| Afrodit | |
|---|---|
Dewi cinta, hawa nafsu, gairah, kenikmatan, kecantikan, dan seksualitas | |
| Anggota Dua Belas Dewa Olimpus | |
Afrodit Knidia Ludovisi, salinan marmer Romawi (tubuh dan paha) dengan kepala, lengan, kaki, dan penopang kain yang direstorasi | |
| Kediaman | Gunung Olimpus |
| Planet | Venus |
| Simbol | mawar, kerang laut, mutiara, cermin, korset, anemon, selada, narsis |
| Hewan | lumba-lumba, burung gereja, burung merpati, angsa, kelinci, angsa berleher pendek, lebah, ikan, kupu-kupu |
| Pohon | mur, murad, apel, delima |
| Keluarga | |
| Orang tua | Zeus dan Dione (Homerus)[2] Uranus (Hesiodos)[3] |
| Pasangan | Hefaistos (bercerai) Ares[1] |
| Anak | Eros, Fobos, Deimos, Harmonia, Pothos, Anteros, Himeros, Hermafroditus, Rhodos, Eryx, Peitho, Tiga Kharites, Beroe, Golgos, Priapos, Aineias |
| Padanan | |
| Romawi | Venus |
| Mesir | Hathor, Isis |
Afrodit (/หรฆfrษหdaษชtiห/ย โ, AF-rษ-DY-tee)[a] adalah seorang dewi Yunani kuno yang dikaitkan dengan cinta, hawa nafsu, kecantikan, kenikmatan, gairah, prokreasi, dan sebagaimana padanan Romawinya yang disinkretiskan Venus, hasrat, seks, kesuburan, kemakmuran, dan kemenangan. Simbol utama Afrodit meliputi kerang laut, murad, mawar, burung merpati, burung gereja, dan angsa. Kultus Afrodit sebagian besar berasal dari dewi Fenisia Astarte, yang sekerabat dengan dewi Semit Timur Ishtar, yang kultusnya didasarkan pada kultus Sumeria untuk Inanna. Pusat pemujaan utama Afrodit berada di Kythira, Siprus, Korintus, dan Athena. Festival utamanya adalah Afrodisia, yang dirayakan setiap tahun pada pertengahan musim panas. Di Lakonia, Afrodit dipuja sebagai dewi prajurit. Ia juga merupakan dewi pelindung para pelacur, sebuah asosiasi yang membuat para cendekiawan awal mengajukan konsep pelacuran suci dalam budaya Yunani-Romawi, suatu gagasan yang kini secara umum dianggap keliru.
Sebagai dewi utama dalam jajaran dewa Yunani, Afrodit sering kali muncul dalam sastra Yunani kuno. Menurut banyak sumber, seperti Ilias karya Homerus dan Ode untuk Afrodit karya Safo, ia adalah putri dari Zeus dan Dione. Namun, dalam Theogonia karya Hesiodos, Afrodit lahir di lepas pantai Kythira dari buih (แผฯฯฯฯ, aphrรณs) yang dihasilkan oleh alat kelamin Uranus, yang telah dipotong dan dilemparkan ke laut oleh putranya, Kronos. Dalam Simposium karyanya, Plato menegaskan bahwa kedua asal-usul ini sebenarnya milik entitas yang terpisah; Afrodit Urania (Afrodit "Surgawi" yang transenden, yang "tidak mengambil bagian dari perempuan tetapi hanya dari laki-laki", dengan Plato menggambarkannya sebagai pengilham cinta antar laki-laki, tetapi tidak ada hubungannya dengan cinta perempuan) dan Afrodit Pandemos (Afrodit yang umum bagi "semua orang" yang digambarkan Plato sebagai "jalang", untuk mengontraskannya dengan Afrodit Urania yang perawan, yang sama sekali tidak terlibat dalam tindakan seksual. Pandemos mengilhami cinta antara laki-laki dan perempuan, tidak seperti padanannya yang lebih tua).[4] Julukan Afrodit Areia ("Yang Menyukai Perang") mengungkapkan sifat kontrasnya dalam agama Yunani kuno. Afrodit memiliki banyak julukan lain, masing-masing menekankan aspek berbeda dari dewi yang sama atau digunakan oleh kultus lokal yang berbeda. Oleh karena itu, ia juga dikenal sebagai Kithereia (Puan Kythira) dan Kipris (Puan Siprus), karena kedua lokasi tersebut mengklaim sebagai tempat kelahirannya. Ode untuk Afrodit karya Safo adalah salah satu puisi paling awal yang didedikasikan untuk dewi tersebut dan bertahan dari periode Arkais dalam keadaan yang hampir utuh.
Dalam mitologi Yunani, Afrodit menikah dengan Hefaistos, dewa api, pandai besi, dan pengerjaan logam. Afrodit sering kali tidak setia kepadanya dan memiliki banyak kekasih; dalam Odisseia, ia tertangkap basah sedang berzina dengan Ares, dewa perang. Dalam Gita Puja Homerus Pertama untuk Afrodit, ia merayu gembala fana Ankhises setelah Zeus membuatnya jatuh cinta pada pria itu. Afrodit juga menjadi ibu pengganti sekaligus kekasih bagi gembala fana Adonis, yang tewas dibunuh oleh seekor babi hutan. Bersama dengan Athena dan Hera, Afrodit adalah salah satu dari tiga dewi yang perseteruannya mengakibatkan dimulainya Perang Troya dan memainkan peran utama di sepanjang Ilias. Afrodit telah ditampilkan dalam seni rupa Barat sebagai simbol kecantikan wanita dan telah muncul dalam berbagai karya sastra Barat. Ia adalah dewi utama dalam agama-agama Neopagan modern, termasuk Gereja Afrodit, Wicca, dan Hellenisme.
Etimologi
suntingHesiodos menelusuri nama Afrodit dari aphrรณs (แผฯฯฯฯ) 'buih laut',[5] menafsirkan nama tersebut sebagai "bangkit dari buih",[6][5] tetapi sebagian besar cendekiawan modern menganggap hal ini sebagai etimologi rakyat yang keliru.[5][7] Para pakar mitologi klasik pada awal era modern berupaya mengemukakan argumen bahwa nama Afrodit berasal dari bahasa Yunani atau Indo-Eropa, tetapi upaya tersebut pada umumnya telah ditinggalkan.[7] Nama Afrodit secara umum diyakini kemungkinan besar berasal dari bahasa Semit, karena pemujaan Afrodit yang dipercaya bermula di kawasan Timur Dekat, tetapi derivasi persisnya tidak dapat ditentukan secara pasti.[7][8][9] Beberapa cendekiawan, seperti Fritz Hommel, telah menyarankan bahwa nama Afrodit adalah pelafalan yang dihelenisasikan dari nama "Astarte"; namun, cendekiawan lain menolaknya karena tidak dapat dipertahankan secara linguistik.[10][11] Martin West merekonstruksi bentuk nama tersebut dari bahasa Kanaan Siprus menjadi *สฟAprodรฎt atau *สฟAproแธรฎt, dan dengan hati-hati menduga bahwa bentuk yang kedua merupakan sebuah julukan yang berarti "Perempuan dari Desa-desa".[12] Aren Wilson-Wright menyarankan bentuk Fenisia *สพAprodฤซt sebagai julukan elatif yang berarti "unik, luar biasa, agung".[13]
Para cendekiawan pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, yang menerima etimologi "buih" usulan Hesiodos sebagai sesuatu yang riil, menganalisis bagian kedua dari nama Afrodit sebagai *-odรญtฤ "pengembara"[14] atau sebagai *-dรญtฤ "terang".[15][16] Belakangan ini, Michael Janda, yang juga menerima etimologi Hesiodos, memberikan argumen yang mendukung interpretasi kedua ini dan mengklaim kisah kelahiran dari buih sebagai sebuah mitem Indo-Eropa.[17][18] Serupa dengan hal itu, Krzysztof Tomasz Witczak mengajukan bentuk majemuk bahasa Indo-Eropa *abสฐor- "sangat" dan *dสฐei- "bersinar", yang juga merujuk pada Eos,[19] dan Daniel Kรถlligan telah menginterpretasikan nama Afrodit sebagai "bersinar ke atas dari kabut/buih".[20] Beberapa cendekiawan lain berpendapat bahwa hipotesis-hipotesis ini tidak mungkin, karena atribut yang dimiliki Afrodit sepenuhnya berbeda dari atribut yang dimiliki Eos maupun dewi Weda Ushas.[21][22]
Sejumlah etimologi non-Yunani yang kurang masuk akal juga telah diusulkan. Salah satu etimologi bahasa Semit membandingkan Afrodit dengan barฤซrฤซtu dari Asyur, nama sesosok iblis perempuan yang muncul dalam teks-teks Babilonia Pertengahan dan Babilonia Akhir.[23] Hammarstrรถm[24] menelisik bahasa Etruska, dengan membandingkan (e)prฮธni "tuan", sebuah gelar kehormatan Etruska yang diserap ke dalam bahasa Yunani menjadi ฯฯฯฯฮฑฮฝฮนฯ.[25][8][26] Hal ini pada asalnya akan menjadikan teonim tersebut sebagai sebuah gelar kehormatan, "sang puan".[25][8] Sebagian besar cendekiawan menolak etimologi ini karena dianggap mustahil,[25][8][26] terutama mengingat nama Afrodit pada dasarnya muncul dalam bahasa Etruska dalam bentuk kata serapan Apru (dari bahasa Yunani Aphrล, bentuk singkat dari Afrodit).[8] Etymologicum Magnum dari Abad Pertengahan (caโ1150) menawarkan etimologi yang sangat mengada-ada, menurunkan Afrodit dari kata majemuk habrodรญaitos (แผฮฒฯฮฟฮดฮฏฮฑฮนฯฮฟฯ), "dia yang hidup dengan lembut", dari habrรณs dan dรญaita. Perubahan dari b ke ph dijelaskan sebagai karakteristik bahasa Yunani yang "lazim" yang "terlihat jelas pada bahasa orang-orang Makedonia kuno".[27]
Dalam aksara silabis Siprus, sebuah sistem penulisan suku kata yang digunakan di pulau Siprus dari abad kesebelas hingga keempat SM, nama Afrodit terbukti muncul dalam bentuk ๐ ๐ ก๐ ฆ๐ ญ๐ ๐ (a-po-ro-ta-o-i, dibaca kanan-ke-kiri),[28] ๐ ๐ ก๐ ฆ๐ ฏ๐ ญ๐ (a-po-ro-ti-ta-i, sama halnya),[29] dan yang terakhir ๐ ๐ ก๐ ฆ๐ ฏ๐ ช๐ (a-po-ro-ti-si-jo, "Afrodisia", "berkaitan dengan Afrodit", dalam konteks penyebutan bulan).[30]
Asal-usul
suntingDewi cinta Timur Dekat
suntingKultus Afrodit di Yunani diimpor dari, atau setidaknya dipengaruhi oleh, kultus Astarte di Fenisia,[31][32][33][34] yang pada gilirannya, dipengaruhi oleh kultus dewi Mesopotamia yang dikenal sebagai "Ishtar" bagi orang-orang Semit Timur dan sebagai "Inanna" bagi orang-orang Sumeria.[35][33][34] Pausanias menyatakan bahwa yang pertama kali mendirikan kultus Afrodit adalah orang-orang Asyur, diikuti oleh orang-orang Pafos di Siprus, lalu orang-orang Fenisia di Askelon. Orang-orang Fenisia, pada gilirannya, mengajarkan pemujaannya kepada orang-orang Kythira.[36]
Afrodit mengambil alih asosiasi Inanna-Ishtar dengan seksualitas dan prokreasi.[37] Lebih jauh lagi, ia dikenal sebagai Ourania (ฮแฝฯฮฑฮฝฮฏฮฑ), yang berarti "surgawi",[38] sebuah gelar yang berkaitan dengan peran Inanna sebagai Ratu Surga.[38][39] Penggambaran artistik dan sastra awal tentang Afrodit sangatlah mirip dengan Inanna-Ishtar.[37] Seperti Inanna-Ishtar, Afrodit juga merupakan seorang dewi prajurit;[37][32][40] ahli geografi Yunani abad kedua Masehi Pausanias mencatat bahwa, di Sparta, Afrodit dipuja sebagai Afrodit Areia, yang berarti "menyukai perang".[41][42] Ia juga menyebutkan bahwa patung kultus paling kuno Afrodit di Sparta dan di Kythira menampilkan sang dewi sedang menyandang senjata.[41][42][43][37] Para cendekiawan modern mencatat bahwa aspek dewi prajurit Afrodit muncul di lapisan tertua pemujaannya[44] dan menganggap hal tersebut sebagai indikasi asal-usul Timur Dekatnya.[44][45]
Para cendekiawan klasik abad kesembilan belas pada umumnya merasa enggan menerima gagasan bahwa agama Yunani kuno dipengaruhi oleh budaya-budaya Timur Dekat sama sekali,[46] tetapi bahkan Friedrich Gottlieb Welcker, yang berpendapat bahwa pengaruh Timur Dekat terhadap budaya Yunani sebagian besar terbatas pada budaya materiil,[46] mengakui bahwa Afrodit jelas-jelas berasal dari Fenisia.[46] Pengaruh budaya Timur Dekat yang signifikan pada agama awal Yunani secara umum, dan pada kultus Afrodit khususnya,[47] kini secara luas diakui berasal dari masa orientalisasi selama abad kedelapan SM,[47] ketika Yunani Arkais berada di pinggiran Kekaisaran Asyur Baru.[48]
Dewi fajar Indo-Eropa
suntingBeberapa pakar mitologi perbandingan awal yang menentang gagasan tentang asal-usul Timur Dekat berpendapat bahwa Afrodit bermula sebagai sebuah aspek dari dewi fajar Yunani Eos[49][50] dan karena itu pada akhirnya ia berasal dari dewi fajar Proto-Indo-Eropa *Haรฉusลs (tepatnya Eos dalam bahasa Yunani, Aurora dalam bahasa Latin, Ushas dalam bahasa Sanskerta).[49][50] Sebagian besar cendekiawan modern kini telah menolak anggapan tentang Afrodit yang murni beraliran Indo-Eropa,[7][51][22][52] tetapi sangat mungkin bahwa Afrodit, yang pada mulanya merupakan dewa Semit, mungkin telah dipengaruhi oleh dewi fajar Indo-Eropa.[52] Baik Afrodit maupun Eos dikenal karena kecantikan erotis serta seksualitas agresif mereka[50] dan keduanya memiliki hubungan dengan kekasih-kekasih yang fana.[50] Kedua dewi ini diasosiasikan dengan warna merah, putih, dan emas.[50] Michael Janda menelusuri etimologi nama Afrodit sebagai julukan bagi Eos yang berarti "ia yang bangkit dari buih [samudra]"[18] dan menunjuk pada catatan kelahiran Afrodit dalam Theogonia karya Hesiodos sebagai refleks arkais dari mitos Indo-Eropa.[18] Keluarnya Afrodit dari perairan setelah Kronos mengalahkan Uranus sebagai sebuah mitem selanjutnya akan berkerabat langsung dengan mitos Regweda mengenai Indra yang mengalahkan Wrtra, yang membebaskan Ushas.[17][18] Kemiripan kunci lainnya antara Afrodit dan dewi fajar Indo-Eropa adalah kekerabatan dekatnya dengan dewa langit Yunani,[52] mengingat kedua sosok utama yang diklaim sebagai ayahnya (Zeus dan Uranus) adalah dewa-dewa langit.[53]
Bentuk dan julukan
suntingJulukan kultus Afrodit yang paling umum adalah Ourania, yang berarti "surgawi",[57][58] tetapi julukan ini hampir tidak pernah muncul dalam teks-teks sastra, yang mengindikasikan makna murni dari kultus.[59] Nama umum lainnya untuk Afrodit adalah Pandemos ("Untuk Semua Orang").[60] Dalam perannya sebagai Afrodit Pandemos, Afrodit dikaitkan dengan Peithล (ฮ ฮตฮฏฮธฯ), yang berarti "bujukan",[61] dan kepadanya doa dapat dipanjatkan untuk memohon bantuan dalam merayu.[61] Karakter Pausanias dalam Simposium karya Plato, mengambil praktik-praktik kultus berbeda yang terkait dengan berbagai julukan dewi tersebut untuk mengklaim bahwa Ourania dan Pandemos, pada kenyataannya, adalah dewi yang terpisah. Ia menegaskan bahwa Afrodit Ourania adalah Afrodit surgawi, yang lahir dari buih laut setelah Kronos mengebiri Uranus, dan yang lebih tua dari kedua dewi tersebut. Menurut Simposium, Afrodit Ourania adalah inspirasi bagi hasrat homoseksual laki-laki, khususnya eros efebos, dan pederasti. Sebaliknya, Afrodit Pandemos, adalah yang lebih muda dari kedua dewi tersebut: Afrodit yang umum, lahir dari penyatuan Zeus dan Dione, dan inspirasi bagi hasrat heteroseksual serta pergaulan bebas seksual, yang "lebih rendah" dari kedua cinta tersebut.[62][63] Pafian (ฮ ฮฑฯฮฏฮฑ), adalah salah satu julukannya, dinamai berdasarkan Pafos di Siprus tempat ia muncul dari laut pada saat kelahirannya.[64]
Di antara penganut Neoplatonisme dan, kelak, para penafsir Kristen mereka, Ourania dikaitkan dengan cinta spiritual, dan Pandemos dengan cinta fisik (hasrat). Representasi Ourania dengan kakinya yang bersandar pada seekor kura-kura kemudian dipandang sebagai lambang kebijaksanaan dalam cinta suami istri; hal ini merupakan subjek dari sebuah patung kriselefantin karya Fidias untuk wilayah Elis, yang hanya diketahui dari sebuah komentar sisipan oleh ahli geografi Pausanias.[65] Penggambaran tersebut kembali diangkat setelah Abad Renaisans.[66]
Salah satu julukan sastra Afrodit yang paling umum adalah Philommeidแธs (ฯฮนฮปฮฟฮผฮผฮตฮนฮดฮฎฯ),[67] yang berarti "pencinta senyuman",[67] tetapi kadang-kadang salah diterjemahkan menjadi "pencinta tawa".[67] Julukan ini muncul di sepanjang kedua epos Homerus dan Gita Puja Homerus Pertama untuk Afrodit.[67] Hesiodos menyebutkannya sekali dalam Theogonia karyanya dalam konteks kelahiran Afrodit,[68] tetapi menafsirkannya sebagai "pencinta alat kelamin" dan bukan "pencinta senyuman".[68] Monica Cyrino mencatat bahwa julukan tersebut mungkin berkaitan dengan fakta bahwa, dalam banyak penggambaran artistik Afrodit, ia ditampilkan sedang tersenyum.[68] Julukannya yang lain termasuk Mechanitis yang berarti terampil dalam menciptakan[69] dan Automata karena, menurut Servius, ia adalah sumber cinta yang spontan.[70]
Julukan sastra yang umum dari Afrodit adalah Kipris dan Kithereia,[71] yang masing-masing berasal dari kaitannya dengan pulau Siprus dan Kythira.[71] Di Siprus, Afrodit terkadang disebut Eleemon ("yang maha penyayang").[58] Di Athena, ia dikenal sebagai Afrodit en kฤpois ("Afrodit dari Taman-Taman").[58] Di Tanjung Kolias, sebuah tanjung di pesisir Attika, ia dipuja sebagai Genetyllis (ฮฮตฮฝฮตฯฯ ฮปฮปฮฏฯ), sang pelindung kelahiran.[58] Para pendampingnya, yang mengawasi generasi dan kelahiran, dikenal dengan bentuk jamak Genetyllides (ฮฮตฮฝฮตฯฯ ฮปฮปฮฏฮดฮตฯ).[72][73][74] Orang-orang Sparta memujanya sebagai Potnia "Nyonya", Enoplios "Bersenjata", Morpho "Berbentuk Indah", Ambologera "Dia yang Menunda Usia Tua".[58] Di seluruh dunia Yunani, ia dikenal dengan julukan seperti Melainis di Korintus "Yang Hitam atau Gelap",[75] Skotia "Yang Gelap", Androphonos "Pembunuh Laki-laki", Anosia "Tidak Suci", dan Tymborychos "Penggali Kubur",[56] yang semuanya menunjukkan sifatnya yang lebih gelap dan lebih kejam.[56]
Versi laki-laki dari Afrodit yang dikenal sebagai Afroditus dipuja di kota Amathus di Siprus.[54][55][56] Afroditus digambarkan dengan figur dan pakaian wanita, tetapi memiliki janggut, dan ditampilkan mengangkat gaunnya untuk memperlihatkan falus yang ereksi.[54][55] Sikap tubuh ini diyakini sebagai simbol apotropaek, dan dianggap dapat membawa keberuntungan bagi yang melihatnya.[76] Pada akhirnya, popularitas Afroditus memudar seiring dengan versi Afrodit arus utama yang sepenuhnya feminin menjadi lebih populer, tetapi jejak kultusnya dipertahankan dalam legenda-legenda Hermafroditus di kemudian hari.[55]
Daftar julukan
sunting- Androphagos, Pemakan manusia.
