Bhante, Thera (Yang Mulia, Sesepuh)
ฤ€nanda
Patung kepala biksu yang tersenyum dengan ciri khas Asia Timur, bagian dari patung batu kapur
Kepala ฤ€nanda, pernah menjadi bagian dari patung batu kapur dari Gua Xiangtangshan utara. Dinasti Qi Utara, 550โ€“577 M.
GelarPatriark Dharma (tradisi Sanskerta)
Kehidupan pribadi
LahirAbad ke-5โ€“ke-4 SM
Meninggal20 tahun setelah kematian Sang Buddha
Di Sungai Rohฤซni dekat Vesฤlฤซ, atau Sungai Gangga
Orang tuaRaja ลšuklodana atau Raja Amitodana; Ratu Mrgฤซ (tradisi Sanskerta)
Dikenal karenaMenjadi pelayan Sang Buddha (aggupaแนญแนญhฤyaka);[1] kekuatan memori; belas kasihan kepada wanita
Nama lainVidehamuni; Dhamma-bhaแน‡แธฤgฤrika ('Bendahara Dhamma')
Kehidupan religius
AgamaBuddhisme
KonsekrasiMahฤkassapa
InisiasiTanggal 20 (Mลซlasarvฤstivฤda) atau tahun ke-2 (tradisi lain) dari pelayanan Sang Buddha
Nigrodhฤrฤma atau Anupiya, Malla
oleh Daล›abฤla Kฤล›yapa atau Belaแนญแนญhasฤซsa
Posisi senior
GuruSang Buddha; Puแน‡แน‡a Mantฤnฤซputta
PendahuluMahฤkassapa
PenerusMajjhantika
Sฤแน‡avฤsฤซ
Murid
  • Majjhantika; Sฤแน‡avฤsฤซ, dll.

ฤ€nanda (Pali dan Sanskerta: เค†เคจเคจเฅเคฆ; abad ke-5โ€“ke-4 SM) adalah pelayan utama sekaligus salah satu dari sepuluh murid utama Sang Buddha. Di antara sekian banyak murid Sang Buddha, ฤ€nanda paling dikenal karena memiliki ingatan yang luar biasa.[2] Sebagian besar teks Buddhis awal yang terkandung dalam Sutta-Piแนญaka (Pฤli: เคธเฅเคคเฅเคค เคชเคฟเคŸเค•; Sanskerta: เคธเฅ‚เคคเฅเคฐ-เคชเคฟเคŸเค•, Sลซtra-Piแนญaka) didasarkan pada ingatan ฤ€nanda akan ajaran Sang Buddha, yang kemudian dituturkannya secara lisan dalam Sidang Buddhis Pertama. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai Penjaga Dhamma[3] atau Penjaga Perbendaharaan Dhamma (Pali: เคงเคฎเฅเคฎเคญเคฃเฅเคกเคพเค—เคพเคฐเคฟเค•, translit.ย dhamma bhaแน‡แธฤgฤrika), di mana dhamma mengacu pada ajaran Sang Buddha.

Dalam teks Buddhis awal, ฤ€nanda disebut sebagai sepupu Sang Buddha dan murid dari Puแน‡แน‡a Mantฤnฤซputta. Setelah dua puluh tahun melakukan pelayanan dalam saแน…gha, ฤ€nanda dipilih oleh Sang Buddha untuk menjadi pelayan pribadinya. ฤ€nanda melaksanakan tugasnya dengan penuh pengabdian dan perhatian dan bertindak sebagai perantara antara Sang Buddha dan umat awam, termasuk saแน…gha. ฤ€nanda melayani Sang Buddha hingga akhir hidupnya, bertindak tidak hanya sebagai asisten tetapi juga sebagai sekretaris dan juru bicara.

Para akademis cenderung skeptis dengan kebenaran historis dari banyak kejadian dalam kehidupan ฤ€nanda, terutama terkait perannya dalam Sidang Pertama. Berdasarkan catatan tradisional yang diambil dari teks-teks awal, komentar-komentar Tipiแนญaka (aแนญแนญhakathฤ), dan catatan-catatan paska kanonik, dikisahkan bahwa ฤ€nanda memiliki peran penting dalam mendirikan ordo bhikkhunฤซ (Sanskerta: เคญเคฟเค•เฅเคทเฅเคฃเฅ€, romanized:ย bhikแนฃuแน‡ฤซ, har.โ€‰'pengemis wanita'), ketika ia meminta kepada Sang Buddha agar mengizinkan ibu angkatnya, Mahฤpajฤpati Gotamฤซ (Sanskerta: เคฎเคนเคพเคชเฅเคฐเคœเคพเคชเคคเฅ€ เค—เฅŒเคคเคฎเฅ€, Mahฤprajฤpatฤซ Gautamฤซ) untuk ditahbiskan. ฤ€nanda juga menemani Sang Buddha di tahun-tahun akhir kehidupannya, sehingga menjadi saksi dari banyak ajaran dan prinsip yang disampaikan Sang Buddha sebelum kematiannya, termasuk prinsip bahwa kaum Buddhis harus menjadikan ajaran dan kedisiplinan Sang Buddha sebagai perlindungan mereka, dan Sang Buddha tidak akan menunjuk pemimpin baru sebagai penggantinya.

Tak lama setelah kematian Sang Buddha, Sidang Buddhis Pertama diadakan. Menurut catatan tradisional, ฤ€nanda mencapai pencerahan tepat sebelum sidang dimulai, yang merupakan syarat untuk mengikuti sidang tersebut. Selama sidang berlangsung, ฤ€nanda menjadi sumber ingatan hidup Sang Buddha, melafalkan banyak khotbah Sang Buddha serta memeriksa keakuratannya. Namun, dalam sidang yang sama, ia mendapat kritik dari Mahฤkassapa (Sanskerta: เคฎเคนเคพเค•เคพเคถเฅเคฏเคช, Mahฤkฤล›yapa) dan para saแน…gha karena membiarkan kaum wanita ditahbiskan serta dianggap lalai menghormati Sang Buddha pada beberapa peristiwa penting. Pasca Sidang Pertama, ฤ€nanda mengajar hingga akhir hayatnya dan mewariskan ajaran spiritualnya kepada murid-muridnya, antara lain Sฤแน‡avฤsฤซ (Sanskerta: เคถเคพเคฃเค•เคตเคพเคธเฅ€, ลšฤแน‡akavฤsฤซ) dan Majjhantika (Sanskerta: เคฎเคงเฅเคฏเคพเคจเฅเคคเคฟเค•, Madhyฤntika), yang kemudian berperan penting dalam Sidang Kedua dan Ketiga. ฤ€nanda meninggal 20 tahun setelah kematian Sang Buddha, dan beberapa stลซpa (monumen) dibangun di sungai tempat ia meninggal.

ฤ€nanda adalah salah satu tokoh yang paling dicintai dalam Buddhisme. Dia dikenal karena ingatannya, pengetahuannya, dan welas asihnya, dan sering kali dipuji oleh Sang Buddha karena hal-hal tersebut. Dalam tradisi tekstual Sanskerta, ฤ€nanda dianggap sebagai patriark Dhamma yang berdiri dalam garis silsilah spiritual, menerima ajaran dari Mahฤkassapa dan meneruskannya kepada murid-muridnya. ฤ€nanda dihormati oleh para bhikkhunฤซ sejak awal abad pertengahan atas jasanya dalam mendirikan ordo biarawati dan mengizinkan wanita ditahbiskan. Konon, kisah hidupnya menginspirasi komposer Richard Wagner dan penyair India Rabindranath Tagore saat menciptakan karya-karya mereka.

Nama

sunting

Kata "ฤnanda" (เค†เคจเคจเฅเคฆ) dalam bahasa Pฤli dan Sanskerta berarti 'kebahagiaan, kegembiraan'.[4][5] Dalam Atthakatha (Komentar Pฤli) disebutkan bahwa ketika ฤ€nanda lahir, kerabatnya menyambutnya dengan gembira. Namun, teks-teks dari tradisi Mลซlasarvฤstivฤda menyatakan bahwa karena ฤ€nanda lahir pada hari Sang Buddha mencapai pencerahan saat sedang terjadi kegembiraan besar di kota tersebut, dan dari kegembiraan itulah namanya berasal.[1]

Kehidupan

sunting

Kehidupan lampau

sunting

Berdasarkan tradisi teks Pali, cita-cita awal ฤ€nanda untuk menjadi pelayan Buddha sudah terbentuk saat kelahirannya di masa Buddha Padumuttara, beberapa kalpa (Pali: kappa, Sanskerta: kalpa) sebelum kalpa saat ini. Saat itu, ฤ€nanda terlahir sebagai seorang putra mahkota dan menjadi sangat terkesan dengan seorang bhikkhu bernama Sumana, yang merupakan pelayan dari Buddha Padumuttara.[6] Saat itulah ia mempunyai keinginan untuk menjadi sepertinya di kehidupan mendatang. Pada suatu kesempatan, setelah melayani Buddha Padumuttara dan para muridnya, ia bersujud sambil mendedikasikan perbuatan baik yang telah ia lakukan dan mengumumkan tekadnya kepada Buddha Padumuttara, yang kemudian menegaskan bahwa keinginannya akan terkabul di seratus kalpa di masa depan.[6] Dalam beberapa teks Jataka, dikisahkan ฤ€nanda sering terlahir sebagai saudara Sang Buddha dalam banyak kelahiran.[7] Setelah melalui siklus samsara dalam banyak sekali kehidupan, ia akhirnya terlahir sebagai ฤ€nanda pada masa Buddha Gautama.[8]

Masa muda

sunting
Peta India dengan nama daerah utama
Peta India, sekitar 500 SM

ฤ€nanda lahir pada periode waktu yang sama dengan Sang Buddha (Pangeran Siddhattha), yang oleh para akademisi diperkirakan terjadi pada abad ke-5 hingga abad ke-4 SM.[9] ฤ€nanda berasal dari kasta kesatria dari keluarga raja suku Sakya, sama dengan Sang Buddha. Dia memiliki tiga saudara laki-laki yaitu Anuruddha, Mahanama, dan Pandu serta satu saudara perempuan bernama Rohini.[10] Tradisi mengatakan bahwa ฤ€nanda adalah sepupu pertama Sang Buddha,[11] ayahnya adalah saudara Suddhodana (Sanskerta: ลšuddhodana), ayah Buddha.[12] Dalam tradisi tekstual Pฤli dan Mลซlasarvฤstivฤda, ayahnya adalah Amitodana (Sanskerta: Amแน›todana), tetapi Mahฤvastu menyatakan bahwa ayahnya adalah ลšuklodanaโ€”keduanya adalah saudara Suddhodana.[1] Mahฤvastu juga menyebutkan bahwa nama ibu ฤ€nanda adalah Mแน›gฤซ (Sanskerta; harfiah 'rusa kecil'; Pฤli tidak diketahui).[13][1] Tradisi Pฤli berdasarkan pernyataan dalam kitab komentar Manorathapลซranฤซ dan Sumaแน…gala-vilฤsinฤซ menginterpretasikan bahwa ฤ€nanda lahir pada hari yang sama dengan hari lahirnya Pangeran Siddhatta,[note 1][1] tetapi teks-teks dari tradisi Mลซlasarvฤstivฤda dan Mahฤyฤna yang muncul belakangan menyatakan ฤ€nanda lahir pada saat ketika Sang Buddha mencapai pencerahan (ketika Pangeran Siddhattha berusia 35 tahun), dan beranggapan bahwa ฤ€nanda jauh lebih muda dari Sang Buddha.[1] Teks dari tradisi Mลซlasarvฤstivฤda dan Mahฤyฤna ini dianggap selaras dengan beberapa contoh dalam Teks Buddhis Awal, di mana ฤ€nanda digambarkan lebih muda dari Sang Buddha, seperti bagian di mana Sang Buddha menjelaskan kepada ฤ€nanda bagaimana usia tua memengaruhi tubuh dan pikirannya. Pandangan ini juga meyakini bahwa pada saat Buddha meninggal, tidaklah mungkin yang menjadi pelayannya adalah seorang bhikkhu tua, serta masa kehidupan ฤ€nanda yang masih berlanjut puluhan tahun setelahnya.[14]

Patung biksu Asia Timur berpegangan tangan di depan perut
Patung Tiongkok, yang diyakini menggambarkan ฤ€nanda

Berdasarkan tradisi tekstual Pฤli, Mahฤซล›asaka dan Dharmaguptaka, ฤ€nanda menjadi bhikkhu pada tahun kedua setelah Sang Buddha mencapai pencerahan, yaitu selama kunjungan Sang Buddha ke Kapilavatthu (Sanskerta: Kapilavastu). Dia ditahbiskan oleh Sang Buddha sendiri, bersama dengan banyak pangeran lain dari klan Sakya (Pali: Sฤkiya, Sanskerta: ลšฤkya),[1] di hutan mangga yang disebut Anupiya, salah satu bagian dari wilayah Malla.[1] Menurut sebuah teks dari tradisi Mahฤsaแน…ghika, Raja Suddhodana ingin Sang Buddha memiliki lebih banyak pengikut dari kasta khattiya (Sanskerta: kแนฃatriyaแธฅ, har.โ€‰'prajurit-bangsawan, anggota kelas penguasa'), dan lebih sedikit pengikut yang berasal dari kasta brahmana (pendeta). Karena itu ia memerintahkan agar setiap khattiya yang memiliki saudara laki-laki untuk mengikuti Sang Buddha sebagai bhikkhu, atau paling tidak menyuruh saudaranya yang laki-laki untuk mengikuti Sang Buddha. ฤ€nanda mengambil kesempatan ini, dan meminta saudaranya Devadatta untuk tinggal di rumah, sehingga dia bisa pergi untuk menjadi bikkhu.[15] Akan tetapi, garis waktu yang lebih baru dari teks-teks Mลซlasarvฤstivฤda dan Theragฤthฤ Pฤli, menyebutkan bahwa ฤ€nanda ditahbiskan jauh setelahnya, sekitar dua puluh lima tahun sebelum kematian Sang Buddhaโ€”dengan kata lain, dia masuk dalam saแน…gha Buddha sekitar dua puluh lima tahun lamanya.[16][1] Ada satu versi teks Sanskerta yang menyebutkan bahwa ฤ€nanda baru ditahbiskan lebih belakangan.[17] Syair dalam teks Pฤli yang berjudul Theragฤthฤ menyatakan bahwa ฤ€nanda menghabiskan waktu selama 25 tahun sejak dia masih "yang masih berlatih" (Pali: sekha). Ahli Buddhisme Witanachchi menginterpretasikan dua puluh lima tahun ini sebagai masa sebelum dia ditahbiskan sebagai bhikkhu dan setelah itu ia mengabdi pada Sang Buddha selama dua puluh lima tahun berikutnya. Sehingga, ini menjadi kontradiksi bila ฤ€nanda ditasbihkan sebagai bhikkhu 2 tahun setelah Sang Buddha mencapai pencerahan.[16][1][14] Teks Mลซlasarvฤstivฤda tentang disiplin monastik (Pฤli dan Sanskerta: Vinaya) menceritakan bahwa para peramal telah meramalkan bahwa ฤ€nanda akan menjadi pelayan Sang Buddha. Demi mencegah ฤ€nanda meninggalkan istana untuk ditahbiskan, ayahnya membawanya ke Vesฤlฤซ (Sanskerta: Vaiล›ฤlฤซ) selama kunjungan Sang Buddha ke Kapilavatthu, tetapi kemudian Sang Buddha tetap saja bertemu dan mengajar ฤ€nanda.[18] Pada catatan yang sama, Mahฤvastu menceritakan, bagaimanapun juga, bahwa sebenarnya Mแน›gฤซ pada awalnya menentang ฤ€nanda untuk menjalani kehidupan monastik, karena saudaranya Devadatta telah ditahbiskan dan meninggalkan istana. ฤ€nanda menanggapi penolakan ibunya tersebut dengan pindah ke Videha (Sanskerta: Vaideha) dan tinggal di sana, dan di saat bersamaan bersumpah untuk tidak berbicara satu patah katapun. Hal ini membuatnya mendapatkan julukan Videhamuni (Sanskerta: Vaidehamuni), artinya 'orang bijak yang pendiam dari Videha'.[19] Ketika ฤ€nanda ditahbiskan, ayahnya membuatnya ditahbiskan di Kapilavatthu di vihara Nigrodhฤrฤma (Sanskerta: Niyagrodhฤrฤma) dengan banyak upacara, pembimbing ฤ€nanda (Pali: upajjhฤya; Sanskerta: upฤdhyฤya) adalah seorang Daล›abฤla Kฤล›yapa.[19]

