Atase Kedutaan (dari bahasa Prancis: attachรฉ yang secara harfiah berarti "dilampirkan") adalah ahli-ahli dalam bidang tertentu yang diperbantukan pada sebuah kedutaan untuk mewakili sebuah negara dalam mengurus suatu bidang tertentu sesuai dengan keahliannya.[1] Para ahli ini menjadi utusan diplomatik yang membantu pekerjaan seorang duta atau duta besar suatu negara sebagai penasihat atau pejabat khusus dalam bidang-bidang tertentu.[2] Jenis-jenis atase yang ada pada sebuah kedutaan biasanya ditentukan sesuai dengan kebutuhan di dalam kedutaan tersebut.[2] Beberapa atase yang biasanya ada di dalam sebuah kedutaan adalah atase militer, atase kebudayaan, atase sosial, atase perdagangan, atase pendidikan, atase ketenagakerjaan dan sebagainya sesuai dengan keperluan masing-masing kedutaan.[2] Biasanya, para ahli yang pernah menjadi atase di dalam sebuah kedutaan diangkat menjadi Duta Besar di kemudian hari.[2]

Atase bertugas membantu pekerjaan seorang Menteri negara yang diwakilinya untuk melakukan promosi, kerjasama, fasilitasi, pengamatan dan diplomasi di bidang terkait dengan negara tempat para atase ditugaskan.[3] Oleh karena itu, dalam menjalankan tugasnya, Atase tidak hanya bertanggung jawab kepada Duta Besar tetapi juga bertanggung jawab kepada Menteri yang terkait dengan bidangnya.[3]

Referensi

sunting
  1. ^ (Indonesia) "Atase".
  2. ^ a b c d (Indonesia) Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 2. 1988. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.
  3. ^ a b (Indonesia) "Tugas dan Fungsi Atase/Kepala Bidang Perindustrian dan Perdagangan di Luar Negeri". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-27. Diakses tanggal 2014-05-26.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Atase pertahanan

ditempatkan atase teknis lainnya seperti Atase Kepolisian, Atase kebudayaan dan Atase pendidikan. Dalam melaksanakan tugas hariannya, seorang Atase Pertahanan

Alex Kawilarang

Kopassus. Pada tahun 1958 ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai atase militer di Amerika Serikat untuk bergabung dengan pemberontakan Permesta

D.I. Pandjaitan

Militer Atase (Milat) tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer

M.M.R. Kartakusuma

Divisi III/Priangan , Kepala Staff T&T I/Bukit Barisan, Deputi I Kasad , Atase Militer RI untuk Perancis dan Italia, Pembantu Menteri Veteran & Demobilisasi

PSS Sleman

Subiyanto, Akt yang mengikutinya, Sri Sultan Hamengkubuwana X mengatakan, "Ing atase cah Sleman sing ireng-ireng biso ngalahke Pelita." Artinya, anak-anak Kabupaten

Purnomo Yusgiantoro

Pertamina dan PLN, Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi Nasional, dan Kursus Atase Pertahanan, Departemen Pertahanan dan Keamanan. Selain itu, ia mengajar

Victor Hasudungan Simatupang

pada tahun berikutnya ia dipromosikan menjadi Kolonel dan diangkat menjadi Atase Pertahanan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Pretoria, Afrika Selatan

Tadashi Maeda

Jepang ke koronasi Raja George VI. Pada tahun 1940, Maeda ditunjuk menjadi atase AL untuk Belanda, dan setelah Jerman Nazi menyerbu Norwegia dan Denmark