Braen merupakan salah satu kesenian tradisional yang berakar pada tradisi Islam dan berkembang di Desa Rajawana, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Kesenian ini diwariskan secara turun-temurun dan ditetapkan oleh Pemerintah pada tahun 2021 termasuk dalam kategori Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia. Braen memiliki bentuk pertunjukan yang menyerupai sholawatan atau perjanjen, yaitu lantunan doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dinyanyikan secara berirama. Kesenian ini mencerminkan perpaduan unsur budaya Islam dan tradisi Jawa, serta dikenal sebagai bentuk seni penyuwunan yakni seni permohonan yang disampaikan melalui lagu. Pertunjukan Braen umumnya dilaksanakan pada momen-momen tertentu, terutama dalam rangka memohon perlindungan atau pertolongan dari Tuhan. Selain memiliki nilai estetis, kesenian ini juga memuat unsur spiritual dan religius yang kuat dalam kehidupan masyarakat setempat.[1]

Peran perempuan dalam kesenian braen

sunting

Dalam tradisi kesenian braen, perempuan memainkan peran yang signifikan dalam tiga fungsi utama. Pertama, perempuan berperan sebagai pemimpin doa, yaitu memimpin dan mengarahkan permohonan spiritual kepada Allah Swt. melalui lantunan syair-syair religius. Kedua, mereka berperan sebagai penyampai dakwah, memanfaatkan kesenian braen sebagai medium untuk menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam melalui pesan yang terkandung dalam lirik-lirik lagu. Ketiga, perempuan juga berfungsi sebagai penguat relasi sosial. Melalui partisipasi dalam kesenian ini, mereka turut mempererat ikatan sosial antarkomunitas serta memperkuat kohesi sosial dalam kehidupan masyarakat.[2]

Makna

sunting

Kesenian Braen berfungsi sebagai medium pemersatu antara seniman, penanggap, dan masyarakat setempat dalam semangat kebersamaan, gotong royong, dan kolaborasi sosial. Pementasan ini tidak hanya menjadi sarana ekspresi seni, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada arwah leluhur dan pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai kesucian dan keberkahan tecermin dalam setiap aspek pertunjukannya.[1] Dalam setiap penampilan, para pelaku seni Braen berperan sebagai penyampai pesan-pesan spiritual dan moral, yang disampaikan melalui syair-syair merdu sarat makna. Tema yang diangkat mencakup kesucian hati, kasih sayang, penghormatan terhadap Nabi Muhammad saw., penghargaan terhadap sesama, serta ketakwaan kepada Allah SWT.[3]

Perempuan memegang peranan penting dalam kesenian Braen. Sebagai pemimpin doa dan penyair, mereka menjadi figur sentral yang dihormati dalam komunitas, sekaligus panutan dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Melalui Braen, perempuan berkontribusi aktif dalam memperkuat ikatan sosial, mempererat solidaritas, serta memelihara hubungan antaranggota komunitas.[2] Pementasan Braen juga menjadi wadah interaksi sosial, di mana masyarakat yang hadir dapat menjalin komunikasi, mempererat tali silaturahmi, dan membangun rasa kebersamaan melalui pengalaman budaya yang bersifat kolektif.[4]

Referensi

sunting
  1. ^ a b KURNIA NURUL HIDAYAH, NIM 10120099 (2017-05-30). "KESENIAN BRAEN DI DESA RAJAWANA KECAMATAN KARANGMONCOL KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2006–2015 M (STUDI TENTANG MAKNA DAN FUNGSI)" (dalam bahasa Inggris). UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  2. ^ a b Suharto, Abdul Wachid Bambang; Ihsani, Aufannuha; Trianton, Teguh (2024-06-30). "PERAN PEREMPUAN MELALUI KESENIAN BRAEN". MABASAN (dalam bahasa Inggris). 18 (1): 87–126. doi:10.62107/mab.v18i1.795. ISSN 2621-2005.
  3. ^ KURNIA NURUL HIDAYAH, NIM 10120099 (2017-05-30). "KESENIAN BRAEN DI DESA RAJAWANA KECAMATAN KARANGMONCOL KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2006–2015 M (STUDI TENTANG MAKNA DAN FUNGSI)" (dalam bahasa Inggris). UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  4. ^ "Uniknya Tradisi Lisan Masyarakat Berbahasa Ngapak di Jateng". NU Online. Diakses tanggal 2025-06-18.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Paes

pria juga diberi paesan. Dalam pakem rias penganting Osing, atau Mupus Braen Blambangan, paes juga dapat disebut dengan lotho.Terdapat dua model paes

Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Purbalingga Keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional 202101311 Braen Tradisi dan ekspresi lisan 202101312 Lurik Klaten Keterampilan dan kemahiran

Buka Kitab Rambang

di dalamnya. Bagian penting dari tradisi ini adalah penampilan kesenian Braen, yaitu tembang atau suluk berisi syair yang menggambarkan kecintaan kepada

Kehamilan dari pemerkosaan

ISBN 978-1-4200-6504-6. Diakses tanggal 29 January 2013. Jenkins, Jon L.; Braen, G. Richard (1 August 2004). Manual of Emergency Medicine, 5e. Lippincott

Banyuwangi Ethno Carnival

Mengangkat Konsep Pengantin di Suku Using. Dibagi menjadi 3 defile yakni Mupus Braen Blambangan, Sembur Kemuning, dan Sekar Kedaton Wetan. BEC ke 5 ini juga