Menurut tradisi Pฤli, guru pertama ฤ€nanda adalah Belaแนญแนญhasฤซsa dan Puแน‡แน‡a Mantฤnฤซputta. Ajaran Puแน‡แน‡a-lah yang menuntun ฤ€nanda mencapai tingkat sotฤpanna (Sanskerta: ล›rotฤpanna), sebuah pencapaian sebelum pencerahan. ฤ€nanda kemudian mengungkapkan hutang budinya kepada Puแน‡แน‡a.[13][20] Tokoh penting lainnya dalam kehidupan ฤ€nanda adalah Sฤriputta (Sanskerta: ลšฤriputra), salah satu murid utama Buddha. Sฤriputta sering mengajarkan ฤ€nanda tentang poin-poin penting dari doktrin Buddhis,[21] mereka memiliki kebiasaan untuk saling berbagi satu sama lain, dan hubungan mereka digambarkan sebagai persahabatan yang baik.[22] Dalam beberapa teks Mลซlasarvฤstivฤda, seorang pelayan ฤ€nanda juga disebutkan membantu memotivasi ฤ€nanda ketika dia dilarang untuk mengikuti Sidang Buddhis Pertama. Dia adalah seorang "Vajjiputta" (Sanskerta: Vแน›jjiputra), yaitu seseorang yang berasal dari konfederasi Vajji.[23] Menurut teks-teks selanjutnya, seorang bhikkhu yang tercerahkan yang juga disebut Vajjiputta (Sanskerta: Vajraputra) memiliki peran penting dalam kehidupan ฤ€nanda. Dia mendengarkan ajaran ฤ€nanda dan menyadari bahwa ฤ€nanda belum tercerahkan. Vajjiputta mendorong ฤ€nanda untuk mengurangi berbicara dengan umat awam dan memperdalam latihan meditasinya dengan menyepi ke dalam hutan, nasihat yang sangat berpengaruh pada ฤ€nanda.[24][25]

Mengikuti Sang Buddha

sunting
Patung kayu biksu duduk dalam pose putri duyung, berbaring
Patung ฤ€nanda dari Burma abad ke-18

Dalam dua puluh tahun pertama saแน…gha, Sang Buddha memiliki beberapa pelayan pribadi.[13] Namun, setelah dua puluh tahun, yaitu ketika Sang Buddha berusia 55 tahun,[note 2] Sang Buddha mengumumkan bahwa ia membutuhkan seorang pelayan tetap.[12] Sang Buddha telah bertambah tua, dan pelayan-pelayannya sebelumnya tidak melakukan pekerjaan mereka dengan baik.[13] Awalnya, beberapa murid utama Sang Buddha menyatakan kesediaan mereka untuk menjadi pelayan, tetapi Sang Buddha tidak menerima mereka. Sementara itu ฤ€nanda tetap diam. Ketika dia ditanya mengapa, dia berkata bahwa ia memiliki keyakinan bahwa Sang Buddha akan lebih tahu siapa yang harus dipilih, dan Sang Buddha menanggapinya dengan memilih ฤ€nanda.[note 3] ฤ€nanda setuju untuk mengambil posisi tersebut, dengan syarat dia tidak menerima keuntungan materi apapun dari Sang Buddha.[note 4] [12][13][26] Menerima manfaat seperti itu akan menyebabkan dirinya rentan terhadap kritik yang mengatakan bahwa ia memilih posisi itu karena adanya motif tersembunyi. Dia juga meminta agar Sang Buddha mengizinkannya untuk meneruskan undangan atas namanya kepada Sang Buddha, mengizinkannya untuk mengajukan pertanyaan tentang doktrinnya, dan meminta agar Sang Buddha dapat mengulangi ajaran apabila Sang Buddha memberikan khotbah di saat ฤ€nanda tidak ada.[12][13][26] Permintaan ini akan membantu orang untuk memercayai ฤ€nanda dan menunjukkan bahwa Sang Buddha bersimpati kepada pelayannya.[13] Lebih jauh lagi, ฤ€nanda menganggap hal tersebut sebagai keuntungan nyata dari menjadi seorang pelayan, itulah sebabnya dia memintanya.[4]

Sang Buddha menyetujui persyaratan ฤ€nanda, dan ฤ€nanda menjadi pelayan Sang Buddha, menemani Sang Buddha dalam sebagian besar perjalanannya. ฤ€nanda mengurus kebutuhan praktis sehari-hari Sang Buddha, dengan melakukan hal-hal seperti membawakan air dan membersihkan tempat tinggal Sang Buddha. Ia digambarkan sebagai orang yang taat dan setia, bahkan menjaga tempat tinggal pada malam hari.[13][4] ฤ€nanda berperan sebagai lawan bicara dalam banyak percakapan yang terekam. Dia merawat Buddha selama 25 tahun,[11][16][13] sebuah tugas yang membutuhkan banyak cucuran keringat.[27] Hubungannya dengan Buddha digambarkan sebagai hubungan yang hangat dan penuh dengan rasa saling percaya:[28][29] ketika Sang Buddha jatuh sakit, ฤ€nanda juga ikut-ikutan sakit;[13] ketika Sang Buddha bertambah tua, ฤ€nanda terus merawatnya dengan penuh pengabdian.[4]

ฤ€nanda terkadang benar-benar mempertaruhkan nyawanya untuk gurunya. Pada suatu waktu, bhikkhu pemberontak Devadatta mencoba membunuh Sang Buddha dengan melepaskan seekor gajah liar yang sedang mabuk di hadapan Sang Buddha. ฤ€nanda melangkah di depan Sang Buddha untuk melindunginya. Ketika Sang Buddha menyuruhnya untuk menyingkir, dia menolak, meskipun biasanya dia selalu mematuhi Sang Buddha.[13] Menggunakan kekuatan supranatural (Pali: iddhi; Sanskerta: แน›iddhi) Sang Buddha kemudian memindahkan ฤ€nanda ke samping dan menjinakkan gajah tersebut dengan cara menyentuhnya dan berbicara kepadanya dengan penuh cinta kasih.[30]

ฤ€nanda sering bertindak sebagai perantara dan sekretaris, menyampaikan pesan-pesan dari Sang Buddha, memberitahukan Sang Buddha tentang berita, undangan, atau kebutuhan umat awam, dan menasihati umat awam yang ingin memberikan hadiah kepada saแน…gha.[13][31] Pada suatu waktu, Mahฤpajฤpatฤซ, ibu angkat Sang Buddha, mengajukan permintaan untuk mempersembahkan jubah yang digunakan secara pribadi bagi Sang Buddha. Dia berkata bahwa meskipun dia telah membesarkan Buddha di masa mudanya, dia tidak pernah memberikan apa pun secara pribadi kepada pangeran muda tersebut; dan dia sekarang ingin melakukannya. Sang Buddha awalnya bersikeras agar dia memberikan jubah tersebut kepada komunitas secara keseluruhan daripada melekat pada dia secara pribadi. Namun, ฤ€nanda kemudian menjadi penengah dan menyarankan agar Sang Buddha menerima jubah itu. Akhirnya Sang Buddha menerimanya, tetapi tidak tanpa menunjukkan kepada ฤ€nanda bahwa perbuatan baik seperti memberi harus selalu dilakukan demi perbuatan itu sendiri, bukan demi orangnya.[32]

Patung biksu dengan ciri khas Asia Timur, memegang mangkuk sedekah.
Patung ฤ€nanda dari Wat Khao Rup Chang, Songkhla, Thailand

Teks-teks Pali mengatakan bahwa Sang Buddha terkadang meminta ฤ€nanda untuk menggantikannya sebagai guru,[33][34] dan sering dipuji oleh Sang Buddha atas ajaran-ajarannya.[35][36][37][38][39] ฤ€nanda sering diberi peran mengajar yang penting, seperti secara rutin mengajar Ratu Mallikฤ, Ratu Sฤmฤvatฤซ, (Sanskerta: ลšyฤmฤvatฤซ) dan beberapa orang dari kelas penguasa.[40][41] Suatu ketika ฤ€nanda mengajar sejumlah selir Raja Udena (Sanskerta: Udayana). Mereka sangat terkesan dengan ajaran ฤ€nanda, sehingga mereka memberinya lima ratus jubah kepadanya, yang kemudian diterima ฤ€nanda. Setelah mendengar tentang hal ini, Raja Udena mengkritik ฤ€nanda karena keserakahannya; ฤ€nanda menjawab dengan menjelaskan bagaimana setiap jubah tersebut akan digunakan dengan hati-hati, digunakan kembali dan didaur ulang oleh komunitas monastik, sehingga mendorong raja untuk memberikan lima ratus jubah lagi.[42] ฤ€nanda juga berperan dalam kunjungan Sang Buddha ke Vesฤlฤซ. Dalam cerita ini, Sang Buddha mengajarkan teks terkenal Ratana Sutta kepada ฤ€nanda, yang kemudian dibacakan oleh ฤ€nanda di Vesฤlฤซ, membebaskan kota dari penyakit, kekeringan dan roh jahat dalam prosesnya.[43] Bagian lain yang terkenal di mana Sang Buddha mengajarkan ฤ€nanda adalah bagian tentang persahabatan spiritual (Pali: kalyฤแน‡amittata). Dalam bagian ini, ฤ€nanda menyatakan bahwa persahabatan spiritual adalah setengah dari kehidupan suci; Sang Buddha mengoreksi ฤ€nanda, menyatakan bahwa persahabatan seperti itu adalah keseluruhan kehidupan suci.[44][45] Singkatnya, ฤ€nanda bekerja sebagai asisten, perantara dan juru bicara, membantu Sang Buddha dalam banyak hal, sambil mempelajari ajarannya dalam prosesnya.[46]

Menahan godaan

sunting

Dari sisi penampilan, ฤ€nanda mempunyai paras yang menarik.[13] Dalam teks Pฤli diceritakan bahwa ada seorang bhikkhunฤซ di Kosambi yang terpikat dengan ฤ€nanda, dan berpura-pura sakit agar ฤ€nanda mengunjunginya. ฤ€nanda kemudian mengunjunginya dan menjelaskan mengenai tubuh, nafsu keinginan dan kesombongan. Ketika dia menyadari kesalahannya, dia mengakui kesalahannya kepada ฤ€nanda.[47][48] Catatan lain menceritakan bahwa ada seorang wanita dari kasta rendah bernama Prakแน›ti (di Tiongkok dikenal sebagai ๆ‘ฉ็™ปไผฝๅฅณ; Mรณdฤ“ngqiรฉnวš) yang jatuh cinta pada ฤ€nanda, dan membujuk ibunya Mฤtaแน…gฤซ untuk menggunakan mantra ilmu hitam untuk memikatnya. Hal ini berhasil, dan ฤ€nanda terpikat dan masuk ke rumahnya, tetapi kemudian sadar dan meminta pertolongan kepada Sang Buddha. Sang Buddha kemudian mengajarkan Prakแน›ti untuk merenungkan hal-hal yang menjijikkan dari tubuh manusia, dan akhirnya Prakแน›ti ditahbiskan sebagai bhikkhunฤซ dan melepaskan kemelekatannya pada ฤ€nanda.[49][50] Menurut cerita versi Asia Timur di dalam ลšลซraแนƒgamasลซtra, Sang Buddha mengirim Maรฑjuล›rฤซ untuk menolong ฤ€nanda, yang menggunakan pelafalan untuk melawan mantra sihir tersebut. Sang Buddha kemudian melanjutkan pengajarannya pada ฤ€nanda dan para pendengar lainnya tentang sifat Buddha.[51]

Membentuk ordo bikkhuni

sunting
Patung biksu batu kapur berwarna memegang benda tak dikenal
Patung batu kapur ฤ€nanda di Tiongkok abad ke-8

Dalam perannya sebagai perantara antara Buddha dan umat awam, ฤ€nanda terkadang memberikan saran kepada Sang Buddha untuk melakukan perubahan dalam disiplin monastik.[52] Yang paling penting, teks-teks awal menghubungkan penyertaan wanita dalam saแน…gha awal (tatanan monastik) dengan ฤ€nanda.[53] Lima belas tahun setelah pencerahan Sang Buddha, ibu angkatnya Mahฤpajฤpatฤซ datang menemuinya untuk memintanya ditahbiskan sebagai bhikkhunฤซ Buddhis yang pertama. Pada awalnya, Sang Buddha menolak ini. Lima tahun kemudian, Mahฤpajฤpatฤซ kembali datang untuk meminta kepada Sang Buddha sekali lagi, kali ini dia bersama dengan para pengikut wanita Sฤkiya lainnya, termasuk mantan istri Sang Buddha, Yasodharฤ (Sanskerta: Yaล›odarฤ). Mereka telah berjalan 500ย km, tampak kotor, lelah dan tertekan, dan ฤ€nanda merasa kasihan pada mereka. Oleh karena itu ฤ€nanda mengkonfirmasi dengan Sang Buddha apakah wanita bisa tercerahkan juga. Meskipun Sang Buddha mengiyakan hal ini, ia belum mengizinkan para wanita Sฤkiya untuk ditahbiskan. ฤ€nanda kemudian berdiskusi dengan Sang Buddha bagaimana Mahฤpajฤpatฤซ merawatnya selama masa kecilnya, setelah kematian ibu kandungnya.[54][55] ฤ€nanda juga menyebutkan bahwa para Buddha sebelumnya juga telah menahbiskan bhikkhunฤซ.[56] Pada akhirnya, Sang Buddha mengizinkan wanita Sฤkiya untuk ditahbiskan, yang menjadi awal dari ordo bhikkhunฤซ.[54] ฤ€nanda membuat Mahฤpajฤpatฤซ ditahbiskan dengan menerima seperangkat aturan yang telah ditetapkan oleh Sang Buddha. Aturan-aturan ini kemudian dikenal sebagai garudhamma, aturan yang menggambarkan adanya hubungan subordinat dari komunitas bhikkhunฤซ dengan para bikkhu atau biksu.[57][55] Cendekiawan yang mendalami agama-agama di Asia, Reiko Ohnuma berpendapat bahwa hutang Sang Buddha terhadap ibu angkatnya Mahฤpajฤpatฤซ mungkin menjadi alasan utama untuk kelonggaran yang diberikan sehubungan dengan pembentukan ordo bhikkhunฤซ.[58]

Banyak cendekiawan yang menafsirkan kisah ini menganggap bahwa pada awalnya Sang Buddha enggan mengizinkan wanita untuk ditahbiskan, dan ฤ€nanda yang berhasil membujuk Sang Buddha untuk mengubah pikirannya. Sebagai contoh, Indolog dan penerjemah I.B. Horner menulis bahwa "ini adalah satu-satunya contoh, ketika Sang Buddha dibujuk terlalu berlebihan dalam argumen".[59] Namun, beberapa cendekiawan menafsirkan penolakan awal Sang Buddha lebih sebagai ujian tekad, mengikuti pola yang tersebar luas dalam Kanon Pฤli dan dalam prosedur monastik yang mengulangi permintaan tiga kali sebelum akhirnya diterima.[60][61] Beberapa juga berpendapat bahwa Sang Buddha diyakini oleh umat Buddha sebagai mahatahu, dan oleh karena itu tidak mungkin digambarkan berubah pikiran. Cendekiawan lain berpendapat bahwa bagian-bagian lain dalam teks-teks tersebut menunjukkan bahwa Sang Buddha sejak awal memang bermaksud untuk mendirikan suatu ordo bhikkhunฤซ.[59] Meskipun demikian, selama penerimaan wanita ke dalam ordo monastik, Sang Buddha memberi tahu ฤ€nanda bahwa Ajaran Sang Buddha akan bertahan lebih pendek karena hal ini.[62][57] Pada saat itu, ordo monastik Buddhis terdiri dari pria-pria yang hidup membujang dan mengembara, tanpa banyak institusi monastik. Mengizinkan wanita untuk bergabung dengan kehidupan membujang Buddhis mungkin akan menyebabkan pertikaian, serta godaan di antara kedua jenis kelamin.[63] Namun, garudhamma dimaksudkan untuk memperbaiki masalah ini, dan mencegah dispensasi dari pembatasan.[64]

Biarawati Taiwan
Teks-teks awal menghubungkan masuknya wanita dalam ordo monastik awal dengan ฤ€nanda.

