Calon Arang, diperankan oleh Bulantrisna Djelantik

Calon Arang, disebut pula Rangda ing Dirah ("Janda Dirah")[1] atau Walu Natรฉng Girah (Walu Nata ing Girah, "Janda pemimpin Girah"),[2] adalah seorang tokoh dalam cerita rakyat Jawa dan Bali dari abad ke-12. Tidak diketahui lagi siapa yang mengarang cerita ini. Salinan teks Latin yang sangat penting berada di Belanda, yaitu dalam Jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 82 (1926) halaman 110-180.

Kisah

sunting

Diceritakan bahwa Calon Arang adalah seorang janda (bahasa Jawa: Randa atau Rondo; bahasa Bali: Balu atau Walu) penguasa ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Ia mempunyai seorang putri bernama Dyah Ayu Ratna Manggali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya. Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga. Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul.

Raja Airlangga mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan penasehatnya, Empu Baradah untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah lalu mengirimkan seorang muridnya bernama Empu Bahula atau Bawula untuk dinikahkan kepada Dyah Ratna Manggali.[3] Pernikahan Empu Bahula dan Ratna Manggali dibiayai Raja Airlangga. Namun, Calon Arang masih menyebarkan teluh ke seluruh negeri. [4]Keduanya menikah besar-besaran dengan pesta yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.

Calon Arang mempunyai sebuah buku yang berisi ilmu-ilmu sihir (lipyakara). Pada suatu hari, buku ini berhasil ditemukan oleh Bahula yang menyerahkannya kepada Empu Baradah.Saat Calon Arang mengetahui bahwa bukunya telah dicuri, ia menjadi marah dan memutuskan untuk melawan Empu Baradah. Sementara itu, Empu Baraddah mendatangi desa yang tertimpa wabah untuk mengobati serta menghidupkan kembali mayat yang belum rusak. Akibat hal ini, wabah perlahan hilang dan murid Calon Arang bertobat serta ingin berguru pada Empu Baraddah[4].Tanpa bantuan Dewi Durga, Calon Arang pun kalah. Sejak ia dikalahkan, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang.

Perkembangan kisah

sunting

Cerita ini dapat dibagi dalam beberapa babak:

Prolog

sunting

Pada mulanya suasana di wilayah Kerajaan Daha (Kadiri) sangat tenteram. Raja di Daha bernama Erlangga. Di sana hidup seorang janda (bahasa Bali: Walu atau Balu), yang bernama Calon Arang, yang mempunyai anak yang cantik, yang bernama Ratna Manggali. Mereka berdua tinggal di desa Girah, di wilayah Kerajaan Daha.

Awal Masalah

sunting

Meskipun cantik, banyak pria di kerajaan tersebut yang tidak mau meminangnya. Ini disebabkan oleh ulah ibunya yang senang menenung. Hal ini menyebabkan kemarahan Calon Arang. Oleh sebab itulah dia membacakan mantra tulah, sehingga muncul mala-petaka dahsyat melanda desa Girah atau Gurah, dan pada akhirnya melanda Daha. Tulah tersebut menyebabkan banyak penduduk daerah tersebut sakit dan mati. Oleh karena tulah tersebut melanda Daha, maka Raja Airlangga marah dan berusaha melawan. Namun kekuatan Raja tidak dapat menandingi kesaktian Calon Arang, sehingga Raja memerintahkan Empu Baradah untuk melawan Calon Arang.

Siasat Empu Baradah

sunting

Untuk mengalahkan Calon Arang, Empu Baradah mengambil siasat. Dia memerintahkan muridnya, Bahula, untuk meminang Ratna Manggali. Setelah menjadi menantu Calon Arang, maka Bahula mendapatkan kemudahan untuk mengambil buku mantra Calon Arang dan diberikan kepada Empu Baradah.

Epilog

sunting

Setelah bukunya didapatkan oleh Bahula, Calon Arang pun ditaklukkan oleh Empu Baradah.

