Foto Ki Amuk dari tahun sekitar 1915-1926.

Meriam Ki Amuk adalah sebuah Meriam kuno milik Kesultanan Banten yang saat ini berada di depan Masjid Agung Banten Provinsi Banten. Meriam Ki Amuk konon dulu dipergunakan untuk menjaga Pelabuhan Karanghantu yang berada di Teluk Banten.

Legenda dan Sejarah

sunting

Menurut legenda, Meriam Ki Amuk adalah penjelmaan Prajurit Kesultanan Demak yang dikutuk. Namun, menurut versi sejarah, meriam ini dibuat di Jawa Tengah abad 16 sekitar tahun 1527 M, yang kemudian dihadiahkan kepada Sultan Hasanuddin dari Kesultanan Banten oleh Sultan Trenggono yang pada awalnya bernama Ki Jimat. Meriam Si Jagur yang di halaman Museum Fatahillah Jakarta adalah "kembaran" dari Meriam Ki Amuk.[1]

Ciri

sunting

Meriam Ki Amuk terbuat dari Perunggu dengan berat 7 ton, panjang 3 meter diameter luar terbesar 0,70 m, diameter dalam mulut 0,34 m. Ia menembakkan peluru meriam seberat 180 pon (81,6ย kg).[2]

Lambang Surya Majapahit dapat dilihat di mulutnya. Ada dua prasasti berhuruf Arab di meriam ini. Yang pertama berbunyi "Aqibah al-Khairi Salamah al-Imani" yang berarti "Buah dari segala kebaikan adalah kesempurnaan iman". Prasasti kedua berbunyi "La fata illa Ali la saifa illa Zu al-faqar, isbir ala ahwaliha la mauta" yang berarti "Tiada pemuda kecuali Ali, tiada pedang selain Zulfiqar, hendaklah engkau bertakwa sepanjang masa kecuali mati".[1]

Lihat juga

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b "Legenda Meriam Ki Amuk, Jelmaan Prajurit Demak yang Dikutuk". SINDOnews.com. Diakses tanggal 2020-03-16.
  2. ^ Crucq, K. C. 1938a. 'De Geschiedenis van het Heilig Kanon te Banten', TBG, LXXVIII/3: 339-91.1941.

Pranala luar

sunting

Legenda Meriam Ki Amuk


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Amuk

Amuk berasal dari bahasa Melayu, yang pada gilirannya berasal dari turunan kata akar bahasa Proto-Melayu-Polinesia hamuk yang berarti "menyerang", (bahasa

Labuan Amuk

Pantai Labuhan Amuk adalah sebuah pantai berbentuk teluk yang terletak di Desa Antiga, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. Pantai ini dikenal

Amuk Hantarukung

Amuk Hantarukung adalah peristiwa perlawanan rakyat Banjar terhadap pemerintah kolonial Belanda yang terjadi pada 18-19 September 1899 di Kampung Hantarukung

Ade Armando

Desember 2021 Indonesia, C. N. N. "Detik-detik Ade Armando Diselamatkan dari Amuk Massa". nasional. Diakses tanggal 2022-04-11. developer, mediaindonesia com

Kabupaten Pandeglang

tempat menempa gelang. Pendapat ini terutama dikaitkan dengan legenda "Si Amuk" yang konon kabarnya pada Zaman Kesultanan Banten, di Desa Kadupandak ada

Liga Super (Indonesia) 2025โ€“2026

orang. Satu bus dan satu mikrobus yang ditumpangi suporter Persib rusak diamuk massa. Kerusakan terbanyak pada kaca, bodi dan ban. Pagar besi Tempat Khusus

Pangeran Panjunan

Matangsari putra Agung Japura putra Amuk Murugul putra Prabu Susuk Tunggal, putra Prabu Niskala Wastu Kecana, Amuk Murugul memiliki saudara perempuan Nyi

Kota Kuno Banten

Agung Banten, Keraton Kaibon, Benteng Speelwijk, Situ Tasikardi, Meriam Ki Amuk, Pelabuhan Karangantu dan Vihara Avalokitesvara. Keraton Kaibon didirikan