| Candi Deres | |
|---|---|
| Informasi umum | |
| Alamat | Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, Indonesia |
Kawasan Candi Deres merupakan Kawasan yg sangat luas, yg diduga merupakan kawasan Mandala (Kompleks Candi yg sangat Besar). Sekitar kawasan candi terdapat beberapa gumuk yang juga ditemukan berbagai benda-benda purbakala yang terkait dengan keberadaan Candi Deres. Lokasi Candi Deres berada di RT 01/RW 03 Dusun Krajan, Desa Purwoasri Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember.
Sejarah Penemuan
suntingRiwayat penemuan Candi Deres diketahui dalam catatan arsip Notulen yang berjudul Notulen van de Algemeene en Directievergaderingen van Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten and Wetenschappen pada tahun 1900 Masehi. Juga terdapat sebuah foto yang memperlihatkan kondisi Candi Deres dengan sebutan nama lain sebagai Tjandi Retjo (atau Candi Reco) pada laporan tertanda tahun 1904.
N. J. Krom pada tahun 1920 melaporkan kondisi dan situasi Tjandi Retjo, penamaan Krom dalam laporannya di buku yang berjudul Inleiding Tot De Hindoe – Javaansche Kunst (Pengantar tentang Seni Hindu Jawa). Buku ini disusun Krom dan diterbitkan pada tahun 1920.
Tjandi Retjo (Candi Reco), begitu sebutan lain dari Candi Deres, disebutkan dalam laporan tahun 1904 dan tulisan Krom tahun 1920 ditemukan di Menampoeh (Menampu) yang berada di District (Kawedanan) Puger. Menampu merupakan nama lama dari Kecamatan Gumukmas, yang kini menjadi salah satu nama desa di Kecamatan Gumukmas. Menampu awalnya memiliki luas seluruh Kecamatan Gumukmas, yang kini menjadi salah satu desa bagian dari Kecamatan Gumukmas. Semula lokasi Candi Deres berada dalam wilayah desa Gumukmas Kecamatan Gumukmas, selanjutnya setelah terjadi pemekaran Desa Gumukmas menjadi dua desa (Desa Gumukmas dan desa Purwoasri), lokasi Candi Deres menjadi bagian dari Desa Purwoasri yang berada di Dusun Krajan. Disebut sebagai Tjandi Retjo karena di kawasan candi ini ditemukan beberapa reco atau patung.
Kondisi Candi Retjo atau Candi Deres antara tahun 1900 sampai 1904 dapat dilihat dari foto yang diambil pada tahun 1904 Masehi dengan kondisi yang masih relatif utuh dan masih terlihat bentuk aslinya serta terlihat sebuah Yoni yg Cukup besar teronggok di depan Candi. Foto tersebut dipublikasikan oleh lembaga KITLV (Koninklijk Institut voor Taat Land-en Volkenkunde). Keterangan dari Krom, di lokasi Candi ini ditemukan patung Candi kecil (miniatur Candi) serta Arca Durga Mahisasuramardini yang dikirim ke Museum di Batavia (sekarang dikenal Museum Nasional) namun fragmen/potongan dari Arca Mahisasuramardini tersebut yaitu lapik, sepasang kakinya yg menginjak sapi serta wujud raksasa kecil tersimpan di gedung koleksi Purbakala Diknas Jember. Beberapa temuan artefak Candi Deres tersimpan baik di Gedung Koleksi Diknas Jember, diantaranya; arca Terakota Durga, arca Agastya, Arca Nandi, 3 Buah Yoni utuh dan 1 fragmen/potongan Yoni, Fragmen kepala Arca Mahakala/Nandiswara. Serta yg masih utuh sebuah Panel Relief cukup besar dengan gambaran 3 ekor burung Jaruman Atat & miniatur Candi Induk & 2 candi Pewaranya.
