Cimplo adalah sebuah tradisi kuliner khas masyarakat Indramayu, Jawa Barat, yang dilaksanakan secara khusus pada bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah. Asal-usul tradisi ini tidak diketahui secara pasti,[1] tetapi pelaksanaannya tetap dipertahankan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.[2] Hingga saat ini, cimplo masuk ke dalam ketgori warisan budaya takbenda yang berasal dari Indramayu.[3]
Cimplo juga merujuk pada makanan tradisional ringan berbentuk kue yang menjadi bagian utama dari tradisi tersebut. Makanan ini dibuat dari campuran beras, tepung terigu, dan ragi instan yang diadon hingga mengembang, kemudian dimasak di atas wajan berbentuk bulat. Sebagai pelengkap, disajikan gula merah cair hasil rebusan dan parutan kelapa. Dalam penyajiannya, Cimplo biasanya dimakan dengan cara mencelupkannya ke dalam gula merah tersebut sebelum disantap.[2]
Tujuan
suntingDalam konteks ritual makanan (food rituals) atau ritual berbasis makanan, cimplo dapat dipahami sebagai bagian dari tradisi tolak bala yang telah lama berkembang di kalangan masyarakat Indramayu. Praktik ini memperlihatkan bagaimana makanan berperan tidak hanya sebagai kebutuhan jasmani, tetapi juga sebagai medium simbolik dalam sistem kepercayaan lokal. Ritual tolak bala yang dikaitkan dengan makanan seperti Cimplo memberikan gambaran tentang pandangan masyarakat terhadap hubungan antara musibah, kekuatan Ilahi, lingkungan sekitar, serta makna spiritual yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi.[2]
Pembuatan
suntingPembuatan cimplo umumnya dilakukan oleh para ibu rumah tangga di lingkungan setempat. Proses pembuatannya dilakukan dalam jumlah besar, bukan untuk tujuan komersial, melainkan sebagai bentuk berbagi dengan tetangga dan kerabat. Sebelum dibagikan, cimplo dikemas menggunakan wadah plastik atau mika, masing-masing berisi sekitar lima hingga delapan potong kue, disertai dengan gula merah cair yang telah dibungkus terpisah.[4] Setelah proses pengemasan selesai, cimplo kemudian didistribusikan kepada tetangga dan sanak saudara sebagai bagian dari pelaksanaan tradisi.[2]
Nilai solidaritas sosial
suntingTradisi cimplo di Indramayu merupakan wujud solidaritas sosial masyarakat yang dilakukan setiap bulan Safar dengan membuat dan membagikan kue Cimplo kepada sesama tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun agama. Melalui kebersamaan para perempuan dalam proses pembuatan hingga pembagiannya, tradisi ini memperlihatkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang kuat, sekaligus menjadi simbol persatuan dan identitas budaya masyarakat pesisir utara Jawa Barat.[2][5]
Referensi
sunting- ^ Car, Naba Rent (2023-10-17). "Kue Cimplo: Makanan Khas Indramayu Pelindung dari Tolak Bala". Naba Rent Car (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-02.
- ^ a b c d e "Cimplo: Tradisi Tolak Bala, Solidaritas Sosial dan Peneguhan Identitas Wilayah". The Columnist. Diakses tanggal 2025-11-02.
- ^ "Pemdaprov Jabar Tetapkan 42 Karya Budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2025".
- ^ Rasmadi, Sudedi. "Kue Cimplo dan Tradisi Tolak Bala Ala Warga Indramayu". detikjabar. Diakses tanggal 2025-11-02.
- ^ "Mengenal Cimplo di Indramayu, Tradisi Unik di Bulan Safar". ARINA.ID. Diakses tanggal 2025-11-02.