Crossair Penerbangan 3597
HB-IXM, pesawat yang terlibat dalam kecelakaan tersebut, difoto pada Juli 2001
Ringkasan kecelakaan
Tanggal24 November 2001
RingkasanPesawat menabrak permukaan tanah karena kesalahan navigasi dan pilot
Lokasi
Peta
Pesawat
Jenis pesawatAvro RJ100
OperatorCrossair
IATALX3597
ICAOCRX3597
Kode panggilCROSSAIR 3597
RegistrasiHB-IXM
AsalBandar Udara Tegel Berlin, Jerman
TujuanBandar Udara Zurich, Swiss
Orang dalam pesawat33
Penumpang28
Awak5
Tewas24
Cedera9
Selamat9

Crossair Penerbangan 3597 merupakan penerbangan berjadwal dari Bandar Udara Berlin Tegel di Jerman menuju Bandar Udara Zürich di Swiss. Pada 24 November 2001, pesawat Crossair Avro RJ100 yang melayani rute tersebut, dengan nomor registrasi HB-IXM, jatuh di kawasan perbukitan berhutan di dekat Bassersdorf dan kemudian terbakar. Dari total 33 orang di dalam pesawat, sembilan orang berhasil selamat.[1]

Pesawat

sunting

Pesawat yang mengalami kecelakaan adalah Avro 146-RJ100 dengan nomor registrasi HB-IXM, diproduksi pada tahun 1996. Saat kejadian, pesawat ini telah mencatat lebih dari 13.000 jam terbang dengan 11.500 siklus penerbangan. Pesawat tersebut ditenagai oleh empat mesin berbaling-baling turbo Lycoming LF507-1F.[1]

Kecelakaan

sunting

Penerbangan 3597 lepas landas dari Bandara Berlin Tegel pada pukul 21.01 waktu setempat (CET) dengan membawa 28 penumpang, tiga awak kabin, serta dua pilot di kokpit, yaitu Kapten Hans Ulrich Lutz (57 tahun) dan Kopilot Stefan Löhrer (25 tahun). Lutz merupakan pilot yang sangat berpengalaman dengan lebih dari 19.500 jam terbang, sekitar 19.300 jam di antaranya sebagai pilot komandan. Sebaliknya, pengalaman Löhrer masih tergolong sedikit, dengan total sekitar 490 jam terbang.

Sekitar satu jam setelah lepas landas dan memasuki wilayah udara Zürich, pesawat ini awalnya mendapat izin untuk melakukan pendekatan pendaratan menggunakan sistem ILS (Instrument Landing System) ke landasan pacu 14. Namun, setelah pukul 22.00, pendekatan dialihkan ke metode VOR/DME (VHF Omnidirectional Range/Distance Measuring Equipment, yakni sistem navigasi radio yang memberikan arah dan jarak) menuju landasan pacu 28, karena harus mematuhi aturan pembatasan kebisingan.[2]

Kondisi cuaca saat itu buruk dengan jarak pandang terbatas akibat awan rendah. Rekaman suara kokpit (CVR) mencatat komunikasi dari penerbangan Crossair sebelumnya yang menyampaikan bahwa landasan baru terlihat pada jarak sekitar 4,1 km (2,5 mi).[1] Pada pukul 22.07, pesawat jatuh di kawasan perbukitan berhutan dekat Bassersdorf, sekitar 4 km (2,5 mi) dari landasan, hancur dan terbakar. Sebanyak 24 orang meninggal dunia, termasuk kedua pilot dan satu awak kabin, sementara tujuh penumpang dan dua awak kabin selamat.

Penumpang

sunting
Penyanyi Amerika dan mantan anggota grup La Bouche, Melanie Thornton, merupakan salah satu penumpang yang tidak selamat dalam kecelakaan tersebut.

Di antara korban tewas terdapat penyanyi Amerika Melanie Thornton, mantan vokalis utama grup Eurodance La Bouche, serta Nathaly van het Ende dan Maria Serrano Serrano dari grup Passion Fruit.[3][4] Anggota ketiga grup tersebut, Debby St. Maarten, bersama manajer mereka termasuk di antara yang selamat. Pengusaha sekaligus politikus Swiss Jacqueline Badran dan rekannya Peter Hoegenkamp juga termasuk penyintas.

