| Benteng Duurstede | |
|---|---|
Fort Duurstede | |
Pintu masuk | |
![]() | |
| Etimologi | Diambil dari nama kota Wijk bij Duurstede di Belanda |
| Informasi umum | |
| Jenis | Benteng |
| Lokasi | |
| Pemilik | Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku |
Benteng Duurstede | |
| Peringkat | Nasional |
| Kategori | Bangunan |
| No. Regnas | CB.101 |
| Lokasi keberadaan | Kabupaten Maluku Tengah, Maluku |
| No. SK |
|
| Tanggal SK |
|
| Pemilik | |
| Pengelola | Balai Pelestarian kebudayaan Wilayah XX |
| Koordinat | 3°59′52″S 127°52′21″E / 3.9976723°S 127.872577°E |
Lokasi Benteng Duurstede di Saparua, Maluku Tengah, Maluku | |
| Nama sebagaimana tercantum dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya | |
Benteng Duurstede adalah suatu benteng Belanda abad ke-17 yang berlokasi di Saparua, Maluku, Indonesia.[1][2] Benteng ini awalnya melindungi Desa Saparoea. Panduan navigasi dari tahun 1878 menyatakan: "terdapat pelabuhan yang bagus di dekat benteng ini di musim angin barat sekitar 12 fathom."[3] Benteng ini terbuka untuk umum dan telah banyak dipulihkan.[1]
Sejarah
sunting
Benteng Duurstede pertama kali dibangun oleh Portugis pada tahun 1676, sebelum akhirnya direbut dan dibangun kembali oleh Gubernur Ambon, Nicolaas Schaghen, pada 1691. Selama masa kolonial, benteng ini berfungsi sebagai pusat pertahanan sekaligus pusat pemerintahan VOC di wilayah Saparua.
Pada 15 Mei 1817, rakyat Saparua di bawah pimpinan Thomas Matulessy menyerbu benteng ini. Seluruh penghuninya tewas, kecuali Jean Lubbert van den Berg, putra sang residen. Jatuhnya Duurstede ke tangan rakyat Maluku mengguncang kedudukan Hindia Belanda di Ambon hingga Batavia. Berbagai upaya dilakukan Hindia Belanda untuk merebut kembali benteng tersebut, namun serangan mereka selalu gagal.
Menghadapi situasi yang sulit, Komisaris van Middelkoop bertindak agresif dengan meminta bantuan militer dari Batavia Laksamana Muda Buyskes tiba di Kota Ambon pada 30 September 1817 dengan Kapal Perang yang sangat besar ''Prins Frederik' di bawah komando Kapten van Senden. Kapal Perang yang dilengkapi 40 meriam besar membawa bala bantuan sebanyak 250 prajurit infanteri dari Batavia, kekuatan tempur tersebut diperkuat dengan tambahan 160 prajurit dari Ambon, sehingga total kekuatan yang dikerahkan mencapai 410 personel.
Buyskes menerapkan strategi pengepungan dengan menguasai pulau-pulau di sekitar Saparua sebelum masuk ke wilayah pertahanan Pattimura. Strategi ini berhasil mendesak pasukan Pattimura ke hutan sagu dan pegunungan. Akhirnya, Kapitan Pattimura bersama ke empat panglimanya tertangkap dan dijatuhi hukuman gantung di Benteng Nieuw Victoria.
Galeri
sunting-
Sketsa Benteng Duurstede
-
Sketsa Benteng Duurstede
-
Benteng Duurstede di Saparua, karya Charles William Meredith van de Velde, 1844.
-
Pemandangan Baru, Benteng duurstede
-
Meriam Besi, Benteng Duurstede
-
Tulisan di gerbang masuk, Benteng Duurstede
-
Benteng Duurstede difoto dari atas
Lihat pula
suntingReferensi
sunting- ^ a b "Saparua: The Centre of the Lease Islands". East-Indonesia.info. 2014. Diakses tanggal 3 Juli 2014.
- ^ Anonyme. CONNAISSANCE DES TEMPS ou DES MOUVEMENTS CÉLESTES, A L'USAGE DES ASTRONOMES ET DES NAVIGATEURS, POUR L'AN 1891 (dalam bahasa French). Paris: LE BUREAU DES LONGITUDES. Diakses tanggal 3 Juli 2014.
Saparoua, fort Duurstede 3.34.37 S. 126.18.40 8.25.14,7 Bur. hydr. hollandais.
Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ^ Findlay, Alexander George (1878). A directory for the navigation of the Indian Archipelago, China, and Japan ... London: Richard Holmes Laurie. hlm. 828. Diakses tanggal 3 Juli 2014.
Pranala luar
sunting- Sejarah singkat[pranala nonaktif permanen] oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
