation gives complete resistance in prion diseases". Ucl.ac.uk. 11 June 2015. Diakses tanggal 12 November 2016.
  34. ^ a b c d e Alpers, MP (2007). "A history of kuru". Papua and New Guinea Medical Journal. 50 (1–2): 10–9. PMID 19354007.
  35. ^ "Kuru". Transmissible Spongiform Encephalopathies. Diarsipkan dari asli tanggal 21 November 2016. Diakses tanggal 21 November 2016.
  36. ^ a b Liberski, Paweł P.; Gajos, Agata; Sikorska, Beata; Lindenbaum, Shirley (7 March 2019). "Kuru, the First Human Prion Disease". Viruses. 11 (3): 232. doi:10.3390/v11030232. PMC 6466359. PMID 30866511.
  37. ^ Liberski, Paweł; Gajos, Agata; Sikorska, Beata; Lindenbaum, Shirley (7 March 2019). "Kuru, the First Human Prion Disease". Viruses (dalam bahasa Inggris). 11 (3): 232. doi:10.3390/v11030232. ISSN 1999-4915. PMC 6466359. PMID 30866511.
  38. ^ Zigas, Vincent; Gajdusek, Daniel (23 November 1957). "Kuru: Clinical study of a new syndrome resembling paralysis agitans of the eastern highlands of Australian New Guinea". Medical Journal of Australia. 2 (21): 745–754. doi:10.5694/j.1326-5377.1957.tb60287.x. PMID 13492772. S2CID 38647011.
  39. ^ "Revisiting the history of kuru - Hektoen International". hekint.org. 30 May 2019. Diakses tanggal 14 September 2023.
  40. ^ Liberski, P. P.; Brown, P. (2004). "Kuru: A half-opened window onto the landscape of neurodegenerative diseases". Folia Neuropathologica. 42 Suppl A: 3–14. PMID 15449456.
  41. ^ "Kuru - To Tremble with Fear". Horizon. Musim 8. Episode 6. 22 February 1971. BBC2.
  42. ^ Field, EJ (7 December 1967). "The significance of astroglial hypertrophy in Scrapie, Kuru, Multiple Sclerosis and old age together with a note on the possible nature of the scrapie agent". Journal of Neurology. 192 (3): 265–274. doi:10.1007/bf00244170. S2CID 8855940.
  43. ^ Field, EJ (Feb 1978). "Immunological assessment of ageing: emergence of scrapie-like antigens". Age Ageing. 7 (1): 28–39. doi:10.1093/ageing/7.1.28. PMID 416662.
  44. ^ "A COMIC STEW WITH BITE". Tampa Bay Times (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 15 May 2025.
  45. ^ Holub, Miroslav (1990). Vanishing Lung Syndrome. Diterjemahkan oleh David Young and Dana Habova. Oberlin College Press. ISBN 0-932440-52-5.; (Faber and Faber, 1990). ISBN 0-571-14339-3[halaman dibutuhkan]
  46. ^ "The X-Files: "First Person Shooter" / "Theef"". The A.V. Club (dalam bahasa Inggris). 19 January 2013. Diakses tanggal 30 January 2024.
  47. ^ Hurwitz, Matt  & Knowles, Chris  (2008). The Complete X-Files: Behind the Series the Myths and the Movies. New York, US: Insight Editions. ISBN 978-1933784724. ; , page 66
  48. ^ Estrada, Aura (1 June 2020). "Dead Island: Riptide - Tips & Tricks For New Players". ScreenRant (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 January 2024.
  49. ^ Lerman, Elizabeth (25 July 2020). "We Are What We Are: Ending & Cannibal Family Traditions Explained". ScreenRant (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 30 January 2024.
  50. ^ "DayZ 1.24 Experimental Patch Notes". Prima Games (dalam bahasa American English). 18 January 2024. Diakses tanggal 23 January 2025.
  51. ^ "What Disease Does Dean Munsch Have On 'Scream Queens'? It's Incredibly Rare". Romper (dalam bahasa Inggris). 4 October 2016. Diakses tanggal 1 December 2025.
  52. ^ Ibañez, Bea Melisse (14 March 2026). "Watson season 2 episode 12 ending explained: What is Wren's trauma?". Sportskeeda (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 14 March 2026.

Bacaan lanjutan

sunting

Pranala luar

sunting
Klasifikasi
Sumber luar

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kulit gelap

Homo Bower, C.; Stanley (1992). "The role of nutritional factors in the aetiology of neural tube defects". Journal of Paediatrics and Child Health. 28 (1):

Streptococcus mutans

PMID 21413316. ; Clarke, J. Kilian (1924). "On the Bacterial Factor in the Ætiology of Dental Caries". British Journal of Experimental Pathology. 5 (3): 141–7

Sindrom sernak bayi

(2014-01-01). "Perinatal mental illness: Definition, description and aetiology". Best Practice & Research Clinical Obstetrics & Gynaecology. Perinatal

Ensefalopati spongiform menular

(October 1996). "Molecular analysis of prion strain variation and the aetiology of 'new variant' CJD". Nature. 383 (6602): 685–690. Bibcode:1996Natur

Penyebab (medis)

Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 6–7. ISBN 978-0-7817-5564-1. "Aetiology". Oxford English Dictionary (Edisi 2nd). Oxford University Press. 2002

Katarak

Ashworth JL, Lloyd IC (April 2012). "Congenital and infantile cataract: aetiology and management". European Journal of Pediatrics. 171 (4): 625–630. doi:10

Etiologi

Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 6–7. ISBN 978-0-7817-5564-1. Aetiology (Edisi 2nd). Oxford University Press. 2002. ISBN 0-19-521942-2. Greene

Perbedaan ejaan bahasa Inggris Amerika Serikat dan Britania Raya

æstival aestival estival estival œstrogen oestrogen estrogen estrogen ætiology aetiology etiology etiologi gynæcology gynaecology gynecology ginekologi hæmorrhage