Konflik Sampit
Bagian dari Era Reformasi
Tanggal18โ€“28 Februari 2001
LokasiSampit, Kalimantan Tengah, Indonesia
Hasil
  • Kerusuhan berakhir pada 28 Februari
  • Kerusuhan berskala kecil terus berlanjut sepanjang tahun
Pihak terlibat
Perusuh Dayak Perusuh Madura

Indonesia Indonesia

Kekuatan

32.000 di Sampit

1.500.000 di Kalimantan Tengah
90.000 di Sampit 4.000โ€“5.000 di Kalimantan Tengah
Korban
188 tewas
  • 500โ€“1.000 tewas (100 korban dipenggal termasuk wanita dan anak-anak)[1][2]
  • 100.000โ€“250.000 mengungsi[3]
6 tewas[4]

Konflik Sampit, Perang Sampit, Tragedi Sampit atau Kerusuhan Sampit[5] adalah pecahnya kekerasan antaretnis di Indonesia, yang dimulai pada bulan Februari 2001 dan berlangsung sepanjang tahun tersebut. Konflik ini bermula di Sampit, Kalimantan Tengah, dan menyebar ke seluruh provinsi, termasuk ibu kota Palangka Raya. Konflik ini terjadi antara suku Dayak asli dan suku Madura migran dari pulau Madura di lepas pantai Jawa.[6] Asal mula konflik ini masih diperdebatkan, tetapi akhirnya mengakibatkan ratusan korban tewas, dengan setidaknya seratus orang Madura dipenggal kepalanya.[7][8]

Latar belakang

sunting

Konflik Sampit tahun 2001 bukanlah insiden yang terisolasi karena telah terjadi beberapa insiden sebelumnya antara warga Dayak dan Madura.[9] Konflik besar terakhir terjadi antara Desember 1996 dan Januari 1997 yang mengakibatkan 600 korban tewas.[10] Penduduk Madura pertama kali tiba di Kalimantan pada era 1930-an di bawah program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia.[11] Pada tahun 2000, transmigran membentuk 21% populasi Kalimantan Tengah.[12] Suku Dayak merasa tidak puas dengan persaingan yang terus datang dari warga Madura yang semakin agresif. Hukum-hukum baru telah memungkinkan warga Madura memperoleh kontrol terhadap banyak industri komersial di provinsi ini seperti perkayuan, penambangan dan perkebunan.[12]

Ada sejumlah cerita yang menjelaskan insiden kerusuhan tahun 2001. Satu versi mengklaim bahwa ini disebabkan oleh serangan pembakaran sebuah rumah Dayak. Rumor mengatakan bahwa kebakaran ini disebabkan oleh warga Madura dan kemudian sekelompok anggota suku Dayak mulai membakar rumah-rumah di permukiman Madura.[9] K.M.A. Usop dari Asosiasi Masyarakat Dayak mengklaim bahwa pembantaian oleh suku Dayak dilakukan demi mempertahankan diri setelah beberapa anggota mereka diserang.[13] Selain itu, juga dikatakan bahwa seorang warga Dayak disiksa dan dibunuh oleh sekelompok warga Madura setelah sengketa judi di desa Kerengpangi pada 17 Desember 2000.[14]

Versi lain mengklaim bahwa konflik ini berawal dari percekcokan antara murid dari berbagai ras di sekolah yang sama.[15]

Pemenggalan kepala

sunting

Sedikitnya 100 warga Madura dipenggal kepalanya oleh suku Dayak selama konflik ini. Suku Dayak memiliki sejarah praktik ritual pemburuan kepala (Ngayau), meski praktik ini dianggap musnah pada awal abad ke-20,[13][16] akan tetapi korban dari Suku Madura juga termasuk anak anak dan wanita yang tidak bersalah yang tidak luput dibantai oleh Suku Dayak.

Tanggapan dari pihak berwenang

sunting

Skala pembantaian dan intensitas agresi membuat militer dan polisi sulit mengendalikan situasi di Kalimantan Tengah. Bala bantuan dikirim untuk membantu personel militer yang ada di provinsi tersebut. Pada tanggal 18 Februari, suku Dayak mengambil alih kendali atas Sampit.[17]

Polisi menangkap seorang pejabat lokal yang diyakini sebagai salah satu dalang di balik serangan tersebut. Dalang tersebut diduga membayar enam orang untuk memprovokasi kerusuhan di Sampit. Polisi juga menangkap sejumlah perusuh Dayak setelah pembunuhan yang terjadi.[18]

