Candi Bulus adalah sebuah situs candi Hindu Siwa yang terletak di Dukuh Kejaksan, Desa Pedagangan, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Candi ini diperkirakan dibangun antara abad ke-7 hingga ke-10 Masehi dan menjadi salah satu peninggalan penting dari masa Hindu-Buddha di wilayah Tegal.[1]
Candi Bulus memiliki struktur berbentuk persegi dengan ukuran 8,2 x 8,2 meter, mencakup ruang utama seluas 6 x 6 meter. Temuan arkeologis di situs ini meliputi berbagai artefak penting seperti yoni, lingga, arca Agastya, serta susunan bata merah yang membentang dari arah timur laut ke barat daya. Keberadaan arca Agastya secara khusus mengindikasikan fungsi candi sebagai tempat pemujaan dalam tradisi Siwaisme.[2]
Lokasi candi berada di wilayah yang menjadi pusat aktivitas keagamaan masa Hindu-Buddha di Jawa Tengah bagian barat. Keberadaannya bersama situs seperti Candi Kesuben dan Candi Bumijawa menunjukkan penyebaran pengaruh Hindu yang luas di daerah ini.[3]
Situs Candi Bulus saat ini berada di pekarangan salah satu warga, sehingga akses dan pelestariannya masih terbatas. Meskipun demikian, candi ini menjadi bagian penting dari warisan budaya Tegal dan menjadi objek studi bagi para arkeolog dan sejarawan untuk memahami sejarah lokal dan perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah.[4]
Relasi Historis Candi Bulus dengan Kerajaan Mataram Kuno dan Majapahit
suntingCandi Bulus sebagai struktur keagamaan Hindu Siwa dari abad ke-7 hingga ke-10 Masehi menunjukkan keterkaitan dengan perkembangan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Pembangunannya sezaman dengan periode keemasan Mataram Kuno di bawah dinasti Sanjaya dan Syailendra, yang membangun kompleks candi besar seperti Borobudur dan Prambanan. Lokasinya di Tegal mengindikasikan perluasan pengaruh budaya dan politik Mataram Kuno hingga wilayah barat Jawa Tengah, melampaui pusat-pusat tradisional di Magelang dan Prambanan.[5][6]
Pada masa berikutnya, meskipun tidak dibangun pada era Majapahit, Candi Bulus tetap menjadi bagian dari lanskap budaya yang dipengaruhi kerajaan tersebut. Majapahit meneruskan tradisi Hindu-Buddha di Jawa Tengah barat dengan karakteristik arsitektur yang berbeda, lebih menekankan pada fungsi sebagai makam leluhur. Wilayah Tegal kemudian berkembang menjadi titik persimpangan budaya antara warisan Mataram Kuno, pengaruh Majapahit, dan transformasi ke periode Mataram Islam, dengan Candi Bulus sebagai salah satu bukti material tahap awal perkembangan ini.[5][6]
Referensi
sunting- ^ Nastiti, Titi Surti; Djafar, Hasan (2017-01-19). "PRASASTI-PRASASTI DARI MASA HINDU BUDDHA (ABAD KE-12-16 MASEHI) DI KABUPATEN CIAMIS, JAWA BARAT". PURBAWIDYA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi. 5 (2): 101. doi:10.24164/pw.v5i2.115. ISSNย 2528-3618.
- ^ Lelono, Hari (2013-05-31). "BAHAN DAN CARA PEMBUATAN ARCA BATU SEBAGAI KOMPONEN PENTING CANDI-CANDI MASA KLASIK DI JAWA". Berkala Arkeologi. 33 (1): 93โ108. doi:10.30883/jba.v33i1.8. ISSNย 2548-7132.
- ^ radartegal.com. "5 Situs Candi Terkenal di Tegal, Ada yang Dari Abad 8 Masehi". radartegal.com. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ Mentari, Gaya (2021-12-31). "KEARIFAN LOKAL PADA PERWUJUDAN TATHAGATA DI CANDI BOROBUDUR (LOCAL GENIUS IN TATHAGATA STATUE IN BOROBUDUR TEMPLE)". Sejarah dan Budayaย : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya. 15 (2): 355. doi:10.17977/um020v15i22021p355-368. ISSNย 2503-1147.
- ^ a b Azizah, Ulvia Nur. "11 Kerajaan Hindu di Indonesia dan Sejarah Singkatnya". detikjogja. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ a b Admin (2024-06-18). "Kadipaten Tegal: Persimpangan Sejarah antara Majapahit dan Mataram Islam". KowantaraNews. Diakses tanggal 2025-06-19.