Skandal Bruneigate merupakan salah satu faktor yang memicu pemakzulan Presiden Gus Dur(gambar)

Bruneigate adalah skandal yang berlangsung pada penghujung masa kepresidenan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Indonesia pada tahun 2000. Gus Dur dituduh telah menyelewengkan US$2 juta yang merupakan sumbangan dari Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah untuk rakyat Aceh. Penerimaan sumbangan ini dilakukan di luar jalur resmi dan tidak ada rekam catatan mengenai pembagian sumbangan tersebut di Aceh. Akibat tuduhan ini, pada September 2000, Dewan Perwakilan Rakyat membentuk panitia khusus untuk menyelidiki kasus ini bersama dengan kasus Buloggate yang juga menimpa Gus Dur. Walaupun keterlibatan Gus Dur tidak pernah terbukti, kasus ini menjadi salah satu alasan yang digunakan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk memakzulkan Gus Dur.[1]

Pada tahun 2003, Kejaksaan Agung menyatakan bahwa tidak ada bukti Gus Dur telah melakukan kesalahan dalam kasus Bruneigate dan Buloggate. Terkait dengan sumbangan dari Sultan Brunei, Kejaksaan Agung mendapatkan penjelasan dari Kesultanan Brunei bahwa dana yang diberikan kepada Gus Dur adalah zakat, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai bantuan dari negara lain. Oleh sebab itu, zakat ini tidak terhitung sebagai uang negara, dan kasus ini pun tidak dapat dianggap sebagai tindak pidana.[2]

Referensi

sunting
  1. ^ Hosen, Nadirsyah (2007). Shari'a & Constitutional Reform in Indonesia. Institute of Southeast Asian Studies. hlm.ย 83.
  2. ^ "Kejaksaan Agung Nyatakan Gus Dur Tidak terlibat". Tempo. 13 November 2003.[pranala nonaktif permanen]

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Abdurrahman Wahid

Muncul pula dua skandal pada tahun 2000, yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate. Pada bulan Mei, Badan Urusan Logistik (Bulog) melaporkan bahwa $4 juta

Era Reformasi

yang diberikan sebagai bantuan untuk Aceh. Skandal ini dikenal sebagai Bruneigate. Pada akhir 2000, banyak elit politik yang kecewa dengan Gus Dur; yang

Buloggate

tentang penggunaan dana tersebut. Kombinasi antara kasus Buloggate dan Bruneigate tersebut memicu keguncangan politik โ€” media Indonesia dan media internasional

Indonesia dalam tahun 2000

Buloggate dan Bruneigate. Buloggate berkaitan dengan dugaan penyimpangan penggunaan dana Badan Urusan Logistik (Bulog), sedangkan Bruneigate berkaitan dengan

Alvin Lie

Wakil Ketua Fraksi Reformasi 2001-2004 Wakil Ketua Pansus Bulloggate dan Bruneigate 2000-2001 Wakil Sekretaris Fraksi Reformasi 1999-2001. Direktur PT Sarana

Ferry Tinggogoy

untuk menyelidiki keterlibatan presiden dalam kasus korupsi Buloggate dan Bruneigate dan dengan tujuan akhir untuk memakzulkannya. Meskipun begitu, pandangan-pandangan