Penjual bir separ di Jamaika pada tahun 1861.

Bir separ merupakan minuman yang dibuat dengan menggunakan kuncup, daun jarum, atau ekstrak dari pohon separ sebagai perasa. Minuman ini dapat berupa versi beralkohol maupun non-alkohol. Cita rasanya sangat beragam, mulai dari cita rasa bunga, jeruk, dan buah, hingga rasa menyerupai kola, resin, atau pinus. Variasi rasa tersebut bergantung pada jenis pohon separ yang digunakan, waktu panen bahan separ , serta metode pengolahannya. Penggunaan daun jarum separ untuk membuat minuman telah lama dipraktikkan di wilayah Eropa Utara dan Amerika Utara. Beberapa masyarakat adat di Amerika Utara memanfaatkan minuman ini sebagai obat untuk penyakit kudis selama musim dingin, saat buah segar sulit diperoleh, karena tunas muda dari berbagai jenis pohon separ dan pinus mengandung vitamin C alami.[1] Kemungkinan, praktik serupa juga telah dilakukan di Skandinavia sebelum adanya kontak antara Eropa dan Amerika, meskipun para penjelajah Prancis dan Inggris umumnya belum mengenalnya sebagai obat kudis ketika tiba di Dunia Baru. Jacques Cartier dan rombongannya diketahui pertama kali diperkenalkan pada minuman ini dalam bentuk teh saat mereka tiba di Stadacona, wilayah yang kini dikenal sebagai Quebec, pada tahun 1535.[2]

Sejarah

sunting

Pada tahun 1536, penjelajah Prancis Jacques Cartier memanfaatkan pengetahuan masyarakat Iroquois di St. Lawrence untuk menyelamatkan anak buahnya yang terserang penyakit kudis saat menjelajahi Sungai St. Lawrence. Ia merebus daun jarum dari pohon yang disebut aneda (kemungkinan Thuja occidentalis atau cedar putih timur) menjadi teh yang ternyata kaya vitamin C.[3][4] Karena pengobatan semacam itu tidak tersedia di kapal, penemuan ini menjadi penting. Namun, ketika Samuel de Champlain tiba puluhan tahun kemudian, masyarakat Iroquois telah lenyap sehingga informasi tentang pohon tersebut hilang. Di abad ke-18, Angkatan Laut Kerajaan Inggris kemudian mengadopsi praktik serupa dengan menambahkan separ ke bir kapal selama ekspedisi ke Pantai Barat Amerika Utara dan Pasifik, bahkan ke Selandia Baru.[5][6] Bir separ beralkohol pun menjadi minuman umum di Amerika Serikat dan Kanada bagian timur selama masa kolonial, biasanya dibuat dari separ merah atau separ hitam.[7]

Varian

sunting

Minuman fermentasi rasa separ

sunting

Bir separ beralkohol juga dapat dibuat dengan memanfaatkan gula dan ekstrak beraroma dari pohon cemara. Daun, ranting kecil, atau saru separ direbus bersama gula, lalu difermentasi menggunakan ragi. Jenis gula yang digunakan bisa berupa molase atau gula putih rafinasi.[8] Resep bir separ rumahan dengan cara ini pernah diterbitkan pada tahun 1974 di majalah Cape Breton.[9]

Minuman ringan

sunting

Di provinsi Newfoundland dan Quebec, Kanada, bir separ dikenal dalam bahasa Prancis sebagai biรจre d'รฉpinette dapat mengacu pada minuman ringan berkarbonasi tanpa alkohol yang diberi perisa buatan, atau pada bir separ tradisional asli. Jenis tradisional ini kini hanya diproduksi oleh beberapa pabrik bir mikro.[10][11]

Referensi

sunting
  1. ^ "Tree Book - Sitka spruce (Picea sitchensis)". British Columbia Ministry of Forests, Lands and Natural Resource Operations. Diakses tanggal 23 November 2025.
  2. ^ Ebberts, Derek (9 March 2015). "To Brew or Not to Brew: A Brief History of Beer in Canada". Manitoba Historical Society. Manitoba Historical Society. Diakses tanggal 23 November 2025. Quebec was the geographic epicentre of the development and expansion of the brewing industry in Canada.
  3. ^ Jacques Cartier's Second Voyage Diarsipkan 2007-02-12 di Wayback Machine., 1535 Winter & Scurvy.
  4. ^ Martini E (2002). "Jacques Cartier witnesses a treatment for scurvy". Vesalius. 8 (1): 2โ€“6. PMIDย 12422875.
  5. ^ Columbia, Maritime Museum of British. "The Significance of Spruce Beer in 18th Century Expeditions". www.museevirtuel-virtualmuseum.ca. Diakses tanggal 23 November 2025.
  6. ^ Austen, Jane (1816). "4.". Emma. Vol.ย 3. London, England: John Murray. '[Frank Churchill] wanted to make a memorandum in his pocket-book; it was about spruce beer. Mr. Knightley had been telling him something about brewing spruce-beer, ... ' 'I do remember it,' cried Emma; 'I perfectly remember it. โ€” Talking about spruce beer. โ€” Oh! yes โ€” Mr. Knightley and I both saying we liked it, ... '
  7. ^ Sanborn Conner Brown; Ed Lindlof; Martin Kaufman (1978). Wines & beers of old New England: a how-to-do-it history. Ed Lindlof (illus.). UPNE. hlm.ย 67. ISBNย 0-87451-148-8.
  8. ^ Moucka, Ronald. "Classification: spiced beer, spruce beer, all-grain". HBD Issue #1435, 5/28/94. Diarsipkan dari asli tanggal 1998-12-05. Diakses tanggal 2009-11-08.
  9. ^ McNeil, J. (11 February 2009). "Cape Breton's Magazine". capebretonsmagazine.com. Diarsipkan dari versi asli pada 22 September 2014. Diakses tanggal 23 November 2025. Pemeliharaan CS1: BOT: status url asli tidak diketahui (link)
  10. ^ Maynard, L. "The National Temperance Drink of Newfoundland". Attics and Archives. 4 (5): 3. Diakses tanggal 23 November 2025.
  11. ^ Faber, Rachel (September 11, 2015). "Care for a tall, cool glass of spruce beer?". Maclean's. Rogers Media. Diakses tanggal 23 November 2025. It's a centuries-old acquired taste, but those who like spruce-beer soda like it a lot

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Cemara merah

ranting tersebut menghasilkan minuman bir separ atau digunakan sebagai bahan dalam pembuatan puding separ. Kayu separ merah juga cocok untuk kebutuhan konstruksi

Picea mariana

Picea mariana. Picea mariana, atau yang dikenal sebagai separ hitam, merupakan spesies separ asal Amerika Utara dari famili Pinaceae. Pohon ini tersebar

Cemara norwegia

digunakan oleh Stradivarius untuk instrumen. Pohon cemara merupakan sumber bir yang pernah digunakan untuk mencegah dan bahkan menyembuhkan penyakit kudis

Abies alba

Cabang, daun, kulit kayu, dan kayunya juga dimanfaatkan dalam pembuatan bir separ tradisional. Kayu Abies alba dikenal kuat tetapi ringan, berwarna terang