📑 Table of Contents

Arg Karim Khan (Persia: ارگ کریم خان, romanized: Arg-e Karim Khān) atau Benteng Karim Khan adalah sebuah benteng yang terletak di pusat kota Shiraz, Iran. Benteng ini dibangun sebagai bagian dari sebuah kompleks pada masa Dinasti Zand. Namanya diambil dari Karim Khan Zand dan berfungsi sebagai tempat tinggalnya. Bangunan ini berbentuk persegi panjang dan menyerupai benteng abad pertengahan. Pada masa lalu, benteng ini kadang-kadang digunakan sebagai penjara. Saat ini, bangunan tersebut berfungsi sebagai museum yang dikelola oleh Organisasi Warisan Budaya Iran.

Sejarah

sunting

Benteng Karim Khan terletak di awal Jalan Karim Khan Zand (Shiraz), di sudut Lapangan Balai Kota (Shahrdari). Karim Khan terpengaruh oleh arsitektur Safawi ketika pemerintahannya didirikan di Shiraz. Setelah mengunjungi Lapangan Naqsh-e Jahan di Isfahan, ia memutuskan untuk membangun sebuah lapangan besar di bagian utara Shiraz. Lapangan ini dikenal sebagai Lapangan Artileri. Di sebelah utara lapangan tersebut terletak Lapangan Divan Karim Khan, dan di sebelah timurnya terdapat Bazar Vakil serta beberapa penginapan. Di bagian selatan lapangan berada Pemandian Vakil dan Masjid Vakil. Di barat daya terdapat sebuah taman, dan di sebelah barat berdiri benteng Arg.

Setelah penaklukan Shiraz oleh Agha Mohammad Khan Qajar, ia memutuskan untuk merobohkan bangunan-bangunan peninggalan Karim Khan sebagai bentuk permusuhan terhadapnya. Sebagai akibatnya, sejumlah bangunan dari masa Dinasti Zand dihancurkan, termasuk tembok pembatas yang dibangun mengelilingi Shiraz oleh Karim Khan. Untungnya, benteng Arg terhindar dari penghancuran dan kemudian digunakan sebagai pengadilan pemerintahan (emirat) yang ditunjuk oleh pemerintah pusat untuk wilayah Amiri dan provinsi Fars.[1]

Deskripsi

sunting

Benteng Karim Khan terletak di Lapangan Shahrdari. Benteng ini memiliki luas lahan sekitar 4.000 m² dan berada di tengah kompleks seluas 12.800 m².[2] Bangunan ini terdiri dari empat dinding tinggi yang dihubungkan oleh empat menara bata berbentuk bulat setinggi 14 meter pada sudut 90 derajat. Setiap dinding setinggi 12 meter, dengan ketebalan 3 meter di bagian dasar dan 2,8 meter di bagian atas.[2][3]

Desain benteng ini memadukan arsitektur militer dan hunian, karena selain menjadi tempat tinggal Karim Khan, juga berfungsi sebagai pusat militer dinasti tersebut.[3]

Pada tahun 1827, James Edward Alexander menggambarkan benteng ini sebagai dikelilingi oleh “parit dalam yang berair”.[4]

Referensi

sunting
  1. ^ fa.tripyar.com
  2. ^ a b retrieved 11 Feb 2008 Diarsipkan September 6, 2007, di Wayback Machine.
  3. ^ a b محمد جواد مطلع. "شهرداری شیراز". Shirazcity.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-03. Diakses tanggal 2013-02-04.
  4. ^ James Edward Alexander, Travels from India to England: Comprehending a Visit to the Burman Empire, Parbury, Allen (1827) p.125

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Relief batu Anubanini

kehadiran sosok dewa, serta barisan tawanan semuanya sangat serupa. Benteng Karim Khan Kompleks Biara Armenia di Iran Kebudayaan Jiroft Osborne, James F

Diponegoro

Pangeran Diponegoro, De Kock menggunakan strategi perbentengan (Benteng Stelsel). Benteng-benteng dengan kawat berduri didirikan begitu pasukan Hindia

Kesultanan Cirebon

membangun benteng keamanan di Sunda Kalapa guna melawan orang-orang Cirebon yang menurutnya bersifat ekspansif. Pada masa ini nama Fatahilah (Fadilah Khan) yang

Daftar Khalifah Abbasiyah

2015. "The golden age of Islam (article)". Khan Academy (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-06-30. Khan, Syed Muhammad. "خاندان بنو عباس". عالمی

Dost Mohammad Khan

Muhammad Khan mengirim 25.000 pasukan kuat, termasuk sejumlah besar pejuang setempat dan dilengkapi dengan 18 senjata berat guna merebut benteng Jamrud

Kekhanan Kokand

membangun sebuah benteng sebagai ibu kotanya di kota kecil yang bernama Kokand. Anaknya, Abd al-Karim, dan cucunya, Narbuta Beg, memperbesar benteng ini, tetapi

Konflik Aceh–Belanda

terkenal adalah Tragedi Benteng Kuta Reh, di mana terjadinya pembantaian terhadap ribuan penduduk Gayo-Alas di wilayah benteng tersebut. Meskipun Kesultanan

Daftar perayaan penghargaan Festival Film Indonesia

Hanggara Tuti Indra Malaon - Ibunda Deddy Mizwar - Opera Jakarta Niniek L. Karim - Ibunda Teguh Karya - Ibunda — Bali Festival Film Indonesia 1987 1987 (ke-