- Anosia, Tidak suci.
- Aphrogeneia, Lahir dari buih.[80]
- Areia, Menyukai perang. Terdapat sebuah xoanon (patung kayu) kuno sang dewi di Kythira.[81] Beberapa penggambaran dalam seni Yunani menunjukkan Afrodit sebagai lawan dari raksasa Mimas.[82]
- Kipris (ฮฯฯฯฮนฯ), dari Siprus. Siprus diidentifikasikan sebagai tanah kelahirannya oleh Homerus dan Hesiodos; di sisi lain, menurut Suda, nama tersebut berasal dari perannya sebagai pemberi kehamilan (ฮบฯ ฯฯฮฟฯฮนฯ; kyรณporis).[83]
- Kithereia (ฮฯ ฮธฮญฯฮตฮนฮฑ), dari Kythira; di sisi lain, menurut Suda, nama ini diturunkan dari tindakannya menyembunyikan (ฮบฮตฯฮธฮตฮนฮฝ) urusan asmara (ฮบฮตฯฮธฮตฮนฮฝ ฯฮฟแฝบฯ แผฯฯฯฮฑฯ).[83][84]
- Eleฤmon, Maha penyayang.
- Enoplios, Bersenjata, di Sparta.
- Euploia, tentang pelayaran yang baik, berkaitan dengan kapal. Ia memiliki sebuah kuil di Piraeus.[85]
- Genetyllis, tentang waktu kelahiran. Menurut Aristofanes, julukan ini mirip dengan Kolias.[86]
- Hera, di Sparta terdapat sebuah kuil Hera-Hypercheiria dan sebuah xoanon Afrodit-Hera yang dipersembahkan untuk para pengantin wanita.[87]
- En kแบฝpois, dari taman-taman. Yang tertua di antara dewi-dewi takdir (Moirai) dipanggil "ฮฯฯฮฟฮดฮฏฯฮท ฮญฮฝ ฮบฮฎฯฮฟฮนฯ" (Afrodit dari Taman-Taman).
- Epistrophia, dari kepulangan.
- Idalia, dari Idalion di Siprus.[88]
- Kลlias, dari Kolias. Dewi persalinan di Attika, dengan sebuah kuil di gunung "Kolias".
- Limenia, dari pelabuhan, di Hermione.[89]
- Melainis, Gelap.
- Melaina, Hitam.
- Morphล, Berbentuk indah, di Sparta. Ia digambarkan mengenakan kerudung dengan batu-batuan di dekat kakinya.[90]
- Nymphia, dari pernikahan. Ia memiliki kuil di jalan dari Troizen menuju Hermione.
- Olympia, dari Olympia.
- Pandemos, dari seluruh rakyat (demos). Di Athena, sebuah festival besar dirayakan di Akropolis.
- Pafia, dari Pafos, dengan sebuah festival besar. Para pendeta melaksanakan ritual misterinya.
- Philomeidฤs, Pencinta senyuman.
- Pontia, dari laut lepas, di Hermione.[89]
- Praxis, Aktif.
- Skotia, Suram.
- Ourania, Surgawi, yang menunjukkan asal-usul orientalnya.
- Zerynthia, dari kota Zerynthos.[91]
Pemujaan
suntingPeriode Klasik
sunting
Festival utama Afrodit, Afrodisia, dirayakan di seluruh Yunani, namun khususnya di Athena dan Korintus. Di Athena, Afrodisia dirayakan pada hari keempat bulan Hekatombaion untuk menghormati peran Afrodit dalam penyatuan Attika.[92][93] Selama festival ini, para pendeta Afrodit akan menyucikan kuil Afrodit Pandemos di lereng barat daya Akropolis dengan darah burung merpati yang dikorbankan.[94] Selanjutnya, altar-altar akan diurapi[94] dan patung-patung kultus Afrodit Pandemos serta Peitho akan diarak dalam sebuah prosesi yang megah menuju tempat di mana mereka akan dimandikan secara ritual.[95] Afrodit juga dihormati di Athena sebagai bagian dari festival Arrheforia.[96] Hari keempat setiap bulannya dianggap suci bagi Afrodit.[97]
Pausanias mencatat bahwa, di Sparta, Afrodit dipuja sebagai Afrodit Areia, yang berarti "menyukai perang".[41][42] Julukan ini menekankan hubungan Afrodit dengan Ares, yang dengannya ia menjalin hubungan di luar nikah.[41][42] Pausanias juga mencatat bahwa, di Sparta[41][42] dan di Kythira, sejumlah patung kultus Afrodit yang sangat kuno menggambarkannya sedang menyandang senjata.[43][58] Patung-patung kultus lainnya menampilkan dirinya terikat dengan rantai.[58]
Afrodit adalah dewi pelindung para pelacur dari segala jenis,[98][58] mulai dari pornai (pelacur jalanan bertarif murah yang biasanya dimiliki sebagai budak oleh muncikari kaya) hingga hetairai (pendamping sewaan yang berpendidikan tinggi dan mahal, yang biasanya bekerja mandiri dan terkadang memberikan layanan seks kepada pelanggan mereka).[99] Kota Korintus masyhur di seluruh dunia kuno karena memiliki banyak hetairai,[100] yang memiliki reputasi luas sebagai kelompok pelacur paling terampil, tetapi juga paling mahal, di dunia Yunani.[100] Korintus juga memiliki sebuah kuil utama untuk Afrodit yang terletak di Akrokorintus[100] dan merupakan salah satu pusat utama pemujaannya.[100] Catatan tentang berbagai persembahan untuk Afrodit yang dilakukan oleh para wanita penghibur (kurtisan) yang sukses telah bertahan dalam wujud puisi dan prasasti tembikar.[99] Rujukan mengenai Afrodit dalam kaitannya dengan pelacuran ditemukan di Korintus serta di pulau-pulau Siprus, Kythira, dan Sisilia.[101] Pendahulu Afrodit dari Mesopotamia, Inanna-Ishtar, juga sangat erat hubungannya dengan pelacuran.[102][103][101]
Para cendekiawan pada abad kesembilan belas dan kedua puluh meyakini bahwa kultus Afrodit mungkin melibatkan pelacuran ritual,[103][101] sebuah asumsi yang didasarkan pada bagian-bagian ambigu dalam teks-teks kuno tertentu, khususnya sebuah fragmen skolion karya penyair Boiotia Pindaros,[104] yang menyebutkan para pelacur di Korintus dalam kaitannya dengan Afrodit.[104] Para cendekiawan modern saat ini menolak gagasan tentang pelacuran ritual di Yunani sebagai sebuah "mitos historiografi" yang tidak memiliki dasar faktual.[105]
Periode Helenistik dan Romawi
sunting
Selama periode Helenistik, orang-orang Yunani mengidentikkan Afrodit dengan dewi-dewi Mesir kuno Hathor dan Isis.[106][107][108] Afrodit merupakan dewi pelindung bagi para ratu Lagid dan Ratu Arsinoe II diidentifikasikan sebagai inkarnasi fananya.[109] Afrodit dipuja di Aleksandria dan memiliki banyak kuil di dalam maupun di sekitar kota tersebut.[109] Arsinoe II memperkenalkan kultus Adonis ke Aleksandria dan banyak wanita di sana ikut serta di dalamnya.[109] Tessarakonteres, sebuah gali katamaran raksasa yang dirancang oleh Archimedes untuk Ptolemaios IV Philopator, memiliki sebuah kuil melingkar untuk Afrodit di atasnya yang dilengkapi patung marmer sang dewi.[109] Pada abad kedua SM, Ptolemaios VIII Physcon beserta istri-istrinya, Kleopatra II dan Kleopatra III, mendedikasikan sebuah kuil untuk Afrodit Hathor di Philae.[109] Patung-patung kecil Afrodit untuk pengabdian pribadi menjadi hal yang umum di Mesir mulai awal masa Ptolemaik dan terus berlanjut hingga jauh setelah Mesir menjadi provinsi Romawi.[109]
Bangsa Romawi kuno mengidentikkan Afrodit dengan dewi mereka, Venus, yang pada mulanya adalah dewi kesuburan pertanian, vegetasi, dan musim semi.[110] Menurut sejarawan Romawi Livius, Afrodit dan Venus secara resmi diidentikkan pada abad ketiga SM[111] ketika kultus Venus Erycina diperkenalkan ke Roma dari tempat suci Afrodit Yunani di Gunung Eryx di Sisilia.[111] Setelah titik ini, bangsa Romawi mengadopsi ikonografi dan mitos Afrodit lalu menerapkannya pada Venus.[111] Karena Afrodit adalah ibu dari pahlawan Troya Aineias dalam mitologi Yunani[111] dan tradisi Romawi mengklaim Aineias sebagai pendiri Roma,[111] Venus kemudian dipuja sebagai Venus Genetrix, ibunda seluruh bangsa Romawi.[111] Julius Caesar mengklaim keturunan langsung dari putra Aineias, Iulus,[112] dan menjadi pendukung kuat kultus Venus.[112] Preseden ini kelak diikuti oleh keponakannya, Augustus, dan para kaisar berikutnya yang mengklaim suksesi darinya.[112]
Sinkretisme ini sangat berdampak pada pemujaan Afrodit di Yunani.[113] Selama era Romawi, kultus Afrodit di banyak kota Yunani mulai menekankan hubungannya dengan Troya dan Aineias.[113] Mereka juga mulai mengadopsi elemen-elemen yang khas Romawi,[113] menggambarkan Afrodit sebagai sosok yang lebih keibuan, lebih militeristik, dan lebih peduli dengan birokrasi administratif.[113] Ia diklaim sebagai penjaga ilahi oleh banyak pejabat politik.[113] Kemunculan Afrodit dalam sastra Yunani juga sangat menjamur, dan biasanya menampilkan Afrodit dengan cara yang khas Romawi.[114]
Mitologi
suntingKelahiran
sunting

Afrodit biasanya dikatakan lahir di dekat pusat pemujaan utamanya, Pafos, di pulau Siprus, yang menjadi alasan mengapa ia terkadang dipanggil "Kipria", terutama dalam karya-karya puitis Safo. Kuil Afrodit Pafia, yang menandai tempat kelahirannya, merupakan tempat ziarah di dunia kuno selama berabad-abad.[116] Versi lain dari mitosnya menyebutkan bahwa ia lahir di dekat pulau Kythira, yang menjadi asal dari namanya yang lain, "Kithereia".[117] Kythira adalah tempat persinggahan perdagangan dan budaya antara Kreta dan Peloponnesos,[118] sehingga kisah-kisah ini mungkin melestarikan jejak migrasi kultus Afrodit dari Timur Tengah ke daratan utama Yunani.[119]
Menurut versi kelahirannya yang diceritakan oleh Hesiodos dalam Theogonia miliknya,[120][121] Kronos memotong alat kelamin Uranus dan melemparkannya ke belakang ke laut.[121][122][123] Buih dari alat kelaminnya tersebut melahirkan Afrodit[5] (karena itulah namanya, yang ditafsirkan Hesiodos sebagai "muncul dari buih"),[5] sementara para Raksasa, Erinyes (kemarahan), dan Meliae muncul dari tetesan darahnya.[121][122] Hesiodos menyatakan bahwa alat kelamin itu "terbawa menyeberangi laut untuk waktu yang lama, dan buih putih muncul dari daging yang abadi itu; bersamanya tumbuh seorang gadis". Setelah Afrodit lahir dari buih laut, ia terdampar ke tepi pantai di hadapan para dewa lainnya. Catatan Hesiodos tentang kelahiran Afrodit setelah pengebirian Uranus kemungkinan besar berasal dari Nyanyian Kumarbi,[124][125] sebuah puisi epos kuno Het di mana dewa Kumarbi menggulingkan ayahnya Anu, dewa langit, dan menggigit alat kelaminnya, yang menyebabkannya hamil dan melahirkan anak-anak Anu, yang di antaranya termasuk Ishtar dan saudara laki-lakinya Teshub, dewa badai Het.[124][125]
Dalam Ilias,[126] Afrodit digambarkan sebagai putri dari Zeus dan Dione.[5] Nama Dione tampaknya merupakan kognat feminin dari Dios dan Dion,[5] yang merupakan bentuk miring (oblik) dari nama Zeus.[5] Zeus dan Dione memiliki satu pemujaan bersama di Dodona di barat laut Yunani.[5] Dalam Theogonia, Hesiodos mendeskripsikan Dione sebagai seorang Okeanid,[127] tetapi Apollodoros menjadikannya Titan ketiga belas, anak dari Gaia dan Uranus.[128]
Pernikahan
sunting
Afrodit secara konsisten digambarkan sebagai wanita dewasa yang siap menikah dan sangat didambakan, yang tidak pernah memiliki masa kanak-kanak.[129] Ia sering kali digambarkan dalam keadaan telanjang.[130] Dalam Ilias, Afrodit tampaknya adalah permaisuri yang belum menikah dari Ares, dewa perang,[131] dan istri dari Hefaistos adalah dewi yang berbeda bernama Kharis.[132] Demikian pula, dalam Theogonia karya Hesiodos, Afrodit belum menikah dan istri dari Hefaistos adalah Aglaia, yang termuda dari tiga Kharites.[132]
Namun, dalam Buku Delapan dari Odisseia,[133] penyanyi tunanetra Demodokos mendeskripsikan Afrodit sebagai istri Hefaistos dan menceritakan bagaimana ia melakukan perzinaan dengan Ares selama Perang Troya.[132][134] Dewa matahari Helios melihat Afrodit dan Ares sedang berhubungan seks di ranjang Hefaistos lalu memperingatkan Hefaistos, yang kemudian membuat jaring halus yang nyaris tidak terlihat.[134] Saat Ares dan Afrodit kembali berhubungan badan, jaring tersebut memerangkap mereka berdua.[134] Hefaistos membawa semua dewa ke dalam kamar tidur untuk menertawakan para pezina yang tertangkap itu,[135] tetapi Apollo, Hermes, dan Poseidon bersimpati pada Ares[136] dan Poseidon setuju untuk membayar Hefaistos demi membebaskan Ares.[137] Afrodit kembali ke kuilnya di Siprus, di mana ia dilayani oleh para Kharites.[137] Narasi ini mungkin bermula sebagai cerita rakyat Yunani, yang pada awalnya independen dari Odisseia.[138] Dalam detail sisipan yang jauh lebih baru, Ares menempatkan prajurit muda Alektrion di dekat pintu untuk memberi peringatan tentang kedatangan Helios, namun Alektrion tertidur saat sedang bertugas jaga.[139] Helios memergoki keduanya dan memperingatkan Hefaistos; Ares yang marah mengubah Alektrion menjadi seekor ayam jantan, yang selalu berkokok tanpa henti untuk mengumumkan matahari terbit.[140]
Setelah mengungkap mereka, Hefaistos meminta Zeus agar hadiah pernikahan dan maskawinnya dikembalikan kepadanya;[141] pada saat pecahnya Perang Troya, ia menikah dengan Kharis/Aglaia, salah satu dari tiga Kharites, dan tampaknya telah bercerai dari Afrodit.[132][142] Setelah itu, umumnya Ares yang dianggap sebagai suami atau permaisuri resmi sang dewi; pada Vas Franรงois, sebuah krater abad keenam SM, keduanya tiba di pernikahan Peleus dan Thetis dengan kereta perang yang sama, sebagaimana Zeus dengan Hera dan Poseidon dengan Amfitrit. Para penyair seperti Pindaros dan Aiskhilos menyebut Ares sebagai suami Afrodit.[143]
Sebuah interpretasi umum mengenai bagaimana pernikahan Afrodit yang tidak terduga dengan Hefaistos bisa terjadi adalah bahwa setelah ia memberi ibunya, Hera, sebuah takhta emas yang memerangkap sang dewi, Hefaistos menolak untuk melepaskannya sampai para dewa setuju untuk memberikan tangan Afrodit dalam pernikahan kepadanya.[144] Tidak ada bukti yang tidak ambigu untuk versi semacam itu dari zaman kuno. Narasi ini direkonstruksi berdasarkan beberapa elemen, seperti catatan Hyginus bahwa Hefaistos menuntut (dan kemudian diberikan) tangan Athena dalam pernikahan sebagai imbalan atas pembebasan Hera, dan Vas Franรงois, yang menggambarkan kembalinya Hefaistos ke Olimpus; Afrodit berdiri di depan adegan tersebut, dengan raut kegelisahan yang jelas di wajahnya, sementara Ares yang tampak cemberut berlutut di bawahnya.[145] Jika narasi semacam itu memang ada, niscaya narasi tersebut termasuk dalam Gita Puja Homerus untuk Dionisos yang kini kurang terawat dengan baik, yang membahas kembalinya Hefaistos ke Olimpus setelah pemerangkapan Hera, dan yang sangat populer serta berpengaruh selama abad keenam dan kelima SM.[146] Kemungkinan gema lainnya dari kisah tersebut ditemukan dalam episode Penipuan Zeus dalam Ilias, di mana Hera pergi ke Lemnos (pulau suci Hefaistos) dan meminta bantuan dari dewa tidur Hipnos sebagai imbalan atas takhta emas dan pernikahan dengan Pasithea, salah satu Kharites; Kharites adalah dewi-dewi kecantikan dan rekan Afrodit, dan dalam hal ini tampaknya Pasithea bertindak sebagai pengganti Afrodit sendiri.[147]
Semasa mereka masih terikat pernikahan, Hefaistos sangat gembira menikah dengan dewi kecantikan, dan menempa perhiasan yang indah untuknya, termasuk sebuah strophion (ฯฯฯฯฯฮนฮฟฮฝ) yang dikenal sebagai kestos himas (ฮบฮตฯฯแฝธฯ แผฑฮผฮฌฯ),[148] sebuah pakaian dalam berbentuk tanda silang (biasanya diterjemahkan sebagai korset Afrodit),[149] yang menonjolkan payudaranya[150] dan membuatnya semakin tidak tertahankan bagi pria.[149] Strophia semacam ini umumnya digunakan dalam penggambaran dewi-dewi Timur Dekat, Ishtar dan Atargatis.[149]
