Alanit (juga disebut ortit) adalah sebuah grup mineral sorosilikat dari kelompok epidot yang mengandung sejumlah besar unsur bumi jarang. Mineral tersebut kebanyakan terdapat pada sedimen tanah liat yang kaya metamorfosis dan batuan beku felsik. Mineral tersebut memiliki formula umum A2M3Si3O12[OH], di mana situs A dapat memuat kation besar seperti Ca2+, Sr2+, dan unsur bumi jarang, dan situs M memuat Al3+, Fe3+, Mn3+, Fe2+, atau Mg2+ beserta lainnya.[1]

Referensi

sunting
  1. ^ Dollase, W. A. (1971). "Refinement of the crystal structure of epidote, allanite, and hancockite" (PDF). American Mineralogist. 56: 447–464.


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Keberadaan torium

mengandung hingga sekitar 12% torium oksida. Monasit mengandung 2,5% torium, alanit mengandung 0,1 hingga 2% torium dan zirkon dapat mengandung hingga 0,4%

Mineral silikat

Klinozoisit - Ca2Al3O(SiO4)(Si2O7)(OH) Tanzanit - Ca2Al3O(SiO4)(Si2O7)(OH) Alanit - Ca(Ce,La,Y,Ca)Al2(Fe2+,Fe3+)O(SiO4)(Si2O7)(OH) Dolaseit-(Ce) - CaCeMg2AlSi3O11F(OH)

Torium-232

Beberapa mineral yang mengandung torium antara lain apatit, titanit, zirkon, alanit, monasit, piroklor, torit, dan xenotim. Torium-232 memiliki waktu paruh

Wasium

Wangsa Kerajaan Swedia. Pada tahun 1862, Bahr menganalisis mineral ortit—alanit-(Y)—dari pulau Rönsholm di Norwegia dan menemukan sebuah oksida yang dia

Torium

rendah membuatnya sulit untuk diekstraksi untuk mendapatkan torium. Mineral alanit (komposisi utamanya berupa silikat-hidroksida berbagai logam) dapat mangandung

Alterasi mineral

adalah ketika sebuah elemen radioaktif di dalam kelompok zirkon atau kristal alanit berubah menjadi metamik atau amorf karena kerusakan strukturnya akibat radiasi