Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Kerajaan Sriwijaya muncul pada akhir abad ke-7 menandai keberadaannya sebagai salah satu kekuatan maritim tertua dan berpengaruh di Asia Tenggara. Berasal dari bagian selatan Sumatera, Sriwijaya berkembang menjadi negara maritim yang menguasai rute laut utama melalui Selat Malaka.[1] Kemunculannya bertepatan dengan proses Indianisasi yang lebih luas, di mana unsur-unsur budaya, bahasa, dan agama India menyebar ke seluruh wilayah. Sriwijaya menempati posisi sentral dalam sejarah Nusantara sebagai pusat penyebaran pengaruh kebudayaan dan ajaran Buddha, sekaligus mempertahankan perannya sebagai entitas ekonomi dan politik yang menghubungkan berbagai kawasan di bagian barat kepulauan Indonesia.[2]
Bukti awal keberadaan kerajaan ini ditemukan melalui Prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh 682 Masehi, Prasasti tersebut mencatat suatu perjalanan suci (siddhayatra) yang dipimpin oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa, yang dipahami sebagai ekspedisi politik dan keagamaan untuk memperluas wilayah kekuasaan sekaligus menata struktur pemerintahan awal masa kerajaan.[3][4] Selain itu, catatan perjalanan biksu Tiongkok, I-Tsing (Yijing) yang singgah pada tahun 671 Masehi di kerajaan Sriwijaya memberikan gambaran bahwa Sriwijaya pada saat itu telah menjadi pusat pendidikan dan kegiatan pengajaran Buddha Mahayana. Dalam catatannya, I-Tsing menuliskan bahwa banyak pelajar datang dari berbagai wilayah Asia ke Sriwijaya untuk mempelajari tata bahasa Sanskerta dan Vinaya. Sriwijaya menjadi titik berkumpulnya para biksu Buddha, pelajar agama, dan cendekiawan sebelum mereka melakukan pembelajaran ke India yang bertujuan untuk memperdalam pengetahuan Buddhis.[5][6]
Penggunaan aksara Pallawa dan Bahasa Sanskerta di Sriwijaya tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan bagian dari proses Indianisasi yang berlangsung sejak awal abad pertama hingga abad ke-7 Masehi. Hal ini juga didukung dengan Letak Sriwijaya yang strategis di jalur Selat Malaka menjadikannya tempat persinggahan pedagang dari India Selatan, Tiongkok, maupun Asia Barat, sehingga pertukaran budaya maupun agama mudah terjadi.[7] Bahasa Sanskerta dan Aksara pallawa juga digunakan dalam penulisan prasasti-prasasti awal Sriwijaya, seperti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan Kota Kapur, hal ini menjadi bukti bahwa lingkungan Sriwijaya telah sejak dini menerima tradisi literasi India.[8][9] Dalam beberapa penelitian, penggunaan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa di Sriwijaya dipahami bukan sebagai bahasa sehari-hari, melainkan sebagai liturgis dan simbol kekuasaan, karena memiliki kedudukan tertinggi dalam agama Hindu Buddha serta digunakan secara luas dalam teks suci dan akademik di Asia Selatan.[10][11][12] Dengan demikian, pemakaian Sanskerta menjadi sarana untuk melegitimasi kekuasaan raja dan menunjukkan hubungan intelektual dengan pusat-pusat pembelajaran Buddhis seperti Nalanda di India.[13]
Hubungan Sriwijaya dengan Universitas Nalanda di India
suntingHubungan antara kerajaan Sriwijaya dan Universitas Nalanda di India merupakan salah satu bukti kuat akan peran Sriwijaya sebagai pusat pendidikan Buddha internasional. Catatan perjalanan oleh I-Tsing seorang biksu yang berasal dari Dinasti Tang pada abad ke-7 menegaskan bahwa para pelajar dari Tiongkok disarankan untuk belajar terlebih dahulu di Sriwijaya selama 1 sampai 2 tahun guna mempersiapkan diri sebelum melanjutkan pembelajaran agama buddha di Nalanda. Menurut I-Tsing, saat itu Sriwijaya memiliki ratusan biksu yang memahami tata bahasa Sanskerta, Vinaya (disiplin monastik), serta ajaran Buddha Mahayana dengan baik.[5][6]
Salah satu bukti tertulis paling penting mengenai hubungan Sriwijaya dengan Nalanda adalah prasasti Nalanda di India. Prasasti ini berasal dari abad ke-9 Masehi, mencatat bahwa Raja Balaputradewa dari kerajaan Sriwijaya membangun atau menyumbang sebuah vihara atau asrama di kompleks Universitas Nalanda (Maha Vihara Nalanda), yang diperuntukkan bagi para pelajar agama dan biksu dari Sriwijaya yang sedang menuntut ilmu di sana. Hal ini menjadi bukti adanya dukungan diplomatik dan finansial dari Sriwijaya terhadap institusi keilmuan Buddha terbesar di India pada masa itu.[14][15]
Penelitian modern juga menegaskan bahwa hubungan keduanya bukan sebatas kedekatan keagamaan, tetapi juga melibatkan kerja sama intelektual dan politik. Bantuan Sriwijaya ke Nalanda memperlihatkan upaya kerajaan untuk memperoleh legitimasi spiritual dari pusat Buddhisme di India, sekaligus memperkuat posisinya dalam jaringan internasional Buddhisme Mahayana di Asia Selatan dan Tenggara.[16]
Rujukan
sunting- ^ Wahby, Ahmed E. I. (2007). The Architecture of the Early Mosques and Shrines of Java: Influences of the Arab Merchants in the 15th and 16th Centuries? Volume 1: The Text. Faculty of Humanities and Cultural Sciences, Otto-Friedrich University of Bamberg.