Pengiring
sunting
Afrodit hampir selalu didampingi oleh Eros, dewa hawa nafsu dan hasrat seksual.[153] Dalam Theogonia miliknya, Hesiodos mendeskripsikan Eros sebagai salah satu dari empat kekuatan purba asli yang lahir pada awal penciptaan,[153] tetapi, setelah kelahiran Afrodit dari buih laut, ia bergabung dengan Himeros dan, bersama-sama, mereka menjadi pengiring setia Afrodit.[154] Dalam seni Yunani awal, Eros dan Himeros keduanya ditampilkan sebagai pemuda tampan ideal bersayap. [155] Para penyair lirik Yunani menganggap kekuatan Eros dan Himeros berbahaya, memaksa, dan tidak mungkin ditolak oleh siapa pun.[156] Pada zaman modern, Eros sering kali dipandang sebagai putra Afrodit,[157] tetapi hal ini sebenarnya adalah inovasi yang relatif baru.[158] Sebuah skolion pada Idyll karya Teokritos mencatat bahwa penyair abad keenam SM, Safo, telah mendeskripsikan Eros sebagai putra dari Afrodit dan Uranus,[159] tetapi rujukan tertua yang masih bertahan yang menyebut Eros sebagai putra Afrodit berasal dari Argonautica karya Apollonios dari Rodos, yang ditulis pada abad ketiga SM.[160] Kelak, bangsa Romawi, yang memandang Venus sebagai dewi ibu, mengambil gagasan tentang Eros sebagai putra Afrodit ini dan memopulerkannya,[160] menjadikannya penggambaran dominan dalam karya-karya mitologi hingga saat ini.[160]
Pengiring utama Afrodit adalah ketiga Kharites, yang diidentifikasi oleh Hesiodos sebagai putri Zeus dan Eurynome dan diberi nama Aglaia ("Kemegahan"), Eufrosine ("Kegembiraan"), dan Thalia ("Kelimpahan"). [161] Para Kharites telah dipuja sebagai dewi-dewi di Yunani sejak awal sejarah Yunani, jauh sebelum Afrodit diperkenalkan ke dalam jajaran dewa tersebut.[132] Kelompok pengiring Afrodit lainnya adalah ketiga Horae ("Waktu"),[132] yang diidentifikasi oleh Hesiodos sebagai putri Zeus dan Themis dan diberi nama Eunomia ("Ketertiban"), Dike ("Keadilan"), dan Eirene ("Kedamaian").[162] Afrodit juga kadang-kadang didampingi oleh Harmonia, putrinya bersama Ares, dan Hebe, putri Zeus dan Hera.[163]
Dewa kesuburan Priapos biasanya dianggap sebagai putra Afrodit dari Dionisos,[164][165] tetapi kadang-kadang ia juga digambarkan sebagai putranya dari Hermes, Adonis, atau bahkan Zeus.[164] Sebuah skolion pada Argonautica karya Apollonios dari Rodos[166] menyatakan bahwa, ketika Afrodit sedang mengandung Priapos, Hera merasa iri padanya dan mengoleskan ramuan jahat ke perutnya saat ia sedang tidur untuk memastikan bahwa anak itu akan menjadi buruk rupa.[164] Dalam versi lain, Hera mengutuk putra Afrodit yang belum lahir itu karena ia dikandung oleh Zeus.[167] Ketika Afrodit melahirkan, ia merasa ngeri melihat bahwa anak tersebut memiliki penis yang ereksi secara permanen dan berukuran sangat besar, perut buncit, dan lidah yang besar.[164] Afrodit menelantarkan bayi itu agar mati di alam liar, tetapi seorang gembala menemukannya dan membesarkannya, yang kelak mengetahui bahwa Priapos dapat menggunakan penisnya yang besar untuk membantu pertumbuhan tanaman.[164]
Ankhises
sunting
Gita Puja Homerus Pertama untuk Afrodit (Gita Puja 5), yang kemungkinan digubah sekitar pertengahan abad ketujuh SM,[168] mendeskripsikan bagaimana Zeus suatu ketika merasa kesal pada Afrodit karena membuat para dewa jatuh cinta pada manusia fana,[168] maka ia pun membuatnya jatuh cinta pada Ankhises, seorang gembala fana yang tampan yang tinggal di kaki Gunung Ida di dekat kota Troya.[168] Afrodit menampakkan diri kepada Ankhises dalam wujud seorang perawan fana yang tinggi dan cantik saat ia sedang sendirian di rumahnya.[169] Ankhises melihatnya mengenakan pakaian yang cerah dan perhiasan yang berkilau, dengan payudaranya yang bersinar dengan pancaran cahaya ilahi.[170] Ia bertanya padanya apakah ia adalah Afrodit dan berjanji akan membangun sebuah altar untuknya di puncak gunung jika sang dewi bersedia memberkatinya beserta keluarganya.[171]
Afrodit berbohong dan memberitahunya bahwa ia bukan seorang dewi, melainkan putri salah satu keluarga bangsawan dari Frigia.[171] Ia mengklaim mampu memahami bahasa Troya karena ia memiliki seorang pengasuh dari Troya saat masih kecil dan mengatakan bahwa ia mendapati dirinya berada di lereng gunung setelah diculik oleh Hermes saat sedang menari dalam sebuah perayaan untuk menghormati Artemis, dewi keperawanan.[171] Afrodit memberi tahu Ankhises bahwa ia masih perawan dan memohon padanya untuk membawanya menemui orang tuanya.[171] Ankhises seketika itu juga dikuasai oleh gairah yang menggebu-gebu terhadap Afrodit dan bersumpah bahwa ia akan berhubungan seks dengannya.[171] Ankhises membawa Afrodit, dengan pandangan mata yang tertunduk, ke tempat tidurnya, yang ditutupi oleh kulit singa dan beruang.[172] Ia lalu menelanjanginya dan bercinta dengannya.[172]
Setelah persetubuhan selesai, Afrodit mengungkapkan wujud ilahinya yang sesungguhnya.[173] Ankhises ketakutan, tetapi Afrodit menghiburnya dan berjanji bahwa ia akan memberinya seorang putra.[173] Ia meramalkan bahwa putra mereka adalah sang manusia setengah dewa Aineias, yang akan dibesarkan oleh para nimfa di alam liar selama lima tahun sebelum pergi ke Troya untuk menjadi seorang bangsawan seperti ayahnya.[174] Kisah pembuahan Aineias juga disebutkan dalam Theogonia karya Hesiodos dan dalam Buku II dari Ilias karya Homerus.[174][175]
Adonis
suntingMitos Afrodit dan Adonis kemungkinan berasal dari legenda Sumeria kuno tentang Inanna dan Dumuzid.[176][177][178] Nama Yunani แผฮดฯฮฝฮนฯ (Adลnis, pelafalan dalam bahasa Yunani: [รกdษหnis]) diturunkan dari kata Kanaan สผadลn, yang berarti "tuan".[179][178] Rujukan Yunani tertua yang diketahui mengenai Adonis berasal dari fragmen puisi karya penyair wanita asal Lesbos, Safo (caโ630 โ caโ570 SM), di mana paduan suara gadis-gadis muda bertanya kepada Afrodit apa yang dapat mereka lakukan untuk meratapi kematian Adonis.[180] Afrodit menjawab bahwa mereka harus memukuli dada dan merobek tunik mereka.[180] Rujukan-rujukan di kemudian hari melengkapi kisah tersebut dengan lebih banyak detail.[181] Menurut penceritaan ulang kisah tersebut yang ditemukan dalam puisi Metamorphoses karya penyair Romawi Ovidius (43 SM โ 17/18 M), Adonis adalah putra Mirra, yang dikutuk oleh Afrodit dengan nafsu tak terpuaskan terhadap ayahnya sendiri, Raja Kinyras dari Siprus, setelah ibu Mirra menyombongkan diri bahwa putrinya lebih cantik daripada sang dewi.[182] Diusir setelah menjadi hamil, Mirra diubah menjadi pohon mur, tetapi ia tetap melahirkan Adonis.[183]
Afrodit menemukan bayi tersebut dan membawanya ke dunia bawah untuk diasuh oleh Persefone.[184] Ia kembali untuk menjemputnya saat ia sudah dewasa dan mendapatinya tumbuh menjadi sangat tampan.[184] Persefone ingin menahan Adonis, yang berujung pada perebutan hak asuh antara kedua dewi tentang siapa yang berhak memiliki Adonis.[184] Zeus menyelesaikan perselisihan tersebut dengan menetapkan bahwa Adonis akan menghabiskan sepertiga tahun bersama Afrodit, sepertiga tahun bersama Persefone, dan sepertiga tahun bersama siapa pun yang ia pilih.[184] Adonis memilih untuk menghabiskan waktu tersebut bersama Afrodit.[184] Kemudian, suatu hari, ketika Adonis sedang berburu, ia terluka oleh seekor babi hutan dan mati kehabisan darah di pelukan Afrodit.[184] Dalam sebuah karya yang bernada setengah mengejek, Dialogues of the Gods, penulis satire Lukianos dengan gaya komedi menceritakan bagaimana Afrodit yang frustrasi mengeluh kepada dewi bulan Selene tentang putranya, Eros, yang membuat Persefone jatuh cinta pada Adonis sehingga kini ia harus berbagi Adonis dengannya.[185]
Dalam versi cerita yang berbeda, babi hutan tersebut dikirim oleh Ares, yang cemburu karena Afrodit menghabiskan terlalu banyak waktu bersama Adonis, atau oleh Artemis, yang ingin membalas dendam kepada Afrodit karena telah membunuh pengikut setianya, Hippolitos.[186] Dalam versi lain, Apollo yang murka mengubah dirinya menjadi seekor babi hutan dan membunuh Adonis karena Afrodit telah membutakan putranya, Erymanthos, ketika ia tidak sengaja melihat Afrodit dalam keadaan telanjang saat mandi usai bersetubuh dengan Adonis.[187] Kisah ini juga memberikan sebuah etiologi bagi asosiasi Afrodit dengan bunga-bunga tertentu.[186] Kabarnya, ketika meratapi kematian Adonis, ia membuat bunga anemon tumbuh di mana pun darah pemuda itu menetes dan mendeklarasikan sebuah festival pada hari peringatan kematiannya.[184] Dalam satu versi cerita, Afrodit melukai dirinya sendiri karena tertusuk duri dari semak mawar dan bunga mawar, yang sebelumnya berwarna putih, menjadi berwarna merah karena terkena noda darahnya.[186] Menurut On the Syrian Goddess karya Lukianos,[133] setiap tahun selama festival Adonis, Sungai Adonis di Lebanon (sekarang dikenal sebagai Sungai Abraham) mengalirkan air yang berwarna merah oleh darah.[184]
Mitos Adonis diasosiasikan dengan festival Adonia, yang dirayakan oleh wanita Yunani setiap tahun pada pertengahan musim panas.[178] Festival ini, yang terbukti sudah dirayakan di Lesbos pada masa Safo, tampaknya pertama kali menjadi populer di Athena pada pertengahan abad kelima SM.[178] Pada awal festival, para wanita akan menanam "taman Adonis", sebuah taman kecil yang ditanam di dalam keranjang kecil atau kepingan tembikar dangkal yang berisi berbagai tanaman cepat tumbuh, seperti selada dan adas, atau bahkan biji-bijian yang cepat bertunas seperti gandum dan jelai.[178] Para wanita itu kemudian akan menaiki tangga menuju atap rumah mereka, di mana mereka akan menempatkan taman-taman tersebut di bawah terik matahari musim panas.[178] Tanaman-tanaman tersebut akan bertunas di bawah sinar matahari tetapi segera layu dalam cuaca panas.[188] Kemudian para wanita itu akan meratap dan menangis keras atas kematian Adonis,[189] merobek pakaian mereka dan memukuli dada mereka dalam pertunjukan kesedihan publik.[189]
Favoritisme ilahi
sunting
Dalam Works and Days karya Hesiodos, Zeus memerintahkan Afrodit untuk membuat Pandora, wanita pertama, cantik secara fisik dan menarik secara seksual.[190] sehingga "para pria akan senang memeluknya".[191] Afrodit "mencurahkan keanggunan" di atas kepala Pandora[190] dan membekalinya dengan "hasrat yang menyakitkan dan penderitaan yang melemahkan lutut".[192] Para pengiring Afrodit, Peitho, para Kharites, dan para Horae, mendandani Pandora dengan pakaian indah dan perhiasan.[193]
Setelah kematian orang tua mereka, anak yatim piatu Kleothera bersama Merope dibesarkan oleh Afrodit.[194] Dewi-dewi Olimpus lainnya juga memberkati gadis-gadis itu dengan hadiah dan berkah; Hera memberi mereka kecantikan, Artemis postur tubuh yang tinggi, dan Athena mengajari mereka kerajinan tangan wanita.[194][195] Ketika Kleothera dan Merope sudah cukup umur, Afrodit berkonsultasi dengan Zeus untuk mengamankan pernikahan yang bahagia bagi mereka.[196]
Menurut salah satu mitos, Afrodit membantu Hippomenes, seorang pemuda bangsawan yang ingin menikahi Atalanta, seorang gadis yang terkenal di seluruh negeri karena kecantikannya, tetapi ia menolak untuk menikahi pria mana pun kecuali pria tersebut bisa mengalahkannya dalam lomba lari.[197][198] Atalanta adalah pelari yang sangat cepat dan ia memenggal semua pria yang kalah darinya.[197][198] Afrodit memberi Hippomenes tiga apel emas dari Taman Hesperides dan menginstruksikannya untuk melemparkannya di depan Atalanta saat berpacu dengannya.[197][199] Hippomenes mematuhi perintah Afrodit[197] dan Atalanta, melihat buah-buah emas yang indah itu, membungkuk untuk memungutnya satu per satu, sehingga memungkinkan Hippomenes untuk mengalahkannya.[197][199] Dalam versi cerita dari Metamorphoses karya Ovidius, Hippomenes lupa membalas budi Afrodit atas bantuannya,[200][197] sehingga sang dewi membuat pasangan tersebut dikuasai oleh hawa nafsu saat mereka bermalam di kuil Kibele.[197] Pasangan tersebut menodai kuil itu dengan berhubungan seks di dalamnya, yang menyebabkan Kibele mengubah mereka menjadi sepasang singa sebagai hukuman.[200][197]
Mitos Pigmalion pertama kali disebutkan oleh penulis Yunani abad ketiga SM Filostefanos dari Kirene,[201][202] tetapi pertama kali diceritakan secara rinci dalam Metamorphoses karya Ovidius.[201] Menurut Ovidius, Pigmalion adalah seorang pematung yang sangat tampan dari pulau Siprus, yang begitu muak dengan ketidakmoralan para wanita sehingga ia menolak untuk menikah.[203][204] Ia jatuh cinta dengan gila dan penuh gairah pada patung kultus gading Afrodit yang sedang ia ukir dan sangat ingin menikahinya.[203][205] Karena Pigmalion sangat saleh dan mengabdi kepada Afrodit,[203][206] dewi tersebut menghidupkan patungnya.[203][206] Pigmalion menikahi gadis jelmaan patung tersebut dan mereka memiliki seorang putra bernama Pafos, yang namanya kelak diabadikan menjadi nama ibu kota Siprus.[203][206] Pseudo-Apollodoros di kemudian hari menyebutkan "Metharme, putri Pigmalion, raja Siprus".[207]
Mitos kemurkaan
suntingAfrodit dengan murah hati menghargai mereka yang menghormatinya, tetapi juga menghukum mereka yang tidak menghormatinya, yang sering kali dilakukan dengan cukup brutal.[209] Sebuah mitos yang dijelaskan dalam Argonautica karya Apollonios dari Rodos dan kemudian dirangkum dalam Bibliotheca karya Pseudo-Apollodoros menceritakan bagaimana, ketika para wanita dari pulau Lemnos menolak untuk berkorban kepada Afrodit, sang dewi mengutuk mereka agar berbau sangat busuk sehingga suami mereka tidak akan pernah mau berhubungan seks dengan mereka.[210] Sebaliknya, suami mereka mulai berhubungan seks dengan budak-budak perempuan Trakia mereka.[210] Dalam kemarahan, para wanita Lemnos membunuh seluruh populasi pria di pulau itu, serta semua budak Trakia.[210] Ketika Iason dan krunya, para Argonaut, tiba di Lemnos, mereka bersetubuh dengan para wanita yang haus seks di bawah persetujuan Afrodit dan kembali mengisi populasi pulau tersebut.[210] Sejak saat itu, para wanita Lemnos tidak pernah lagi bersikap tidak hormat kepada Afrodit.[210]

