Beronang merupakan keranjang tradisional yang berasal dari Bengkulu Tengah, dulunya berfungsi untuk mengangkut hasil panen maupun perlengkapan sehari-hari di ladang.[1][2]
Sejarah dan Fungsi
suntingTradisi anyaman ini berbahan baku bambu, biasanya dibuat untuk kebutuhan pokok masyarakat. Mulai dari tampian untuk menampi beras, menyimpan sirih, tempat mencuci beras, dan lainnya. Pembuatan beronang dimulai dengan mencari bambu menggunakan pisau, lalu proses penjemuran bambu sekitar 2 hingga 3 hari.[3]
Warisan Budaya Takbenda 2025
suntingBeronang resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2025, bersama dengan 5 kekayaan budaya daerah Bengkulu lainnya, yaitu Bay Tat - Kota Bengkulu, Nyambei - Rejang Lebong, Kayik Nari - Bengkulu Selatan, Tari Andun - Bengkulu Selatan, Punjung Nasi Sawo - Bengkulu Utara.[4]
Referensi
sunting- ^ "Beronang, Keranjang Tradisional yang Kini Jadi Koleksi Museum Negeri Bengkulu | Alanka News". alankanews.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-22.
- ^ Berlian, Yan (02 September 2025). "Beronang Keranjang Tradisional Kearifan Lokal Bengkulu". rri.co.id. Diakses tanggal 22 November 2025.
- ^ redaksi (2023-08-07). "Kerajinan Anyaman Bambu Beronang di Desa Bang Haji". Jurnalis Bengkulu. Diakses tanggal 2025-11-22.
- ^ harianbengkuluekspress.id (2025-10-14). "6 Budaya Bengkulu Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional, Berikut Daftarnya". harianbengkuluekspress.id. Diakses tanggal 2025-11-22.