Terdapat beberapa perbedaan kronologis dalam catatan tradisional tentang pembentukan tatanan bhikkhunฤซ. Menurut tradisi tekstual Pฤli dan Mahฤซล›asaka, ordo bhikkhunฤซ didirikan lima tahun setelah pencerahan Sang Buddha, tetapi, menurut sebagian besar tradisi tekstual, ฤ€nanda baru menjadi pelayan dua puluh tahun setelah pencerahan Sang Buddha. Lebih jauh lagi, Mahฤpajฤpatฤซ adalah ibu angkat Sang Buddha, dan karena itu pasti jauh lebih tua darinya. Namun, setelah ordo bhikkhunฤซ didirikan, Mahฤpajฤpatฤซ masih sering melakukan pertemuan dengan Sang Buddha, seperti yang dilaporkan dalam Pฤli dan Teks Buddhis Awal Tionghoa. Karena alasan ini dan alasan-alasan lainnya, dapat disimpulkan bahwa pembentukan tatanan bhikkhunฤซ sebenarnya sudah terjadi pada awal terbentuknya saแน…gha. Jika ini yang terjadi, maka peran ฤ€nanda dalam mendirikan ordo bikkhuni menjadi lebih kecil kemungkinannya. Oleh karena itu, beberapa cendekiawan menafsirkan nama-nama dalam catatan tersebut, seperti ฤ€nanda dan Mahฤpajฤpatฤซ, sebagai simbol yang mewakili kelompok-kelompok dan bukannya individu-individu tertentu.[60]

Menurut teks, peran ฤ€nanda dalam mendirikan ordo bhikkhunฤซ membuatnya populer di kalangan komunitas bhikkhunฤซ. ฤ€nanda sering mengajar para bhikkhunฤซ,[4][65] sering mendorong wanita untuk ditahbiskan, dan ketika dia dikritik oleh bhikkhu Mahฤkassapa, beberapa bhikkhunฤซ mencoba membelanya.[66][67] Menurut Indolog Oskar von Hinรผber, sikap ฤ€nanda yang pro-bhikkhunฤซ mungkin menjadi alasan mengapa sering terjadi perdebatan antara ฤ€nanda dan Mahฤkassapa, yang pada akhirnya membuat Mahฤkassapa menuduh ฤ€nanda melakukan beberapa pelanggaran pada saat Sidang Buddhis Pertama. Von Hinรผber lebih lanjut berpendapat bahwa pembentukan tatanan bhikkhunฤซ mungkin diprakarsai oleh ฤ€nanda setelah wafatnya Sang Buddha, dan pengenalan Mahฤpajฤpatฤซ sebagai orang yang memintanya hanyalah seperangkat sastra untuk menghubungkan penahbisan wanita dengan pribadi Sang Buddha, melalui ibu angkatnya. Von Hinรผber menyimpulkan hal ini berdasarkan beberapa pola dalam teks-teks awal, termasuk jarak yang terlihat jelas antara Sang Buddha dan ordo bhikkhunฤซ, dan seringnya terjadi diskusi dan perbedaan pendapat yang terjadi antara ฤ€nanda dan Mahฤkassapa.[68] Beberapa cendekiawan telah melihat kebenaran dalam argumen von Hinรผber sehubungan dengan kelompok yang pro dan kontra,[69][70] tetapi pada tahun 2017, tidak ada bukti definitif yang ditemukan mengenai teori pendirian ordo bhikkhunฤซ setelah kematian Sang Buddha.[71] Sarjana studi Buddhis Bhikkhu Anฤlayo telah menanggapi sebagian besar argumen von Hinuber, dengan menulis: "Selain membutuhkan terlalu banyak asumsi, hipotesis ini bertentangan dengan hampir 'semua bukti yang tersimpan di dalam teks secara bersamaan",[note 5] dengan berargumen bahwa disiplin monastiklah yang menciptakan jarak antara Sang Buddha dan para bhikkhunฤซ, dan meskipun demikian, ada banyak bagian dalam teks-teks awal di mana Sang Buddha berbicara secara langsung dengan para bhikkhunฤซ.[72]

Kematian Sang Buddha

sunting
Patung Buddha berpegangan tangan di kepala biksu di sisi kanan Buddha, biksu terakhir tersenyum
Patung di Vulture Peak, Rajgir, India, menggambarkan Buddha yang menghibur ฤ€nanda

Meskipun telah lama berinteraksi ditambah dengan kedekatannya dengan Sang Buddha, teks-teks Pali menggambarkan bahwa ฤ€nanda belum juga mencapai pencerahan. Karena itulah, seorang banthe bernama Udฤyฤซ (Sanskerta: Udฤyin) mengejek ฤ€nanda. Namun, Sang Buddha menegur Udฤyฤซ sebagai respon atas ejekan tersebut dan mengatakan bahwa ฤ€nanda pasti akan tercerahkan dalam kehidupan ini.[36][73][74]

Mahฤ-parinibbฤna Sutta menceritakan perjalanan panjang selama satu tahun terakhir yang dilakukan Sang Buddha bersama ฤ€nanda dari Rฤjagaha (Sanskerta: Rฤjagแน›ha) ke kota kecil Kusinฤra (Sanskerta: Kuล›ingarฤซ) sebelum Sang Buddha meninggal di sana. Sebelum mencapai Kusinฤra, Sang Buddha melakukan retret musim hujan (Pali: vassa, Sanskerta: varแนฃฤ) di Veแธทugฤma (Sanskerta: Veแน‡ugrฤmaka), setelah keluar dari daerah Vesฤlฤซ yang menderita kelaparan.[75] Di sini, Sang Buddha yang saat itu berusia delapan puluh tahun mengungkapkan keinginannya untuk berbicara dengan saแน…gha sekali lagi.[75] Sang Buddha sakit parah di Vesฤlฤซ, yang membuat beberapa muridnya khawatir.[76] ฤ€nanda mengerti bahwa Sang Buddha ingin meninggalkan instruksi terakhir sebelum kematiannya. Sang Buddha menyatakan, bahwa ia telah mengajarkan segala sesuatu yang diperlukan, tanpa menyembunyikan rahasia apapun seperti yang biasanya akan dilakukan oleh seorang guru dengan "kepalan tertutup".[77] Dia juga memberi kesan kepada ฤ€nanda dengan berpikiran bahwa saแน…gha seharusnya tidak terlalu bergantung pada seorang pemimpin, bahkan walaupun pemimpin itu adalah Sang Buddha sendiri.[78][79] Dia kemudian melanjutkannya dengan pernyataan yang dikenal luas yaitu menjadikan ajarannya sebagai perlindungan, menjadikan diri sendiri sebagai perlindungan, tanpa bergantung pada perlindungan yang lain, dan juga ketika setelah Sang Buddha sudah tiada.[80][81] Bareau berpendapat bahwa ini adalah salah satu bagian teks yang paling kuno, yang ditemukan dengan sedikit variasi dalam lima tradisi tekstual awal:

โ€œTerlebih lagi, episode yang sangat indah ini, yang menyentuh dengan kemuliaan dan kebenaran batin sehubungan dengan ฤ€nanda dan Sang Buddha, tampaknya kembali jauh ke belakang, pada saat para penulis, seperti para siswa lainnya, masih menganggap Sang Bhagavฤ [Buddha] sebagai seorang manusia, seorang guru yang sangat terhormat dan tidak ternoda, yang kepadanya perilaku dan kata-kata yang sepenuhnya manusiawi dipinjamkan, sehingga seseorang bahkan tergoda untuk melihat ke dalam ingatan akan kejadian nyata yang menurut laporan ฤ€nanda diceritakan kepada Komunitas pada bulan-bulan setelah Parinirvฤแน‡a [kematian Sang Buddha]."[82]

Teks yang sama berisi kisah di mana Sang Buddha, dalam berbagai kesempatan, memberikan petunjuk bahwa dia bisa memperpanjang hidupnya hingga satu kalpa penuh melalui pencapaian supranatural, tetapi ini adalah kekuatan yang harus diminta untuk digunakan.[83][note 6] Akan tetapi ฤ€nanda terdistraksi, sehingga tidak menyadari petunjuk tersebut. Belakangan, ฤ€nanda membuat permintaan tersebut, tetapi Sang Buddha menjawab bahwa itu sudah terlambat, karena dia akan segera meninggal.[81][85] Mฤra, personifikasi jahat dalam Buddhis, telah mengunjungi Sang Buddha, dan Sang Buddha telah menyampaikan akan meninggal dalam tiga bulan.[86] Ketika ฤ€nanda mendengar hal ini, dia menangis. Sang Buddha menghiburnya, menunjukkan bahwa ฤ€nanda telah menjadi pelayan yang hebat, peka terhadap kebutuhan orang yang berbeda.[4] Sang Buddha juga berpesan padanya bahwa jika dia bersungguh-sungguh dalam upayanya, dia akan segera mencapai pencerahan.[13] Dia kemudian menunjukkan kepada ฤ€nanda bahwa semua hal yang berkondisi tidak kekal: semua orang pasti akan meninggal dunia.[87][note 7]

Metal relief
Relief di Jawa Timur yang menggambarkan Sang Buddha bersama dengan ฤ€nanda di hari-hari terakhirnya

Pada hari-hari terakhir kehidupan Sang Buddha, Sang Buddha melakukan perjalanan ke Kusinฤra.[88] Sang Buddha menyuruh ฤ€nanda menyiapkan tempat untuk berbaring di antara dua pohon sal, jenis pohon yang sama dengan yang digunakan ibu Sang Buddha untuk melahirkan.[89] Sang Buddha kemudian meminta ฤ€nanda mengundang klan Malla dari Kusinฤra untuk memberikan penghormatan terakhir mereka.[90][91] Setelah kembali, ฤ€nanda bertanya kepada Sang Buddha apa yang harus dilakukan dengan tubuhnya setelah kematiannya, dan dia menjawab bahwa jenazahnya harus dikremasi, memberikan instruksi terperinci tentang bagaimana hal ini harus dilakukan.[81] Karena Sang Buddha melarang ฤ€nanda untuk terlibat langsung, melainkan menyuruhnya untuk menginstruksikan para Malla untuk melakukan ritual, instruksi ini oleh banyak sarjana ditafsirkan sebagai larangan bahwa monastik tidak boleh terlibat dalam pemakaman atau pemujaan stลซpa (bangunan dengan relik). Sarjana studi Buddhis Gregory Schopen telah menunjukkan, bahwa larangan ini hanya berlaku untuk ฤ€nanda, dan hanya berkaitan dengan upacara pemakaman Sang Buddha.[92][93] Juga telah ditunjukkan bahwa instruksi mengenai pemakaman ini berasal dari masa yang cukup belakangan, baik dalam hal penyusunan maupun penyisipan ke dalam teks, dan tidak ditemukan dalam teks-teks paralel, selain dari Mahฤparinibbฤna Sutta.[94] ฤ€nanda kemudian melanjutkan dengan menanyakan bagaimana para umat harus menghormati Sang Buddha setelah kematiannya. Sang Buddha menjawab dengan menyebutkan empat tempat penting dalam hidupnya yang dapat dikunjungi sebagai bentuk penghormatan, yang kemudian menjadi empat tempat utama ziarah umat Buddha.[95][78] Sebelum Sang Buddha meninggal, ฤ€nanda menyarankan agar Sang Buddha pindah ke kota yang lebih bermakna, tetapi Sang Buddha menunjukkan bahwa kota tersebut dulunya adalah ibu kota yang besar.[88] ฤ€nanda kemudian bertanya siapa yang akan menjadi guru berikutnya setelah Sang Buddha tiada, tetapi Sang Buddha menjawab bahwa ajaran dan disiplinnya yang akan menjadi guru.[81] Ini berarti bahwa keputusan harus dibuat dengan mencapai konsensus dalam saแน…gha,[96] dan secara lebih umum, bahwa sekarang telah tiba waktunya bagi para biarawan dan umat-umat Buddhis untuk menjadikan teks-teks Buddhis sebagai otoritas, karena Sang Buddha akan segera wafat.[97]

Sang Buddha memberikan beberapa instruksi sebelum kematiannya, termasuk arahan kepada mantan kusirnya, Channa (Sanskerta: Chandaka) untuk dijauhi oleh sesama bhikkhu lainnya, sehingga ia merendahkan dirinya.[78] Di saat-saat terakhirnya, Sang Buddha bertanya apakah ada orang yang memiliki pertanyaan yang ingin mereka ajukan kepadanya, sebagai kesempatan terakhir untuk menghilangkan keraguan. Ketika tidak ada yang menjawab, ฤ€nanda mengungkapkan kegembiraannya bahwa semua murid Sang Buddha yang hadir telah mencapai tingkat yang telah melampaui keraguan terhadap ajaran Buddha. Namun, Sang Buddha menunjukkan bahwa ฤ€nanda berbicara atas dasar keyakinan dan bukan karena pandangan terang meditatifโ€”sebuah celaan terakhir.[98] Sang Buddha menambahkan bahwa, dari semua lima ratus bhikkhu yang mengelilinginya saat itu, bahkan bhikkhu yang "paling akhir" atau "paling terbelakang" (Pali: pacchimaka) telah mencapai tahap awal sotapanna. Dimaksudkan sebagai dorongan, Sang Buddha sebenarnya sedang menunjuk pada ฤ€nanda.[99] Selama parinibbฤna Sang Buddha, Anuruddha mampu menggunakan kekuatan meditasinya untuk memahami tahap-tahap apa saja yang telah dilalui Sang Buddha sebelum mencapai parinibbฤna. Namun, ฤ€nanda tidak mampu melakukannya, menunjukkan kematangan spiritualnya yang lebih rendah.[100] Setelah kematian Sang Buddha, ฤ€nanda membacakan beberapa syair, mengungkapkan rasa urgensi (Pali: saแนƒvega), yang sangat tersentuh oleh peristiwa dan dampaknya: "Mengerikan sekali guncangannya, bulu kuduk para pria berdiri, / Ketika Buddha yang sempurna meninggal dunia."[101]

Tak lama setelah sidang, ฤ€nanda membawa pesan sehubungan dengan arahan Sang Buddha kepada Channa secara pribadi. Channa menjadi rendah hati dan mengubah cara hidupnya, mencapai pencerahan, dan hukumannya dicabut oleh saแน…gha.[102][103] ฤ€nanda kemudian melakukan perjalanan ke Sawati (Sanskerta: ลšrฤvastฤซ), di mana dia bertemu dengan penduduk yang sedih, yang dia hibur dengan ajaran-ajaran tentang ketidakkekalan. Setelah itu, ฤ€nanda pergi ke tempat tinggal Sang Buddha dan melakukan rutinitas yang biasanya selalu dia lakukan ketika Sang Buddha masih hidup, seperti menyiapkan air dan membersihkan tempat tinggal. Dia kemudian memberi hormat dan berbicara seolah-olah Sang Buddha masih ada di sana. Komentar Pฤli menyatakan bahwa ฤ€nanda melakukan ini sebagai bentuk pengabdian, tetapi juga karena dia "belum terbebas dari hawa nafsu".[104]