Dalam tragedi Hippolytus karya Euripides, yang pertama kali dipentaskan di Kota Dionisia pada tahun 428 SM, putra Theseus, Hippolitos, hanya memuja Artemis, dewi keperawanan, dan menolak untuk terlibat dalam segala bentuk kontak seksual.[210] Afrodit murka oleh perilakunya yang sombong[211] dan, dalam prolog drama tersebut, ia menyatakan bahwa, dengan hanya menghormati Artemis dan menolak untuk memujanya, Hippolitos telah secara langsung menantang otoritasnya.[212] Oleh karena itu, Afrodit membuat ibu tiri Hippolitos, Faidra, jatuh cinta padanya, karena tahu Hippolitos akan menolaknya.[213] Setelah ditolak, Faidra bunuh diri dan meninggalkan surat bunuh diri untuk Theseus yang memberitahunya bahwa ia bunuh diri karena Hippolitos berusaha memerkosanya.[213] Theseus berdoa kepada Poseidon untuk membunuh Hippolitos atas pelanggarannya.[214] Poseidon mengirim seekor banteng liar untuk menakut-nakuti kuda Hippolitos saat ia sedang mengendarai kereta kudanya di tepi laut, yang menyebabkan kuda-kuda itu melarikan diri dan menghancurkan keretanya ke tebing, menyeret Hippolitos menuju kematian yang berdarah di sepanjang garis pantai berbatu.[214] Drama tersebut diakhiri dengan Artemis yang bersumpah akan membunuh kekasih fana Afrodit (diduga Adonis) sebagai balas dendam.[215]
Glaukos dari Korintus membuat Afrodit marah karena menolak membiarkan kuda-kudanya untuk balap kereta perang kawin, karena hal itu diyakini akan menghambat kecepatan mereka.[216] Selama perlombaan kereta perang di pertandingan pemakaman Raja Pelias, Afrodit membuat kuda-kudanya gila dan mereka pun mencabik-cabiknya hingga tewas.[217]
Polifonte adalah seorang wanita muda yang memilih kehidupan perawan bersama Artemis dan mengabaikan pernikahan serta anak, seperti yang disukai oleh Afrodit. Afrodit mengutuknya, sehingga ia memiliki anak dari seekor beruang. Keturunan mereka yang menyerupai beruang, Agrios dan Oreios, adalah kanibal liar yang memicu kebencian Zeus karena menyerang orang asing yang sedang bepergian. Pada akhirnya, Ares (yang merupakan kakek Polifonte) dan Hermes (yang pada awalnya diutus oleh Zeus untuk membunuh mereka) mengubah Polifonte, Agrios, dan Oreios menjadi burung-burung pembawa pertanda buruk sementara pelayan yang memohon belas kasihan diubah menjadi burung pelatuk.[218]

Menurut Apollodoros, Afrodit yang cemburu mengutuk Eos, dewi fajar, agar terus-menerus jatuh cinta dan memiliki hasrat seksual yang tak terpuaskan karena Eos pernah tidur dengan kekasih pujaan Afrodit, Ares.[219]
Menurut Ovidius dalam Metamorphoses (buku 10.238 dst.), Propoitides yang merupakan putri dari Propoitos dari kota Amathus di pulau Siprus menyangkal keilahian Afrodit dan gagal memujanya dengan pantas. Oleh karena itu, Afrodit mengubah mereka menjadi pelacur pertama di dunia.[220] Menurut Diodoros Sikolos, ketika enam putra nimfa laut Rodos Halia dari Poseidon dengan sombong menolak untuk membiarkan Afrodit mendarat di pantai mereka, sang dewi mengutuk mereka dengan kegilaan. Dalam kegilaan mereka, mereka memerkosa Halia. Sebagai hukuman, Poseidon mengubur mereka di dalam gua-gua laut pulau tersebut.[221]
Xanthios, keturunan Bellerofon, memiliki dua anak: Leukippos dan seorang anak perempuan yang tidak disebutkan namanya. Melalui kemurkaan Afrodit (alasannya tidak diketahui), Leukippos jatuh cinta pada saudara perempuannya sendiri. Mereka memulai hubungan rahasia namun sang gadis sudah bertunangan dengan pria lain dan ia kemudian memberitahu ayahnya, Xanthios, tanpa menyebutkan nama perayunya. Xanthios langsung pergi ke kamar putrinya di mana sang putri sedang bersama Leukippos tepat pada saat itu. Mendengar ayahnya masuk, ia mencoba melarikan diri, tetapi Xanthios memukulnya dengan belati, mengira bahwa ia sedang membunuh perayu tersebut, dan menewaskannya. Leukippos, yang pada awalnya gagal mengenali ayahnya, membunuhnya. Ketika kebenaran terungkap, ia harus meninggalkan negara tersebut dan mengambil bagian dalam kolonisasi Kreta dan tanah di Asia Kecil.[222]
Ratu Kenkhreis dari Siprus, istri Raja Kinyras, menyombongkan diri bahwa putrinya Mirra lebih cantik dari Afrodit. Karena hal itu, Mirra dikutuk oleh Afrodit dengan nafsu tak terpuaskan terhadap ayahnya sendiri, Raja Kinyras dari Siprus, dan ia tidur dengannya tanpa disadari dalam kegelapan. Ia pada akhirnya berubah menjadi pohon mur dan melahirkan Adonis dalam wujud tersebut.[223][182][183][224] Dalam versi lain dari kisah yang sama, Raja Asyur Theias adalah ayah dari Mirra dan Adonis, dan sekali lagi Afrodit mendesak Mirra, atau Smyrna, untuk melakukan inses dengan ayahnya, Theias. Pengasuh Mirra membantu dengan rencana tersebut. Ketika Theias menyadari hal ini, ia menjadi murka, mengejar putrinya dengan sebilah pisau. Para dewa mengubahnya menjadi pohon mur dan Adonis kelak muncul dari pohon ini. Dikatakan juga bahwa Mirra melarikan diri dari ayahnya, dan Afrodit mengubahnya menjadi pohon. Adonis kemudian lahir ketika Theias menembakkan anak panah ke pohon tersebut atau ketika seekor babi hutan menggunakan taringnya untuk merobek kulit pohon itu.[225] Kinyras juga memiliki tiga putri lain: Braesia, Laogora, dan Orsedike. Gadis-gadis ini oleh karena kemurkaan Afrodit (alasannya tidak diketahui) hidup bersama orang asing dan mengakhiri hidup mereka di Mesir.[226]
Sang Muse Klio mencemooh cinta sang dewi terhadap Adonis. Oleh karena itu, Klio jatuh cinta pada Pieros, putra Magnes dan melahirkan Hyakinthos.[227]
Aigiale adalah putri Adrastos dan Amfithea serta menikah dengan Diomedes. Karena kemurkaan Afrodit, yang telah dilukai oleh Diomedes dalam perang melawan Troya, ia memiliki banyak kekasih, termasuk seorang pria bernama Hippolitos.[228][229] ketika Aigiale bertindak terlalu jauh hingga mengancam nyawanya, ia melarikan diri ke Italia.[229][230] Menurut Stesikhoros dan Hesiodos saat Tyndareos berkorban untuk para dewa, ia melupakan Afrodit, oleh karena itu sang dewi membuat putri-putrinya menikah dua hingga tiga kali dan meninggalkan suami-suami mereka. Timandra meninggalkan Ekhemos lalu pergi dan datang kepada Fileus sementara Klitemnestra meninggalkan Agamemnon dan berbaring dengan Aigisthos yang merupakan pasangan yang lebih buruk baginya dan pada akhirnya membunuh suaminya bersama kekasihnya itu, dan yang terakhir, Helene meninggalkan Menelaos di bawah pengaruh Afrodit demi Paris dan ketidaksetiaannya pada akhirnya memicu terjadinya Perang Troya.[231] Sebagai akibat dari tindakannya, Afrodit menyebabkan Perang Troya untuk merebut kerajaan Priamos dan mewariskannya kepada keturunannya.[232]
Dalam salah satu versi legenda, Pasifae tidak memberikan persembahan kepada dewi Venus [Afrodit]. Oleh karena hal ini, Venus [Afrodit] menanamkan cinta yang tidak wajar pada seekor banteng dalam dirinya yang menghasilkan kelahiran Minotaur[233] atau dewi tersebut mengutuknya karena ia adalah putri Helios yang mengungkap perzinaan sang dewi kepada Hefaistos.[234][235] Atas tindakan Helios sendiri yang mengadukan perzinaan itu, sang dewi mengutuknya dengan hawa nafsu yang tidak terkendali terhadap putri manusia fana Leukothoe, yang menuntunnya meninggalkan kekasihnya saat itu Klitia, meninggalkannya dengan patah hati.[236]
Lysippe adalah ibu dari Tanais melalui Berossos. Putranya hanya memuja Ares dan mengabdikan diri sepenuhnya pada peperangan, mengabaikan cinta dan pernikahan. Afrodit mengutuknya dengan jatuh cinta pada ibunya sendiri. Lebih memilih untuk mati daripada menyerahkan kesuciannya, ia melemparkan dirinya ke sungai Amazonios, yang kemudian berganti nama menjadi Tanais.[237]
Menurut Hyginus, ibu Orfeus, Kalliope dari para Muses, atas perintah Zeus, mengadili perselisihan antara dewi Afrodit dan Persefone mengenai Adonis dan memutuskan bahwa keduanya harus memilikinya masing-masing selama setengah tahun. Hal ini membuat Venus [Afrodit] murka, karena ia tidak diberikan apa yang menurutnya menjadi haknya. Oleh karena itu, Venus [Afrodit] menanamkan cinta untuk Orfeus pada wanita-wanita Trakia, menyebabkan mereka mencabik-cabiknya ketika masing-masing dari mereka menginginkan Orfeus untuk dirinya sendiri.[238]
Afrodit secara pribadi menyaksikan pemburu muda Rhodopis bersumpah untuk mengabdi selamanya dan menjaga kesucian bagi Artemis ketika ia bergabung dengan kelompoknya. Afrodit kemudian memanggil putranya Eros, dan meyakinkannya bahwa gaya hidup seperti itu merupakan penghinaan bagi mereka berdua. Maka di bawah perintahnya, Eros membuat Rhodopis dan Euthynikos, pemburu muda lain yang juga menjauhi cinta dan romansa sepertinya, jatuh cinta satu sama lain. Terlepas dari kehidupan suci mereka, Rhodopis dan Euthynikos menyendiri ke sebuah gua di mana mereka melanggar sumpah mereka. Artemis dengan sigap menyadari hal ini setelah melihat Afrodit tertawa, sehingga ia mengubah Rhodopis menjadi sebuah air mancur sebagai hukuman.[239][240]
Penilaian Paris dan Perang Troya
sunting
| Perang Troya |
|---|
| Perang |
|
Medan: Kurun waktu: Pertanggalan tradisional: Pertanggalan modern: Hasil: Kesejarahan Ilias |
| Sumber sastrawi |
Perang Troya dalam budaya populer |
| Babak |
| Pihak Yunani dan sekutunya |
Katalog Kapal |
| Pihak Troya dan sekutunya |
Gugus tempur Troya |
| Dewa-dewi yang terlibat |
|
Memicu perang: Memihak Yunani: Memihak Troya: |
| Topik terkait |
Mitos Penilaian Paris disebutkan secara singkat dalam Ilias,[241] tetapi dideskripsikan secara mendalam dalam sebuah epitom dari Cypria, sebuah puisi yang hilang dari Siklus Epik,[242] yang mencatat bahwa semua dewa dan dewi serta berbagai manusia fana diundang ke pernikahan Peleus dan Thetis (yang kelak menjadi orang tua Akhilles).[241] Hanya Eris, dewi perselisihan, yang tidak diundang.[242] Ia merasa kesal akan hal ini, sehingga ia tiba dengan membawa sebuah apel emas yang bertuliskan kata ฮบฮฑฮปฮปฮฏฯฯแฟ (kallistฤi, "untuk yang tercantik"), yang ia lemparkan ke antara para dewi.[243] Afrodit, Hera, dan Athena semuanya mengklaim sebagai yang tercantik, dan dengan demikian menjadi pemilik sah dari apel tersebut.[243]
Para dewi sepakat untuk membawa masalah tersebut ke hadapan Zeus, yang karena tidak ingin memihak salah satu dewi, menyerahkan pilihan itu ke tangan Paris, seorang pangeran Troya.[243] Setelah mandi di mata air Gunung Ida di mana Troya berada, para dewi menampakkan diri di hadapan Paris untuk meminta keputusannya.[243] Dalam penggambaran kuno tentang Penilaian Paris yang masih ada, Afrodit hanya sesekali ditampilkan telanjang, sementara Athena dan Hera selalu berpakaian lengkap.[244] Namun, sejak masa Renaisans, lukisan-lukisan Barat biasanya menggambarkan ketiga dewi tersebut sepenuhnya telanjang.[244]Ketiga dewi itu memiliki kecantikan yang ideal dan Paris tidak dapat memutuskan siapa di antara mereka yang terbaik, sehingga para dewi beralih pada suap.[243] Hera mencoba menyuap Paris dengan kekuasaan atas seluruh Asia dan Eropa,[243] lalu Athena menawarkan kebijaksanaan, ketenaran, dan kejayaan dalam pertempuran,[243] tetapi Afrodit berjanji kepada Paris bahwa, jika ia memilihnya sebagai yang tercantik, Afrodit akan membiarkannya menikahi wanita paling cantik di bumi.[245] Wanita ini adalah Helene, yang telah menikah dengan Raja Menelaos dari Sparta.[245] Paris memilih Afrodit dan memberikan apel itu kepadanya.[245] Kedua dewi lainnya murka dan, sebagai akibat langsungnya, memihak bangsa Yunani dalam Perang Troya.[245]
Afrodit memainkan peran aktif di berbagai titik dalam Ilias karya Homerus.[246] Dalam Buku III, ia menyelamatkan Paris dari Menelaos setelah pemuda itu dengan bodohnya menantang sang raja untuk berduel satu lawan satu.[247] Ia kemudian menampakkan diri kepada Helene dalam wujud seorang wanita tua dan berusaha membujuknya untuk berhubungan seks dengan Paris,[248] mengingatkannya akan ketampanan fisik dan kehebatan atletik Paris.[249] Helene segera mengenali Afrodit dari lehernya yang indah, payudaranya yang sempurna, dan matanya yang berbinar[250] lalu menegur sang dewi dengan tajam.[251] Afrodit memarahi Helene, mengingatkannya bahwa, jika ia terus membuatnya kesal, sang dewi akan menghukumnya sebesar kemurahan hati yang telah ia berikan kepadanya.[252] Helene dengan patuh mengikuti perintah Afrodit.[252]
Dalam Buku V, Afrodit menerjang ke dalam pertempuran untuk menyelamatkan putranya, Aineias, dari pahlawan Yunani Diomedes.[253] Diomedes mengenali Afrodit sebagai dewi yang "lemah"[253] dan, dengan menusukkan tombaknya di bawah bimbingan Athena, menggores pergelangan tangan sang dewi hingga menembus "jubah ambrosia"-nya.[254] Afrodit meminjam kereta perang Ares untuk kembali ke Gunung Olimpus, di mana ia bertemu Dione. Afrodit mengeluh kepada ibunya tentang perbuatan Diomedes, dan Dione menghibur putrinya dengan contoh-contoh dewa yang terluka oleh manusia fana, serta mencatat bahwa Diomedes mempertaruhkan nyawanya dengan bertarung melawan para dewa.[255] Pada kenyataannya, Diomedes kemudian bertarung melawan Apollo dan Ares namun tetap hidup hingga usia tua, meskipun istrinya, Aigiale, mengambil kekasih lain dengan bantuan Afrodit yang pendendam dan tidak pernah mengizinkannya pulang ke Argos setelah perang. Dione lalu menyembuhkan luka Afrodit sementara Zeus menegurnya karena membahayakan dirinya sendiri,[255][256] mengingatkannya bahwa "keahliannya adalah cinta, bukan perang."[255] Menurut Walter Burkert, adegan ini berparalel langsung dengan adegan dari Lempengan VI Wiracarita Gilgamesh di mana Ishtar, pendahulu Akkadia Afrodit, menangis kepada ibunya Antu setelah pahlawan Gilgamesh menolak rayuan seksualnya, namun ia ditegur dengan halus oleh ayahnya, Anu.[257] Dalam Buku XIV Ilias, selama episode Dios Apate, Afrodit meminjamkan kestos himas-nya kepada Hera untuk merayu Zeus dan mengalihkan perhatiannya dari medan perang, sehingga para dewa dapat campur tangan tanpa rasa takut terhadap Zeus.[258] Dalam Theomachia di Buku XXI, Afrodit mencoba menyelamatkan Ares tetapi juga ikut roboh.[255][259]
Keturunan
sunting
Terkadang para penyair dan penulis naskah drama menceritakan tradisi-tradisi kuno, yang bervariasi, dan terkadang mereka menciptakan detail-detail baru; para penulis skolia di kemudian hari mungkin mengambil dari keduanya atau sekadar menebak.[260][261] Oleh karena itu, meskipun Aineias dan Fobos secara teratur dideskripsikan sebagai keturunan Afrodit, beberapa lainnya yang tercantum di sini seperti Priapos dan Eros terkadang dikatakan sebagai anak-anak Afrodit tetapi dengan ayah yang bervariasi dan terkadang diberi ibu lain atau tidak sama sekali.
