Atap jerami

Atap Jerami adalah bagian penutup atas rumah yang terbuat dari jerami. Atap jerami memiliki karakteristik ringan, tidak menyerap air, bentuknya dapat disesuaikan dengan jenis rumah, dan dengan perawatan yang tepat dapat bertahan lama.[1] Atap jerami kebanyakan digunakan untuk rumah-rumah tradisional yang terbuat dari kayu atau papan. Di Indonesia, atap jerami dapat ditemukan di rumah tradisional Nias, rumah Tongkonan di Toraja, rumah adat Mbaru Niang di Flores, dan bangunan pura di Bali.

Jenis Atap Jerami

sunting

Jenis jerami yang dapat digunakan sebagai atap rumah antara daun alang-alang, daun lontar, daun sagu (rumbia), daun nipah bakau, daun tebu, rumput gajah, dan serat pohon enau (ijuk). Bahan utama untuk atap jerami mudah didapatkan terutama di daerah beriklim tropis dan sedang. Tanaman penghasil jerami, sebagai bahan utama atap jerami, dapat tumbuh dan berkembang dengan baik terutama di daerah tropis atau sedang. Karena itu, atap jerami dapat dengan mudah didapatkan dan tergolong murah. Berbahan dasar dari tumbuhan, atap jerami merupakan jenis atap yang bebas dari bahan berbahaya sehingga pemakaiannya dapat mengurangi limbah kimia.

Pembuatan

sunting

Jerami yang digunakan untuk pembuatan atap merupakan jerami yang sudah dikeringkan. Pembuatan atap jerami dilakukan dengan menata jerami dan menyatukannya hingga berbentuk seperti papan tanpa celah. Supaya jerami tertata rapi, tidak berantakan dan kuat, diperlukan papan, bambu, atau tali (biasanya tali rotan) yang diletakkan di bawah dan atau di atas jerami dengan posisi melintang untuk mencegah jerami bergeser. Cara lain untuk pembuatan atap jerami yaitu dengan mengikat pangkal-pangkal tumpukan kecil jerami (kurang lebih segenggam atau dua genggam). Selanjutnya, tumpukan kecil jerami disusun di kerangka atap dengan ย terlebih dahulu meletakkan untuk bagian atap bawah sehingga pangkal jerami bawah akan tertutup oleh ujung jerami di atasnya. Panjang dan ketebalan atap jerami disesuaikan dengan kebutuhan.

Fungsi

sunting

Atap jerami berfungsi sebagai penutup bagian atas rumah, tidak hanya melindungi isi rumah dari air hujan ataupun sengatan cahaya secara langsung, tetapi juga berperan dalam mengatur suhu dalam rumah sehingga rumah tidak terlalu dingin ataupun terlalu panas pada musim-musim tertentu.[2] Selain itu, tampilan rumah dengan atap jerami yang dulunya memberi kesan miskin dan tidak teratur, kini menjadi tampilan yang unik dan mewah sehingga banyak dipilih sebagai bagian dari pembangunan rumah modern karena memiliki nilai estetik.

Referensi

sunting
  1. ^ "Atap Jerami Ini Bisa Tahan 15 Tahun". Tribun-bali.com. Diakses tanggal 2024-10-04.
  2. ^ "5 Pros and Cons of Natural and Synthetic Thatch Roofing - Endureed". endureed.com (dalam bahasa American English). 2023-10-02. Diakses tanggal 2024-10-04.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Minka

bersama dekorasi ditambahkan. Atap jerami akan memiliki lapisan jerami atau batang bambu yang di pangkas atau melintang. Atap keramik memiliki beragam pelat

Jerami

setelah biji-bijiannya dipisahkan. Massa jerami kurang lebih setara dengan massa biji-bijian yang dipanen. Jerami memiliki banyak fungsi, di antaranya sebagai

Atap Bengal

Diperkirakan bahwa atap batu dengan bentuk seperti ini baru muncul pada abad ke-16 dan berasal dari model pedesaan yang menggunakan atap jerami atau alang-alang

Masjid Baiturrahman Banda Aceh

saat itu status masjid ini sebagai masjid kerajaan yang menampilkan atap jerami berlapis-lapis yang merupakan fitur khas arsitektur Aceh. Kemudian ketika

Rumah Gadang

Bangunan setinggi 52 meter dan luas atap 4500 meter persegi itu merupakan bangunan berkonstruksi kayu dengan atap jerami yang terbesar di dunia menurut Guinness

Arsitektur vernakular di Karpatia

ek), lumpur, jerami, batu lapangan, kapur, dan kotoran hewan. Atap di daerah berhutan lebat dan perbukitan biasanya dilapisi sirap atap atau sirap kayu

Sadeng

dibudidayakan sebagai tanaman hias di seluruh Kolombia . Daunnya digunakan untuk atap jerami dan pembungkus makanan, khususnya masakan Woku,nasi kuning,dodol di Sulawesi

Atap

anjungan observasi. Welit adalah kerajinan membangun atap dengan tumbuh-tumbuhan kering seperti jerami , alang-alang , semak, daun kering, atau ranting-ranting