📑 Table of Contents
Tingkat melek aksara menurut negara (2013)
Tingkat buta aksara menurun sejak 1970

Melek aksara (juga disebut dengan melek huruf atau kemelekan) adalah kemampuan membaca dan menulis.[1] Lawan kata "melek aksara" adalah buta huruf atau tuna aksara, di mana ketidakmampuan membaca dan menulis ini masih menjadi masalah, terutama di negara-negara Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika (40% sampai 50%). Asia Timur dan Amerika Selatan memiliki tingkat buta huruf sekitar 10% sampai 15%. Biasanya, tingkat melek aksara dihitung dari persentase populasi dewasa yang mampu membaca dan menulis.

Melek aksara juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan bahasa dan menggunakannya untuk mengerti sebuah bacaan, mendengarkan perkataan, mengungkapkannya dalam bentuk tulisan, dan berbicara. Dalam perkembangan modern kata ini lalu diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis pada tingkat yang baik untuk berkomunikasi dengan orang lain, atau dalam taraf bahwa seseorang dapat menyampaikan idenya dalam masyarakat yang mampu baca-tulis, sehingga dapat menjadi bagian dari masyarakat tersebut.

Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) memiliki definisi sebagai berikut:

Melek aksara adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, mengerti, menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan mengolah isi dari rangkaian teks yang terdapat pada bahan-bahan cetak dan tulisan yang berkaitan dengan berbagai situasi.

Kemampuan baca-tulis dianggap penting karena melibatkan pembelajaran berkelanjutan oleh seseorang sehingga orang tersebut dapat mencapai tujuannya, di mana hal ini berkaitan langsung bagaimana seseorang mendapatkan pengetahuan, menggali potensinya, dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat yang lebih luas.

Banyak analis kebijakan menganggap angka melek aksara adalah tolok ukur penting dalam mempertimbangkan kemampuan sumber daya manusia di suatu daerah. Hal ini didasarkan pada pemikiran yang berdalih bahwa melatih orang yang mampu baca-tulis jauh lebih murah daripada melatih orang yang buta aksara, dan umumnya orang-orang yang mampu baca-tulis memiliki status sosial ekonomi, kesehatan, dan prospek meraih peluang kerja yang lebih baik. Argumentasi para analis kebijakan ini juga menganggap kemampuan baca-tulis juga berarti peningkatan peluang kerja dan akses yang lebih luas pada pendidikan yang lebih tinggi.

Sebagai contoh di Kerala, India, tingkat kematian wanita dan anak-anak menurun drastis pada tahun 1960an, saat anak-anak gadis terdidik di saat reformasi pendidikan setelah tahun 1948 mulai berkeluarga. Walaupun begitu riset terbaru beragumentasi bahwa hasil yang didapat di atas mungkin lebih banyak disumbangkan sebagai hasil dari disekolahkannya anak-anak tersebut dibandingkan dari kemampuan baca-tulisnya saja. Walaupun begitu, di seluruh dunia fokus dari sistem pendidikan tetap merupakan konsep-konsep yang meliputi komunikasi melalui teks dan media cetak, dan hal ini masih merupakan dasar dari definisi melek aksara.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ KBBI edisi ketiga tahun 2005. Diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka.

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Aksara Jawa

Indonesia merdeka berfokus pada pendidikan Bahasa Indonesia dan pemberantasan buta huruf Latin, sehingga penggunaan aksara tidak kembali sebagaimana semula pada

Muzammil Hasballah

dimana pun, Ngajilah!โ€, sebuah media edukasi dengan misi memberantas buta huruf Al-Quran di Indonesia dan memberdayakan guru ngaji. Sebagai pengusaha

Pakistan

ragam. Pakistan terus menghadapi berbagai tantangan, termasuk kemiskinan, buta huruf, korupsi, dan terorisme. Pakistan adalah anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa

Imam Syafei

untuk menampung rekan-rekannya yang dikeluarkan dari dinas tentara karena buta huruf. Pada tahun 1958, pangkatnya naik menjadi letnan kolonel. Soekarno mengangkat

Nama dan gelar Muhammad

"Nikmat Ilahi" al-Ummiyy, "Tidak bisa menulis dan buta huruf". An-Nabiyyul-Ummiyy, "Nabi yang buta huruf" al-'Aqib, "Yang Terakhir" al-Mutawakkil, "Orang

Hamdan Juhannis

Selatan. Ayahnya meninggal ketika usia Hamdan masih belia. Ibunya seorang buta huruf yang juga single parent berprofesi Penenun kain sarung sutra yang menjadi

Sejarah pendidikan

Soviet adalah penghapusan buta huruf. Sebuah sistem pendidikan wajib universal didirikan. Jutaan orang dewasa yang buta huruf didaftarkan ke sekolah literasi

Gereja Kristen Jawa

diri Gereja-gereja Kristen Jawa adalah golongan akar rumput lagi pula buta huruf, keluarga para pembantu rumah tangga dan buruh membatik, anggota masyarakat