| Keturunan | Ayah |
|---|---|
| Aineias,[173] Lyrus/Lyrnus[262] | Ankhises |
| Fobos,[263] Deimos,[263] Harmonia,[163][263] para Erotes (Eros,[264][154] Anteros,[c] Himeros,[154] Pothos)[263] | Ares[132][263] |
| Himenaios, Iakhos, Priapos,[164] para Kharites (Aglaia, Eufrosine, Thalia) | Dionisos |
| Hermafroditus,[265] Priapos[164] | Hermes |
| Rhodos[266] | Poseidon |
| Beroe, Golgos,[267] Zariadres,[268] Priapos (jarang)[164] | Adonis[184][186] |
| Eryx,[269] Meligounis dan beberapa putri lain yang tidak disebutkan namanya[270] | Butes[271][272] |
| Astynous[273] | Phaethon[274] |
| Priapos[167] | Zeus |
| Peitho[275] | tidak diketahui |
Ikonografi
suntingSimbol
sunting
Afrodit yang abadi dan bertakhta megah,
putri Zeus yang penuh siasat, aku memohon kepadamu,
dengan rasa sakit dan penyakit, Sang Ratu, jangan hancurkan hatiku,
tetapi datanglah, jika di masa lalu engkau pernah mendengar suaraku dari jauh dan menyimaknya,
serta meninggalkan kediaman ayahmu lalu datang, dengan kereta emas
yang terpasang; dan burung-burung gereja yang cantik
membawamu dengan cepat melintasi bumi yang gelap
mengepakkan sayap dari surga menembus udara.
โโSafo, "Ode untuk Afrodit", baris 1โ10, diterjemahkan oleh M. L. West[276]
Simbol burung Afrodit yang paling menonjol adalah burung merpati,[277] yang pada asalnya merupakan simbol penting dari pendahulunya di Timur Dekat, Inanna-Ishtar.[278][279] (Faktanya, kata Yunani kuno untuk "merpati", peristerรก, mungkin diturunkan dari frasa Semit peraแธฅ Iลกtar, yang berarti "burung Ishtar".[278][279]) Afrodit sering kali muncul bersama burung merpati dalam tembikar Yunani kuno[277] dan kuil Afrodit Pandemos di lereng barat daya Akropolis Athena dihiasi dengan patung relief merpati dengan pita yang diikat pada paruhnya.[280] Persembahan nazar berupa patung merpati kecil dari marmer putih juga ditemukan di kuil Afrodit di Dafni.[280] Selain kaitannya dengan merpati, Afrodit juga dikaitkan erat dengan burung gereja[277] dan ia digambarkan mengendarai kereta yang ditarik oleh burung gereja dalam "Ode untuk Afrodit" karya Safo.[280] Menurut mitos, merpati itu pada asalnya adalah seorang nimfa bernama Peristera yang membantu Afrodit memenangkan kontes memetik bunga melawan putranya Eros; atas hal ini Eros mengubahnya menjadi seekor merpati, tetapi Afrodit menjadikan merpati itu berada di bawah perlindungannya dan menjadikannya burung sucinya.[281][282]
Karena kaitannya dengan laut, Afrodit diasosiasikan dengan sejumlah jenis unggas air yang berbeda,[283] termasuk angsa berleher panjang, angsa berleher pendek, dan bebek.[283] Simbol Afrodit lainnya meliputi laut, cangkang keong, dan bunga mawar.[284] Bunga mawar dan murad merupakan tumbuhan suci bagi Afrodit.[285] Sebuah mitos yang menjelaskan asal-usul kaitan Afrodit dengan murad menyebutkan bahwa pada awalnya murad tersebut adalah seorang gadis, Myrina, pendeta wanita Afrodit yang berdedikasi tinggi. Ketika mantan tunangannya membawanya pergi dari kuil untuk menikahinya, Myrina membunuhnya, dan Afrodit mengubahnya menjadi pohon murad, agar selamanya berada di bawah perlindungannya.[286] Lambang buahnya yang paling penting adalah apel,[287] dan dalam mitos, ia mengubah Melos, teman masa kecil dan kerabat Adonis, menjadi sebuah apel setelah ia bunuh diri karena meratapi kematian Adonis. Demikian pula, istri Melos, Pelia, diubah menjadi seekor merpati.[288] Ia juga diasosiasikan dengan buah delima,[289] mungkin karena bijinya yang merah menyiratkan seksualitas[290] atau karena wanita Yunani terkadang menggunakan buah delima sebagai metode pengendalian kelahiran.[290] Dalam seni Yunani, Afrodit sering kali juga didampingi oleh lumba-lumba dan para Nereid.[291]
Dalam seni klasik
suntingSebuah adegan Afrodit bangkit dari laut muncul di bagian belakang Takhta Ludovisi (ca 460 SM),[294] yang aslinya kemungkinan merupakan bagian dari altar besar yang dibangun sebagai bagian dari kuil Ionik untuk Afrodit di polis Yunani Lokri Epizephyrii di Magna Graecia di Italia selatan.[294] Takhta tersebut memperlihatkan Afrodit bangkit dari laut, mengenakan pakaian tembus pandang, yang basah kuyup oleh air laut dan menempel di tubuhnya, memperlihatkan payudaranya yang terangkat dan garis pusarnya.[295] Rambutnya menjuntai meneteskan air saat ia mengulurkan tangan kepada dua pelayan yang berdiri tanpa alas kaki di pantai berbatu di kedua sisinya, mengangkatnya keluar dari air.[295] Adegan dengan Afrodit muncul dalam karya-karya tembikar Yunani klasik,[296] termasuk sebuah kylix dasar putih yang terkenal karya Pelukis Pistoxenos yang berasal dari sekitar tahun 470 dan 460 SM, yang memperlihatkannya sedang menunggangi angsa berleher panjang atau berleher pendek.[296]
Pada caโ364/361 SM, pematung Athena Praxiteles mengukir patung marmer Afrodit dari Knidos,[297][293] yang kelak dipuji oleh Plinius yang Tua sebagai patung terhebat yang pernah dibuat.[297] Patung itu memperlihatkan Afrodit yang telanjang dan dengan sopan menutupi area kemaluannya sambil bersandar pada tempayan air dengan jubahnya tersampir di atasnya sebagai penopang.[298][299] Afrodit dari Knidos adalah patung ukuran penuh pertama yang menggambarkan Afrodit sepenuhnya telanjang[300] dan salah satu patung pertama yang dimaksudkan untuk dilihat dari segala sisi.[301][300] Patung ini dibeli oleh penduduk Knidos sekitar tahun 350 SM[300] dan terbukti sangat berpengaruh pada penggambaran Afrodit di kemudian hari.[301] Patung aslinya telah hilang,[297][299] tetapi deskripsi tertulis mengenai patung tersebut serta beberapa penggambarannya pada koin masih ada[302][297][299] dan lebih dari enam puluh salinan, model skala kecil, dan fragmennya telah diidentifikasi.[302]
Pelukis Yunani Apelles dari Kos, yang sezaman dengan Praxiteles, menghasilkan lukisan panel Afrodit Anadyomene (Afrodit Bangkit dari Laut).[292] Menurut Athenaios, Apelles terinspirasi untuk melukis lukisan itu setelah melihat wanita penghibur Phryne menanggalkan pakaiannya, mengurai rambutnya, dan mandi telanjang di laut di Eleusis.[292] Lukisan itu dipajang di Asklepeion di pulau Kos.[292] Afrodit Anadyomene tidak diperhatikan selama berabad-abad,[292] tetapi Plinius yang Tua mencatat bahwa, pada masanya sendiri, lukisan itu dianggap sebagai karya Apelles yang paling terkenal.[292]
Selama periode Helenistik dan Romawi, patung-patung yang menggambarkan Afrodit menjamur;[303] banyak dari patung-patung ini dimodelkan setidaknya sampai batas tertentu pada Afrodit dari Knidos karya Praxiteles.[303] Beberapa patung memperlihatkan Afrodit berjongkok telanjang;[304] patung lainnya memperlihatkannya sedang memeras air dari rambutnya saat ia bangkit dari laut.[304] Jenis patung umum lainnya dikenal sebagai Afrodit Kallipygos, yang namanya dalam bahasa Yunani berarti "Afrodit dengan Bokong yang Indah";[304] jenis patung ini memperlihatkan Afrodit mengangkat peplos miliknya untuk menampilkan bokongnya kepada pelihat sambil menoleh ke arah bokongnya dari balik bahunya.[304] Bangsa Romawi kuno menghasilkan salinan patung-patung Afrodit Yunani dalam jumlah besar[303] dan patung-patung Afrodit lebih banyak bertahan dari zaman kuno dibandingkan patung dewa mana pun.[304]
-
Takhta Ludovisi (mungkin caโ460 SM) diyakini sebagai bas-relief Yunani klasik, meskipun ada juga dugaan bahwa karya tersebut adalah pemalsuan abad ke-19.
-
Kylix berfigur merah dasar putih Attika yang menampilkan Afrodit menunggangi angsa (ca 46-470) ditemukan di Kameiros (Rodos)
-
Afrodit dan Himeros, detail dari kantharos perak (ca 420-410 SM), bagian dari koleksi Vassil Bojkov, Sofia, Bulgaria
-
Lukisan vas berfigur merah Afrodit dan Phaon (ca 420-400 SM)
-
Lukisan vas Apulia tentang Zeus yang bersekongkol dengan Afrodit untuk merayu Leda sementara Eros duduk di lengannya (ca 330 SM)
-
Afrodit Bersandar pada Pilar (abad ketiga SM)
-
Afrodit Kallipygos ("Afrodit dengan Bokong yang Indah")
-
Afrodit Mengikat Rambutnya (abad kedua SM)
-
Afrodit dari Milos (ca 100 SM), Louvre
-
Afrodit Sosandra (Salinan Romawi dari abad ke-5 SM)
-
Afrodit Heyl (abad kedua SM)
-
Patung Yunani kelompok Afrodit, Pan, dan Eros (ca 100 SM)
-
Afrodit dari Menofantos (abad pertama SM)
-
Afrodit dari Sirakusa (salinan Romawi dari abad ke-2 M), NAMA.
-
Venus Lely (ca abad kedua M)
-
Afrodit Areia salinan Romawi, NAMA.
Budaya pascaklasik
sunting
Abad Pertengahan
suntingUmat Kristen awal sering kali mengadaptasi ikonografi pagan agar sesuai dengan tujuan Kristen.[305][306][307] Pada Abad Pertengahan Awal, umat Kristen mengadaptasi elemen-elemen ikonografi Afrodit/Venus dan menerapkannya pada Hawa dan para pelacur,[306] namun juga pada para santa dan bahkan Perawan Maria.[306] Umat Kristen di Timur menafsirkan ulang kisah kelahiran Afrodit sebagai metafora untuk baptisan;[308] dalam sebuah prasasti Koptik dari abad keenam Masehi, seorang wanita oran ditampilkan mengenakan cangkang kerang Afrodit sebagai tanda bahwa ia baru saja dibaptis.[308] Sepanjang Abad Pertengahan, desa-desa dan komunitas di seluruh Eropa masih mempertahankan cerita rakyat dan tradisi tentang Afrodit/Venus[309] dan para pelancong melaporkan berbagai macam cerita yang berbeda.[309] Berbagai mosaik Romawi yang menggambarkan Venus selamat di Britania Raya, melestarikan ingatan tentang masa lalu pagan.[284] Di Afrika Utara pada akhir abad kelima Masehi, Fulgentius dari Ruspe menemukan mosaik-mosaik Afrodit[284] dan menafsirkannya kembali sebagai simbol dosa hawa nafsu,[284] dengan alasan bahwa ia ditampilkan telanjang karena "dosa hawa nafsu tidak pernah ditutupi"[284] dan bahwa ia sering ditampilkan "berenang" karena "semua hawa nafsu mengalami karam dalam urusannya".[284] Ia juga berargumen bahwa sang dewi dikaitkan dengan burung merpati dan keong karena hewan-hewan ini adalah simbol persetubuhan,[284] dan bahwa ia dikaitkan dengan bunga mawar karena "sebagaimana bunga mawar memberikan kesenangan, namun tersapu oleh pergerakan musim yang cepat, demikian pula hawa nafsu menyenangkan untuk sesaat, namun tersapu untuk selamanya."[284]
Sementara Fulgentius telah mengambil alih Afrodit sebagai simbol hawa nafsu,[310] Isidorus dari Sevilla (ca 560โ636) menafsirkannya sebagai simbol seks prokreasi dalam pernikahan[310] dan menyatakan bahwa pesan moral dari kisah kelahiran Afrodit adalah bahwa seks hanya dapat menjadi suci dengan adanya air mani, darah, dan panas, yang ia anggap semuanya penting untuk prokreasi.[310] Sementara itu, Isidorus merendahkan putra Afrodit/Venus, Eros/Cupid, sebagai "iblis percabulan" (daemon fornicationis).[310] Afrodit/Venus paling dikenal oleh para cendekiawan Eropa Barat melalui penampilannya dalam Aeneid karya Vergilius dan Metamorphoses karya Ovidius.[311] Venus disebutkan dalam puisi berbahasa Latin Pervigilium Veneris ("Malam Santa Venus"), yang ditulis pada abad ketiga atau keempat Masehi,[312] dan dalam Genealogia Deorum Gentilium karya Giovanni Boccaccio.[313]
Sejak Abad Pertengahan Akhir, mitos Venusberg (bahasa Jerman; bahasa Prancis Mont de Vรฉnus, "Gunung Venus") โ sebuah alam bawah tanah yang diperintah oleh Venus, tersembunyi di bawah Eropa Kristen โ menjadi sebuah motif dalam cerita rakyat Eropa yang diwujudkan dalam berbagai legenda dan epos. Dalam cerita rakyat Jerman abad ke-16, narasi tersebut dikaitkan dengan minnesinger Tannhรคuser, dan dalam bentuk tersebut mitos ini diangkat dalam berbagai karya sastra dan opera di kemudian hari.