Sidang Pertama

sunting
Stupa, terletak di Rajgir saat ini, pada waktu itu disebut Rajagaha
Menurut teks-teks Buddhis, Sidang Buddhis Pertama diadakan di Rฤjagaha.[105]

Larangan

sunting

Menurut teks, Sidang Buddhis Pertama diadakan di Rฤjagaha.[105] Dalam vassa pertama setelah kematian Sang Buddha, Mahฤkassapa (Sanskerta: Mahฤkฤล›yapa) sebagai bhikkhu yang memimpin meminta ฤ€nanda untuk membacakan khotbah-khotbah yang telah didengarnya, sebagai perwakilan dalam sidang ini.[12][105][note 8] Ada aturan yang dikeluarkan bahwa hanya murid-murid yang tercerahkan (arahat) yang diizinkan untuk menghadiri sidang, untuk mencegah adanya kekotoran batin yang bisa mengaburkan ingatan para murid. Akan tetapi, ฤ€nanda belum mencapai pencerahan, berbeda dengan para anggota sidang lainnya, yang terdiri dari 499 arahat.[107][108] Oleh karena itu Mahฤkassapa tidak mengizinkan ฤ€nanda untuk hadir. Meskipun dia tahu bahwa kehadiran ฤ€nanda di sidang tersebut diperlukan, dia tidak ingin bersikap berat sebelah dengan memberikan pengecualian terhadap peraturan tersebut.[23][109] Tradisi Mลซlasarvฤstivฤda menambahkan bahwa Mahฤkassapa pada awalnya mengizinkan ฤ€nanda untuk bergabung sebagai seorang pelayan yang membantu selama dewan, tetapi kemudian terpaksa mengeluarkannya ketika seorang murid lain bernama Anuruddha melihat bahwa ฤ€nanda belum tercerahkan.[23]

ฤ€nanda merasa direndahkan, tetapi menjadi terdorong untuk memfokuskan upayanya untuk mencapai pencerahan sebelum sidang dimulai.[110][111] Teks-teks Mลซlasarvฤstivฤda menambahkan bahwa dia merasa termotivasi ketika dia mengingat kata-kata Sang Buddha bahwa dia harus menjadi tempat berlindung bagi dirinya sendiri, dan ketika dia dihibur dan dinasihati oleh Anuruddha dan Vajjiputta (pelayan dari ฤ€nanda).[23] Pada malam sebelum acara, ia berusaha keras untuk mencapai pencerahan. Setelah beberapa saat, ฤ€nanda beristirahat dan memutuskan untuk berbaring untuk beristirahat. Dia kemudian mencapai pencerahan saat itu juga, di tengah-tengah antara berdiri dan berbaring. Dengan demikian, ฤ€nanda dikenal sebagai murid yang mencapai pencerahan "tanpa melakukan salah satu dari empat pose tradisional" (berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring).[112][113] Keesokan paginya, untuk membuktikan pencerahannya, ฤ€nanda melakukan pencapaian supranatural dengan menyelam ke dalam bumi dan muncul di tempat duduknya di sidang (atau, menurut beberapa sumber, dengan cara terbang di udara).[23] Cendekiawan seperti Buddhologis Andrรฉ Bareau dan sarjana agama Ellison Banks Findly merasa skeptis dengan banyaknya rincian dalam kisah ini, termasuk jumlah peserta dalam sidang, dan kisah pencerahan ฤ€nanda sebelum sidang.[114] Bagaimanapun juga, saat ini kisah perjuangan ฤ€nanda pada malam sebelum sidang masih diceritakan di kalangan umat Buddhis sebagai bentuk nasihat dalam praktik meditasi agar: jangan menyerah, atau menafsirkan latihan meditasi dengan terlalu kaku.[113]

Kuil Jetavana di Rฤjagแน›iha, India. Lukisan dinding yang menggambarkan Sidang Buddhis Pertama, di mana ฤ€nanda dikatakan telah mengucapkan rumus:"evaแนƒ me sutaแนƒ" (Demikian yang pernah saya dengar.) sebagai pengantar untuk setiap khotbah Sang Buddha yang dia baca dari ingatan.

Pembacaan

sunting

Sidang Pertama dimulai ketika ฤ€nanda diminta untuk melafalkan khotbah-khotbah dan menentukan mana yang otentik dan mana yang tidak.[115][116] Mahฤkassapa meminta detail dari setiap khotbah yang dibacakan ฤ€nanda, dengan menyebutkan di mana, kapan, dan kepada siapa khotbah itu diberikan,[4] dan di akhir sesi ini, para bhikkhu sepakat bahwa ingatan dan semua yang dilafalkan ฤ€nanda adalah benar,[117] setelah itu kumpulan khotbah (Pali: Sutta Piแนญaka, Sanskerta: Sลซtra Piแนญaka) dianggap telah selesai dan ditutup.[116] Dengan ini, ฤ€nanda memainkan peran penting dalam sidang ini,[11] di mana menurut teks dinyatakan bahwa dia mengingat 84.000 topik pengajaran, di antaranya 82.000 diajarkan oleh Sang Buddha dan 2.000 lainnya diajarkan oleh para muridnya.[118][119][note 9] Banyak khotbah Buddhis awal dimulai dengan kata-kata "Demikianlah yang telah saya dengar" (Pali: Evaแนƒ me sutaแนƒ, Sanskerta: Evaแนƒ mayฤ ล›rutam), yang menurut sebagian besar tradisi Buddhis, adalah kata-kata ฤ€nanda,[120][note 10] yang menunjukkan bahwa dia, sebagai orang yang melaporkan teks (Sanskerta: saแนƒgฤซtikฤra) tersebut, mendengarnya secara langsung dan tidak menambahkan apa pun ke dalamnya.[122][123] Dengan demikian, khotbah-khotbah yang diingat ฤ€nanda kemudian menjadi kumpulan khotbah-khotbah Kanonik,[12] bersama dengan Abhidhamma (Abhidhamma Piแนญaka) menurut tradisi tekstual Haimavฤta, Dharmaguptaka dan Sarvฤstivฤda (dan secara implisit, kronik Pฤli pasca-kanonik).[118][106][124] Akan tetapi sarjana agama Ronald Davidson mencatat, bahwa tidak ada satu pun catatan mengenai ฤ€nanda yang mempelajari Abhidhamma.[125] Menurut beberapa catatan Mahฤyฤna yang muncul kemudian, ฤ€nanda juga membantu dalam melafalkan teks-teks Mahฤyฤna, yang diadakan di tempat yang berbeda di Rฤjagaha, tetapi dalam periode waktu yang sama.[126][127] Kitab komentar Pฤli menyatakan bahwa setelah sidang, ketika tugas pembacaan dan penghafalan teks-teks dibagi-dibagi, ฤ€nanda dan murid-muridnya diberi tugas untuk menghafal Dฤซgha Nikฤya.[23][124]

Dua patung pendamping, abad ke-8, Tiongkok
Mahฤkassapa
ฤ€nanda
Konsili Buddhis Pertama dimulai ketika Mahฤkassapa meminta ฤ€nanda untuk melafalkan khotbah.

Tuduhan

sunting

Dalam sidang yang sama, ฤ€nanda dituduh oleh anggota saแน…gha atas beberapa kelalaiannya seperti mengizinkan wanita untuk bergabung dengan ordo monastik;[128][115] lupa meminta Sang Buddha untuk menentukan pelanggaran mana dalam disiplin monastik yang dapat diabaikan;[note 11] menginjak jubah Sang Buddha dan kemudian menjahitnya;[129] mengizinkan para wanita menghormati tubuh Buddha terlebih dahulu sehingga tubuhnya dinodai oleh air mata mereka;[129] dan karena lalai tidak meminta kepada Sang Buddha untuk terus melanjutkan kehidupan selama satu zaman.[129] ฤ€nanda tidak menganggap hal-hal tersebut sebagai pelanggaran, tetapi dia tetap mau mengakuinya secara resmi, "... dengan keyakinan akan pendapat para bhikkhu senior yang terhormat."[130][131]โ€”dikarenakan ฤ€nanda ingin mencegah timbulnya kekacauan dalam saแน…gha.[132] Sehubungan dengan penahbisan wanita, ฤ€nanda menjawab bahwa dia melakukan itu dengan usaha keras, karena Mahฤpajฤpati adalah ibu angkat Sang Buddha yang telah lama menafkahinya.[133] Sehubungan dengan tidak meminta Sang Buddha untuk terus hidup, banyak tradisi tekstual yang menyebutkan bahwa ฤ€nanda menjawab bahwa ia terganggu oleh Mฤra,[134] meskipun teks Tiongkok awal menyebutkan bahwa alasan mengapa ฤ€nanda tidak meminta Sang Buddha untuk memperpanjang hidupnya adalah karena takut hal tersebut akan mengganggu masa waktu Buddha Maitreya sebagai Buddha selanjutnya.[135]

Menurut tradisi Pฤli, tuduhan tersebut dijatuhkan setelah ฤ€nanda mencapai pencerahan dan melakukan semua pelafalan; tetapi tradisi Mลซlasarvฤstivฤda mengatakan bahwa tuduhan itu diajukan sebelum ฤ€nanda tercerahkan dan memulai pelafalan. Dalam versi ini, ketika ฤ€nanda mendengar bahwa dia dilarang mengikuti sidang, dia berkeberatan karena dia tidak melakukan apapun yang bertentangan dengan ajaran dan disiplin Sang Buddha. Mahฤkassapa kemudian membuat daftar tujuh tuntutan untuk melawan keberatan ฤ€nanda. Tuduhan-tuduhan tersebut serupa dengan lima tuduhan yang diberikan dalam tradisi Pฤli.[23] Tradisi tekstual lainnya mencantumkan tuduhan-tuduhan yang sedikit berbeda, berjumlah total keseluruhan sebelas tuduhan, beberapa di antaranya hanya disebutkan dalam satu atau dua tradisi tekstual.[136] Mempertimbangkan bahwa seorang murid Sang Buddha yang tercerahkan terlihat telah mengatasi semua kesalahan, tampaknya tuduhan-tuduhan tersebut lebih mungkin diberikan sebelum pencapaian ฤ€nanda daripada sesudahnya.[135]

Indolog von Hinรผber dan Jean Przyluski berpendapat bahwa catatan tentang ฤ€nanda yang didakwa melakukan pelanggaran selama sidang menunjukkan adanya ketegangan di antara aliran-aliran Buddhis awal yang saling bersaing, yaitu aliran yang menekankan khotbah-khotbah (Pali: sutta, Sanskerta: sลซtra) dan aliran yang menekankan disiplin monastik. Perbedaan-perbedaan ini telah mempengaruhi kitab suci masing-masing aliran: misalnya tradisi tekstual Pฤli dan Mahฤซล›ฤsaka menggambarkan seorang Mahฤkassapa yang lebih kritis terhadap ฤ€nanda dibandingkan dengan apa yang digambarkan oleh tradisi Sarvฤstivฤda,[70][137] yang mencerminkan preferensi mereka terhadap disiplin di atas khotbah dalam tradisi Pฤli dan Mahฤซล›ฤsaka.[138] Contoh lainnya adalah pengulangan-pengulangan saat Sidang Pertama. Teks-teks Pฤli menyatakan bahwa Upฤli, orang yang bertanggung jawab atas pelafalan disiplin monastik, melafalkan sebelum ฤ€nanda melafalkan: sekali lagi, ini menunjukkan adanya preferensi disiplin monastik di atas khotbah.[139] Setelah menganalisis enam tinjauan dari berbagai tradisi tekstual yang berbeda dari Mahฤparinibbฤna Sutta secara ekstensif, Bareau melihat adanya dua lapisan di dalam teks, yaitu yang lebih tua dan yang lebih baru, yang lebih tua disusun oleh yang menekankan khotbah, sedangkan yang lebih baru disusun oleh yang menekankan disiplin monastik; yang lebih tua menekankan sosok ฤ€nanda, sedangkan yang lebih baru menekankan sosok Mahฤkassapa. Lebih lanjut, dia juga berpendapat bahwa bagian tentang Mฤra yang menghalangi Sang Buddha dimasukkan pada abad ke-4 SM, dan bagian di mana ฤ€nanda disalahkan atas perbuatan Mฤra disisipkan dalam bagian kelupaan ฤ€nanda pada abad ke-3 SM. Di sisi lain, bagian di mana Sang Buddha sedang sakit dan mengingatkan ฤ€nanda untuk menjadikan dirinya sebagai tempat perlindungannya sendiri, menurut Bareau dianggap sebagai bagian teks yang sangat kuno, mendahului bagian-bagian yang menyalahkan Mฤra dan ฤ€nanda.[140] Sebagai kesimpulannya, Bareau, Przyluski dan Horner berpendapat bahwa pelanggaran-pelanggaran yang dituduhkan kepada ฤ€nanda adalah interpolasi yang muncul belakangan. Akan tetapi, Findly tidak sependapat, karena catatan dalam teks-teks disiplin monastik sesuai dengan yang tertulis di Mahฤparinibbฤna Sutta di mana karakter ฤ€nanda digambarkan secara umum seperti yang ada dalam teks-teks.[141]

Historisitas

sunting

Tradisi menyatakan bahwa Sidang Pertama berlangsung selama tujuh bulan.[118] Para akademisi meragukan apakah seluruh kanon benar-benar dibacakan selama Sidang Pertama,[142] karena teks-teks awal berisi catatan-catatan yang berbeda mengenai subjek-subjek penting seperti meditasi.[143] Akan tetapi, meskipun demikian, bisa saja versi-versi awal yang dibacakan ini adalah apa yang sekarang dikenal sebagai Vinaya-piแนญaka dan Sutta-piแนญaka.[144] Namun demikian, banyak akademisi, sejak akhir abad ke-19 dan seterusnya, telah menganggap bahwa historisitas Sidang Pertama adalah tidak mungkin. Beberapa sarjana, seperti orientalis Louis de La Vallรฉe-Poussin dan D.P. Minayef, berpikir pasti ada pertemuan setelah kematian Sang Buddha, tetapi hanya tokoh-tokoh utama dan beberapa peristiwa sebelum atau sesudah Sidang Pertama yang dianggap sebagai peristiwa sejarah.[102][145] Sarjana lain, seperti Bareau dan Indolog Hermann Oldenberg, menganggap bahwa catatan Sidang Pertama ditulis setelah Sidang Kedua dan penulisannya berdasarkan catatan dalam Sidang Kedua, di mana tidak ada masalah besar yang harus dipecahkan setelah kematian Sang Buddha, atau kebutuhan lain untuk menyelenggarakan Sidang Pertama.[114][146] Banyak materi di catatan tersebut, dan terlebih lagi di catatan selanjutnya yang lebih berkembang di kemudian hari, membahas tentang ฤ€nanda sebagai perantara yang tidak ternoda yang meneruskan ajaran Buddha yang sah.[147] Di sisi lain, arkeolog Louis Finot, Indolog E. E. Obermiller dan Indolog Nalinaksha Dutt sampai pada batas-batas tertentu berpendapat bahwa Sidang Pertama adalah otentik, karena adanya korespondensi antara teks Pฤli dan tradisi Sanskerta.[148] Indolog Richard Gombrich, mengikuti argumen Bhikkhu Sujato dan Bhikkhu Brahmali, menyatakan bahwa "sangat masuk akal untuk yakin... bahwa sebagian besar Kitab Pฤli memang melestarikan Buddha-vacana, 'kata-kata Sang Buddha', yang ditransmisikan kepada kita melalui muridnya ฤ€nanda dan Sidang Pertama".[149]

Peran dan karakter

sunting
Pelayan

"Dia melayani Sang Buddha mengikutinya ke mana-mana seperti bayangan, membawakannya kayu gigi dan air, mencuci kakinya, menggosok tubuhnya, membersihkan selnya dan memenuhi semua tugasnya dengan sangat hati-hati. Pada siang hari, dia siap mencegah keinginan sekecil apa pun dari Sang Buddha. Pada malam hari, dengan tongkat dan obor di tangan, dia pergi sembilan kali mengelilingi sel Buddha dan tidak pernah meletakkannya karena dia akan tertidur dan gagal menjawab panggilan ke Sang Buddha."