Jaruman atat sendiri banyak muncul di relief-relief candi, selain hewan endemik Jaruman Atat dikenal dalam cerita Panji di relief-relief candi sebagai burung pembawa surat (pesan) panji kepada Sekartaji/Sritanjung. Penggambaran burung jenis ini, seperti Atat dan Merpati sebagai simbol pembawa pesan, biasanya dihadirkan dalam relief segmen Lalitavistara, kerap muncul disisi kanan panil Candi yg berlatar cerita menyambut pagi dengan udara yang segar.
Dalam susunan Panteon Hindu, Candi Induk memiliki beberapa relung yang masing-masing di isi oleh Arca. Arca Agastya di tempatkan direlung sebelah kiri. Arca Mahisasuramardini direlung sebelah kanan, Arca Mahakala disisi kiri relung pintu utama, Arca Nandiswara disisi relung kanan pintu utama. Arca Ganesha direlung belakang Candi. Beberapa artefak dan fragmen arca tersebut sudah ditemukan. Kecuali Ganesha yg belum ditemukan.
Adapun di garbahgrha ditempatkan Lingga Yoni. Ada kemungkinan konon dulu pada relung utama Garbhagrha ditempatkan Arca Parwati (Uma Sakti Siwa) Istri Siwa. Candi Induk Deres yg berada disisi selatan kini tengahnya ditumbuhi pohon nesar. Sedangkan disisi utara terdapat reruntuhan dua Candi Pewara (Pendamping).
Menurut Arkeolog dan Epigraf Bapak Drs. Ismail Lutfi, MA ketika observasi di Candi Deres pada awal September 2023 serta melihat beberapa motif corak pola pada artefak beberapa Arca dan Yoni Candi Deres. Jika melihat motif dan profilnya serta melihat ukuran bata yg relatif cukup Besar, Candi ini dulunya sangat luar biasa, diduga kuat berdiri sebelum Majapahit. Dari temuan beberapa lokasi situs di sekitarnya, Candi Deres merupakan kompleks Mandala Suci bersifat Hindu Siwaistis dg luas wilayah sekitar 1-5 hektar.
Namun Candi Deres (Candi Reco - Candi Menampu) disinyalir kuat tertuang di Kitab Desawarnana/Negarakertagama, dimana Mpu Prapanca memberi catatan tentang situasional candi ini pada Pupuh 78 ayat 4 tentang sebuah kalimat "Darmmarsi" (Karsyan) yg secara toponimi dekat dg "Kasiyan" sebuah wilayah desa dekat Menampu (Gumukmas) serta kata "Nampu" yg juga secara toponimi sangat mendekati kata meNampu yg terdapat sebuah Pemujaan tempat Siwa Bersemayam (Candi Siwa) Nampu milik Keluarga Hajyan (Raja) yg dulu Masyhur di Jagat, wilayah bebas pajak dan kaminan keamanan utk Orang Pakuwuhan (Gandatrp Haracala Nampu Kakadaņ Hajyan Gahan ring Jagat, sima nadyabhaye tiyaɳ pakuwukan).
Berikut Kalimat Lengkap pupuh tsb :
• Darmmarsi sawuņan / blah juru siddaɳ sranan waduryyaglan, gandatrp haraçala nampu kakadaɳ hajyan gahan riɳ jagat, sima nadyabhaye tiyaɳ pakuwukan / sima kiyal/ mwaɳ çuci, tan karyyaɳ kawiri barat / kacapanan / ywangehnya simapagöh.
• Artinya : Wilayah Karsyan - tempat Para Rsi Berkumpul (Yayasan Pendidikan Keagamaan bersama - Sawuņan). Dibagi & ditetapkan oleh Juru Sidang Petugas Waduryyaglan dg memasang Panji Yama pada Kompleks Pemujaan (Candi) tempat Siwa (Hara) Bersemayam (Acala/Gunung) NAMPU milik Keluarga raja (Hajyan) yg dulu termasyhur di jagat, Wilayah Bebas Pajak yg aman & tentram bagi orang2 Pakuwuhan. Desa Perdikan Kiyal dan Suci tak tersentuh karya kawi (sastra) di barat. Kacapanan juga ditetapkan sebagai daerah Bebas Pajak (Sima pagöh).
