Tanda Lazarus atau refleks Lazarus adalah gerakan refleks pada pasien mati otak atau gagal batang otak, [1] yang menyebabkan kedua lengan terangkat sebentar lalu terjatuh menyilang di dada. [2] [3] Nama fenomena ini berasal dari Lazarus dari Betania, [4] yang menurut Injil Yohanes dibangkitkan dari kematian oleh Yesus.
Penyebab
suntingSeperti refleks patella, tanda Lazarus adalah contoh dari sebuah refleks yang diperantarai oleh lengkung refleksโsebuah jalur saraf yang melewati koluma vertebra tapi tidak sampai ke otak. Akibatnya, pergerakan ini dapat terjadi pada pasien mati otak yang organnya tetap berfungsi berkat peralatan dukungan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan kompleks yang tak disengaja tidak dapat digunakan sebagai penanda aktivitas otak.[3] Beberapa neurolog meyakini bahwa hipoksia dapat memicu tanda Lazarus namun teori ini semakin melemah seiring munculnya kasus baru pada pasien dengan tingkat oksigen yang normal. Para neurolog yang mempelajari fenomena ini telah menyatakan bahwa peningkatan kesadaran akan fenomena ini dan berbagai refleks lain yang mirip "dapat mencegah keterlambatan dalam diagnosis mati otak dan kesalahpahaman."[2]
Refleks ini sering diawali oleh sedikit gerakan mengigil pada lengan pasien, atau merinding pada lengan dan dada. Lengan kemudian mulai melentur pada pundak dan kemudian terletak di atas sternum. Dari sini lengan biasanya bergerak ke atas leher atau dagu dan saling bersentuhan atau bersilang. Hembusan nafas pendek juga telah diamati terjadi bersamaan dengan refleks tersebut.[3]
Kejadian
suntingTelah diamati bahwa fenomena ini terjadi beberapa menit setelah ventilator medis telah dilepas, yang digunakan untuk memompa udara pada pasien mati otak.[4] Fenomena ini juga terjadi saat pengujian apneaโdimana pernafasan eksternal dan pergerakan otot-otot paru-paru berhentiโyang merupakan salah satu kriteria untuk menentukan kematian otak, yang digunakan oleh Akademi Neurologi Amerika.[5]
Terjadinya tanda Lazarus di instalasi rawat intensif membuat kesalahpahaman dan dianggap sebagai tanda resusitasi pasien. Fenomena ini dapat membuat takut yang menyaksikannya, dan telah dianggap beberapa orang sebagai mukjizat.[3]
Lihat juga
suntingReferensi
sunting- ^ "Brain death and brainstem failure". The Egyptian Society of Medical Ethics. 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Juni 2014. Diakses tanggal 25 April 2026.
- ^ a b S.G Han (2006). "Reflex Movements in Patients with Brain Death: A Prospective Study in A Tertiary Medical Center". Journal of Korean Medical Science. 21 (3): 588โ90. doi:10.3346/jkms.2006.21.3.588. ISSNย 1011-8934. PMCย 2729975. PMIDย 16778413. ;
- ^ a b c d Allan H Ropper (1984). "Unusual spontaneous movements in brain-dead patients". Neurology. 34 (8): 1089โ90. doi:10.1212/wnl.34.8.1089. PMIDย 6540387. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-08-10. Diakses tanggal 25 April 2026.
- ^ a b Calixto Machado (2007). Brain death: a reappraisal. Springer. hlm.ย 79. ISBNย 978-0-387-38975-2.
- ^ "Practice Parameters: Determining Brain Death in Adults" (PDF). American Academy of Neurology. 1994. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 6 Februari 2009. Diakses tanggal 25 April 2026.