Analisis

sunting

Sering kali di dalam dunia cerita ini hanya disoroti tentang kekejaman dan kejahatan Calon Arang. Dalam perspektif kesejarahan, tokoh Calon Arang atau Rangda dikaitkan dengan tokoh Mahendradatta, ratu Bali dari Jawa, sekaligus ibunda raja Airlangga. Calon Arang digambarkan sebagai nenek sihir yang mempunyai wajah yang seram. Akan tetapi, dewasa ini muncul analisis-analisis yang lebih berpihak kepada Calon Arang. Dia adalah korban masyarakat patriarkal pada zamannya. Cerita Calon Arang merupakan sebuah gambaran sekaligus kritik terhadap diskriminasi kaum wanita.[5]

Beberapa kajian modern menafsirkan tokoh Calon Arang melalui perspektif Feminism. Dalam tafsir ini, Calon Arang tidak hanya dipandang sebagai tokoh antagonis, tetapi juga sebagai representasi perempuan yang dimarginalkan oleh struktur sosial patriarkal. Statusnya sebagai seorang janda serta praktik spiritual yang dimilikinya menjadikannya sosok yang ditakuti sekaligus disisihkan oleh masyarakat. [6]

Dalam banyak tradisi cerita rakyat, perempuan yang memiliki kekuatan atau pengetahuan di luar norma sosial sering digambarkan sebagai penyihir atau tokoh jahat. Penafsiran ini melihat kisah Calon Arang sebagai refleksi ketegangan sosial terhadap perempuan yang memiliki otoritas atau kemandirian di luar struktur keluarga patriarkal. [6]

Lihat pula

sunting

Media lainnya

sunting

Pada tahun 1985, sutradara Indonesia, Sisworo Gautama Putra menyutradarai film Ratu Sakti Calon Arang. Film ini dibintangi oleh Suzanna dan Barry Prima.

Referensi

sunting
  1. ^ Kadek Suartaya (2 Juni 2023), Rangda Nateng Dirah, BaliPost
  2. ^ Sudarsono (2002), Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, ISBNย 9789794205129
  3. ^ Claria, Dewa Ayu Kadek; Suarniti, Gusti Ayu Made Rai (2022). "Struktur dan Konteks Cerita Rakyat Calon Arang". JURNAL BASTRA. 7 (2): 275โ€“279.
  4. ^ a b Suhariyanto, Asisi. [2024 Rahasia Nusantara Candi Misterius Wangsa Syailendra]. Jakarta Selatan: Gagas Media. ISBNย 9786234932720. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ^ Toeti Heraty (2012). Judul Calon Arang (dalam bahasa Indonesia). Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBNย 9789794618332. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  6. ^ a b Edwar, Valentina Edellwiz; Sarwono, Sarwit; Chanafiah, Yayah (2017). "PEREMPUAN DALAM CERITA CALON ARANG KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER PERSPEKTIF FEMINIS SASTRA". Jurnal Ilmiah KORPUS (dalam bahasa Inggris). 1 (2): 224โ€“232. doi:10.33369/jik.v1i2.4137. ISSNย 2614-6614.

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Bahula

Dalam mitologi Hindu, Bahula (Sanskerta: เคตเคนเฅเคฒ; Vahula) adalah nama seorang putri, istri Utama, putra Utanapada. Bahula tidak begitu setia pada suaminya

Mpu Bharada

kebijakan kerajaan, beliau dipercaya memiliki seorang putra bernama Mpu Bahula dan juga Kakek dari Mpu Tantular penulis kitab sutasoma. Nama Mpu Bharada

Utama Manu

Swayambu Manu. Pada mulanya, Utama dan istrinya, Bahula, merupakan pasangan yang tidak harmonis. Bahula kurang setia terhadap Utama sehingga Utama mengusirnya

Utama (mitologi)

raja. Utama pun merelakannya. Utama memiliki seorang istri bernama Bahula. Bahula tidak begitu setia pada suaminya, dan tidak pernah puas atas apa yang

Hanuman Jayanti

Telugu, perayaan yang dikenal sebagai Anjaneya Jayanthi berlangsung pada Bahula Dashami (Shukla Paksha) di bulan Vaishakha menurut kalender Telugu. Sementara

Topeng Sidakarya

putra dari Dang Hyang Kayu Manis, cucu dari Mpu Candra, kumpi dari Mpu Bahula dan cicit dari Mpu Bharada. Dang Hyang Kayu Manis sendiri menjadi nabe dari

Utanapada

tahtanya kepada Druwa. Sementara itu, putranya yang bernama Utama menikah dengan Bahula dan memiliki putra yang ditakdirkan menjadi Manu ketiga. l b s

Ratu Sakti Calon Arang

dengan meminta Empu Bahula, murid Empu Beradah, mengawini Ratna Manggali. Setelah rahasia diketahui, Empu Baradah dan Empu Bahula menyerang Calon Arang