Hal ini tertulis setelah Raja melakukan kunjungan dibeberapa tempat termasuk daerah tapal kuda (Lumajang, Jember, Bondowoso & Situbondo) tepatnya pada tahun 1286 saka/1364 Masehi Mangkatnya Gajah Mada (di Pupuh 71), kemudian Raja membuat undang-undang baru untuk merenovasi beberapa Bangunan Peribadatan, Bangunan para leluhur dahulu kala, Candi makam, tenpat ziarah segera dipugar, dijaga & dibina dengan seksama, yang belum ada prasasti segera dibuatkan yg baru kepada citralekha dan ahli sastra (para kawi). Serta segera menetapkan Wilayah Perdikan (Sima), Siwa, Karsyan, Kasogatan, Wanaprasta dll (Pupuh 73) Termasuk yg ada di wilayah Jember termasuk Kasiyan (Darmmarsi) & Nampu (Menampu - Candi Deres).
Sebuah Hipotesa: disinyalir kuat nama Candi Reco - Candi Menampu atau sekarang Candi Deres adalah "Gandatrp Haracala" yg merupakan milik Keluarga Raja dahulu (Leluhur Raja).
Catatan:
- Hara adalah Nama Lain Siwa - Acala dalam Kamus Sankrit - Jawa Kuno adalah Gunung (tempat bersemayam) - Ganda, Ginanda dlm sanskrit adalah Bau, Harum, warna warni, winarna, Berganda - berlapis, tentang panji2 yama. - Trp dalam sanskrit adalah Pasang, Sesuatu.
Nama2 Wilayah Jember yg tercatat di Kakawin Desawarnana (Negarakertagama) yg ditulis oleh Mpu Prapanca, yang menurut beberapa literasi selasai ditulis pada 30 September 1365 Masehi, Selain Dipupuh 22 (ayat 1 - 5) & Pupuh 23 (ayat 1 - 3), disinyalir juga terdapat di Pupuh 73 & 76:
1. Puger Sebagai Candi Makam Leluhur (Pupuh 73 ayat 3) :
• Kwehnikanaɳ sudarmma haji kaprakaçita makhadi riɳ kagnenan, lwir nikanaɳ manadi tumapel / kidal / jajagu wedwawedwan i tudan, mwaɳ pikatan bukul jawajawantan antaraçaçi kalaɳ brat i jaga, len balitar / çilahrit i waleri babeg i kukap ri lumban i pagör.
• artinya : Jumlah candi makam raja seperti berikut, mulai dengan Kagenengan, Disebut pertama karena tertua: Tumapel, Kidal, Jajagu, Wedwawedan, Di Tuban, Pikatan, Bakul, Jawa-jawa, Antang Trawulan, Kalang Brat dan Jago, Lalu Balitar, Sila Petak, Ahrit, Waleri, Bebeg, Kukap, Lumbang di Puger.
2. Sadeng Sebagai Desa Perdikan Siwa (Pupuh 76 Ayat 1)
• Lwir ni darmma lpas / pratista ciwa mukya kuti balay i kanci len kapulunan, roma mwaɳ wwatan içwaragrha phalabdi tajuɳ i kuti lamba len / ri taruna, parhyanan kuti jati candi lima nilakusuma harinandanottama suka, mwaɳ prasada haji sadaɳ muwah i pangumulan i kuti sangrahe jayadika.
• Artinya : Desa perdikan Siwa yang bebas dari pajak: biara relung Kunci, Kapulungan, Roma, Wwatan, Iswaragreha, Palabdi, Tanjung, Kutalamba, begitu pula Taruna, Parhyangan, Kuti Jati, Candi Lima, Nilakusuma, Harimandana, Uttamasuka, Prasada-haji, Sadeng, Panggumpulan, Katisanggraha, begitu pula Jayasika.
3. Wuluhan Sebagai Desa Perdikan (Pupuh 76 Ayat 2)
• Tan karyya sphatikeyan i jaya manalwi haribhawana candi (125a) wunkal i pigit, nyu dante katude sranan / kapuyuran jayamuka kulanandane kanigara, rmbut lan wuluhen muwah ri khinawoh mwan i sukhawijayathawa ri kajaha, campen / mwaɳ ratimanmathaçrama kula kalin i batu putih tekha pameweh.