Penyelidikan

sunting
Lokasi kecelakaan
Monumen peringatan bagi para korban

Meskipun Kapten Lutz berpengalaman, kompetensinya menjadi sorotan dalam penyelidikan oleh Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat Swiss (AAIB). Kesimpulan utama menyatakan bahwa kecelakaan ini merupakan controlled flight into terrain (CFIT), atau kondisi saat pesawat dalam keadaan terkendali tetapi menabrak permukaan tanah yang disebabkan oleh serangkaian kesalahan pilot dan kekeliruan navigasi yang membuat pesawat keluar dari jalur.[5] Pesawat akhirnya menabrak puncak bukit sekitar 4,05 kilometer (2,52 mi; 2,19 nmi) sebelum landasan dan 150 meter (490 ft) di sebelah utara jalur pendaratan yang seharusnya.

Penerbangan ini awalnya dijadwalkan mendarat di landasan pacu 14 yang dilengkapi sistem ILS. Rekaman CVR menunjukkan bahwa kedua pilot sempat membahas prosedur pendekatan tersebut, termasuk instruksi untuk melaporkan ketinggian saat mendekati decision altitude (ketinggian keputusan untuk melanjutkan atau membatalkan pendaratan). Namun, karena keterlambatan jadwal untuk melakukan pendaratan, rencana pendaratan diubah ke landasan pacu 28 yang menggunakan pendekatan VOR/DME, yang kurang presisi dan memiliki batas ketinggian minimum penurunan (minimum descent altitude atau MDA) yang lebih tinggi.

MDA merupakan ketinggian minimum yang harus dipertahankan hingga landasan terlihat secara visual. Berbeda dengan pendekatan presisi, pilot harus tetap berada pada MDA sampai memperoleh kontak visual dengan landasan. Dalam kasus ini, Kapten Lutz menurunkan pesawat terlalu curam sehingga mencapai MDA terlalu cepat. Ketika ditanya apakah landasan sudah terlihat, kopilot sempat ragu sebelum menjawab "ya". Namun, berdasarkan simulasi, yang terlihat sebenarnya hanyalah permukaan perbukitan di bawah jalur penerbangan.

Setelah mencapai MDA sekitar 2.400 kaki (730 m), Lutz tetap melanjutkan penurunan tanpa kontak visual yang memadai, yang mana hal ini merupakan sebuah kesalahan serius dalam prosedur penerbangan.[1] Kopilot juga tidak mengambil tindakan untuk menghentikan tindakan tersebut. Selain itu, Lutz tidak memantau jarak menggunakan DME secara konsisten, sehingga ia salah memperkirakan posisi dan ketinggian pesawat terhadap landasan.[1]

Menjelang kecelakaan, sistem peringatan kedekatan permukaan tanah (ground proximity warning system atau GPWS) memberi peringatan ketinggian 150 meter (490 ft) di atas permukaan. Lutz menyadari situasi sudah kritis dan mencoba membatalkan pendaratan dan kembali terbang, tetapi terlambat. Mesin pesawat tidak sempat menghasilkan daya dorong yang cukup untuk menghindari permukaan bukit di depan mata, dan pesawat pun menabraknya pada pukul 22.06.

Laporan akhir

sunting

Laporan AAIB menyebutkan bahwa Kapten Lutz pernah melakukan kesalahan prosedur sebelumnya, tetapi tidak ditindaklanjuti oleh Crossair. Ia juga pernah gagal meningkatkan sertifikasi penerbangannya ke pesawat yang lebih kompleks dan terlibat dalam insiden lain, termasuk kesalahan serius dalam navigasi dan pendaratan.

Meskipun demikian, ia tetap diizinkan menerbangkan penumpang, diduga karena kekurangan pilot yang memenuhi kualifikasi. Catatan yang ada menunjukkan terdapat beberapa kejadian hampir celaka (near miss) dan kesalahan navigasi signifikan dalam penerbangan sebelumnya.

Selain kesalahan pilot, beberapa faktor lain turut andil, antara lain:

  • Perbukitan di lokasi kecelakaan tidak ditandai dalam peta pendekatan yang digunakan oleh awak pesawat.
  • Tidak adanya sistem peringatan ketinggian minimum aman (minimum safe altitude warning atau MSAW) di landasan pacu 28.
  • Metode penentuan jarak pandang di Bandar Udara Zürich kurang memadai untuk landasan tersebut.
  • Batas minimum jarak pandang saat itu dinilai tidak sesuai untuk pendekatan standar.
  • Petugas pemandu lalu lintas udara yang kurang berpengalaman bertugas sendirian.