diterjemahkan oleh Ellison Banks Findly, Manorathapลซranฤซ[150]

ฤ€nanda diakui sebagai salah satu murid terpenting Sang Buddha.[151] Dalam daftar murid yang diberikan dalam Aแน…guttara Nikฤya, masing-masing murid dinyatakan sebagai yang terbaik dalam beberapa kualitas.[152] ฤ€nanda disebutkan lebih sering daripada murid lainnya: ฤ€nanda disebut sebagai yang terbaik dalam hal perilaku, perhatian kepada orang lain, kekuatan ingatan, pengetahuan dan keteguhan hati.[9][153] ฤ€nanda adalah subjek dari khotbah pujian yang disampaikan oleh Sang Buddha tepat sebelum kematian Sang Buddha, seperti yang dijelaskan dalam Mahฤparinibbฤna Sutta:[154] yang merupakan khotbah tentang seorang pria yang baik hati, tidak egois, populer, dan penuh perhatian kepada orang lain.[153] Di dalam beberapa teks, ia digambarkan sebagai seseorang yang penuh welas asih dalam hubungannya dengan umat awam, sifat welas asih yang ia pelajari dari Sang Buddha.[155] Sang Buddha menyampaikan bahwa baik bhikkhu maupun umat awam senang melihat ฤ€nanda, dan senang mendengarnya melafalkan dan mengajarkan ajaran Sang Buddha.[156][157] Selain itu, ฤ€nanda dikenal karena kemampuannya dalam berorganisasi, membantu Sang Buddha dalam tugas-tugas seperti sekretaris.[158] Dalam banyak hal, ฤ€nanda tidak hanya melayani kebutuhan pribadi Sang Buddha, tetapi juga kebutuhan saแน…gha yang masih muda dan sedang berkembang.[159]

Selain itu, karena kemampuannya mengingat banyak ajaran Buddha, dia digambarkan sebagai yang terdepan dalam "telah mendengar banyak" (Pali: bahussuta, Sanskerta: bahuล›ruta, Pinyin: Duowen Diyi).[29][160] ฤ€nanda dikenal karena daya ingatnya yang luar biasa, yang sangat penting dalam membantunya mengingat ajaran-ajaran Buddha. Dia juga mengajar beberapa murid-murid lainnya untuk menghafal doktrin Buddhis. Karena alasan ini, ฤ€nanda dikenal sebagai "Bendahara Dhamma" (Pali: Dhamma-bhaแน‡แธฤgฤrika, Sanskerta: Dharma-bhaแน‡แธฤgฤrika),[9][111] Dhamma (Sanskerta: Dharma) mengacu pada ajaran Buddha.[31] Sebagai orang yang telah menemani Sang Buddha selama sebagian besar hidupnya, ฤ€nanda dalam banyak hal merupakan ingatan hidup Sang Buddha, yang tanpanya saแน…gha akan menjadi jauh lebih buruk.[111] Selain kemampuan ingatannya, ฤ€nanda juga menonjol dalam hal tertentu. Sebagai sepupu Sang Buddha, ia berani mengajukan pertanyaan langsung kepada Sang Buddha. Sebagai contoh, setelah kematian Mahฤvira dan konflik-konflik yang terjadi di antara komunitas Jain, ฤ€nanda bertanya kepada Sang Buddha bagaimana masalah seperti itu dapat dicegah setelah kematian Sang Buddha.[161][162][note 12] Akan tetapi, Findly berpendapat bahwa tugas ฤ€nanda untuk menghafal ajaran Buddha secara akurat dan tanpa distorsi, merupakan "anugerah sekaligus beban". ฤ€nanda dapat mengingat banyak khotbah kata demi kata, tetapi hal tersebut dilakukan karena kebiasaannya untuk tidak merenungkan ajaran-ajaran itu, karena takut bahwa perenungan mungkin akan mendistorsi ajaran-ajaran yang sudah didengarnya.[164] Pada beberapa kesempatan, ฤ€nanda diperingatkan oleh murid-murid lainnya bahwa ia harus menghabiskan lebih sedikit waktu untuk berbicara dengan umat awam, dan lebih banyak meluangkan waktu untuk berlatih sendiri. Meskipun ฤ€nanda secara teratur berlatih meditasi selama berjam-jam, ia kurang berpengalaman dalam konsentrasi meditasi dibandingkan murid-murid terkemuka lainnya.[165] Dengan demikian, penilaian terhadap karakter ฤ€nanda tergantung pada bagaimana orang menilainya dari pencapaiannya sebagai seorang bhikkhu, pencapaiannya sebagai seorang pelayan, dan sebagai orang yang menghafal khotbah.[164]

Biksu di hutan menggosok matanya.
Relief ฤ€nanda di Jawa Timur, digambarkan sedang menangis

Dari sudut pandang sastra dan pedagogis, ฤ€nanda sering berfungsi sebagai semacam sosok kontras dalam teks, yaitu menjadi murid yang belum tercerahkan yang menghadiri seorang Buddha yang tercerahkan.[166][167] Karena orang biasa dapat mengenali ajaran melalui ฤ€nanda, Sang Buddha dapat menyampaikan ajarannya melalui ฤ€nanda kepada massa dengan mudah.[166][168] Karakter ฤ€nanda dalam banyak hal bertentangan dengan karakter Buddha: belum tercerahkan dan sering melakukan kesalahan. Namun, pada saat yang sama, ia sepenuhnya mengabdikan diri untuk melayani Sang Buddha.[169] Dalam teks-teks awal, Sang Buddha digambarkan sebagai sosok ayah sekaligus guru bagi ฤ€nanda, tegas tetapi penuh dengan kasih sayang. ฤ€nanda sangat sayang dan terikat pada Sang Buddha, rela mengorbankan nyawa untuknya.[29] Dia berduka dan sangat terkejut atas kematian Sang Buddha dan Sฤriputta, yang dengannya dia menjalin persahabatan yang erat.[22] Keyakinan ฤ€nanda terhadap Buddha, bagaimanapun, lebih bersifat keyakinan pada sosok pribadi Buddha, ketimbang keyakinannya pada ajaran Buddha. Ini adalah pola yang muncul kembali dalam catatan yang mengarah pada pelanggaran yang dituduhkan oleh ฤ€nanda selama Sidang Pertama.[170] Selain itu, kelemahan ฤ€nanda yang dijelaskan dalam teks-teks adalah bahwa ia terkadang lamban dalam berpikir dan kurang memiliki perhatian penuh, yang menjadi jelas karena perannya sebagai pelayan Sang Buddha: hal ini tidak hanya terlihat pada hal-hal kecil seperti perilaku, melainkan juga pada hal-hal yang lebih penting, seperti menahbiskan seorang pria yang jelas tidak memiliki potensi sebagai murid, atau mengganggu Buddha di saat yang tidak tepat.[171] Contoh lain, suatu kali Mahฤkassapa mengkritik ฤ€nanda dengan kata-kata keras saat mengetahui fakta bahwa ฤ€nanda bepergian dengan banyak bhikkhu muda yang tampaknya belum terlatih sehingga telah membangun reputasi buruk.[13] Dalam episode lain yang dijelaskan dalam teks Sarvฤstivฤda, ฤ€nanda adalah satu-satunya murid yang bersedia mengajarkan kekuatan batin kepada Devadatta, di mana kekuatan tersebut selanjutnya digunakan untuk mencoba menghancurkan Sang Buddha. Akan tetapi, menurut sebuah teks Mahฤซล›ฤsaka, ketika Devadatta membelot melawan Sang Buddha, ฤ€nanda tidak terpengaruh olehnya, dan memberikan suara yang menentang Devadatta dalam sebuah pertemuan resmi.[172] Pertumbuhan spiritual ฤ€nanda yang terlambat banyak dibahas dalam teks-teks Buddhis, di mana disimpulkan secara umum bahwa ฤ€nanda memang lebih lambat dibandingkan murid-murid lainnya karena keterikatannya pada dunia dan keterikatannya pada pribadi Sang Buddha, keduanya berakar pada perannya sebagai perantara antara Sang Buddha dan komunitas awam.[173]

Menyampaikan ajaran

sunting

Setelah kematian Sang Buddha, beberapa sumber mengatakan bahwa ฤ€nanda menghabiskan sebagian besar masa hidupnya tinggal di India Barat, yaitu di daerah Kosambฤซ (Sanskerta: Kausambฤซ), tempat di mana dia mengajar sebagian besar muridnya.[174][14] Sumber lain mengatakan bahwa dia tinggal di vihara di Veแธทuvana (Sanskerta: Veแน‡uvana).[175] Beberapa murid ฤ€nanda menjadi terkenal dengan caranya sendiri. Menurut sumber-sumber Sanskerta pasca-kanonik seperti Divyavadฤna dan Aล›okavadฤna, sebelum kematian Sang Buddha, Sang Buddha bercerita kepada ฤ€nanda bahwa murid terakhirnya, Majjhantika (Sanskerta: Madhyฤntika) akan melakukan perjalanan ke Udyฤna, Kashmir, untuk membawa ajaran Buddha di sana.[176][177] Mahฤkassapa membuat prediksi yang kemudian terbukti benar bahwa salah satu murid ฤ€nanda lainnya di masa depan, yaitu Sฤแน‡avฤsฤซ (Sanskerta: ลšฤแน‡akavฤsฤซ, ลšฤแน‡akavฤsin or ลšฤแน‡ฤvasika), akan memberikan banyak hadiah kepada saแน…gha di Mathurฤ, di mana hadiah tersebut akan diberikan pada saat pesta di mana dananya berasal dari keuntungan yang diperoleh dari bisnisnya yang sukses. Setelah peristiwa ini, ฤ€nanda kemudian berhasil meyakinkan Sฤแน‡avฤsฤซ untuk menjadi bhikkhu dan menjadi muridnya.[178][179] ฤ€nanda meyakinkan Sฤแน‡avฤsฤซ dengan menunjukkan bahwa Sฤแน‡avฤsฤซ saat itu hanya memberikan banyak hadiah berupa materi, tetapi belum memberikan "hadiah Dhamma". Ketika dimintai penjelasan, ฤ€nanda menjawab bahwa Sฤแน‡avฤsฤซ akan memberikan hadiah Dhamma setelah menjadi bhikkhu, yang kemudian menjadi alasan yang cukup bagi Sฤแน‡avฤsฤซ untuk memutuskan menjadi bhikkhu.[178]

Kematian dan relik

sunting
Relief dengan bhikkhu yang bermeditasi di sebelah kanan, dan di sebelah kiri, setengah dari kerangka, sosok bermahkota berlutut dan sosok kedua memegang payung di atas sosok bermahkota
Relief India yang sebagian utuh menggambarkan kematian ฤ€nanda. Catatan Buddhis tradisional menceritakan bahwa ia mencapai Nirwana akhir di udara di atas sungai Rohฤซni, meninggalkan relik untuk pengikut di kedua sisi sungai.

ฤ€nanda terus mengajar hingga akhir hayatnya.[12] Berdasarkan teks Mลซlasarvฤstivฤda, suatu hari ฤ€nanda mendengar seorang bhikkhu muda salah melafalkan sebuah syair, dan memberinya nasihat. Ketika bhikkhu tersebut melaporkan hal ini kepada gurunya, gurunya menyanggah dengan mengatakan bahwa "ฤ€nanda sudah tua dan ingatannya sudah menurun..." Hal ini mendorong ฤ€nanda untuk mencapai parinibbฤna. Dia mewariskan "pemeliharaan doktrin [Buddha]" kepada muridnya Sฤแน‡avฤsฤซ dan berangkat ke sungai Gangga.[180][181] Namun, menurut teks Pฤli, ketika ฤ€nanda sudah hampir meninggal, ia berubah pikiran dan memutuskan untuk menghabiskan saat-saat terakhirnya di Vesฤlฤซ, dan berangkat ke sungai Rohฤซni.[4] Versi Mลซlasarvฤstivฤda menjelaskan lebih banyak dan menyebutkan bahwa sebelum mencapai sungai, ฤ€nanda bertemu dengan seorang resi bernama Majjhantika (sesuai dengan ramalan sebelumnya) dan lima ratus pengikutnya, yang kemudian masuk agama Buddha.[8] Beberapa sumber menambahkan bahwa ฤ€nanda menyampaikan pesan Buddha kepadanya.[178] Ketika ฤ€nanda menyeberangi sungai, dia diikuti oleh Raja Ajฤtasattu (Sanskerta: Ajฤtaล›atrลซ), yang ingin menyaksikan kematiannya dan tertarik dengan jenazahnya sebagai relik.[8][4] ฤ€nanda pernah berjanji kepada Ajฤsattu bahwa dia akan memberitahunya kapan ia akan meninggal, dan sesuai janji tersebut, ฤ€nanda saat itu memberitahunya.[182] Di seberang sungai, sekelompok Licchavi dari Vesฤlฤซ telah menunggunya dengan alasan yang sama. Dalam teks Pฤli, saat itu ada dua kelompok yang tertarik, yaitu klan Sฤkiya dan Koliya.[8][4] ฤ€nanda menyadari bahwa kematiannya di kedua sisi sungai dapat membuat salah satu pihak marah.[183] Melalui pencapaian supernatural, ia melesat ke udara untuk melayang dan bermeditasi di udara, membuat tubuhnya terbakar, dengan reliknya mendarat di kedua tepi sungai.[8][4] Dalam beberapa versi catatan, ada yang menyebutkan tubuhnya terbelah menjadi empat bagian.[184] Dengan cara ini, ฤ€nanda telah memuaskan semua pihak yang terlibat.[8][4] Dalam beberapa versi lain dari kisah tersebut, termasuk versi Mลซlasarvฤstivฤda, kematiannya terjadi di atas perahu di tengah sungai, bukan di udara. Jenazahnya dibagi menjadi dua, sesuai dengan keinginan ฤ€nanda.[185][8] Majjhantika kemudian berhasil melaksanakan misi tersebut sesuai dengan ramalan Buddha.[176]

Meskipun tidak ada Teks Buddhis Awal yang menuliskan tanggal kematian ฤ€nanda, menurut biksu peziarah Tiongkok Faxian (337โ€“422 Masehi), ฤ€nanda hidup hingga 120 tahun.[4] Namun kalau mengikuti garis waktu yang belakangan, ฤ€nanda diperkirakan hidup hingga usia 75โ€“85 tahun.[174] Sarjana bidang studi Buddha L. S. Cousins memperkirakan tanggal kematian ฤ€nanda adalah dua puluh tahun setelah kematian Sang Buddha.[186] Teks Buddhis Awal mengatakan bahwa ฤ€nanda telah mencapai parinibbฤna dan tidak akan terlahir kembali. Tetapi menurut Sลซtra Teratai Mahฤyฤna, ฤ€nanda dinyatakan akan terlahir kembali sebagai Buddha di masa depan. Dia akan memiliki jalan yang lebih panjang dari Buddha saat ini, Buddha Gautama, tetapi karena ฤ€nanda telah bercita-cita menjadi seorang Buddha dengan menerapkan proses "pembelajaran yang baik", maka pencerahannya kelak akan sangat megah dan luar biasa.[8][187]

Setelah kematian ฤ€nanda, para sesepuh melengkapi Theragatha dengan tiga kuatrain yang didedikasikan untuk parinirvana-nya, di mana mereka menyebut ฤ€nanda penjaga Dhamma, mata seluruh dunia dan sumber kebijaksanaan.[188] Murid terakhir ฤ€nanda, Majantika,[189] bersama dengan Sanavasa dan empat atau lima murid lainnya, membentuk mayoritas pada Sidang Buddhis Kedua.[190][14] Seorang murid dari Majantika adalah Upagupta yang digambarkan sebagai guru dari Kaisar Ashoka (abad ke-3 SM). Sumber-sumber Pali pasca-kanonik menyatakan bahwa Sanavasa memainkan peran utama dalam Sidang Buddhis Ketiga.[191] Meskipun tidak banyak yang dapat dipastikan secara historis, Cousins berpendapat bahwa setidaknya salah satu tokoh utama dalam Sidang Kedua adalah murid ฤ€nanda, karena hampir semua tradisi tekstual menyebutkan hubungan dengan ฤ€nanda.[192]

Raja Ajatasattu dikatakan telah membangun stupa di atas relik ฤ€nanda. Stupa tersebut terletak di Sungai Rohini, tetapi menurut sumber lain, dikatakan bahwa lokasinya ada di Sungai Gangga. Licchhavi juga membangun stupa di sisi sungai mereka.[193] Peziarah Tiongkok Xuanzang (602-664) kemudian mengunjungi kedua stupa tersebut.[194][195] Faxian juga melaporkan bahwa dia telah mengunjungi stupa yang didedikasikan untuk ฤ€nanda di Sungai Rohini[193] dan di Mathura.[196] Juga, menurut versi Mulasarvastivadin dari Sakmukta Agama, disebutkan bahwa Kaisar Ashoka mengunjungi lokasi tersebut dan memberikan persembahan paling mewah yang pernah dia berikan kepada sebuah stupa.[187] Dia menjelaskan kepada para menterinya bahwa dia melakukan hal tersebut karena โ€œtubuh Tathagata adalah tubuh Dharma, yang bersifat murni alami. Dia [ฤ€nanda] mampu menjaga itu semua; karena alasan inilah persembahan [baginya] lebih unggul [dari semua yang lain]." Ungkapan "tubuh Dharma" di sini mengacu pada ajaran Buddha secara keseluruhan.[191]

Warisan

sunting
Kuil dengan patung Buddha, diapit oleh ฤ€nanda dan Mahฤkassapa
Dalam ikonografi Mahฤyฤna, ฤ€nanda sering digambarkan mengapit Buddha di sisi kanan, bersama dengan Mahฤkassapa di kiri.