• Artinya : Tak ketinggalan: Spatika, Yang Jayamanalu, Haribawana, Candi Pangkal, Pigit, Nyudonta, Katuda, Srangan, Kapukuran, Dayamuka, Kalinandana, Kanigara, Rambut, Wuluhan, Kinawung, Sukawijaya, dan lagi Kajaha, demikian pula, Campen, Ratimanatasrama, Kula, Kaling, ditambah sebuah lagi Batu Putih,
Banyak Beberapa data dan temuan Arkeologis yang mendukung di wilayah-wilayah tersebut diantaranya, struktur bata dan 3 buah yoni di Tamansari Wuluhan, reruntuhan candi, beberapa arca dan beberapa antefik di Pontang Ambulu. Struktur Bata dan Yoni di Mlokorejo serta Kasiyan. Struktur Bata di Kuto dawung, arca Mahakala di Sukereno Umbulsari, struktur bata di Kuto Boro Cakru, Reruntuhan Candi di Situs Alas Kota Kranjingan, Reruntuhan Candi, Lingga & Sepasang Lingga yoni di Gumuk Boto Gumukmas, Yoni Di Gumuk Lumpang Gumukmas (dimana keduanya masih satu kompleks dg Candi Deres) dan lain2 yg masih banyak bersebaran di wilayah Jember.
Kondisi Terkini
suntingKondisi Candi Deres saat ini, antara tahun 2017 – 2018, sudah berbentuk reruntuhan dan terlihat sebagai tumpukan batu bata. Penyebab kerusakan bisa dilihat karena dua faktor, yaitu faktor alam dan keusilan tangan manusia. Beberapa koleksi dari temuan di lokasi Candi Deres, berupa beberapa patung dan relief candi yang kini disimpan di Gudang Penyimpanan Benda Cagar Budaya Kabupaten Jember yang terletak lokasi Kantor Pendidikan Nasional (Diknas) Jember. Penyimpanan dan pemeliharaan dilakukan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember bermitra teknis dengan Koordinator Wilayah Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Faktor alam yang merusak akibat perubahan musim serta tumbuhnya beberapa pohon yang akarnya menerobos sela-sela bangunan candi sehingga lambat laun merusak kondisi keberadaan bangunan Candi Deres yang terjadi secara terus menerus. Kemungkinan Hayam Wuruk sempat mengunjungi Candi Deres pada tahun 1359 M yang kemungkinan terbengkalai & tdk berfungsi secara maksimal akibat dari suasana politik yg memanas pada masa sebelumnya (tragedi Sadeng di masa Tribuwana Tunggadewi).
Sedangkan faktor manusia akibat kejahilan dan keusilan tangan manusia. Pasca G 30 S PKI tahun 1965. terjadi pengrusakan bangunan candi, karena diduga Candi Deres dipergunakan sarana syirik, sehingga candi ini dianggap perlu dimusnahkan. Serta, adanya beberapa kalangan masyarakat yang mempergunakan batu bata candi untuk bangunan, serta disatroni pencuri barang antik. Keberadaan Candi Deres ini memiliki beberapa potensi yang terkait dengan beberapa bidang, yaitu
- 1. Keberadaan Candi Deres sebagai peninggalan atau warisan sejarah memiliki cerita serta adat istiadat dari keberadaannya dan penggunaannya, sehingga menjadi latar belakang dari keberadaan desa yang terdapat di sekitar lingkungan Candi Deres, serta menjadi latar belakang dari keberadaan Kabupaten Jember dalam hal Warisan Nasional dalam kerangka membentuk identitas bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
- 2. Sebagai Pusat Kajian Sejarah, Budaya, dan Ilmu Pengetahuan.
