
Gerakan anti-gender adalah gerakan sosial sayap kanan global yang menentang konsep yang mereka sebut sebagai "ideologi gender" atau "teori gender". Istilah-istilah ini didefinisikan secara longgar dan mencakup berbagai isu terkait hak-hak perempuan dan LGBTQ, serta progresivisme secara umum. Gerakan ini mendapat dukungan dari kelompok populis sayap kanan, organisasi keagamaan konservatif, konservatif sosial, dan fasis di seluruh dunia. Mereka melihat kemajuan dalam kesetaraan gender dan keberagaman gender dan seksual sebagai ancaman terhadap nilai-nilai keluarga tradisional, keyakinan agama, dan norma sosial yang mapan.
Gerakan ini dikritik karena mendorong diskriminasi, melemahkan perlindungan hak asasi manusia, serta menyebarkan disinformasi dan retorika terhadap kaum LGBTQ. Gagasan tentang adanya "ideologi gender" yang menyeluruh dan terinstitusionalisasi telah disebut sebagai kepanikan moral dan teori konspirasi.[1][2][3]
Asal-usul dan pengaruh teologis
suntingKepercayaan gerakan ini berasal dari teologi Katolik, dan asal-usulnya dapat ditelusuri sejak tahun 1970-an, meskipun mendapat perhatian lebih luas mulai 2012 melalui protes publik.[4] Berskala transnasional, gerakan ini melakukan aksi politik dan legislatif yang menargetkan berbagai domain, termasuk hak reproduksi, bahasa inklusif, pernikahan sesama jenis, orang transgender, pandangan konstruksionis sosial tentang gender, dan disiplin akademik seperti studi gender. Beberapa bagian gerakan fokus menentang hak LGBTQ, sementara yang lain menyoroti kekhawatiran yang lebih luas tentang perubahan sosial terkait gender.
Terminologi
suntingDi banyak negara non-Inggris, aktivis anti-gender sering menghindari terjemahan lokal kata gender, dan lebih memilih istilah bahasa Inggris untuk menunjukkan bahwa gender adalah konsep impor atau asing. Istilah ideologi gender, yang menjadi pusat gerakan anti-gender, tidak memiliki definisi yang konsisten dan mencakup berbagai isu. Para akademisi seperti Stefanie Mayer dan Birgit Sauer menyebutnya sebagai "penanda kosong", sementara Agnieszka Graff menggambarkannya sebagai istilah payung untuk gagasan yang ditentang oleh Katolik konservatif.[5]
Gerakan ini menggunakan istilah gender ideology, gender theory, dan genderism secara bergantian, tetapi istilah tersebut berbeda dari disiplin akademik studi gender. Di dalam studi gender, terdapat perdebatan dan ketidaksepakatan yang substansial, yang biasanya diabaikan oleh pendukung anti-gender. Elizabeth Corredor menyatakan bahwa ideologi gender berfungsi sebagai tantangan politik dan epistemologis terhadap gagasan emansipatif seputar gender, seks, dan seksualitas, dan bahwa gerakan anti-gender memanfaatkan perpecahan internal dalam gerakan feminis dan LGBTQ untuk mendorong agenda mereka.[6]
Target dan narasi konspirasi
suntingGerakan ini menuduh berbagai individu dan kelompok mempromosikan ideologi gender, termasuk politisi liberal, hijau, atau kiri, aktivis hak perempuan dan LGBTQ, pejabat kebijakan gender, serta akademisi studi gender. Dengan memposisikan aktor-aktor ini sebagai pendukung ideologi gender, gerakan ini mengonsolidasikan oposisi terhadap inisiatif kesetaraan dan keberagaman gender.[7]
Aktivis anti-gender kadang menggambarkan Uni Eropa dan organisasi internasional lain sebagai dimanipulasi oleh berbagai lobi, seperti miliarder Amerika, Marxis Budaya, Freemason, feminis, lobi LGBTQ, atau Yahudi. Pendukungnya menyajikan diri sebagai pembela kebebasan berbicara, berpikir, dan hati nurani dari "ideologi gender" yang mereka labeli sebagai "totaliter".[3]
Mereka mengklaim ideologi ini didorong oleh kelompok rahasia elit korup atau entitas asing seperti Uni Eropa, Organisasi Kesehatan Dunia, atau Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan tujuan melemahkan atau menghancurkan keluarga, Gereja Katolik, bangsa, dan/atau peradaban Barat. Donald Trump juga menggunakan istilah ini dalam perintah eksekutif berjudul Defending Women from Gender Ideology Extremism and Restoring Biological Truth to the Federal Government, yang bertujuan menghapus pengakuan resmi federal terhadap orang transgender dan mengurangi perlindungan mereka.[8]