Pascakecelakaan

sunting

Sebagai tanggapan atas kecelakaan tersebut, Crossair menetapkan ketentuan baru untuk pendaratan di landasan pacu 28. Ketentuan ini mencakup jarak pandang horizontal minimum sejauh 5 kilometer (3,1 mi) serta ketinggian awan di atas 500 meter (1.600 ft). Persyaratan ini jauh lebih ketat dibandingkan ketentuan sebelumnya dari Kantor Federal Penerbangan Sipil yang hanya mensyaratkan jarak pandang 1,5 kilometer (0,93 mi).[6]

Selain itu, juru bicara Crossair menambahkan bahwa pendaratan juga tidak akan diizinkan apabila terdapat hambatan lokal akibat awan rendah atau kabut di area sekitar.[6]

Dramatisasi media

sunting

Kecelakaan ini diangkat dalam seri dokumenter Mayday (Air Crash Investigation) musim ke-10 dengan judul "Cockpit Failure",[7] dan muncul dalam laporan berita Jerman pada peringatan 20 tahun wafatnya Melanie Thornton pada 2021, termasuk wawancara dengan Debby St. Maarten yang selamat dari kecelakaan tersebut.

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e "Final Report No. 1793 by the Aircraft Accident Investigation Bureau concerning the accident to the aircraft AVRO 146-RJ100, HB-IXM, operated by Crossair under flight number CRX 3597, on 24 November 2001 near Bassersdorf/ZH" (PDF). Badan Investigasi Kecelakaan Penerbangan Swiss.
  2. ^ Finlay, Mark (24 November 2022). "21 Years Ago Today Crossair Flight 3597 Crashed Near Zürich". Simple Flying (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 April 2026.
  3. ^ "10 celebrities who died in plane crashes". The Economic Times (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 April 2026. Thornton had just performed at a Christmas concert in Leipzig and was en route to her next appearance when the Crossair Flight 3597 crashed during its approach, descending too early into a wooded hillside due to pilot misjudgment.
  4. ^ Floorwalker, Mike (6 April 2020). "Plane Crashes That Nearly Wiped Out Entire Bands". Grunge (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 April 2026.
  5. ^ "Schlussbericht Nr. 1793 des Büros für Flugunfalluntersuchungen über den Unfall des Flugzeuges AVRO 146-RJ100, HB-IXM, betrieben durch Crossair unter Flugnummer CRX 3597, vom 24. November 2001 bei Bassersdorf/ZH" (PDF) (dalam bahasa Jerman). Badan Investigasi Kecelakaan Pesawat Swiss. hlm. 12, 130. Diakses tanggal 24 Juni 2025.
  6. ^ a b "Crossair pilots tried to abort landing, recorders show". SWI swissinfo.ch (dalam bahasa Inggris). 30 November 2001. Diakses tanggal 18 April 2026.
  7. ^ "Mayday - S10E01 - Cockpit Failure (Crossair Flight 3597)". dailymotion.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 April 2026.

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Crossair

Crossair Ltd. Co. for Regional European Air Transport (bahasa Jerman: Crossair AG für europäischen Regionalluftverkehrcode: de is deprecated ) adalah sebuah

Crossair Penerbangan 498

Crossair Penerbangan 498 adalah penerbangan komuter dengan pesawat turboprop ganda Saab 340B dari Zürich, Swiss menuju Dresden, Jerman, yang jatuh di munisipalitas

Swiss International Air Lines

dan ICAO Swiss adalah LX dan SWR. Kode LX tersebut dulu digunakan oleh Crossair. Maskapai ini melayani berbagai penerbangan berjadwal ke Eropa, Amerika

Embraer E-Jets

dengan sepuluh pesanan dan lima opsi untuk E-170, dan perusahaan Swiss Crossair dengan sebuah pesanan untuk 30 E-170 dan 30 E-190. Pesanan tunggal terbesar

Lufthansa

Lufthansa CityLine Interflug (defunct) Lufthansa Heist SWISS Swissair Crossair Sejarah Iberia Airlines Air Berlin (defunct) SunExpress https://investor-relations

Passion Fruit

María Serrano Serrano dan Nathalie van het Ende tewas dalam kecelakaan Crossair Penerbangan 3597, dan cukup sukses, berada di posisi ke-56 di tangga lagu

Daftar operator Airbus A330

Eurowings Surinam Airways  Suriname 1 Swissair  Swiss 16 Bergabung dengan Crossair dan berubah nama menjadi Swiss International Air Lines pada Tahun 2002

Eastern Airways

lebih kecil. Sejak tahun 2003 perusahaan membeli beberapa Saab 2000 dari Crossair dan maskapai Eropa lainnya dan beberapa tambahan pesawat Jetstream 41 dari