ฤ€nanda digambarkan sebagai seorang pembicara yang fasih,[197] yang sering mengajarkan tentang diri dan tentang meditasi.[198] Ada banyak teks Buddhis yang dikaitkan dengan ฤ€nanda, antara lain Atthakanฤgara Sutta, teks tentang metode meditasi untuk mencapai Nirwana; sebuah versi dari Bhaddekaratta Sutta (Sanskerta: Bhadrakฤrฤtrฤซ, Pinyin: shanye), teks tentang hidup di saat ini;[199][200] Sekha Sutta, teks tentang pelatihan tingkat yang lebih tinggi dari seorang siswa Buddha; dan Subha Suttanta, teks tentang praktik yang diilhami Buddha untuk diikuti orang lain.[201] Dalam Gopaka-Mogallฤnasutta, terjadi percakapan antara ฤ€nanda, brahmana Gopaka-Mogallฤna dan menteri Vassakara yang merupakan pejabat tertinggi di wilayah Magadha.[202][203] Dalam percakapan yang terjadi tak lama setelah kematian Sang Buddha ini, Vassakara bertanya apakah sudah diputuskan siapa yang akan menggantikan Sang Buddha. ฤ€nanda menjawab bahwa tidak ada penerus yang ditunjuk, tetapi komunitas Buddhis mengambil ajaran dan disiplin Buddha sebagai tempat berlindung.[204][203] Selain itu, saแน…gha tidak lagi memiliki Buddha sebagai guru, tetapi mereka akan menghormati para bhikkhu yang berbudi luhur dan dapat dipercaya.[203] Selain sutta-sutta ini, satu bagian dari Theragฤthฤ juga dikaitkan dengan ฤ€nanda.[205] Bahkan dalam teks-teks yang dikaitkan dengan Sang Buddha sendiri, ฤ€nanda terkadang digambarkan memberi nama pada teks tertentu, atau menyarankan perumpamaan kepada Sang Buddha untuk digunakan dalam ajarannya.[13]

Di Buddhisme Asia Timur, ฤ€nanda dianggap sebagai salah satu dari sepuluh murid utama.[206] Dalam banyak teks Sanskerta India dan Asia Timur, ฤ€nanda dianggap sebagai patriark kedua dalam silsilah patriark yang mentransmisikan ajaran Buddha, dengan Mahฤkassapa sebagai yang pertama dan Majjhantika[207] atau Saแน‡avฤsฤซ[208] menjadi yang ketiga. Ada sebuah catatan yang berasal dari tradisi tekstual Sarvฤstivฤda dan Mลซlasarvฤstivฤda yang menyatakan bahwa sebelum Mahฤkassapa meninggal, dia mewariskan ajaran Sang Buddha kepada ฤ€nanda sebagai pewaris otoritas secara resmi, lalu menyuruh ฤ€nanda untuk meneruskan ajaran tersebut kepada murid ฤ€nanda, Saแน‡avฤsฤซ.[209][210] Kemudian, tepat sebelum ฤ€nanda meninggal, dia melakukan seperti yang diperintahkan Mahฤkassapa kepadanya.[23] Sarjana studi Buddhis Akira Hirakawa dan Bibhuti Baruah meragukan hubungan antara guru dan murid antara Mahฤkassapa dan ฤ€nanda, dengan alasan bahwa ada ketidakharmonisan di antara keduanya, seperti yang ditunjukkan dalam teks-teks awal.[174][14] Terlepas dari itu, jelas dari teks-teks tersebut yang dimaksud adalah transmisi ajaran, bukanlah upajjhฤya (guru yang menasbihkan seseorang menjadi muridnya). Tidak ada sumber yang menunjukkan bahwa Mahฤkassapa adalah upajjhฤya dari ฤ€nanda.[211] Dalam ikonografi Mahฤyฤna, ฤ€nanda sering digambarkan berada di sisi kanan Sang Buddha, sementara Mahฤkassapa di sisi kiri.[212] Namun, dalam ikonografi Theravฤda, ฤ€nanda biasanya tidak digambarkan dengan cara ini,[213] dan motif transmisi Dhamma melalui daftar silsilah patriark tidak ditemukan dalam sumber-sumber Pฤli.[214]

Melukis dengan dua biksu, satu dengan ciri-ciri Asia Tengah, memegang jari telunjuknya di ibu jarinya; satu dengan ciri-ciri Asia Timur, memegang tangannya terlipat di depan.
Lukisan Tionghoa abad ke-8โ€“abad ke-9, menggambarkan dua bhikkhu mengenakan jubah yang terbuat dari potongan-potongan. Tradisi Pฤli mengatakan bahwa ฤ€nanda merancang jubah bhikkhu Buddha, berdasarkan struktur sawah.

Karena ฤ€nanda berperan penting dalam mendirikan komunitas bhikkhunฤซ, dia dihormati oleh para bhikkhunฤซ sepanjang sejarah Buddhis. Jejak paling awal dari hal ini dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Faxian dan Xuanzang,[66][215] yang melaporkan bahwa para bhikkhunฤซ memberikan persembahan kepada sebuah stลซpa untuk menghormati ฤ€nanda pada saat hari-hari penting seperti hari peringatan ataupun hari perayaan tertentu. Dalam konteks yang sama, di Tiongkok abad ke-5 hingga ke-6 di Tiongkok dan abad ke-10 di Jepang, teks-teks Buddhis yang disusun merekomendasikan wanita untuk menjunjung tinggi delapan sila semi-monastik sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada ฤ€nanda. Di Jepang, hal ini dilakukan dalam bentuk ritual penebusan dosa yang disebut keka (Hanzi: ๆ‚”้Ž). Pada abad ke-13, di Jepang minat yang mirip seperti kultus terhadap ฤ€nanda telah berkembang di sejumlah biara, di mana gambar dan stลซpa digunakan dan upacara diadakan untuk menghormatinya. Saat ini, pendapat para ahli terbagi mengenai apakah pemujaan ฤ€nanda di kalangan para bhikkhunฤซ tersebut dianggap sebagai ekspresi ketergantungan mereka pada tradisi monastik laki-laki, atau malah sebaliknya, dianggap sebagai ekspresi legitimasi dan kemandirian mereka.[216]

Teks-teks Vinaya Pฤli mengaitkan desain jubah bhikkhu Buddha dengan ฤ€nanda. Seiring berkembangnya Buddhisme, semakin banyak umat awam yang mulai menyumbangkan kain mahal untuk jubah, sehingga itu membuat para bhikkhu riskan menjadi sasaran pencurian. Untuk mengurangi nilai komersialnya, para bhikkhu memotong kain yang dipersembahkan menjadi potongan-potongan kecil, sebelum mereka menjahitnya menjadi jubah. Sang Buddha meminta ฤ€nanda untuk merancang model jubah Buddha, yang terbuat dari potongan-potongan kain kecil. ฤ€nanda merancang model jubah standar, berdasarkan sawah-sawah di Magadha, yang per bagiannya dibagi berdasarkan tanggul tanah.[217][13] Tradisi lain yang terkait dengan ฤ€nanda adalah pembacaan paritta. Umat Buddhis Theravฤda menjelaskan bahwa kebiasaan memercikkan air selama pembacaan paritta berasal dari tradisi saat kunjungan ฤ€nanda ke Vesฤlฤซ, yaitu ketika dia melafalkan Ratana Sutta dan memercikkan air dari mangkuk dana makanannya.[43][218] Tradisi ketiga yang kadang-kadang dikaitkan dengan ฤ€nanda adalah penggunaan pohon Bodhi dalam Buddhisme. Dijelaskan dalam teks Kฤliแน…gabodhi Jฤtaka bahwa ฤ€nanda menanam pohon Bodhi sebagai simbol pencerahan Sang Buddha, agar orang-orang mempunyai kesempatan untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha.[13][219] Pohon dan kuil ini kemudian dikenal sebagai Pohon Bodhi ฤ€nanda,[13] yang konon tumbuh dari benih Pohon Bodhi asli di mana Buddha digambarkan telah mencapai pencerahan.[220] Banyak kuil Pohon Bodhi di Asia Tenggara mengikuti contoh ini.[219] Saat ini, Pohon Bodhi ฤ€nanda kadang-kadang diidentikkan dengan sebuah pohon di reruntuhan Jetavana, Sฤvatthi, berdasarkan catatan Faxian.[220]

Dalam seni

sunting

Antara tahun 1856 dan 1858, Richard Wagner menulis draf naskah opera libretto berdasarkan cerita legenda tentang ฤ€nanda dan gadis kasta rendah Prakแน›ti. Dia hanya meninggalkan sketsa prosa yang terputus-putus dari sebuah karya yang di kemudian hari diberi judul Die Sieger. Topik tersebut selanjutnya mengilhami opera berikutnya Parsifal.[221] Selanjutnya, draft tersebut digunakan oleh komposer Jonathan Harvey dalam opera Wagner Dream pada tahun 2007.[222][223] Dalam cerita legenda versi Wagner, yang didasarkan pada terjemahan Eugรจne Burnouf, seorang orientalis, mantra gaib dari ibu Prakแน›ti tidak bekerja pada ฤ€nanda, dan Prakแน›ti pun akhirnya menghadap Sang Buddha untuk menjelaskan keinginannya terhadap ฤ€nanda. Sang Buddha menjawab bahwa persatuan antara Prakแน›ti dan ฤ€nanda adalah mungkin terjadi, tetapi Prakแน›ti harus menyetujui persyaratan yang diberikan oleh Sang Buddha. Prakแน›ti menyetujuinya, dan kemudian terungkap bahwa Buddha ternyata memiliki maksud yang berbeda dengan apa yang dia pikirkan: Sang Buddha meminta Prakแน›ti untuk ditahbiskan sebagai bhikkhunฤซ, dan menjalani kehidupan selibat dan akan menjadi semacam saudara perempuan bagi ฤ€nanda. Pada awalnya, Prakแน›ti menangis karena kaget, tetapi setelah Sang Buddha menjelaskan bahwa situasi tersebut bisa terjadi karena hasil dari karmanya dari kehidupan sebelumnya, dia pun memahami dan dengan senang hati menjalani kehidupannya sebagai seorang bhikkhunฤซ.[224] Terlepas dari tema spiritual, Wagner juga menyoroti kelemahan dari sistem kasta sehingga membuat Sang Buddha mengkritiknya.[221]

Mengambil inspirasi dari filosofi Schopenhauer, Wagner membandingkan keselamatan yang didorong oleh nafsu keinginan dan keselamatan spiritual yang sejati: dengan mencari pembebasan melalui orang yang dicintai, Prakแน›ti hanya memperkuat "keinginannya untuk hidup" (bahasa Jerman: Wille zum Leben), sehingga menghalanginya untuk mencapai pembebasan. Dengan menjadi bhikkhunฤซ, dia berusaha untuk keselamatan spiritualnya. Dengan demikian, catatan Buddhis awal tentang penahbisan Mahฤpajฤpati sebagai bhikkhunฤซ pertama digantikan oleh Prakแน›ti. Menurut Wagner, dengan mengizinkan Prakแน›ti menjadi bhikkhunฤซ, Sang Buddha juga menyelesaikan tujuan hidupnya sendiri: "Dia menganggap keberadaannya di dunia, tujuannya adalah untuk memberi manfaat bagi semua makhluk, dan tujuan tersebut telah tercapai, karena dia telah mampu menawarkan pembebasanโ€”tanpa perantaraโ€”juga kepada wanita."[225]

Legenda yang sama tentang ฤ€nanda dan Prakแน›ti juga diadaptasi menjadi drama prosa pendek berjudul Chandalika yang dibuat oleh penyair India Rabindranath Tagore. Chandalika mengangkat tema konflik spiritual, kasta dan kesetaraan sosial, serta mengandung kritik tajam terhadap masyarakat India. Sama seperti dalam kisah tradisional, Prakแน›ti jatuh cinta pada ฤ€nanda, setelah ฤ€nanda meningkatkan harga dirinya dengan menerima hadiah air darinya yang berkasta rendah. Selanjutnya ibu Prakแน›ti membacakan mantra untuk memikat ฤ€nanda. Namun, dalam drama Tagore, diceritakan bahwa Prakแน›ti kemudian menyesali perbuatannya dan mencabut mantra tersebut.[226][227]