- 3. Sebagai Objek Wisata Sejarah dan Budaya. Demikian gambaran ringkas tentang keberadaan dari Candi Deres, yang disebut juga sebagai Tjandi Retjo, untuk selanjutnya terus digali dan dikaji tentang potensi dari adanya Candi Deres yang menjadi Pusaka Budaya Bangsa Indonesia.
Sumber
suntingHadi, Y. Setiyo. (2019). Riwayat Penemuan Candi Deres / Candi Retja. Jember: Boemi Poeger.
Perpustakaan
suntingAyattroehaedi (dkk), Kamus Istilah Arkeologi I, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, 1981.
Harianti, V. Indah Sri Pinasti, dan Sudrajat, Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Sekitar Candi Terhadap Candi dan Upaya Pelestariannya (Laporan Hasil Penelitian), Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2007.
Java. Res. Besoeki: Menampoe, Batavia: Topographische Inrichting, 1913. Joordaan, Roy, (ed.), Memuji Prambanan: Bunga Rampai Para Cendekiawan Belanda Tentang Komplek Percandian Loro Jonggrang, Jakarta: KITLV Jakarta dan Yayasan Obor Indonesia, 2009. Krom, Dr. N. J., Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst, ‗s-Gravenhage, 1920.
Laporan Kerja Ekskavasi Gumukmas I 1985 Candi Deres (Gumuk Candi) (10 – 25 Desember 1985, Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Proyek Penelitian Purbakala Yogyakarta, 1985 / 1986.
Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Di Kec. Gumukmas Jember Tahun 1987, Yogyakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Balai Arkeologi Yogyakarta, 1987. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Ekskavasi Gumukmas II Candi Deres (Gumuk Candi) 1989, Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Balai Arkeologi Yogyakarta, 1989/1990.
Lutfi, Ismail, “Desa-desa Kuno di Malang Periode Abad ke- 9 – 10 Masehi: Tinjauan Singkat Berbasiskan Data Tekstual Prasasti dan Toponimi‖, yang dimuat dalam jurnal Sejarah, Tahun Kesembilan, Nomor 1, Februari 2003, hal. 28 sampai 41.
Notulen van de Algemeene en Directievergaderingen van Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten and Wetenschappen, opgericht 1778. Deel XXXVIII – 1900, Batavia & ‗sGravenhage: . Kollf &Co en M. Nijhoft, 1901.
Rahadian, ―The Persistence of ‗Candi‘ Representation in Modern Arsitecture in Indonesia: A Study Of Architectural Representation in Post Colonial Era‖, dalam International Journal of Engineering & Technology IJET-IJENS, Vol: 11 No: 04, halaman 134 sampai 141.
Rahadian, Transformasi Arsitektur Pemukiman Tradisional di Jawa dari Masa Hindu Buddha ke Masa Islam (Transformation in the Traditional Architecture Settlement on Jawa From Hindu Budhist Era to The Islamic Era, Bandung: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Katolik Parahyangan, 2007.
Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera – 1904 – uitgegeven voor rekening van het Bataviasch Genootschap van Kunsten en WetenschappenI, Batavia n ‗sGravenhage: Albrecht & Co en M.Nijhoff, 1906.
Rapporten van den Ouudheidkundigen Dienst in Nederlandsch Indie 1923 – Inventaris der Hindoe-oudheden op den grondslag van Dr. R.D.M. Verbeek’s Oudheden van Java samengesteld op het Oudheidkundig Bureau – Derde Deel – Uitgegeven door het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap, Batavia – ‗s Gravenhage: Albrecht&Co en M. Nijhoff, 1923,
Sedyawati, Edi, Ellya Iswati, Kusparyati Boedhijono, dan Dyah Widjajanti D., Kosakata Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Melayu Masa Kini, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. Soekmono, DR. R. Candi: Fungsi dan Pengertiannya, Disertasi Dokto, Jakarta: Universitas Indonesia, 1977.
Soekmono, DR. R., Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, Yogyakarta: Kanisius, 2001. Suarbhawa, I Gusti Made, ―Pemekaran Desa Pada Zaman Bali Kuna‖, danlam FA. No. I / 2000, halaman 40 sampai 48.
