Pertempuran Ascalon
Bagian dari Perang Salib
Tanggal12 Agustus 1099
LokasiAshkelon
Hasil Kemenangan Pasukan Salib
Pihak terlibat
Pasukan Salib Fatimiyah
Tokoh dan pemimpin

Godefroy dari Bouillon

Robert II, Graf Flandria
Malik al-Afdhal
Kekuatan
Kemungkinan 10.000 Kemungkinan 50.000
Korban
Tak diketahui Kemungkinan 10-12.000

Pertempuran Ascalon adalah pertempuran yang terjadi antara pasukan Fatimiyah dengan Pasukan Salib pada tanggal 12 Agustus 1099, dianggap sebagai salah satu pertempuran akhir Perang Salib I.

Pihak Pasukan Salib dipimpin oleh Godefroy de Bouillon. Pasukan Al-Afdhal, wazir Fatimiyah dari Mesir, yang kemungkinan memimpin 50.000 pasukan, yang awalnya berencana mengepung Pasukan Salib di Yerusalem. Pasukannya terdiri atas bangsa Turki Seljuk, Arab, Persia, Armenia, Kurdi, dan Etiopia. Sang wazir keberatan menyerang kota suci, dan menempatkan kedudukan di Ascalon (Ashkelon). Tampaknya ia tak sadar bahwa Pasukan Salib sudah meninggalkan kota untuk berjumpa dengannya.

Pada tanggal 11 Agustus, Pasukan Salib menemukan banteng, domba, unta, dan kambing, merumput di luar kota. Hewan-hewan itu sengaja ditempatkan Fatimiyah sebagai umpan kepada Pasukan Salib. Namun, Pasukan Salib tak menaruh perhatian pada hewan-hewan itu.

Pada pagi 12 Agustus, pengintai Pasukan Salib melaporkan lokasi kamp Fatimiyah dan mereka bergerak ke sana. Selama berbaris itu, Pasukan Salib diatur dalam dalam 9 divisi: Godefroy memimpin sayap kiri, Raymond d'Aguilers di kanan, serta Tancrède de Hauteville, Eustace III de Bologne, Robert de Normandie dan Gaston IV dari Béarn menyusun bagian tengah; lebih lanjut mereka dibagi atas 2 divisi yang lebih kecil, dan divisi pasukan jalan kaki yang berbaris ke depan satu sama lain. Susunan ini juga digunakan sebagai garis pertempuran luar Ascalon, dengan pusat pasukan di Yerusalem dan Gerbang Jaffa, sisi kanan berjajar dekat pesisir Laut Tengah, dan sisi kiri menghadap Gerbang Jaffa.

Menurut sebagian besar laporan (Salib dan Muslim, Fatimiyah tak ada persiapan dan pertempuran itu pendek, tetapi Albert dari Aix menyatakan bahwa pertempuran itu berlangsung lama dengan pasukan Mesir yang dibekali perlengkapan memadai. Kedua garis utama pertempuran itu saling perang dengan panah hingga cukup dekat untuk bertempur menggunakan tombak. Pasukan Etiopia menyerang pusat garis Pasukan Salib, dan barisan depan Fatimiyah bisa mengepung Pasukan Salib dan mengelilingi pasukan penjaga di belakang, hingga Godefroy datang untuk menyelamatkan mereka. Meskipun jumlahnya lebih banyak, pasukan al-Afdhal sulit untuk kuat atau berbahaya sebagaimana pasukan Seljuk yang dihadapi Pasukan Salib sebelumnya. Pertempuran itu tampaknya selesai sebelum kavaleri berat Fatimiyah dipersiapkan untuk bergabung denganya. Al-Afdhal dan pasukannya yang panik berbalik ke benteng kota; Raymond mengejar beberapa dari mereka ke laut, lainnya memanjat pohon dan terbunuh dengan panah, dan lainnya dihantam dalam perjalanan baik ke Gerbang Ascalon. Al-Afdhal tinggal di belakang kamp dan barang berharganya, yang kemudian ditangkap oleh Robert dan Tancrede. Kehilangan di pihak Salib tak diketahui, tetapi Mesir kehilangan sekitar 10–12.000 prajuritnya.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Surat para tetua Karaite di Ascalon

tetua Karaite di Ascalon (sekitar tahun 1100) adalah sebuah komunikasi yang ditulis oleh enam tetua komunitas Yahudi Karaite di Ascalon dan dikirim kepada

Eutocius dari Ascalon

Eutocius dari Ascalon (Lahir tahun 480 – wafat tahun 540) merupakan seorang matematik berkebangsaan Yunani yang menulis komentar di dalam beberapa acuan

Perang Salib Kedua

saling dikhianati satu sama lain. Rencana baru dibuat untuk menyerang Ascalon, dan Conrad membawa pasukannya kesana, tetapi tidak ada bantuan tiba, karena

Perang Salib Pertama

balasan Fatimiyah berhasil dipukul mundur pada akhir 1099 dalam Pertempuran Ascalon, yang mengakhiri Perang Salib Pertama. Seusai perang, sebagian besar tentara

Baudouin IV dari Yerusalem

sama dalam membela Selatan. Namun, pada bulan Juni, William meninggal di Ascalon setelah beberapa minggu sakit, meninggalkan Sibylla yang janda hamil dengan

Usamah bin Munqidz

Saat ia kembali, ia tinggal Ascalon selama 2 tahun, di mana Ascalon diserang. Usamah menolong untuk mengatur pertahanan Ascalon, walaupun kota ini nantinya

High School DxD

Issei juga mempunyai sebuah pedang pemberian Malaikat Michael yang bernama Ascalon. Issei mendapatkan kekuatannya dari ambisi dan nafsu mesumnya. Issei adalah

Nuruddin Zanki

menyerang Damaskus, tetapi mundur dengan tidak meraih kesuksesan. Ketika Ascalon direbut oleh tentara salib tahun 1153, Mujiruddin melarang Nuruddin untuk