Amongo adalah karya kerajinan anyaman tradisional khas masyarakat Gorontalo, khususnya di Kabupaten Bone Bolango.[1] Karya kerajinan ini telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kemendikbudristek melalui SK No.โฏ414/P/2022.[2]
Secara etimologis, kata amongo berarti "tikar" atau "alas". Dalam hal ini amongo merujuk pada tikar anyaman yang secara turun-temurun digunakan dalam berbagai kegiatan adat di Gorontalo, seperti tradisi tujuh bulanan (molonthalo),[3] kelahiran, akikah, sunat, pembeatan, hingga pernikahan.[1]
Bahan dan alat
suntingKarya seni amongo yang dibuat dari bahan utama serat alami tanaman mendong (tiohu) dikenal sebagai amongo tiohu. Sementara, jika bahan dasar serat yang digunakan berasal dari daun silar, tikar yang dihasilkan disebut sebagai amongo tiladu.[3] Sebagai bahan pewarna, para perajin menggunakan bahan pewarna sintetis yang disebut kasumba, dengan warna utama merah (melamo) dan hijau (moidu). Adapun alat yang digunakan dalam pembuatan amongo berupa buboluta (alat pelurus dari bilah bambu dengan bentuk menyerupai pisau tumpul), serta panci dan kompor gas atau tungku untuk tahap perebusan pewarna.[1]
Pembuatan
suntingPembuatan amongo melibatkan beberapa tahap, dimulai dengan pengeringan tiohu di bawah sinar matahari selama 2โ3 hari. Jika amongo ingin diberi motif berwarna, maka dilakukan pewarnaan dengan merendam tiohu dalam larutan bahan pewarna kasumba. Setelah itu, dilakukan pelurusan (mo buboluta) dengan buboluta, di mana setiap helai dari tiohu dipipihkan sebanyak sepuluh kali dari pangkal ke ujung. Proses anyaman amongo mengikuti teknik sasak, dimulai dari tahap permulaan, penyusunan, hingga penyelesaian akhir. Pada umumnya amongo yang diproduksi meliputi amongo polos dan kotak-kotak berwarna.[1]
Tantangan
suntingDahulu, bahan baku tanaman yang digunakan untuk pembuatan amongo dapat diperoleh perajin di sekitar Danau Limboto. Namun, saat ini ketersediaan bahan baku tersebut berkurang. Masyarakat juga mulai beralih pada penggunaan tikar modern, sehingga perajin karya seni ini juga menurun.[1][3] Sebagai bagian dari upaya revitalisasi, Pemerintah Daerah berupaya mendatangkan narasumber atau pelatih untuk membina perajin dalam mengembangkan kerajinan amongo ke bentuk yang lebih bervariasi, seperti tas atau dompet.[4][5]
Referensi
sunting- ^ a b c d e Hasan, Farlan Adrian; Munawar, Syarief; Dengkua, Suleman (2022). "Kerajinan Anyaman Amongo Tiohu Di Kabupaten Bone Bolango (Kelangsungan Dan Perkembangan)". Jambura: Jurnal Seni Dan Desain. 2 (1).
- ^ "Amongo". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ a b c "Amongo Sebagai Budaya Gorontalo Masuk Warisan Indonesia". Tribun Gorontalo. 2022-10-6. Diakses tanggal 2025-06-18.
- ^ Ibrahim, Arfandi (2022-11-20). "Mengenal Amongo, Anyaman Alas di Bonebol yang Punah Ditelan Zaman". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-06-18.
- ^ Kurniawan, Aris (2022-12-02). "Sepuluh Pengrajin Binaan IWAPI Bone Bolango Sulap Amongo Jadi Souvenir Khas Gorontalo". SINDOnews Daerah. Diakses tanggal 2025-06-18.