Seni rupa
sunting
Afrodit adalah figur sentral dalam lukisan Sandro Botticelli Primavera, yang digambarkan sebagai "salah satu lukisan yang paling banyak ditulis, dan paling kontroversial di dunia",[314] dan "salah satu lukisan paling populer dalam seni rupa Barat".[315] Kisah kelahiran Afrodit dari buih merupakan materi subjek yang populer bagi para pelukis selama Renaisans Italia,[316] yang berupaya untuk secara sadar merekonstruksi mahakarya Apelles dari Kos yang hilang Afrodit Anadyomene berdasarkan ekfrasis sastranya yang dilestarikan oleh Cicero dan Plinius yang Tua.[317] Para seniman juga mendapat inspirasi dari deskripsi Ovidius tentang kelahiran Venus dalam Metamorphoses karyanya.[317] Kelahiran Venus (ca 1485) karya Sandro Botticelli juga sebagian diilhami oleh deskripsi dari Poliziano mengenai sebuah relief tentang subjek tersebut.[317] Penafsiran Italia di kemudian hari tentang adegan yang sama termasuk Venus Anadyomene karya Titian (caโ1525)[317] dan lukisan Raphael dalam Stufetta del cardinal Bibbiena (1516).[317] Penulis biografi Titian, Giorgio Vasari, mengidentifikasi semua lukisan Titian tentang wanita telanjang sebagai lukisan "Venus",[318] termasuk sebuah lukisan erotis dari caโ1534, yang ia sebut Venus dari Urbino, meskipun lukisan tersebut tidak mengandung ikonografi tradisional Afrodit/Venus mana pun dan wanita di dalamnya dengan jelas ditampilkan dalam latar kontemporer, bukan latar klasik.[318]
-
Primavera (akhir 1470-an atau awal 1480-an) karya Sandro Botticelli
-
Venus dari Urbino (caโ1534) karya Titian
-
Venus dan Adonis (1554) karya Titian
-
Venus dengan Cermin (caโ1555) karya Titian
-
Kamar Rias Venus (ca 1612โ1615) karya Peter Paul Rubens
-
Kematian Adonis (ca 1614) karya Peter Paul Rubens
-
Venus Rokeby (ca 1647โ51) karya Diego Velรกzquez
-
Venus dan Cupid Meratapi Adonis yang Mati (1656) karya Cornelis Holsteyn
Karya terakhir Jacques-Louis David adalah magnum opus-nya yang dibuat pada tahun 1824, Mars Dilucuti oleh Venus,[319] yang menggabungkan unsur-unsur seni klasik, Renaisans, seni tradisional Prancis, dan gaya artistik kontemporer.[319] Saat mengerjakan lukisan itu, David mendeskripsikannya dengan mengatakan, "Ini adalah gambar terakhir yang ingin saya lukis, tetapi saya ingin melampaui diri saya sendiri di dalamnya. Saya akan mencantumkan tanggal tujuh puluh lima tahun usia saya di atasnya dan setelah itu saya tidak akan pernah lagi mengambil kuas saya."[320] Lukisan itu dipamerkan pertama kali di Brussel dan kemudian di Paris, di mana lebih dari 10.000 orang datang untuk melihatnya.[320] Lukisan Venus Anadyomene karya Jean-Auguste-Dominique Ingres adalah salah satu karya utamanya.[321] Louis Geofroy menggambarkannya sebagai "mimpi masa muda yang diwujudkan dengan kekuatan kedewasaan, sebuah kebahagiaan yang jarang didapat, oleh seniman atau pihak lainnya."[321] Thรฉophile Gautier menyatakan: "Tidak ada yang tersisa dari lukisan menakjubkan bangsa Yunani kuno, namun pastinya jika ada sesuatu yang dapat memberikan gagasan tentang lukisan antik seperti yang dikonsep berdasarkan patung-patung Phidias dan puisi-puisi Homerus, itu adalah lukisan M. Ingres: Venus Anadyomene karya Apelles telah ditemukan."[321] Para kritikus lain menolaknya sebagai sebuah karya kitsch sentimental yang tidak imajinatif,[321] tetapi Ingres sendiri menganggapnya sebagai salah satu karya terbesarnya dan menggunakan figur yang sama sebagai model untuk lukisannya di kemudian hari pada tahun 1856, La Source.[321]
Lukisan-lukisan Venus menjadi favorit para seniman akademik akhir abad kesembilan belas di Prancis.[322][323] Pada tahun 1863, Alexandre Cabanel memenangkan pujian kritis yang luas di Salon Paris untuk lukisannya Kelahiran Venus, yang segera dibeli oleh kaisar Prancis Napoleon III untuk koleksi seni pribadinya.[324] Lukisan Olympia karya รdouard Manet tahun 1865 memparodikan Venus telanjang dari para pelukis Akademik, khususnya Kelahiran Venus karya Cabanel.[325] Pada tahun 1867, pelukis Akademik Inggris Frederic Leighton memamerkan karyanya Venus Menanggalkan Pakaian untuk Mandi di akademi.[326] Kritikus seni J. B. Atkinson memujinya, dengan menyatakan bahwa "Tuan Leighton, alih-alih mengadopsi gagasan Romawi yang korup mengenai Venus seperti yang diwujudkan Rubens, dengan bijak telah kembali pada gagasan Yunani tentang Afrodit, seorang dewi yang dipuja, dan dilukis oleh para seniman, sebagai kesempurnaan anugerah dan kecantikan wanita".[327] Setahun kemudian, pelukis Inggris Dante Gabriel Rossetti, salah satu anggota pendiri Persaudaraan Pra-Raphaelite, melukis Venus Verticordia (bahasa Latin untuk "Afrodit, Sang Pengubah Hati"), yang menampilkan Afrodit sebagai seorang wanita berambut merah yang telanjang di sebuah taman mawar.[326] Meskipun ia dicela karena subjeknya yang outrรฉ (tidak biasa),[326] Rossetti menolak untuk mengubah lukisan tersebut dan lukisan itu segera dibeli oleh J. Mitchell dari Bradford.[327] Pada tahun 1879, William Adolphe Bouguereau memamerkan Kelahiran Venus miliknya sendiri di Salon Paris,[324] yang meniru tradisi klasik kontraposto dan mendapat pujian kritis yang meluas, menyaingi popularitas versi Cabanel dari hampir dua dekade sebelumnya.[324]
-
Venus dan Adonis (1729) karya Franรงois Lemoyne
-
Mars Dilucuti oleh Venus (1824) karya Jacques-Louis David
-
Mars dan Venus Dipergoki oleh Vulcan (1827) karya Alexandre Charles Guillemot
-
Venus Anadyomene (1848) karya Jean-Auguste-Dominique Ingres
-
Venus Menanggalkan Pakaian untuk Mandi (1867) karya Frederic Leighton
-
Venus Verticordia (1868) karya Dante Gabriel Rossetti
-
Kelahiran Venus (ca 1879) karya William-Adolphe Bouguereau
-
Kelahiran Venus (1907) karya Henri Gervex
Sastra
sunting
Puisi naratif erotis karya William Shakespeare, Venus dan Adonis (1593), sebuah penceritaan ulang kisah masa pacaran Afrodit dan Adonis dari Metamorphoses karya Ovidius,[328][329] adalah karya paling populer dari semua karyanya yang diterbitkan semasa hidupnya.[330][331] Enam edisi dari puisi itu diterbitkan sebelum kematian Shakespeare (lebih banyak daripada karyanya yang lain)[331] dan puisi tersebut menikmati popularitas yang sangat kuat terutama di kalangan orang dewasa muda.[330] Pada tahun 1605, Richard Barnfield memujinya,[331] menyatakan bahwa puisi itu telah menempatkan nama Shakespeare "dalam Buku ketenaran abadi".[331] Meskipun demikian, puisi tersebut mendapat tanggapan yang beragam dari para kritikus modern;[330] Samuel Taylor Coleridge membelanya,[330] tetapi Samuel Butler mengeluh bahwa puisi itu membuatnya bosan[330] dan C. S. Lewis menggambarkan upaya untuk membacanya sebagai hal yang "menyesakkan".[330]
Afrodit muncul dalam kumpulan cerita pendek karya Richard Garnett yang berjudul The Twilight of the Gods and Other Tales (1888),[332] di mana kuil-kuil para dewa telah dihancurkan oleh umat Kristen.[333] Kisah-kisah yang berpusat pada patung-patung Afrodit lazim dijumpai pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh.[334] Contoh-contoh karya sastra semacam ini antara lain novel The Tinted Venus: A Farcical Romance (1885) karya Thomas Anstey Guthrie dan cerita pendek Venus dari Ille (1887) karya Prosper Mรฉrimรฉe,[335] yang keduanya berkisah tentang patung-patung Afrodit yang menjadi hidup.[335] Contoh penting lainnya adalah Aphrodite in Aulis karya penulis Anglo-Irlandia George Moore,[336] yang berpusat pada keluarga Yunani kuno yang pindah ke Aulis.[337] Penulis Prancis Pierre Louรฟs memberi judul novel sejarah erotisnya Aphrodite: mลurs antiques (1896) berdasarkan nama dewi Yunani tersebut.[338] Novel ini menikmati kesuksesan komersial yang luas,[338] tetapi membuat para pembaca di Prancis gempar karena sensualitasnya dan penggambarannya yang dekaden mengenai masyarakat Yunani.[338]
Pada awal abad kedua puluh, kisah-kisah mengenai Afrodit banyak digunakan oleh para penyair wanita berhaluan feminis,[339] seperti Amy Lowell dan Alicia Ostriker.[340] Sejumlah puisi tersebut membahas tentang kelahiran legendaris Afrodit dari buih laut.[339] Para penulis feminis lainnya, termasuk Claude Cahun, Thit Jensen, dan Anaรฏs Nin juga memanfaatkan mitos Afrodit dalam tulisan mereka.[341] Sejak penerbitan buku karya Isabel Allende Aphrodite: A Memoir of the Senses pada tahun 1998, nama "Afrodit" telah digunakan sebagai judul untuk puluhan buku yang membahas berbagai topik yang bahkan hanya memiliki kaitan yang sangat dangkal dengan domain sang dewi.[342] Sering kali, buku-buku ini sama sekali tidak menyebutkan Afrodit,[342] atau hanya menyebutkannya secara singkat, namun menggunakan namanya sebagai daya tarik penjualan.[343]
Pemujaan modern
suntingPada tahun 1938, Gleb Botkin, seorang imigran Rusia di Amerika Serikat, mendirikan Gereja Afrodit, sebuah agama neopagan yang berpusat pada pemujaan dewi ibu, yang diidentifikasi oleh para penganutnya sebagai Afrodit.[344][345] Teologi Gereja Afrodit dijabarkan dalam buku In Search of Reality, yang diterbitkan pada tahun 1969, dua tahun sebelum kematian Botkin.[346] Buku tersebut menggambarkan Afrodit dalam sudut pandang yang sangat berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh orang Yunani,[346] alih-alih menampilkan sang dewi sebagai "satu-satunya Dewi dari sebuah monoteisme Pagan yang agak Neoplatonik".[346] Buku tersebut mengklaim bahwa pemujaan Afrodit telah dibawa ke Yunani oleh guru mistik Orfeus,[346] tetapi orang-orang Yunani telah salah memahami ajaran Orfeus dan tidak menyadari pentingnya memuja Afrodit semata.[346]
Afrodit merupakan dewi utama dalam Wicca,[347] sebuah agama Neopagan kontemporer berbasis alam yang sinkretik. Penganut Wicca menganggap Afrodit sebagai salah satu aspek dari sang Dewi[butuh rujukan] dan namanya sering kali diseru selama perapalan mantra yang berhubungan dengan cinta dan romansa.[348] Penganut Wicca menganggap Afrodit sebagai penguasa emosi manusia, spiritualitas erotis, kreativitas, dan seni.[347] Sebagai salah satu dari dua belas dewa Olimpus, Afrodit adalah dewa utama dalam Hellenismos (Rekonstruksionisme Politeistik Helenik),[349] sebuah agama Neopagan yang berupaya membangkitkan dan menciptakan kembali agama Yunani kuno secara autentik di dunia modern. Tidak seperti penganut Wicca, penganut Hellenisme biasanya sangat politeistik atau panteistik. Penganut Hellenisme memuja Afrodit terutama sebagai dewi cinta romantis, tetapi juga sebagai dewi seksualitas, laut, dan perang. Berbagai julukannya meliputi "Lahir dari Laut", "Pembunuh Laki-laki", "Dia yang Berada di Atas Kuburan", "Pelayaran yang Baik", dan "Sekutu dalam Perang".[butuh rujukan]
Silsilah
suntingTemplat:Family tree of the Olympians
Lihat pula
sunting- Ankhises
- Asyera
- Cupid
- Korset Afrodit
- Sejarah seni telanjang
- Lakshmi, bangkit dari samudra seperti Afrodit dan memiliki bintang bersudut 8 seperti Ishtar
Catatan
sunting- ^ Yunani Kuno: แผฯฯฮฟฮดฮฏฯฮท, romanized:ย Aphrodรญtฤ; pelafalan dalam [[bahasa Yunani Attik]]: [a.pสฐro.dวห.tษห], Yunani Koinฤ: [a.ษธroหdi.teฬ], Yunani Modern: [a.froหรฐi.ti]
- ^ Museo Archeologico Nazionale (Napoli) so-called Venus in a bikini", Cir.campania.beniculturali.it:
Patung ini menggambarkan Afrodit saat hendak melepaskan ikatan sandal di kaki kirinya, di mana di bawahnya seekor Eros kecil berjongkok, menyentuh sol sepatunya dengan tangan kanannya. Sang Dewi bersandar dengan lengan kirinya (tangannya hilang) pada patung Priapos yang berdiri, telanjang dan berjanggut, diposisikan di atas altar silinder kecil sementara, di sebelah paha kirinya, terdapat batang pohon tempat pakaian sang Dewi dilipat. Afrodit, yang hampir sepenuhnya telanjang, hanya mengenakan semacam kostum, yang terdiri dari korset yang ditahan oleh dua pasang tali dan dua lengan pendek di bagian atas lengannya, yang darinya sebuah rantai panjang mengarah ke pinggulnya dan membentuk motif berbentuk bintang di tingkat pusarnya. "Bikini", yang membuat patung ini terkenal, diperoleh dengan penggunaan teknik penyepuhan yang mahir, yang juga digunakan pada pangkal pahanya, di kalung liontin dan armila di pergelangan tangan kanan Afrodit, serta pada falus Priapos. Jejak cat merah terlihat pada batang pohon, pada rambut pendek keriting yang diikat ke belakang membentuk sanggul dan pada bibir sang Dewi, serta pada kepala Priapos dan Eros. Mata Afrodit terbuat dari pasta kaca, sementara keberadaan lubang di tingkat cuping telinga menunjukkan adanya anting-anting logam mulia yang sejak saat itu telah hilang. Sebuah wawasan menarik tentang ornamen wanita di zaman Romawi, patung tersebut, yang mungkin diimpor dari daerah Aleksandria, mereproduksi dengan beberapa modifikasi jenis patung Afrodit yang sedang melepaskan sandalnya, yang dikenal dari salinan dalam bentuk perunggu dan terakota.
Untuk penelitian ekstensif dan daftar pustaka mengenai subjek ini, lihat: de Franciscis 1963, p. 78, tav. XCI; Kraus 1973, nn. 270โ271, pp. 194โ195; Pompei 1973, n. 132; Pompeji 1973, n. 199, pp. 142โ144; Pompeji 1974, n. 281, pp. 148โ149; Pompeii A.D. 79 1976, p. 83 note 218; Pompeii A.D. 79 1978, I, n. 208, pp. 64โ65, II, n. 208, p. 189; Dรถhl, Zanker 1979, p. 202, tav. Va; Pompeii A.D. 79 1980, p. 79 n. 198; Pompeya 1981, n. 198, p. 107; Pompeii lives 1984, fig. 10, p. 46; Collezioni Museo 1989, I, 2, n. 254, pp. 146โ147; PPM II, 1990, n. 7, p. 532; Armitt 1993, p. 240; Vรฉsuve 1995, n. 53, pp. 162โ163; Vulkan 1995, n. 53, pp. 162โ163; LIMC VIII, 1, 1997, p. 210, s.v. Venus, n. 182; LIMC VIII, 2, 1997, p. 144; LIMC VIII, 1, 1997, p. 1031, s.v. Priapos, n. 15; LIMC VIII, 2, 1997, p. 680; Romana Pictura 1998, n. 153, p. 317 e tav. a p. 245; Cantarella 1999, p. 128; De Caro 1999, pp. 100โ101; De Caro 2000, p. 46 e tav. a p. 62; Pompeii 2000, n. 1, p. 62.
- ^ Anteros pada awalnya lahir dari laut bersama Afrodit; baru kemudian menjadi putranya.
Referensi
sunting- ^ Hard, p. 202
- ^ Homer, Iliad 5.370.
- ^ Hesiod, Theogony, 188โ190.
- ^ This claim is made at Symposium 180e. It is hard to interpret the role of the various speeches in the dialogue and their relationship to what Plato actually thought; therefore, it is controversial whether Plato, in fact, believed this claim about Aphrodite. See Frisbee Sheffield, "The Role of the Earlier Speeches in the "Symposium": Plato's Endoxic Method?" in J. H. Lesher, Debra Nails & Frisbee C. C. Sheffield (eds.), Plato's Symposium: Issues in Interpretation and Reception, Harvard University Press, (2006).
- ^ a b c d e f g h i Cyrino 2010, hlm.ย 14.
- ^ Hesiod, Theogony, 190โ197.
- ^ a b c d West 2000, hlm.ย 134โ138.
- ^ a b c d e Beekes 2009, hlm.ย 179.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 26โ27.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 26.
- ^ West 2000, hlm.ย 134โ136.
- ^ West 2000, hlm.ย 137โ138.
- ^ Wilson-Wright, Aren M. (August 2019). Venus's Name - The Divine Name Aphrodite as a Phoenician Epithet. European Association of Biblical Studies Annual Conference. Warsaw.
- ^ Paul Kretschmer, "Zum pamphylischen Dialekt", Zeitschrift fรผr vergleichende Sprachforschung auf dem Gebiet der Indogermanischen Sprachen, 33 (1895), 267.
- ^ Ernst Maaร, "Aphrodite und die hl. Pelagia", Neue Jahrbรผcher fรผr das klassische Altertum, 27 (1911), 457โ468.
- ^ Vittore Pisani, "Akmon e Dieus", Archivio glottologico italiano, 24 (1930), 65โ73.
- ^ a b Janda 2005, hlm.ย 349โ360.
- ^ a b c d Janda 2010, hlm.ย 65.
- ^ Witczak 1993, hlm.ย 115โ123.
- ^ Kรถlligan, Daniel (2007). "Aphrodite of the Dawn - Indo-European Heritage in Greek Divine Epithets and Theonyms". Letras Clรกssicas. 11 (11): 105โ134. doi:10.11606/issn.2358-3150.v0i11p105-134.
- ^ Penglase 1994, hlm.ย 164.
- ^ a b Boedeker 1974, hlm.ย 15โ16.
- ^ Chicago Assyrian Dictionary, vol. 2, p.ย 111.
- ^ M. Hammarstrรถm, "Griechisch-etruskische Wortgleichungen", Glotta: Zeitschrift fรผr griechische und lateinische Sprache 11 (1921), 215โ216.
- ^ a b c Frisk 1960, hlm.ย 196f.
- ^ a b West 2000, hlm.ย 134.
- ^ Etymologicum Magnum, แผฯฯฮฟฮดฮฏฯฮท
- ^ O'Bryhim, Shawn David (22 June 2021). A Student's Commentary on Ovid's Metamorphoses Book 10. Wiley-Blackwell. hlm.ย 80. ISBNย 9781119770503.
- ^ "The Cypriot Syllabic Script word a-po-ro-ti-ta-i". palaeolexicon.com. Diakses tanggal 24 April 2023.
- ^ Pestarino, Beatrice (8 August 2022). Kypriลn Politeia, the Political and Administrative Systems of the Classical Cypriot City-Kingdoms. Brill Publishers. hlm.ย 135โ136. ISBNย 9789004520332.