Catatan

sunting
  1. ^ Dalam Manorathapurani tertulis โ€œTerlahir di dunia Tusita bersama dengan Bodhisatta, meninggal dunia di sana, dan terlahir kembali di rumah Sakya Amitodanaโ€. Secara umum ini diinterpretasikan sebagai lahir di hari yang sama dengan Sang Buddha
  2. ^ Menurut tradisi Mลซlasarvฤstivฤda, Sang Buddha berusia 50.[17]
  3. ^ Menurut tradisi Mลซlasarvฤstivฤda, ฤ€nanda lahir pada saat yang sama ketika Sang Buddha menjadi tercerahkan, dan karena itu lebih muda dari para siswa terkemuka lainnya. Alasan mengapa murid-murid lain tidak dipilih mungkin karena mereka terlalu tua untuk tugas itu.
  4. ^ Ananda mengajukan 4 syarat: 1. Sang Buddha tidak boleh memberikan jubah kepadanya, 2. Sang Buddha tidak boleh memberikan dana makanan yang diperuntukkan Sang Buddha kepadanya, 3. Sang Buddha tidak boleh menerima tempat tinggal yang diperuntukkan Sang Buddha kepadanya, 4. Sang Buddha tidak boleh mengikutsertakan dirinya dalam undangan pribadi yang ditujukan pada Sang Buddha
  5. ^ Anฤlayo mengutip von Hinรผber dengan kalimat ini
  6. ^ Ada perdebatan di antara aliran-aliran Buddhis awal mengenai arti kata โ€œkalpaโ€ dalam konteks ini. Beberapa aliran berpendapat bahwa โ€˜kalpaโ€™ merujuk pada usia manusia yang penuh, sementara aliran lain berpendapat bahwa makhluk yang telah mencapai pencerahan mampu menciptakan โ€œusia baru hanya dengan kekuatan meditasinyaโ€[84]
  7. ^ Menurut John Powers, Buddha hanya meninggalkan Vesฤlฤซ pada titik ini, dan bukan sebelumnya.[85]
  8. ^ Ini adalah versi yang paling terkenal dari kisah tersebut. Namun, teks-teks dari tradisi Sarvฤstivฤda, Mลซlasarvฤstivฤda, dan Mahฤซล›ฤsaka menyebutkan bahwa yang dimaksud sebenarnya adalah Aรฑรฑa Koแน‡แธaรฑรฑa (Sanskrit: ฤ€jรฑฤta Kauแน‡แธinya), karena Koแน‡แธaรฑรฑa adalah murid tertua.[106]
  9. ^ Sumber lain menyebutkan bahwa ia mengingat 60.000 kata dan 15.000 bait,[118] atau 10.000 kata.[120]
  10. ^ Beberapa komentator Mahฤyฤna berpendapat bahwa dalam beberapa kasus, kata-kata ini merupakan ucapan seorang โ€œbodhisattvaโ€ (seseorang yang berusaha menjadi Buddha) seperti Maรฑjuล›rฤซ.[121]
  11. ^ Buddha menyebutkan kepada ฤ€nanda bahwa โ€œaturan-aturan kecilโ€ dapat dihapuskan.[85]
  12. ^ Buddha menjawab dengan pembahasan tentang peran seorang guru, murid, dan ajaran, dan menyimpulkan bahwa ia sendiri telah menyampaikan ajarannya dengan baik. Ia melanjutkan bahwa perselisihan tentang disiplin monastik bukanlah masalah yang begitu besar, tetapi perselisihan tentang โ€œjalan dan caraโ€ itulah yang menjadi masalah.[163]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e f g h i j Witanachchi 1965, hlm.ย 529.
  2. ^ Aแน…guttaranikฤya. "AN 1.219". Suttacentral.
  3. ^ Hecker 2006, hlm.ย 3.
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m Buswell & Lopez 2013, ฤ€nanda.
  5. ^ Larson, Paul. "Ananda". Dalam Leeming, David A.; Madden, Kathryn; Marlan, Stanton (ed.). Encyclopedia of Psychology and Religion. Springer-Verlag. hlm.ย 35. ISBNย 978-0-387-71802-6.
  6. ^ a b Thera & Hecker 1997, hlm.ย 158.
  7. ^ Hecker 2006, hlm.ย 43.
  8. ^ a b c d e f g h Witanachchi 1965, hlm.ย 535.
  9. ^ a b c Sarao, K. T. S. (2004). "Ananda". Dalam Jestice, Phyllis G. (ed.). Holy People of the World: A Cross-cultural Encyclopedia. ABC-CLIO. hlm.ย 49. ISBNย 1-85109-649-3.
  10. ^ Hecker 2006, hlm.ย 5.
  11. ^ a b c Powers, John (2013). "ฤ€nanda". A Concise Encyclopedia of Buddhism. Oneworld Publications. ISBNย 978-1-78074-476-6.
  12. ^ a b c d e f g Keown 2004, hlm.ย 12.
  13. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s Malalasekera 1960, ฤ€nanda.
  14. ^ a b c d e Hirakawa 1993, hlm.ย 85.
  15. ^ Bareau, Andrรฉ (1988). "Les dรฉbuts de la prรฉdication du Buddha selon l'Ekottara-ฤ€gama" [The Beginning of the Buddha's Ministry According to the Ekottara ฤ€gama]. Bulletin de l'ร‰cole franรงaise d'Extrรชme-Orient (dalam bahasa Prancis). 77 (1): 94. doi:10.3406/befeo.1988.1742.
  16. ^ a b c Theragฤthฤ. "Theragฤthฤ 17.3 1042-1046". Suttacentral.
  17. ^ a b Witanachchi 1965, hlm.ย 530.
  18. ^ Witanachchi 1965, hlm.ย 529-30.
  19. ^ a b Witanachchi 1965, hlm.ย 529โ€“30.
  20. ^ Shaw 2006, hlm.ย 35.
  21. ^ Findly 2003, hlm.ย 371โ€“2.
  22. ^ a b Witanachchi 1965, hlm.ย 533.
  23. ^ a b c d e f g h Witanachchi 1965, hlm.ย 532.
  24. ^ Buswell & Lopez 2013, Vajraputra.
  25. ^ Findly 2003, hlm.ย 372.
  26. ^ a b Hellmuth 2006, hlm.ย 8.
  27. ^ Findly 2003, hlm.ย 376.
  28. ^ Mcneill, William (2011). Berkshire Encyclopedia of World History (Edisi 2nd). Berkshire Publishing Group. hlm.ย 270. ISBNย 978-1-61472-904-4.
  29. ^ a b c Findly 2003, hlm.ย 375.
  30. ^ Malalasekera 1960, Nฤlฤgiri.
  31. ^ a b Bodhi, Bhikkhu (2013). "Early Buddhist Disciples". Dalam Johnston, William M. (ed.). Encyclopedia of Monasticism. Routledge. hlm.ย 389. ISBNย 978-1-136-78716-4. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-04-09. Diakses tanggal 2022-07-13.
  32. ^ Findly 2003, hlm.ย 387.
  33. ^ Shaw 2006, hlm.ย 18.
  34. ^ Findly 2003, hlm.ย 368.
  35. ^ Majjhimanikฤya. "MN 88". Suttacentral.
  36. ^ a b Aแน…guttaranikฤya. "AN 3.80". Suttacentral.
  37. ^ Aแน…guttaranikฤya. "AN 3.78". Suttacentral.
  38. ^ Aแน…guttaranikฤya. "AN 10.115". Suttacentral.
  39. ^ Findly 2003, hlm.ย 377.
  40. ^ Buswell & Lopez 2013, Mallikฤ; ลšyฤmฤvatฤซ.
  41. ^ Bailey, Greg; Mabbett, Ian (2003). The Sociology of Early Buddhism (PDF). Cambridge University Press. hlm.ย 28. ISBNย 978-0-511-06296-4. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 15 Februari 2017. Diakses tanggal 12 September 2018.
  42. ^ Findly 2003, hlm.ย 389โ€“90.
  43. ^ a b Buswell & Lopez 2013, Ratanasutta.
  44. ^ Bodhi, Bhikkhu (2013). "Discourses". Dalam Johnston, William M. (ed.). Encyclopedia of Monasticism. Routledge. hlm.ย 394. ISBNย 978-1-136-78716-4. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-04-09. Diakses tanggal 2022-07-13.
  45. ^ Shaw 2006, hlm.ย 12.
  46. ^ Findly 2003, hlm.ย 375, 377.
  47. ^ Aแน…guttaranikฤya. "AN 4.159". Suttacentral.
  48. ^ Attwood, Jayarava (1 January 2008). "Did King Ajฤtasattu Confess to the Buddha, and did the Buddha Forgive Him?". Journal of Buddhist Ethics: 286. ISSNย 1076-9005. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 September 2018.
  49. ^ Ambros 2016, hlm.ย 243โ€“4.
  50. ^ Wilson, Liz (1996). Charming Cadavers: Horrific Figurations of the Feminine in Indian Buddhist Hagiographic Literature. University of Chicago Press. hlm.ย 107โ€“8. ISBNย 978-0-226-90054-4.
  51. ^ Buswell & Lopez 2013, ลšลซraแน…gamasลซtra.
  52. ^ Findly 2003, hlm.ย 379โ€“80.
  53. ^ Violatti, Cristian (9 Desember 2013). "Siddhartha Gautama". World History Encyclopedia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Agustus 2014. Diakses tanggal 29 Agustus 2018.
  54. ^ a b Ambros 2016, hlm.ย 241.
  55. ^ a b Ohnuma 2006, hlm.ย 862.
  56. ^ Ohnuma 2006, hlm.ย 872โ€“3.
  57. ^ a b Hinรผber 2007, hlm.ย 230โ€“1.
  58. ^ Ohnuma 2006, hlm.ย 871.
  59. ^ a b Ohnuma 2006, hlm.ย 865.
  60. ^ a b Krey, Gisela (2014). "Some Remarks on the Status of Nuns and Laywomen in Early Buddhism". Dalam Mohr, Thea; Tsedroen, Jampa (ed.). Dignity and Discipline: Reviving Full Ordination for Buddhist Nuns. Simon and Schuster. ISBNย 978-0-86171-830-6.
  61. ^ Ohnuma 2006, hlm.ย 865 n.9.
  62. ^ Jerryson, Michael (2013). "Buddhist Traditions and Violence". Dalam Juergensmeier, Mark; Kitts, Margo; Jerryson, Michael (ed.). The Oxford Handbook of Religion and Violence. Oxford University Press. ISBNย 978-0-19-975999-6.
  63. ^ Powers 2007, hlm.ย 53.
  64. ^ Raksachom, Krisana (2009). เธ›เธฑเธเธซเธฒเธเธฒเธฃเธ•เธตเธ„เธงเธฒเธกเธžเธฃเธฐเธžเธธเธ—เธ˜เธ•เธณเธฃเธฑเธชเธ•เนˆเธญเธžเธฃเธฐเธญเธฒเธ™เธ™เธ—เนŒเธซเธฅเธฑเธ‡เธเธฒเธฃเธšเธงเธŠเธ‚เธญเธ‡เธžเธฃเธฐเธ™เธฒเธ‡เธกเธซเธฒเธ›เธŠเธฒเธšเธ”เธตเน‚เธ„เธ•เธกเธต [Problems in Interpreting the Buddha's Words to Ven. ฤ€nanda after Ven. Mahฤpajฤpati Gotamฤซ's Ordination] (PDF). Journal of Buddhist Studies, Chulalongkorn University (dalam bahasa Thai). 16 (3): 88. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 1 Oktober 2018. Diakses tanggal 22 September 2018.
  65. ^ Findly 2003, hlm.ย 384.
  66. ^ a b Ambros 2016, hlm.ย 209.
  67. ^ Hinรผber 2007, hlm.ย 233โ€“4.
  68. ^ Hinรผber 2007, hlm.ย 235โ€“7.
  69. ^ Ohnuma, Reiko (2013). "Bad Nun: Thullanandฤ in Pฤli Canonical and Commentarial Sources" (PDF). Journal of Buddhist Ethics. 20: 51. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 1 October 2018.
  70. ^ a b Findly 1992, hlm.ย 253โ€“4.
  71. ^ Muldoon-Hules, Karen (2017). Brides of the Buddha: Nuns' Stories from the Avadanasataka. Lexington Books. hlm.ย 4. ISBNย 978-1-4985-1146-9.
  72. ^ Anฤlayo, Bhikkhu (2008). "Theories on the Foundation of the Nuns' Order: A Critical Evaluation" (PDF). Journal of the Centre for Buddhist Studies. 6: 125. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 11 September 2018.
  73. ^ Buswell & Lopez 2013, Udฤyin.
  74. ^ Hecker 2006, hlm.ย 15.
  75. ^ a b Buswell & Lopez 2013, Mahฤparinibbฤnasuttanta; Veแน‡ugrฤmaka.
  76. ^ Powers 2007, hlm.ย 54.
  77. ^ Majjhimanikฤya. "DN 16". Suttacentral.
  78. ^ a b c Buswell & Lopez 2013, Mahฤparinibbฤnasuttanta.
  79. ^ Harvey 2013, hlm.ย 26.
  80. ^ Obeyesekere, Gananath (2017). "The Death of the Buddha: A Restorative Interpretation". The Buddha in Sri Lanka: Histories and Stories. Taylor & Francis. ISBNย 978-1-351-59225-3.
  81. ^ a b c d Lopez 2017, hlm.ย 88.
  82. ^ Bareau 1979, hlm.ย 80:"En outre, cet รฉpisode trรจs beau, touchant de noblesse et de vraisemblance psychologique tant en ce qui regarde ร‚nanda qu'en ce qui concerne le Buddha, paraรฎt bien remonter trรจs loin, ร  l'รฉpoque oรน les auteurs, comme les autres disciples, considรฉraient encore le Bienheureux comme un homme, un maรฎtre รฉminemment respectable mais nullement divinisรฉ, auquel on prรชtait un comportement et des paroles tout ร  fait humaines, de telle sorte qu'on est mรชme tentรฉ de voir lร  le souvenir d'une scรจne rรฉelle qu'ร‚nanda aurait racontรฉe ร  la Communautรฉ dans les mois qui suivirent le Parinirvรขna."
  83. ^ Buswell & Lopez 2013, Mฤra.
  84. ^ Jaini, P. S. (1958). "Buddha's Prolongation of Life". Bulletin of the School of Oriental and African Studies. 21 (3): 547โ€“8, 550. doi:10.1017/S0041977X0006016X.
  85. ^ a b c Powers 2007, hlm.ย 55.
  86. ^ Olson 2005, hlm.ย 33.
  87. ^ Hansen 2008, hlm.ย 45, 51.
  88. ^ a b Buswell & Lopez 2013, Kuล›ingarฤซ.
  89. ^ Olson 2005, hlm.ย 34.
  90. ^ Warder, A. K. (2000). Indian Buddhism (PDF) (Edisi 3rd). Motilal Banarsidass Publishers. ISBNย 81-208-0818-5. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 11 September 2015.
  91. ^ Ray 1994, hlm.ย 361.
  92. ^ Silk, Jonathan A. (2005) [2002]. "What, If Anything, Is Mahฤyฤna Buddhism?" (PDF). Dalam Williams, Paul (ed.). Buddhism: Critical Concepts in Religious Studies, 3: The Origins and Nature of Mahฤyฤna Buddhism. Routledge. hlm.ย 398. ISBNย 0-415-33229-X. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 20 October 2015.
  93. ^ Ray 1994, hlm.ย 339, 359.
  94. ^ Bareau 1979, hlm.ย 67, 71, 73.
  95. ^ Lopez 2017, hlm.ย 3, 88โ€“9.
  96. ^ Powers, John (2015). "Buddhas and Buddhisms". Dalam Powers, John (ed.). The Buddhist World. Routledge. ISBNย 978-1-317-42016-3.
  97. ^ Ray 1994, hlm.ย 363โ€“4.
  98. ^ Findly 1992, hlm.ย 256.
  99. ^ Freedman 1977, hlm.ย 26โ€“7.
  100. ^ Ray 1994, hlm.ย 369, 392 n.80.
  101. ^ Hansen 2008, hlm.ย 53.
  102. ^ a b Prebish 2005, hlm.ย 226.
  103. ^ Mukherjee 1994, hlm.ย 466.
  104. ^ Strong, John S. (1977). ""Gandhakuแนญฤซ": The Perfumed Chamber of the Buddha". History of Religions. 16 (4): 398โ€“9. doi:10.1086/462775. JSTORย 1062638. S2CIDย 161597822.
  105. ^ a b c Thorp, Charley Linden (3 April 2017). "The Evolution of Buddhist Schools". World History Encyclopedia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 August 2018. Diakses tanggal 29 August 2018.
  106. ^ a b Prebish 2005, hlm.ย 230.
  107. ^ Powers 2007, hlm.ย 56.
  108. ^ Prebish 2005, hlm.ย 225โ€“6.
  109. ^ Buswell & Lopez 2013, Mahฤkฤล›yapa.
  110. ^ Buswell & Lopez 2013, ฤชryฤpatha; Mahฤkฤล›yapa.
  111. ^ a b c Filigenzi 2006, hlm.ย 271.
  112. ^ Buswell & Lopez 2013, ฤ€nanda; ฤชryฤpatha.
  113. ^ a b Shaw 2006, hlm.ย 17โ€“8.
  114. ^ a b Prebish 2005, hlm.ย 231.
  115. ^ a b Keown 2004, hlm.ย 164.
  116. ^ a b MacQueen 2005, hlm.ย 314.
  117. ^ Powers 2007, hlm.ย 57โ€“8.
  118. ^ a b c d Buswell & Lopez 2013, Council, 1st.
  119. ^ Lamotte 1988, hlm.ย 148.
  120. ^ a b Gwynne, Paul (2017). "Books". World Religions in Practice: A Comparative Introduction. John Wiley & Sons. ISBNย 978-1-118-97227-4.
  121. ^ Buswell & Lopez 2013, Evaแนƒ mayฤ ล›rutam.
  122. ^ Buswell & Lopez 2013, Saแนƒgฤซtikฤra.
  123. ^ Lamotte 2005a, hlm.ย 190.
  124. ^ a b Norman 1983, hlm.ย 8.
  125. ^ Davidson 1990, hlm.ย 305.
  126. ^ Lamotte 2005b, hlm.ย 256.
  127. ^ Davidson 1990, hlm.ย 308.
  128. ^ Chakravarti, Uma. The Social Dimensions of Early Buddhism. Munshiram Manoharlal Publishers.
  129. ^ a b c Hecker 2006, hlm.ย 69.
  130. ^ Buswell & Lopez 2013, ฤ€nanda; Cฤpฤlacaitya; Council, 1st.
  131. ^ Hinรผber 2007, hlm.ย 235โ€“6.
  132. ^ Freedman 1977, hlm.ย 470.
  133. ^ Ohnuma 2006, hlm.ย 867.
  134. ^ Buswell & Lopez 2013, Cฤpฤlacaitya.
  135. ^ a b Ch'en, Kenneth (1958). "The Mahฤparinirvฤnasลซtra and The First Council". Harvard Journal of Asiatic Studies. 21: 132. doi:10.2307/2718621. JSTORย 2718621.
  136. ^ Tsukamoto 1963, hlm.ย 820.
  137. ^ Tsukamoto 1963, hlm.ย 821.
  138. ^ Findly 1992, hlm.ย 254.
  139. ^ Freedman 1977, hlm.ย 487.
  140. ^ Bareau 1979, hlm.ย 70, 79โ€“80.
  141. ^ Findly 1992, hlm.ย 268.
  142. ^ Harvey 2013, hlm.ย 88.
  143. ^ Gombrich, Richard (2006). How Buddhism Began: The Conditioned Genesis of the Early Teachings (Edisi 2nd). Routledge. hlm.ย 96โ€“7. ISBNย 978-0-415-37123-0.
  144. ^ Hirakawa 1993, hlm.ย 69.
  145. ^ Mukherjee 1994, hlm.ย 453.
  146. ^ Mukherjee 1994, hlm.ย 454โ€“6.
  147. ^ MacQueen 2005, hlm.ย 314โ€“5.
  148. ^ Mukherjee 1994, hlm.ย 457.
  149. ^ Gombrich 2018, hlm.ย 73.
  150. ^ Findly 2003, hlm.ย 376โ€“7.
  151. ^ Kinnard, Jacob (2006). "Buddhism" (PDF). Dalam Riggs, Thomas (ed.). Worldmark Encyclopedia of Religious Practices. Thomson Gale. hlm.ย 62. ISBNย 0-7876-6612-2. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 11 September 2018.
  152. ^ Aแน…guttaranikฤya. "AN 1.188-267 Etadaggavagga". Suttacentral.
  153. ^ a b ย Satu atau lebih kalimat sebelum iniย menyertakan teks dari suatu terbitan yang sekarang berada pada ranah publik:ย Rhys Davids, Thomas William (1911). "ฤ€nanda"ย . Dalam Chisholm, Hugh (ed.). Encyclopรฆdia Britannica. Vol.ย 1 (Edisi 11). Cambridge University Press. hlm.ย 913. ;
  154. ^ Dฤซghanikฤya. "DN 16 Mahฤparinibbฤnasutta". Suttacentral.
  155. ^ Findly 2003, hlm.ย 395.
  156. ^ Hansen 2008, hlm.ย 51.
  157. ^ Findly 2003, hlm.ย 378.
  158. ^ Pฤsฤdika, Bhikkhu (2004). "ฤ€nanda" (PDF). Dalam Buswell, Robert E. (ed.). Encyclopedia of Buddhism. Vol.ย 1. Macmillan Reference USA, Thomson Gale. hlm.ย 17. ISBNย 0-02-865719-5. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 12 September 2015.
  159. ^ Findly 2003, hlm.ย 370.
  160. ^ Buswell & Lopez 2013.
  161. ^ Clasquin 2013, hlm.ย 7.
  162. ^ Gethin 2001, hlm.ย 232.
  163. ^ Gethin 2001, hlm.ย 232-4.
  164. ^ a b Findly 2003, hlm.ย 375โ€“6.
  165. ^ Findly 2003, hlm.ย 372, 390โ€“1.
  166. ^ a b Shaw 2006, hlm.ย 115.
  167. ^ Swearer, Donald K. (1995). The Buddhist World of Southeast Asia. SUNY Press. hlm.ย 209. ISBNย 978-0-7914-2459-9.
  168. ^ Findly 2003, hlm.ย 379.
  169. ^ Filigenzi 2006, hlm.ย 270โ€“1.
  170. ^ Findly 1992, hlm.ย 261โ€“3.
  171. ^ Findly 2003, hlm.ย 378โ€“9.
  172. ^ Bareau, Andrรฉ (1991). "Les agissements de Devadatta selon les chapitres relatifs au schisme dans les divers Vinayapitaka". Bulletin de l'ร‰cole franรงaise d'Extrรชme-Orient (dalam bahasa Prancis). 78 (1): 92, 94โ€“5, 107, 109โ€“10. doi:10.3406/befeo.1991.1769.
  173. ^ Findly 2003, hlm.ย 373.
  174. ^ a b c Baruah 2000, hlm.ย 10.
  175. ^ Buswell & Lopez 2013, Veแน‡uvanavihฤra.
  176. ^ a b Buswell & Lopez 2013, Madhyฤntika.
  177. ^ Baruah 2000, hlm.ย 8.
  178. ^ a b c Strong 1994, hlm.ย 65.
  179. ^ Baruah 2000, hlm.ย 8, 453.
  180. ^ Witanachchi 1965, hlm.ย 534โ€“5.
  181. ^ John S. Strong (2007). Relics of the Buddha. hlm.ย 45โ€“46. ISBNย 978-0691117645.
  182. ^ Ray 1994, hlm.ย 109.
  183. ^ Vogel, Jean-Philippe (1905). "Le Parinirvร na d' nanda, d'aprรจs un bas-relief grรฉco-bouddhique" [ฤ€nanda's Parinirvฤna, According to a Greco-Buddhist Bas-relief]. Bulletin de l'ร‰cole franรงaise d'Extrรชme-Orient (dalam bahasa Prancis). 5 (1): 418. doi:10.3406/befeo.1905.2660.
  184. ^ Strong 1994, hlm.ย 66.
  185. ^ Higham, Charles F. W. (2004). Encyclopedia of Ancient Asian Civilizations (PDF). Facts On File. hlm.ย 10. ISBNย 0-8160-4640-9.
  186. ^ Cousins, L. S. (2005). "The 'Five Points' and the Origins of the Buddhist Schools". Dalam Skorupski, T. (ed.). The Buddhist Forum Volume II: Seminar Papers 1988โ€“90. Routledge. hlm.ย 30. ISBNย 978-1-135-75237-8. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 17 September 2018.
  187. ^ a b The Venerable Balangoda ฤ€nanda Maitreya:. Princeton University Press. 2021-03-09. hlm.ย 299โ€“313.
  188. ^ Yakan. Cham: Springer International Publishing. 2016. hlm.ย 361โ€“361.
  189. ^ Baruah 2000, hlm.ย 11.
  190. ^ Baruah 2000, hlm.ย 8-11.
  191. ^ a b Buddhismย : critical concepts in religious studies. Paul Williams. London: Routledge. 2005. ISBNย 0-415-33226-5. OCLCย 57493685. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-07. Diakses tanggal 2022-08-11. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
  192. ^ Cousins, L. S. (2005). "The 'Five Points' and the Origins of the Buddhist Schools". Dalam Skorupski, T. (ed.). The Buddhist Forum Volume II: Seminar Papers 1988โ€“90. Routledge. hlm.ย 30. ISBNย 978-1-135-75237-8. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 17 September 2018.
  193. ^ a b Paultre de Lamotte, Jacques (1988). "Fiscalitรฉ des O.P.C.V.M". Revue franรงaise d'รฉconomie. 3 (1): 81โ€“95. doi:10.3406/rfeco.1988.1169. ISSNย 0769-0479.
  194. ^ Holy people of the worldย : a cross-cultural encyclopedia. Phyllis G. Jestice. Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO. 2004. ISBNย 1-85109-649-3. OCLCย 57407318. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
  195. ^ Higham, Charles (2004). Encyclopedia of ancient Asian civilizations. New York: Facts On File. ISBNย 0-8160-4640-9. OCLCย 51978070. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-07-15. Diakses tanggal 2022-08-11.
  196. ^ Collected papers on Buddhist studies. Padmanabh S. Jaini (Edisi 1st ed). Delhi: Motilal Banarsidass Publishers. 2001. ISBNย 81-208-1776-1. OCLCย 47208728. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
  197. ^ Bodhi, Bhikkhu (2013). "Early Buddhist Disciples". Dalam Johnston, William M. (ed.). Encyclopedia of Monasticism. Routledge. hlm.ย 389. ISBNย 978-1-136-78716-4.
  198. ^ Findly 2003, hlm.ย 381.
  199. ^ Buswell & Lopez 2013, Atthakanฤgarasutta; Bhaddekarattasutta.
  200. ^ Norman 1983, hlm.ย 48.
  201. ^ Buswell & Lopez 2013, Sekhasutta; Subhasuttanta.
  202. ^ Clasquin 2013, hlm.ย 10.
  203. ^ a b c Wijayaratna 1990, hlm.ย 153.
  204. ^ Clasquin 2013, hlm.ย 10โ€“11.
  205. ^ Reynolds, Frank; Shirkey, Jeff (2006). Safra, Jacob E.; Aguilar-Cauz, Jorge (ed.). Britannica Encyclopedia of World Religions. Encyclopaedia Britannica. hlm.ย 47. ISBNย 978-1-59339-491-2. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-10-02. Diakses tanggal 2019-09-17.
  206. ^ Nishijima, Gudo Wafu; Cross, Shodo (2008). Shลbลgenzลย : The True Dharma-Eye Treasury (PDF). Numata Center for Buddhist Translation and Research. hlm.ย 32 n.119. ISBNย 978-1-886439-38-2. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2 August 2017.
  207. ^ Buswell & Lopez 2013, Damoduoluo chan jing; Madhyฤntika.
  208. ^ Welter, Albert (2004). "Lineage" (PDF). Dalam Buswell, Robert E. (ed.). Encyclopedia of Buddhism. Vol.ย 2. Macmillan Reference USA, Thomson Gale. hlm.ย 462โ€“3. ISBNย 0-02-865720-9. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2018-06-29. Diakses tanggal 2019-09-16.
  209. ^ Baruah 2000, hlm.ย 9, 453.
  210. ^ Strong 1994, hlm.ย 62.
  211. ^ Hirakawa 1993, hlm.ย 86.
  212. ^ Buswell & Lopez 2013, Er xieshi.
  213. ^ Edkins, Joseph (2013). Chinese Buddhism: A Volume of Sketches, Historical, Descriptive and Critical. Routledge. hlm.ย 42โ€“3. ISBNย 978-1-136-37881-2.
  214. ^ Lamotte 1988, hlm.ย 210.
  215. ^ Gyatso, Janet (2014). "Female Ordination in Buddhism: Looking into a Crystal Ball, Making a Future". Dalam Mohr, Thea; Tsedroen, Jampa (ed.). Dignity and Discipline: Reviving Full Ordination for Buddhist Nuns. Simon and Schuster. ISBNย 978-0-86171-830-6.
  216. ^ Ambros 2016, hlm.ย 210โ€“12, 214, 216โ€“8, 245โ€“6.
  217. ^ Wijayaratna 1990, hlm.ย 36.
  218. ^ Gombrich, Richard (1995). Buddhist Precept and Practice: Traditional Buddhism in the Rural Highlands of Ceylon. Routledge. hlm.ย 240. ISBNย 978-0-7103-0444-5.
  219. ^ a b Gutman, Pamela; Hudson, Bob (2012). "A First-Century Stele from Sriksetra". Bulletin de l'ร‰cole franรงaise d'Extrรชme-Orient. 99 (1): 29. doi:10.3406/befeo.2012.6151.
  220. ^ a b Svasti, Pichaya (4 Mei 2017). "The Path to Nirvana". Bangkok Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Oktober 2018. Diakses tanggal 24 September 2018.
  221. ^ a b Wagner, R. (10 August 1889) [1856]. "Sketch of Wagner's 'Die Sieger'". The Musical World. 69 (32): 531. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 October 2018.
  222. ^ "Jonathan Harvey's Wagner Dream, Opera on 3 - BBC Radio 3". BBC. May 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 November 2015.
  223. ^ App 2011, hlm.ย 42โ€“3.
  224. ^ App 2011, hlm.ย 33โ€“4, 43.
  225. ^ App 2011, hlm.ย 34โ€“5:"... und somit seine erlรถsenden, allen Wesen zugewendeten Weltlauf als volendet ansieht, da er auch dem Weibeโ€”unmittelbarโ€”die Erlรถsung zusprechen konnte."
  226. ^ Jain, R. (2016). "Tagore's Drama Synthesis of Myths, Legends and Folklores: A Medium of Social Reformation". Dialogue โ€“ A Journal Devoted to Literary Appreciation. 12 (1): 71. ISSNย 0974-5556. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Oktober 2018. Diakses tanggal 1 Oktober 2018.
  227. ^ Chowdurie, Tapati (27 April 2017). "Quenching Prakriti's Thirst..." The Hindu. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 October 2018. Diakses tanggal 24 September 2018.

