Dade Ndate adalah seni bertutur panjang dalam bahasa Kaili dari Sulawesi Tengah, yang berarti "lagu panjang". Seni lisan ini biasanya dibawakan oleh dua hingga empat orang dengan diiringi alat musik seperti kecapi dan seruling, menceritakan berbagai hal yang berisi pesan-pesan kebajikan. [1]
Makna Dade Ndate
suntingDade Ndate terdiri dari dua kata yakni dade dan ndate. Dade berarti lagu, sedangkan Ndate dalam pengertian bahasa Kori seperti misalkan seseorang berada di kaki bukit atau gunung. Ketika ditanyakan hendak kemana, maka bila dijawab Ndate berarti di atas bukit sana atau ia akan melakukan perjalanan dengan menaiki atau mendaki bukit itu sampai tujuan. Jadi Dade Ndate artinya lagu yang mengisahkan suatu dari bawah ke atas. Apa yang diuraikan dalam syair lagu Dade Ndate sifatnya menanjak dan menuju ke puncak. Bila dia menceritakan sesuatu, selalu dari awal sampai akhir cerita tersebut.[2]
Dade Ndate merupakan sebuah kesenian yang paling komunikatif di komunitas To Sindue atau daerah sekitar desa Taripa atau daerah disekitar desa Taripa. Dade Ndate bisa menceritakan apa saja, mulai dari sejarah, romantisme muda-mudi, silsilah, perjuangan, dan lain-lain. Contohnya paling sederhana adalah proses seseorang dalam mencapai pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi bahkan acara wisuda.[2]
Dade Ndate, berawal dari Kimba a yang masih berupa doa-doa / syair-syair ritual orang tua dulu, berbentuk uraian dan masih bersifat individual. Dalam kurun yang cukup jauh berubah lagi menjadi dulua. Dibanding Kimba a, dulua sudah berbentuk lagu / nyanyian semisal Nopalongga (nyanyian menidurkan anak yang dilagukan ibunya dimana terkandung doa dan keselamatan yang ditujukan kepada wajah sang anak yang sedang berlayar mencari ikan). Kimba a dan Dulua belum menggunakan alat kecapi, masih berbentuk musik vokal semata. Dari dalua, bentuk kesenian ini berubah lagi menjadi bola-bola.[2]
Perubahan yang menonjol adalah syair yang dibawakan tidak lagi berupa syair ritual, tetapi sudah menjadi syair yang profan. Semisal syair muda-mudi dalam acara memetik padi dan telah menggunakan kecapi. Tepatnya ketika orang mengambil waktu untuk istirahat. Kecapi digunakan sebagai pengantar dan perantara syair-syair yang digunakan (biasanya antara dua kelompok muda-mudi yang menggunakan sebagai lagu sebagai sarana komunikasi). Bola-bola dimulai oleh solo vokal dan didiikuti lainya. Ketiga bentuk kesenian ini masih bahasa Kori, induk dari bahasa Kaili Rai dan Bareโe.[2]
Rampamole (pengenduran senor/tuning) adalah bentuk selanjutnya dari kesenian ini. Mulai dari Rampamole dan seterusnya sudah menggunakan bahasa Rai. Pada fase ini telah menggunakan kecapi bersamaan dengan nyanyian yang hampir mendekati Dadendate. Rampamole sendiri berarti dikendurkan, berarti diperkecil suaranya. Tidak terlalu lama dalam fase ini berubah lagi menjadi ciri-ciri yang ciri utamanya menjadi lebih panjang.[2]
Pada fase ini, kesenian ini menyebar ke wilayah-wilayah lain sampai ke Toli-Toli. Ei-ei pada zamannya amat disukai oleh para muda-mudi. Kurang lebih sekitar tahun 1952-1953 berubah menjadi Dadendate. Inilah bentuk terakhir dari kesenian ini. Menjadi sangat populer dan ciri khas kesenian dari daerah Sindue sekaligus kebanggaan mereka.[2]
Orang Kori merasa kesenian ini adalah asli dari mereka. Tidak ada pengaruh Bugis, meskipun instrumen kecapinya mirip (bahkan dengan kecapi di Sulawesi Utara) dan lokasi sampel penelitian termasuk daerah pesisir. Kesenian ini menurut mereka tidak ditemukan di daerah lain. Argumen yang mereka kemukakan adalah kata ndate buat To-Biromaru, To-Palu dan To-Tawaeli misalmya, berarti panjang. Sedangkan bagi To-Sindue bentuk menjadi panjang digunakan istilah nalonggo.[2]
Namun hal ini menurut hemat penulis perlu di kaji lebih jauh karena menurut informan bentuk kecapi yang mirip perahu berkaitan dengan legenda Sawerigading. Selain dari itu perlu penelitian yang lebih mendalam apakah Dadendate benar-benar merupakan proses evolusi dari nyanyian ritual seperti Dulua dan Kimba a.[2]
Instrumen
suntingPertunjukan seni ini diiringi dengan permainan kecapi, instrumen petik yang serupa dengan Lud dari Timur Tengah, dengan tujuh dawai. Dahulu, kecapi tradisional Sulawesi yang digunakan berbentuk menyerupai perahu dan hanya terdiri dari 4 dawai.[3]
Referensi
sunting- ^ "Dade Ndateย ยป Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-11-21.
- ^ a b c d e f g h "KI Komunal". kikomunal-indonesia.dgip.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-21.
- ^ Hastuti, Sri (2005). TRADISI NUSANTARA.pdf Musik Tradisi Nusantara:Musik-musik yang Belum Banyak Dikenal (PDF). Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)