- ^ Coedรจs, George. The Indianized States of Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press, 1975, hlm. 82โ83.
- ^ Guntur Adi Putra. "Menilik Diplomasi Pendidikan Agama Buddha oleh Kerajaan Sriwijaya dalam Prasasti Nalanda Abad ke-9 M." Historiografi: Journal of Indonesian History and Education, Vol. 1 No. 3 (2021), hlm. 343-344.
- ^ Coedรจs, George. The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press, 1975, hlm. 81โ84.
- ^ a b Wicahyah, D., Asyari, A. K., Irwanto, D., & Susanti, L. R. R. (2022). "The Relationship between Buddhist Education in Sriwijaya and Buddhist Education in India." Ilomata International Journal of Social Science, 3(3), 303โ313. https://doi.org/10.52728/ijss.v3i3.483
- ^ a b I-Tsing. A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago. Terjemahan oleh J. Takakusu. Oxford: Clarendon Press, 1896, hlm. 23โ24. Daring diakses dari: https://archive.org/details/recordofbuddhist00ichi
- ^ Coedรจs, George. The Indianized States of Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press, 1975, hlm. 37โ39. Diakses melalui Internet Archive: https://archive.org/details/indianizedstatesofsea (akses 3 November 2025).
- ^ Coedรจs, George. The Indianized States of Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press, 1975, hlm. 37โ39, 82โ84.
- ^ Casparis, J. G. de. (1975). Indonesian Palaeography. Leiden: Brill. Diakses dari https://books.google.com/books?id=9pxjEAAAQBAJ pada [tanggal akses], hlm. 20โ22.
- ^ Manguin, Pierre-Yves. "Sriwijaya: The First Great Maritime Empire of Southeast Asia", dalam Glover, Ian & Bellwood, Peter (eds.). Southeast Asia: From Prehistory to History. London/New York: RoutledgeCurzon, 2004, hlm. 285โ288. Tersedia daring di ResearchGate: https://www.researchgate.net/publication/292124873_The_archaeology_of_early_maritime_polities_of_Southeast_Asia (diakses pada 3 November 2025).
- ^ Casparis, J. G. de. Indonesian Palaeography. Leiden: Brill, 1975, hlm. 20โ22.
- ^ Coedรจs, George. The Indianized States of Southeast Asia. Terjemahan oleh Susan Brown Cowing. Honolulu: University of Hawaii Press, 1975, hlm. 81โ84. Versi daring tersedia di Internet Archive: https://archive.org/details/theindianizedstatesofsoutheastasia atau Australian National University Repository: https://openresearch-repository.anu.edu.au/items/bc4b4619-34db-46f1-8358-c35e97778ce3
- ^ Wicahyah, Diah; Asyari, Alvian Kisna; Irwanto, Dedi; Susanti, L.R. Retno (2022). "The Relationship between Buddhist Education in Sriwijaya and Buddhist Education in India". Ilomata International Journal of Social Science. 3(3): 303โ313. PDF tersedia di: https://www.ilomata.org/index.php/ijss/article/download/483/299/ (diakses 3 November 2025).
- ^ Coedรจs, George. The Indianized States of Southeast Asia. Terjemahan oleh Susan Brown Cowing. Honolulu: University of Hawaii Press, 1975, hlm. 94โ96. Akses daring melalui Internet Archive: https://archive.org/details/theindianizedstatesofsoutheastasia atau melalui Australian National University (ANU) Repository: https://openresearch-repository.anu.edu.au/items/bc4b4619-34db-46f1-8358-c35e97778ce3
- ^ Putra, Guntur Adi. "Menilik Diplomasi Pendidikan Agama Buddha oleh Kerajaan Sriwijaya dalam Prasasti Nalanda Abad ke-9 M." Historiography: Journal of Indonesian History and Education, Vol. 1, No. 3, 2021, hlm. 345โ348. Universitas Negeri Malang. Daring: https://journal.um.ac.id/index.php/historiography/article/view/72764
- ^ de Casparis, J. G. Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia from the Beginnings to c. 1500. Leiden: Brill, 1975, hlm. 18โ20. ISBN 9789004037995. Daring: https://archive.org/details/indonesianpalaeography