- ^ Breitenberger 2007, hlm.ย 8โ12.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 49โ52.
- ^ a b Puhvel 1987, hlm.ย 27.
- ^ a b Marcovich 1996, hlm.ย 43โ59.
- ^ Burkert 1985, hlm.ย 152โ153.
- ^ Pausanias, Description of Greece, I. XIV.7
- ^ a b c d Breitenberger 2007, hlm.ย 8.
- ^ a b Breitenberger 2007, hlm.ย 10โ11.
- ^ Penglase 1994, hlm.ย 162.
- ^ Penglase 1994, hlm.ย 163.
- ^ a b c d e Cyrino 2010, hlm.ย 51โ52.
- ^ a b c d e Budin 2010, hlm.ย 85โ86, 96, 100, 102โ103, 112, 123, 125.
- ^ a b Graz 1984, hlm.ย 250.
- ^ a b Iossif & Lorber 2007, hlm.ย 77.
- ^ Penglase 1994, hlm.ย 162โ163.
- ^ a b c Konaris 2016, hlm.ย 169.
- ^ a b Burkert 1998, hlm.ย 1โ6.
- ^ Burkert 1998, hlm.ย 1โ41.
- ^ a b Dumรฉzil 1934.
- ^ a b c d e Cyrino 2010, hlm.ย 24.
- ^ Penglase 1994, hlm.ย 162โ164.
- ^ a b c Cyrino 2010, hlm.ย 24โ25.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 25.
- ^ a b c Bullough & Bullough 1993, hlm.ย 29.
- ^ a b c d Clark 2015, hlm.ย 381.
- ^ a b c d Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 81.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 28.
- ^ a b c d e f g h Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 80.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 28โ29.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 35.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 35โ38.
- ^ Plato, Symposium, 181a-d.
- ^ Richard L. Hunter, Plato's Symposium, Oxford University Press, 2004, pp. 44โ47
- ^ "Suda, ฯ, 825".
- ^ Pausanias, Periegesis, vi.25.1; Aphrodite Pandemos was represented in the same temple riding on a goat, symbol of purely carnal rut: "The meaning of the tortoise and of the he-goat I leave to those who care to guess", Pausanias remarks.
- ^ Andrea Alciato, Emblemata / Les emblemes (1584).
- ^ a b c d Cyrino 2010, hlm.ย 39.
- ^ a b c Cyrino 2010, hlm.ย 39โ40.
- ^ "Mechaneus". Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology. Vol.ย 2. Little, Brown and Company. 1867. hlm.ย 1003.
- ^ Farnell, Lewis Richard (1896). The Cults of the Greek States. Clarendon Press. hlm.ย 666.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 27.
- ^ Suda, gamma, 141
- ^ Harry Thurston Peck, Harpers Dictionary of Classical Antiquities (1898), Genetyllis
- ^ A Dictionary of Greek and Roman biography and mythology, Genetyllis
- ^ Schmitz, Leonhard (1867). "Melaenis". Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology. Vol.ย 2. Little, Brown and Company. hlm.ย 1012.
- ^ Koloski-Ostrow & Lyons 2000, hlm.ย 230โ231.
- ^ Nlisson, Vol I, pp. 521โ526
- ^ Cyrino, 2010, pp. 38โ40
- ^ Kerenyi, 1951, pp. 80โ81
- ^ Harry Thurston Peck, Harpers Dictionary of Classical Antiquities (1898), Aphrogeneia
- ^ Pausanias 3.17.5
- ^ Giuliani, Luca. Schefold, Karl. Gods and Heroes in Late Archaic Greek Art. Cambridge University Press. Dec. 3, 1992. pgs. 57-59.
- ^ a b Suda, kappa, 2738
- ^ Suda, kappa, 2628
- ^ Pausanias 1.1.3
- ^ Pausanias 1.1.5
- ^ Pausanias 3.13.8)
- ^ A Dictionary of Greek and Roman biography and mythology, Idalia
- ^ a b Pausanias 2.34.11
- ^ Pausanias 3.15.11
- ^ "A Dictionary of Greek and Roman biography and mythology, Zery'nthia". Tufts University. Diakses tanggal 2025-11-29.
- ^ Rosenzweig 2004, hlm.ย 15โ16.
- ^ Simon 1983, hlm.ย 49โ50.
- ^ a b Simon 1983, hlm.ย 48.
- ^ Simon 1983, hlm.ย 48โ49.
- ^ Simon 1983, hlm.ย 47โ48.
- ^ Simon 1983, hlm.ย 49.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 40.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 40โ41.
- ^ a b c d Cyrino 2010, hlm.ย 41โ42.
- ^ a b c Marcovich 1996, hlm.ย 49.
- ^ Black & Green 1992, hlm.ย 109.
- ^ a b Burkert 1985, hlm.ย 153.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 41โ43.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 43.
- ^ Witt 1997, hlm.ย 125.
- ^ Dunand 2007, hlm.ย 258.
- ^ Larousse Desk Reference Encyclopedia, The Book People, Haydock, 1995, p. 215.
- ^ a b c d e f Dunand 2007, hlm.ย 257.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 127โ128.
- ^ a b c d e f Cyrino 2010, hlm.ย 128.
- ^ a b c Cyrino 2010, hlm.ย 128โ129.
- ^ a b c d e Cyrino 2010, hlm.ย 130.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 130โ131.
- ^ Ames-Lewis 2000, hlm.ย 194.
- ^ [1] Diarsipkan 11 May 2006 di Wayback Machine.
- ^ Homer, Odyssey, viii, 288; Herodotus i. 105; Pausanias iii, 23, ยง 1; Anacreon v. 9; Horace, Carmina, i, 4, 5.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 21.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 20โ21.
- ^ Hesiod, Theogony 191โ192.
- ^ a b c Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 69.
- ^ a b Graves 1960, hlm.ย 37.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 13โ14.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 29.
- ^ a b Puhvel 1987, hlm.ย 25.
- ^ Homer, Iliad 5.370 and xx, 105
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 14โ15.
- ^ Apollodorus, 1.1.3
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 53โ61.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 73โ78.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 50, 72.
- ^ a b c d e f g Cyrino 2010, hlm.ย 72.
- ^ a b Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 279.
- ^ a b c Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 72.
- ^ Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 72โ73.
- ^ Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 73โ74.
- ^ a b Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 74.
- ^ Anderson 2000, hlm.ย 131โ132.
- ^ Gallagher, David (1 January 2009). Avian and Serpentine (dalam bahasa Inggris). Brill Publishers. ISBNย 978-90-420-2709-1.
- ^ Lucian, Gallus 3, see also scholiast on Aristophanes, Birds, 835; Eustathius, Ad Odysseam, 1.300; Ausonius, 26.2.27; Libanius, Progymnasmata 2.26
- ^ Homer, Odyssey 8.267 ff
- ^ Homer, Iliad 18.382
- ^ Hard, p. 202
- ^ Slater 1968, hlm.ย 199โ200.
- ^ Gantz 1996, hlm.ย 76.
- ^ West 2011, hlm.ย 32โ3.
- ^ West 2011, hlm.ย 35โ8.
- ^ Bonner 1949, hlm.ย 1.
- ^ a b c Bonner 1949, hlm.ย 1โ6.
- ^ Bonner 1949, hlm.ย 1โ2.
- ^ "The Satala Aphrodite". British Museum. Diarsipkan dari asli tanggal 11 April 2020.
- ^ Nersessian, Vrej (2001). "Bronze Head of Aphrodite/Anahit". Treasures from the Ark - 1700 Years of Armenian Christian Art. J. Paul Getty Museum. hlm.ย 114โ115. ISBNย 9780892366392.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 44.
- ^ a b c Cyrino 2010, hlm.ย 44โ45.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 45.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 45โ46.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 47.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 47โ48.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 48.
- ^ a b c Cyrino 2010, hlm.ย 48โ49.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 71โ72.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 72โ73.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 73.
- ^ a b c d e f g h Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 176.
- ^ Powell 2012, hlm.ย 214.
- ^ Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 283.
- ^ a b "Priapus", Suda On Line, Tr. Ross Scaife, 10 August 2014, Entry Diarsipkan 13 May 2021 di Wayback Machine.
- ^ a b c Cyrino 2010, hlm.ย 89.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 90.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 90โ91.
- ^ a b c d e Cyrino 2010, hlm.ย 91.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 92.
- ^ a b c Cyrino 2010, hlm.ย 92โ93.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 93.
- ^ Hesiod, Theogony 1008โ10; Homer, Iliad 2.819โ21.
- ^ West 1997, hlm.ย 57.
- ^ Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 67.
- ^ a b c d e f Cyrino 2010, hlm.ย 97.
- ^ Burkert 1985, hlm.ย 176โ177.
- ^ a b West 1997, hlm.ย 530โ531.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 95.
- ^ a b Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 75.
- ^ a b Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 75โ76.
- ^ a b c d e f g h i Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 76.
- ^ Lucian, Dialogues of the Gods, Aphrodite and the Moon
- ^ a b c d Cyrino 2010, hlm.ย 96.
- ^ Cameron 2004, hlm.ย 152: Some translations erroneously add Apollo as one of the men Aphrodite had sex with before Erymanthus saw her.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 97โ98.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 98.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 81.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 80.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 81โ82.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 82โ83.
- ^ a b Homer, Odyssey 20.66-78
- ^ Pausanias 10.30.1
- ^ Codex Palatino-Vaticanus, scholia on Homer's Odyssey 19.517
- ^ a b c d e f g h Ruck & Staples 2001, hlm.ย 64โ70.
- ^ a b McKinley 2001, hlm.ย 43.
- ^ a b Wasson 1968, hlm.ย 128.
- ^ a b McKinley 2001, hlm.ย 43โ44.
- ^ a b Clark 2015, hlm.ย 90โ91.
- ^ Clement, Exhortation to the Greeks, 4
- ^ a b c d e Clark 2015, hlm.ย 91.
- ^ Powell 2012, hlm.ย 215.
- ^ Powell 2012, hlm.ย 215โ217.
- ^ a b c Powell 2012, hlm.ย 217.
- ^ Apollodorus, 3.14.3.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 98โ103.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 98โ99.
- ^ a b c d e f Cyrino 2010, hlm.ย 99.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 100.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 100โ101.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 101.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 102.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 102โ103.
- ^ Vergil, Georgics 3.266โ88, with Servius's note to line 268; Hand, The Routledge Handbook of Greek Mythology, pp. 432, 663.
- ^ Hyginus, Fabulae 250.3, 273.11; Pausanias, Guide to Greece 6.20.19
- ^ Antoninus Liberalis, Metamorphoses, 21
- ^ Apollodorus, 1.4.4.
- ^ "Ovid's Metamorphoses, book 10, English Translation". Diarsipkan dari asli tanggal 15 June 2012. Diakses tanggal 11 January 2021.
- ^ Diodorus Siculus, Bibliotheca historica 5.55.4โ7
- ^ Parthenius, Erotica Pathemata 5
- ^ Ovid, Metamorphoses 10.298โ518
- ^ Hansen 2004, hlm.ย 289โ290.
- ^ Apollodorus, 3.14.4; Antoninus Liberalis, 34
- ^ Pseudo-Apollodorus, 3.14.3; 3.9.1 for Laodice.
- ^ Apollodorus, Bibliotheca 1.3.3
- ^ Scholia on Iliad 5.411
- ^ a b Tzetzes on Lycophron 610.
- ^ Ovid, Metamorphoses, 14.476
- ^ "Aphrodite Myths 7 Wrath - Greek Mythology".
- ^ Pierre Grimal, The Dictionary of Classical Mythology, s.v. "Aineias"
- ^ Hyginus, Fabulae 40
- ^ Seneca, Phaedra 124
- ^ Scholia on Euripides' Hippolytus 47.
- ^ Ovid, Metamorphoses 4.192โ270; Hard, p. 45
- ^ Pseudo-Plutarch, On Rivers, 14
- ^ Hyginus, Astronomica 2.7.4
- ^ Strelan, Rick (1996). "Paul, Artemis, and the Jews in Ephesus". Beihefte zur Zeitschrift fรผr die neutestamentliche Wissenschaft. 80. De Gruyter: 75. ISBNย 9783110150209. ISSNย 0171-6441.
- ^ Futre Pinheiro, Marรญlia P.; Bierl, Anton; Beck, Roger (29 October 2013). Intende, Lector โ Echoes of Myth, Religion and Ritual in the Ancient Novel. De Gruyter. hlm.ย 18. ISBNย 978-3-11-031181-5.
- ^ a b Walcot 1977, hlm.ย 31.
- ^ a b Walcot 1977, hlm.ย 31โ32.
- ^ a b c d e f g Walcot 1977, hlm.ย 32.
- ^ a b Bull 2005, hlm.ย 346โ347.
- ^ a b c d Walcot 1977, hlm.ย 32โ33.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 85.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 85โ86.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 35โ36, 86โ87.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 36, 86โ87.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 87.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 87โ88.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 88.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 49.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 49โ50.
- ^ a b c d Cyrino 2010, hlm.ย 50.
- ^ Burkert 2005, hlm.ย 300.
- ^ Burkert 2005, hlm.ย 299โ300.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 36.
- ^ Homer, Iliad 21.416โ17.
- ^ Bremmer, Jan N. (1996). "Mythology". The Oxford Classical Dictionary (Edisi Third). Oxford University Press. hlm.ย 1018โ1020. ISBNย 019866172X.
- ^ Reeve, Michael D. (1996). "Scholia". The Oxford Classical Dictionary (Edisi Third). Oxford University Press. hlm.ย 1368. ISBNย 019866172X.
- ^ Smith 1873, s.v. Anchises.
- ^ a b c d e Kerรฉnyi 1951, hlm.ย 71.
- ^ Eros is usually mentioned as the son of Aphrodite but in other versions he is a parentless primordial.
- ^ Diodorus Siculus, 4.6.5: "... Hermaphroditus, as he has been called, who was born of Hermes and Aphrodite and received a name which is a combination of those of both his parents."
- ^ Pindar, Olympian 7.14 makes her the daughter of Aphrodite, but does not mention any father. Herodorus, fr. 62 Fowler (Fowler 2001, p. 253), apud schol. Pindar Olympian 7.24โ5; Fowler 2013, p. 591 make her the daughter of Aphrodite and Poseidon.
- ^ Graves 1960, hlm.ย 70.
- ^ Athenaeus 13.35
- ^ Diodorus Siculus, 4.23.2
- ^ Hesychius of Alexandria s. v. ฮฮตฮปฮนฮณฮฟฯ ฮฝฮฏฯ: "Meligounis: this is what the island Lipara was called. Also one of the daughters of Aphrodite."
- ^ Apollodorus, 1.9.25.
- ^ Servius on Aeneid, 1.574, 5.24
- ^ Apollodorus, 3.14.3.
- ^ Hesiod, Theogony 986โ990; Pausanias, Description of Greece, 1.3.1 (using the name "Hemera" for Eos)
- ^ Gantz 1996, hlm.ย 104.
- ^ West 2008, hlm.ย 36.
- ^ a b c Cyrino 2010, hlm.ย 121โ122.
- ^ a b Lewis & Llewellyn-Jones 2018, hlm.ย 335.
- ^ a b Botterweck & Ringgren 1990, hlm.ย 35.
- ^ a b c Cyrino 2010, hlm.ย 122.
- ^ Pepin, Ronald E. (2008). The Vatican Mythographers. Fordham University Press. hlm.ย 76. ISBNย 978-0-8232-2892-8.
- ^ De Gubernatis, Angelo (1872). Zoological Mythology - Or, The Legends of Animals. Vol.ย 2. Trรผbner & Company. hlm.ย 305. ISBNย 978-0-598-54106-2.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 120โ123.
- ^ a b c d e f g h Tinkle 1996, hlm.ย 81.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 63, 96.
- ^ Pepin, Ronald E. (2008). The Vatican Mythographers. Fordham University Press. hlm.ย 117. ISBNย 978-0-8232-2892-8.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 64.
- ^ Smith, William (1861), Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology, Walton and Maberly, s.v Melus.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 63.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 63โ64.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 123โ124.
- ^ a b c d e f Havelock 2007, hlm.ย 86.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 76โ77.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 106.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 106โ107.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 124.
- ^ a b c d Grant 1989, hlm.ย 224.
- ^ Grant 1989, hlm.ย 225.
- ^ a b c Cyrino 2010, hlm.ย 77.
- ^ a b c Cyrino 2010, hlm.ย 76.
- ^ a b Grant 1989, hlm.ย 224โ225.
- ^ a b Palagia & Pollitt 1996, hlm.ย 98.
- ^ a b c Cyrino 2010, hlm.ย 77โ78.
- ^ a b c d e Cyrino 2010, hlm.ย 78.
- ^ Taylor 1993, hlm.ย 96โ97.
- ^ a b c Tinkle 1996, hlm.ย 80.
- ^ Link 1995, hlm.ย 43โ45.
- ^ a b Taylor 1993, hlm.ย 97.
- ^ a b Tinkle 1996, hlm.ย 80โ81.
- ^ a b c d Tinkle 1996, hlm.ย 82.
- ^ Tinkle 1996, hlm.ย 106โ108.
- ^ Tinkle 1996, hlm.ย 107โ108.
- ^ Tinkle 1996, hlm.ย 108.
- ^ Fossi 1998, hlm.ย 5.
- ^ Cunningham & Reich 2009, hlm.ย 282.
- ^ Ames-Lewis 2000, hlm.ย 193โ195.
- ^ a b c d e Ames-Lewis 2000, hlm.ย 193.
- ^ a b Tinagli 1997, hlm.ย 148.
- ^ a b Bordes 2005, hlm.ย 189.
- ^ a b Hill 2007, hlm.ย 155.
- ^ a b c d e Tinterow 1999, hlm.ย 358.
- ^ McPhee 1986, hlm.ย 66โ67.