Beberapa hari kemudian, pada tanggal 21 Februari, ribuan orang Dayak mengepung sebuah kantor polisi di Palangka Raya untuk menuntut pembebasan para tahanan Dayak. Polisi menyerah pada tuntutan ini karena mereka kalah jumlah dengan orang Dayak yang agresif. Pada tanggal 28 Februari, militer berhasil membersihkan orang-orang Dayak dari jalanan dan memulihkan ketertiban,[19] tetapi kekerasan sporadis terus berlanjut sepanjang tahun.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "Kalimantan's Agony: The failure of Transmigrasi". CNN. May 31, 2008. Diarsipkan dari asli tanggal May 31, 2008.
  2. ^ "Dan Kepala Bocah Pun Dipenggal". Liputan6. March 5, 2001.
  3. ^ Patji, Abdul Rachman (2003). "Tragedi Sampit 2001 Dan Imbasnya Ke Palangka Raya" (PDF). Jurnal Masyarakat Dan Budaya. 5 (2): 14โ€“34.
  4. ^ "Sampit Mencekam, TNI-Polri Baku Tembak". Liputan6. February 28, 2001.
  5. ^ "Sampit jadi lautan api (Kalimantan)". e-borneo.com. 2001-2-22. Diakses tanggal 2019-4-15.
  6. ^ Rinakit, Sukardi (2005). The Indonesian Military After the New Order. Nordic Institute of Asian Studies. ISBNย 87-91114-06-3.
  7. ^ "Horrors of Borneo massacre emerge". BBC. February 27, 2001. Diakses tanggal August 13, 2008.
  8. ^ "Sejarah Konflik Sampit: Kronologi, Penyebab, dan Penyelesaiannya". Kompas.com. March 16, 2023.
  9. ^ a b Mentari Sampit, 2001
  10. ^ "Indonesia: The Violence in Central Kalimantan (Borneo)". Human Rights Watch. February 28, 2001. Diakses tanggal 2008-08-13.
  11. ^ Tri Nuke Pudjiastuti (June 2002). "Immigration and Conflict in Indonesia" (PDF). IUSSP Regional Population Conference, Bangkok. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2012-02-09. Diakses tanggal 2008-08-13.
  12. ^ a b "Indonesia flashpoints: Kalimantan". BBC. June 28, 2004. Diakses tanggal August 13, 2008.
  13. ^ a b "Kalimantan's Agony: The failure of Transmigrasi". CNN. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-05-31. Diakses tanggal 2008-08-13.
  14. ^ Elegant, Simon (March 5, 2001). "The Darkest Season". Time. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-10-25. Diakses tanggal 2008-08-13.
  15. ^ "Interim Report of KONTRAS Fact Finding into the Causes of the Sampit Tragedy". Kontras. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-05-18. Diakses tanggal 2008-08-14.
  16. ^ "Beheading: A Dayak ritual". BBC. February 23, 2001. Diakses tanggal 2008-08-13.
  17. ^ "Chronology of violence in Central Kalimantan". Indahnesia. Diarsipkan dari asli tanggal June 3, 2021. Diakses tanggal August 13, 2008.
  18. ^ "Chronology of violence in Central Kalimantan". Indahnesia. Diarsipkan dari asli tanggal June 3, 2021. Diakses tanggal August 13, 2008.
  19. ^ "Chronology of violence in Central Kalimantan". Indahnesia. Diarsipkan dari asli tanggal June 3, 2021. Diakses tanggal August 13, 2008.

Catatan kaki

sunting

Bacaan lanjutan

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Kematian Yohanes Pembaptis

Pembaptis (bahasa Inggris: Beheading of Saint John the Baptistcode: en is deprecated , Decollation of Saint John the Baptist atau Beheading of the Forerunner)

Ngayau

Diarsipkan dari asli tanggal 2012-10-25. Diakses tanggal 2008-08-13. "Beheading: A Dayak ritual". BBC. February 23, 2001. Diakses tanggal 2008-08-13.

Abu Sayyaf

Maitem (3 May 2016). "MILF helps in hunt for Abu Sayyaf, calls Ridsdel beheading anti-Islam". Philippine Daily Inquirer. Diakses tanggal 12 August 2016

Hukum jinayat di Aceh

Associated Press in; Aceh, a (2018-03-14). "Indonesian province considers beheading as murder punishment". the Guardian (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal

Aliansi Delapan Bangsa

Chinese History. Taylor & Francis. hlm.ย 124. ISBNย 978-1-317-81716-1. Beheading a Chinese Boxer at IMDB Robert B. Edgerton (1997). Warriors of the rising

Jihadi John

August 2014). "How London rapper L Jinny became Jihadi John, suspected of beheading James Foley". Sydney Morning Herald. Diakses tanggal 25 September 2014

Faisal bin Musaid

Juan. "Motive Unknown." New York Timfes 26 March 1975: 1 & 8. Pace, Eric. "Rumors of a Beheading Draw Crowds in Riyadh." New York Times 5 April 1975: 3.

Artemisia Gentileschi

Artemisia Gentileschi antara lain Yudit Memenggal Holofernes (Judith Beheading Holofernes, 1614โ€“1620), Susanna dan Para Tetua (Susanna and the Elders