Peran Gereja Katolik
suntingIstilah ideologi gender muncul di Gereja Katolik pada 1990-an. Mary Anne Case menulis bahwa istilah ini digunakan bersamaan dengan Konferensi Dunia tentang Perempuan 1995, terutama dalam pamflet aktivis Dale O'Leary, yang diserahkan kepada Paus Benediktus XVI. OโLeary terinspirasi oleh buku Christina Hoff Sommers Who Stole Feminism?. Istilah ini kemudian umum digunakan di gereja-gereja Amerika Latin dan Kongres Dunia Keluarga.[9]
Paus Fransiskus menyatakan bahwa "ideologi gender" dapat merusak posisi Gereja Katolik tentang komplementaritas gender, membandingkannya dengan senjata nuklir, dan menyebutnya sebagai salah satu "Herod yang menghancurkan, yang merancang kematian, yang merusak wajah laki-laki dan perempuan, menghancurkan ciptaan". Pada 2019, Gereja Katolik merilis dokumen penting pertama yang secara khusus membahas "ideologi gender", menyatakan bahwa hanya ada dua jenis kelamin atau gender yang ditentukan secara biologis.[10]
Menurut Corredor, perspektif Tahta Suci sangat bergantung pada hubungan yang stabil dan terprediksi antara seks biologis, identitas gender, dan orientasi heteroseksual, yang diekspresikan dalam istilah Katolik sebagai satu-satunya kesatuan alami antara pikiran, tubuh, dan jiwa. Kesatuan ini diyakini bersumber dari hukum alam dan ilahi sebagai ciptaan langsung Tuhan, sehingga melampaui pengaturan politik, sejarah, dan sosial yang dibentuk manusia.[11]
Referensi
sunting- ^ brill.com. doi:10.18352/rg.10174 https://brill.com/view/journals/rag/6/2/article-p251_8.xml. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ ลปuk, Piotr; ลปuk, Paweล (2020-10-19). "'Murderers of the unborn' and 'sexual degenerates': analysis of the 'anti-gender' discourse of the Catholic Church and the nationalist right in Poland". Critical Discourse Studies. 17 (5): 566โ588. doi:10.1080/17405904.2019.1676808. ISSNย 1740-5904.
- ^ a b https://kar.kent.ac.uk/73073/4/In%20Search%20of%20an%20Imaginary%20Enemy1.pdf
- ^ Kuhar, Roman; Paternotte, David, ed. (2017). Anti-gender campaigns in Europe: mobilizing against equality. Londonย ; New York: Rowman & Littlefield International, Ltd. ISBNย 978-1-78660-001-1.
- ^ brill.com https://brill.com/view/journals/rag/6/2/article-p268_11.xml. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Corredor, Elizabeth S. (2019-03). "Unpacking "Gender Ideology" and the Global Right's Antigender Countermovement". Signs: Journal of Women in Culture and Society. 44 (3): 613โ638. doi:10.1086/701171. ISSNย 0097-9740.
- ^ Kรถttig, Michaela; Bitzan, Renate; Petล, Andrea, ed. (2017). Gender and far right politics in Europe. Gender and politics (Edisi Softcover reprint of the hardcover 1st edition 2016). Cham, Switzerland: Palgrave Macmillan. ISBNย 978-3-319-43533-6.
- ^ Pengelly, Martin (2025-01-21). "Trump rolls back trans and gender-identity rights and takes aim at DEI". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSNย 0261-3077. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Butler, Judith (2025-03-14). "This Is Wrong". London Review of Books (dalam bahasa Inggris). Vol.ย 47, no.ย 06. ISSNย 0260-9592. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Cichocka, Aleksandra; Marchlewska, Marta (2020-03-23). "How a gender conspiracy theory is spreading around the world". The Conversation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Corredor, Elizabeth S. (2019-03). "Unpacking "Gender Ideology" and the Global Right's Antigender Countermovement". Signs: Journal of Women in Culture and Society (dalam bahasa Inggris). 44 (3): 613โ638. doi:10.1086/701171. ISSNย 0097-9740.