- ^ Gay 1998, hlm.ย 128.
- ^ a b c McPhee 1986, hlm.ย 66.
- ^ Gay 1998, hlm.ย 129.
- ^ a b c Smith 1996, hlm.ย 145โ146.
- ^ a b Smith 1996, hlm.ย 146.
- ^ Lรกkta 2017, hlm.ย 56โ58.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 131.
- ^ a b c d e f Lรกkta 2017, hlm.ย 58.
- ^ a b c d Hiscock 2017, hlm.ย unpaginated.
- ^ Clark 2015, hlm.ย 354โ355.
- ^ Clark 2015, hlm.ย 355.
- ^ Clark 2015, hlm.ย 364.
- ^ a b Clark 2015, hlm.ย 361โ362.
- ^ Clark 2015, hlm.ย 363.
- ^ Clark 2015, hlm.ย 363โ364.
- ^ a b c Brooks & Alden 1980, hlm.ย 836โ844.
- ^ a b Clark 2015, hlm.ย 369.
- ^ Clark 2015, hlm.ย 369โ371.
- ^ Clark 2015, hlm.ย 372โ374.
- ^ a b Cyrino 2010, hlm.ย 134โ135.
- ^ Cyrino 2010, hlm.ย 135.
- ^ Clifton 2006, hlm.ย 139.
- ^ Pizza & Lewis 2009, hlm.ย 327โ328.
- ^ a b c d e Clifton 2006, hlm.ย 141.
- ^ a b Gallagher 2005, hlm.ย 109โ110.
- ^ Gallagher 2005, hlm.ย 110.
- ^ Matthew Brunwasser (20 June 2013). "The Greeks who worship the ancient gods". BBC.
Daftar pustaka
sunting- Homer, The Iliad with an English Translation by A.T. Murray, PhD in two volumes, Harvard University Press; William Heinemann, 1924 Online version at the Perseus Digital Library
- Hesiod, Theogony, in The Homeric Hymns and Homerica with an English Translation by Hugh G. Evelyn-White, Harvard University Press; William Heinemann, 1914 Online version at the Perseus Digital Library
- Evelyn-White, Hugh, The Homeric Hymns and Homerica with an English Translation by Hugh G. Evelyn-White, Homeric Hymns, Harvard University Press; William Heinemann, 1914
- Pindar, Odes, Diane Arnson Svarlien, 1990 Online version at the Perseus Digital Library
- Euripides, The Complete Greek Drama, edited by Whitney J. Oates and Eugene O'Neill, Jr. in two volumes, 2, The Phoenissae, translated by E. P. Coleridge, Random House, 1938
- Apollonius Rhodius, Argonautica translated by Robert Cooper Seaton (1853โ1915), R. C. Loeb Classical Library Volume 001, William Heinemann, 1912 Online version at the Topos Text Project
- Apollodorus, Apollodorus, The Library, with an English Translation by Sir James George Frazer, F.B.A., F.R.S. in 2 Volumes, Harvard University Press; William Heinemann, 1921 Online version at the Perseus Digital Library
- Pausanias, Pausanias Description of Greece with an English Translation by W.H.S. Jones, Litt.D., and H.A. Ormerod, M.A., in 4 Volumes, Harvard University Press; William Heinemann, 1918 Online version at the Perseus Digital Library
- Diodorus Siculus, Bibliotheca Historica, Vol. 1-2, Immanel Bekker, Ludwig Dindorf, Friedrich Vogel in aedibus B. G. Teubneri, 1888โ1890 Greek text available at the Perseus Digital Library
- Ovid, Metamorphoses, translated by A. D. Melville; introduction and notes by E. J. Kenney, Oxford University Press, 2008, ISBN 978-0-19-953737-2
- Gaius Julius Hyginus, The Myths of Hyginus, edited and translated by Mary A. Grant, University Press of Kansas, 1960
- Gaius Julius Hyginus, Astronomica from The Myths of Hyginus, translated and edited by Mary Grant, University of Kansas, publications in Humanistic Studies Online version at the Topos Text Project
- Ames-Lewis, Francis (2000), The Intellectual Life of the Early Renaissance Artist, Yale University Press, ISBNย 0-300-09295-4
- Anderson, Graham (2000), Fairytale in the Ancient World, Routledge, hlm.ย 131โ132, ISBNย 978-0-415-23702-4
- Arscott, Caroline; Scott, Katie, ed. (2000), Manifestations of Venus: Art and Sexuality, Critical Perspectives in Art History, Manchester University Press, ISBNย 978-0719055225
- Black, Jeremy; Green, Anthony (1992), Gods, Demons and Symbols of Ancient Mesopotamia: An Illustrated Dictionary, The British Museum Press, ISBNย 0-7141-1705-6
- Boedeker, Deborah (1974), Aphrodite's Entry into Greek Epic, Brill Publishers, hlm.ย 15โ16
- Beekes, Robert S. P. (2009), Etymological Dictionary of Greek, vol.ย 1, Brill Publishers, ISBNย 978-90-04-17418-4
- Bonner, Campbell (1949), "KESTOS IMAS and the Saltire of Aphrodite", The American Journal of Philology, 70 (1), Johns Hopkins University Press: 1โ6, doi:10.2307/290961, JSTORย 290961
- Bordes, Philippe (2005), Jacques-Louis David: Empire to Exile, Yale University Press, ISBNย 0-300-10447-2
- Botterweck, G. Johannes; Ringgren, Helmer (1990), Theological Dictionary of the Old Testament, vol.ย VI, William B. Eerdmans Publishing Company, ISBNย 0-8028-2330-0
- Breitenberger, Barbara (2007), Aphrodite and Eros: The Development of Greek Erotic Mythology, Routledge, ISBNย 978-0-415-96823-2
- Brooks, Richard A.; Alden, Douglas W. (1980), A Critical Bibliography of French Literature, vol.ย 6, Syracuse University Press, ISBNย 0-8156-2207-4
- Bull, Malcolm (2005), The Mirror of the Gods: How Renaissance Artists Rediscovered the Pagan Gods, Oxford University Press, ISBNย 0-19-521923-6
- Bullough, Vern L.; Bullough, Bonnie (1993), Cross Dressing, Sex, and Gender (Edisi reprint), University of Pennsylvania Press, hlm.ย 29, ISBNย 978-0812214314
- Budin, Stephanie L. (2010), "Aphrodite Enoplion", dalam Smith, Amy C.; Pickup, Sadie (ed.), Brill's Companion to Aphrodite, Brill's Companions in Classical Studies (dalam bahasa Inggris), Brill Publishers, hlm.ย 85โ86, 96, 100, 102โ103, 112, 123, 125, ISBNย 978-9047444503
- Burkert, Walter (1985), Greek Religion, Harvard University Press, ISBNย 0-674-36281-0
- Burkert, Walter (1998) [1992], The Orientalizing Revolution: Near Eastern Influence on Greek Culture in the Early Archaic Age, Harvard University Press, ISBNย 978-0674643642
- Burkert, Walter (2005), "Chapter Twenty: Near Eastern Connections", dalam Foley, John Miles (ed.), A Companion to Ancient Epic, Blackwell Publishing, ISBNย 978-1-4051-0524-8
- Cameron, Alan (2004). Greek Mythography in the Roman World. Oxford University Press. ISBNย 0-19-517121-7.
- Clark, Nora (2015), Aphrodite and Venus in Myth and Mimesis, Cambridge Scholars Publishing, ISBNย 978-1-4438-7127-3
- Clifton, Chas S. (2006), Her Hidden Children: The Rise of Wicca and Paganism in America, AltaMira Press, ISBNย 978-0-7591-0201-9
- Cunningham, Lawrence S.; Reich, John Jay (2009), Culture & Values, Volume II: A Survey of the Humanities with Readings, Cengage Group, ISBNย 978-0-495-56926-8
- Cyrino, Monica S. (2010), Aphrodite, Gods and Heroes of the Ancient World, Routledge, ISBNย 978-0-415-77523-6
- Delcourt, Marie (1961), Hermaphrodite: Myths and Rites of the Bisexual Figure in Classical Antiquity, diterjemahkan oleh Nicholson, Jennifer, Studio Books, hlm.ย 27
- Dumรฉzil, Georges (1934), Ouranos-Varuna: รtude de mythologie comparรฉe indo-europรฉenne, Maisonneuve
- Dunand, Franรงoise (2007), "The Religious System in Alexandria", dalam Ogden, Daniel (ed.), A Companion to Greek Religion, Blackwell Publishing, hlm.ย 253โ263, ISBNย 978-1-4051-2054-8
- Fossi, Gloria (1998), Botticelli - Primavera, Giunti Editore, ISBNย 978-88-09-21459-0
- Frisk, Hjalmar (1960), Griechisches etymologisches Wรถrterbuch, vol.ย 1, Carl Winter, hlm.ย 196f
- Gallagher, Ann-Marie (2005), The Wicca Bible: The Definitive Guide to Magic and the Craft, Sterling Publishing, ISBNย 1-4027-3008-X
- Gantz, Timothy (1996), Early Greek Myth: A Guide to Literary and Artistic Sources, Johns Hopkins University Press, ISBNย 978-0-8018-5360-9
- Gay, Peter (1998), Pleasure Wars: The Bourgeois Experience: Victoria to Freud, W. W. Norton & Company, ISBNย 0-393-31827-3
- Grant, Michael (1989), The Classical Greeks, History of Civilization, Charles Scribner's Sons, ISBNย 0-684-19126-1
- Graves, Robert (1960) [1955], The Greek Myths, Penguin Books
- Graz, F. (1984), Eck, W. (ed.), "Women, War, and Warlike Divinities", Zeitschrift fรผr Papyrologie und Epigraphik, 55 (55), Dr. Rudolf Habelt GmbH: 250, JSTORย 20184039
- Hansen, William (2004), Handbook of Classical Mythology, ABC-Clio, ISBNย 978-1576072264
- Hard, Robin (2004), The Routledge Handbook of Greek Mythology: Based on H.J. Rose's "Handbook of Greek Mythology", Psychology Press, ISBNย 9780415186360
- Havelock, Christine Mitchell (2007) [1995], The Aphrodite of Knidos and Her Successors: A Historical Review of the Female Nude in Greek Art, University of Michigan Press, ISBNย 978-0-472-03277-8
- Hill, Laban Carrick (2007), A Brush With Napoleon: An Encounter With Jacques-Louis David, Watson-Guptill, ISBNย 978-0-8230-0417-1
- Hiscock, Andrew (2017), ""Suppose thou dost defend me from what is past": Shakespeare's Venus and Adonis and The Rape of Lucrece and the appetite for ancient memory", dalam Wilder, Lina Perkins (ed.), The Routledge Handbook of Shakespeare and Memory, Routledge, ISBNย 978-1-315-74594-7
- Iossif, Panagiotis; Lorber, Catharine (2007), "Laodikai and the Goddess Nikephoros" (PDF), L'Antiquitรฉ Classique, 76: 77, doi:10.3406/antiq.2007.2618, ISSNย 0770-2817, JSTORย 41665635
- Janda, Michael (2005), Elysion - Entstehung und Entwicklung der griechischen Religion, Institut fรผr Sprachen und Literaturen, ISBNย 978-3851247022
- Janda, Michael (2010), Die Musik nach dem Chaos: der Schรถpfungsmythos der europรคischen Vorzeit, Institut fรผr Sprachen und Literaturen, ISBNย 978-3851242270
- Konaris, Michael D. (2016), The Greek Gods in Modern Scholarship: Interpretation and Belief in Nineteenth Century and Early Twentieth Century Germany and Britain, Oxford University Press, ISBNย 978-0-19-873789-6
- Kerรฉnyi, Karl (1951), The Gods of the Greeks, Thames & Hudson
- Koloski-Ostrow, Ann Olga; Lyons, Claire L. (2000), Naked Truths: Women, Sexuality, and Gender in Classical Art and Archaeology, Routledge, hlm.ย 230โ231, ISBNย 0415217520
- Lรกkta, Peter (2017), ""All Adonises Must Die": Shakespeare's Venus and Adonis and the episodic imaginary", dalam Marrapodi, Michele (ed.), Shakespeare and the Visual Arts: The Italian Influence, Routledge, ISBNย 978-1-315-21225-8
- Lewis, Sian; Llewellyn-Jones, Lloyd (2018), The Culture of Animals in Antiquity: A Sourcebook with Commentaries, Routledge, ISBNย 978-1-315-20160-3
- Link, Luther (1995), The Devil: A Mask Without a Face, Reaktion Books, ISBNย 0-948462-67-1
- Marcovich, Miroslav (1996), "From Ishtar to Aphrodite", Journal of Aesthetic Education, 39 (2): 43โ59, doi:10.2307/3333191, JSTORย 3333191
- McKinley, Kathryn L. (2001), Reading the Ovidian Heroine: "Metamorphoses" Commentaries 1100โ1618, Brill Publishers, ISBNย 90-04-11796-2
- McPhee, Peter (1986), Proceedings of the Fifth George Rudรฉ Seminar in French History, Victoria University of Wellington
- Palagia, Olga; Pollitt, J. J. (1996), Personal Styles in Greek Sculpture, Cambridge University Press, ISBNย 0-521-65738-5
- Penglase, Charles (1994), Greek Myths and Mesopotamia: Parallels and Influence in the Homeric Hymns and Hesiod, Routledge, ISBNย 0-415-15706-4
- Pizza, Murphy; Lewis, James R. (2009), Handbook of Contemporary Paganism, Brill Publishers, ISBNย 978-90-04-16373-7
- Powell, Barry B. (2012) [2004], "Myths of Aphrodite, Artemis, Athena", Classical Myth (Edisi Seventh), Pearson, hlm.ย 211โ235, ISBNย 978-0-205-17607-6
- Puhvel, Jaan (1987), Comparative Mythology, Johns Hopkins University Press, ISBNย 0-8018-3938-6
- Pirenne-Delforge, Vinciane (1994), L'Aphrodite grecque: contribution ร l'รฉtude de ses cultes et de sa personnalitรฉ dans le panthรฉon archaรฏque et classique, Centre international d'รฉtude de la religion grecque antique (Kernos, Supplรฉment 4
- Rosenzweig, Rachel (2004), Worshipping Aphrodite: Art and Cult in Classical Athens, University of Michigan Press, ISBNย 0-472-11332-1
- Ruck, Carl; Staples, Blaise Daniel (2001), The Apples of Apollo: Pagan and Christian Mysteries of the Eucharist, Carolina Academic Press, hlm.ย 64โ70, ISBNย 0-89089-924-X
- Simon, Erika (1983), Festivals of Attica: An Archaeological Companion, University of Wisconsin Press, ISBNย 0-299-09184-8
- Slater, Philip Elliot (1968), The Glory of Hera: Greek Mythology and the Greek Family, Princeton University Press, ISBNย 0-691-00222-3
- Smith, Alison (1996), The Victorian Nude: Sexuality, Morality, and Art, Manchester University Press, ISBNย 0-7190-4403-0
- Smith, William (1873), Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology, John Murray
- Stuttard, David (2016), Greek Mythology: A Traveler's Guide, Thames & Hudson, ISBNย 978-0500518328
- Taylor, Joan E. (1993), Christians and the Holy Places: The Myth of Jewish-Christian Origins, Oxford University Press, ISBNย 0-19-814785-6
- Tinagli, Paola (1997), Women in Italian Renaissance Art: Gender, Representation and Identity, Manchester University Press, ISBNย 0-7190-4054-X
- Tinkle, Theresa (1996), Medieval Venuses and Cupids: Sexuality, Hermeneutics, and English Poetry, Stanford University Press, ISBNย 978-0804725156
- Tinterow, Gary (1999), "Paris, 1841โ1867", Portraits by Ingres: Image of an Epoch, Metropolitan Museum of Art, ISBNย 0-87099-891-9
- Walcot, P. (April 1977), "The Judgement of Paris", Greece & Rome, 24 (1), Cambridge University Press: 31โ39, doi:10.1017/S0017383500019616, JSTORย 642687, S2CIDย 162573370
- Wasson, R. Gordon (1968), Soma: Divine Mushroom of Immortality, Harcourt Brace Jovanovich, hlm.ย 128, ISBNย 0-15-683800-1
- West, Martin Litchfield (2008) [1993], Greek Lyric Poetry: A New Translation by M. L. West, Oxford University Press, ISBNย 978-0-19-954039-6
- West, Martin Litchfield (1997), The East Face of Helicon: West Asiatic Elements in Greek Poetry and Myth, Clarendon Press, hlm.ย 57, ISBNย 0-19-815221-3
- West, Martin L. (June 2011), "The First Homeric Hymn to Dionysus", dalam Faulkner, Andrew (ed.), The Homeric Hymns: Interpretative Essays, Oxford Academic, hlm.ย 29โ43, doi:10.1093/acprof:oso/9780199589036.003.0002, ISBNย 9780199589036
- West, Martin Litchfield (2000), "The Name of Aphrodite", Glotta, 76 (1./2. H), Vandenhoeck & Ruprecht: 134โ138, JSTORย 40267103
- Witczak, Krzysztof Tomasz (1993), Lambert Isebaert (ed.), "Greek Aphrodite and her Indo-European origins", Miscellanea Linguistica Graeco-Latina, Sociรฉtรฉ des รฉtudes classiques: 115โ123
- Witt, Reginald Eldred (1997), Isis in the Ancient World, Johns Hopkins University Press, ISBNย 0-8018-5642-6
- Wunderlich, Hans Georg (1987), The Secret of Crete, diterjemahkan oleh Winston, R., hlm.ย 134
Pranala luar
sunting| Sumber pustaka mengenai Aphrodite |
- APHRODITE from The Theoi Project information from classical literature, Greek and Roman art
- The Glory which Was Greece from a Female Perspective
- Sappho's Hymn to Aphrodite, with a brief explanation
- Warburg Institute Iconographic Database (ca 2450 images of Aphrodite)
