Buzzer (bahasa Indonesia: pendengung) adalah seseorang yang bekerja untuk mendengungkan (buzz) pesan atau pandangan tertentu mengenai persoalan, gagasan, atau merk, agar terlihat sealami mungkin.[1][2][3][4] Buzzer berupaya memengaruhi opini publik agar sejalan dengan pandangan yang ingin mereka lumrahkan. Ilmuwan sosial berbeda pandangan mengenai penggunaan akun: beberapa berpandangan bahwa seorang buzzer adalah seseorang yang secara khusus menggunakan akun-akun bodong atau siluman (sockpuppet);[5] yang lain berpandangan bahwa seorang buzzer bisa juga menggunakan akun-akun pemengaruh (influencer), bahkan keduanya.[2] Terdapat perbedaan pandangan pula di antara ilmuwan sosial mengenai kompensasi: beberapa menganggap seseorang hanya bisa dikatakan buzzer jika mereka menerima imbalan berupa uang;[4] yang lain beranggapan bahwa imbalan bisa berupa dalam bentuk lain seperti jabatan komisaris, jejaring sosial, patronase, maupun keyakinan dan komitmen pada nilai yang diusung.[6][7]

Buzzer yang terlibat dalam penyebaran pandangan yang menyangkut pemilu, partai politik, serta kebijakan pemerintah dan perusahaan yang berdampak pada publik, kerap disebut sebagai buzzer politik.[2]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Rudyansjah, Tony; Rasidi, Pradipa P. (2022-09-01). "Virtual embodiment in physical realities: Brand buzzers and disciplined bodies in an Indonesian cyberscape". HAU: Journal of Ethnographic Theory (dalam bahasa Inggris). 12 (2): 436โ€“452. doi:10.1086/720302. ISSNย 2575-1433.
  2. ^ a b c Rasidi, Pradipa P. (2023-10-31). "Transformative Working-Class Labor in Indonesia's Political Influence Operations". Influence Industry Explorer (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 Desember 2023.
  3. ^ Paramaditha, Andjarsari (23 Agustus 2013). "In Indonesia, buzzers are not heard, but tweet for money" (dalam bahasa Inggris). Reuters. Diakses tanggal 1 Desember 2023.
  4. ^ a b Syaukat, Rosidah; Imanjaya, Ekky (Oktober 2011). "Tweet Berbayar: Bagaimana Word-of-Mouth Bekerja dalam Media Baru". HUMANIORA. 2 (2).
  5. ^ Wijayanto; Berenschot, Ward. "Organisation and funding of social media propaganda". Inside Indonesia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 Desember 2023.
  6. ^ Rasidi, Pradipa P. (2023). "Ludic cybermilitias: shadow play and computational propaganda in the Indonesian predatory state". Communication, Culture & Critique (dalam bahasa Inggris). tcad26. doi:10.1093/ccc/tcad020. Diakses tanggal 1 Desember 2023.
  7. ^ Seto, Ario (2019). "Islamist Buzzers Message Flooding, Offline Outreach, and Astroturfing". Advances in Southeast Asian Studies (dalam bahasa Inggris). 12 (2). doi:10.14764/10.ASEAS-0021.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Jepang

2007-06-13. Diakses tanggal 2007-03-29. "Life-time Employment (็ต‚่บซ้›‡็”จ)". exBuzzWords. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-02-07. Diakses tanggal 2007-03-28

420 (budaya ganja)

Diakses tanggal 19 April 2012. "High Expectations: Marketers Hope for Buzz on 4/20". The Wall Street Journal. April 20, 2012. Grim, Ryan (April 20,

TikTok

"Forget The Trade War. TikTok Is China's Most Important Export Right Now". BuzzFeed News. 16 Mei 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Mei 2019

YouTube

August 3, 2009. Dsouza, Keith (July 20, 2009). "YouTube 3D Videos". Techie Buzz. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-03-02. Diakses tanggal August 3, 2009

Neil Armstrong

pendaratan bulan Apollo 11 bulan Juli 1969. Pada misi ini, Armstrong dan Buzz Aldrin turun ke permukaan bulan dan menghabiskan 2ยฝ jam menjelajahi Bulan

Gold Ship

menarik perhatian besar; Ia menduduki peringkat ke-5 dalam "2021 Net Buzz Word of the Year" sementara versi Umamusume-nya menduduki peringkat ke-2. Selain

Tepuk jidat

Diakses tanggal 12 Sep 2014. Maxwell, Kerry (4 Jul 2011). "facepalm". BuzzWord. Macmillan Publishers. Diakses tanggal 22 Nov 2011. "Face Palm Emoji".

Uwu

"People Have Discovered This Weird Furry Meme Is An Actual Word And It's Making Them Scream". BuzzFeed News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-05-09