Daftar Pustaka

sunting

Pranala luar

sunting


Jabatan Buddha
Didahului oleh:
Mahฤkassapa
Silsilah Patriark Zen
(Berdasarkan aliran Zen di Tiongkok dan Jepang)
Diteruskanย oleh:
Shanavasa

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Ananda (politikus)

Ananda Krista Algani (lahir 3 Juni 1984) sering dipanggil Ananda adalah seorang dokter, politikus dan ratu kecantikan yang menjabat sebagai Wakil Wali

Ananda Omesh

Ananda Rusdiana, dikenal sebagai Ananda Omesh (lahir 21 Agustus 1986) adalah seorang aktor, pelawak, presenter, dan penyiniar Indonesia. Ia dikenal secara

Selvi Ananda

Selvi Ananda Putri (lahir 9 Januari 1989) adalah istri dari Wakil Presiden Indonesia ke-14 yakni Gibran Rakabuming Raka sekaligus menantu dari Presiden

Azrul Ananda

Azrul Ananda (lahir 4 Juli 1977) adalah pengusaha Indonesia. Ia adalah CEO Persatuan Sepak bola Surabaya (Persebaya) sejak 2017. Sebelumnya, Azrul yang

Ananda Faturrahman

Ananda Novi Lontoh (lahir 27 Desember 1980), lebih dikenal sebagai Ananda Faturrahman adalah pemeran dan model Indonesia. Ananda Novi Lontoh lahir pada

Ananda Mikola

Ananda Mikola Soeprapto (akrab dikenal sebagai Ananda Mikola) (lahir 27 April 1980) adalah pembalap nasional Indonesia berdarah Jawa. Ananda tampil di

Ananda Marga

รnanda Mรกrga (terj. har.โ€‰'Jalan Kebahagiaan', juga dieja Anand Marg dan Ananda Marg), atau secara resmi รnanda Mรกrga Pracรกraka Saแธฟgha (organisasi untuk

Gibran Rakabuming Raka

pelanggaran hukum konkret.. Pada 11 Juni 2015, Gibran menikah dengan Selvi Ananda, pemenang kontes kecantikan Puteri Solo (Miss Solo) 2009. Mereka bertemu