📑 Table of Contents

Candi Dadi terletak di Desa Wajak Kidul, Boyolangu, Tulungagung Tulungagung, Jawa Timur. Letak Candi Dadi tidak jauh dari lokasi Candi Cungkup, Candi Gayatri, dan Goa Selomangleng. Candi Dadi sebenarnya merupakan bagian dari kompleks percandian. Desa Wajak Kidul bagian selatan merupakan perbukitan. Pada empat puncak perbukitan tersebut masing-masing terdapat satu buah candi dan Candi Dadi ada pada puncak tertinggi. Pada puncak lain terdapat Candi Gemali, Candi Buto, dan Candi Bubrah/Wurung sehingga membentuk deretan candi dari yang paling rendah ke yang paling tinggi, yaitu Candi Dadi. Selain Candi Dadi, kondisi candi-candi itu sekarang tinggal puing-puing yang berserakan.[butuh rujukan]

Selamatan merupakan sarana berdoa masyarakat Jawa. Sebagian masyarakat di sekitar candi menggunakan Candi Dadi sebagai sarana berdoa untuk mendapatkan berkah dari Yang Maha Kuasa. Upacara (doa) biasanya dilakukan pada hari-hari tertentu, terutama pada tanggal 1 Suro. Masyarakat tersebut membentuk sebuah paguyuban aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.[butuh rujukan]

Sejarah

sunting

Candi Dadi merupakan candi yang pertama kali dicatat oleh pemerintah Hindia Belanda dalam ROD tahun 1915.[butuh rujukan]

Arsitektur

sunting

Candi ini mempunyai denah dasar bujur sangkar berukuran 14x14 m. Ada bagian yang menjorok ke luar tiap sisinya, sehingga dari atas denahnya tampak berbentuk seperti plus. Di dalam denah ini dia atas batur pertama yang tingginya 3,50 m, terdapat susunan batu dengan tinggi 0,60m, juga berdenah salib Portugis yang merupakan batur kedua, kemudian disusul dengan batur rendah berdenah segi delapan dengan tinggi 0,50 m maka tinggi keseluruhan bangunan adalah 4,50 m.[butuh rujukan]

Di bagian tengah bangunan Candi Dadi terdapat sumuran berbentuk kerucut berdiameter 3,75 m, dan puncaknya berdiamtere 3,25 m, serta kedalaman sumur tersebut 3,50 m.[butuh rujukan]

Rangkaian pelipit yang membentuk struktur bangunan adalah pelipit rata dan pelipit sisi genta yang hampir mendekati bentuk sisi miring (nimna). Dan dibangun di puncak bukit yang gak datar, sisi barat dan utara tempat berdirinya candi cukup cram, sehingga diperkuat oleh susunan balok-balok.[1]

Referensi

sunting
  1. ^ Sedyawati, Edi, 1938-. Candi Indonesia. Latief, Feri,, Indonesia. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, (Edisi Cetakan pertama). [Jakarta]. ISBNย 9786021766934. OCLCย 886882212. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Dadi Hartanto

Dadi Hartanto (lahir 30 Agustus 1966) adalah seorang Purnawirawan TNI-AL yang terakhir menjabat sebagai Inspektur Jenderal TNI. Dadi, merupakan alumnus

Dadi

Dadi adalah sindiran dalam bahasa Lampung memiliki arti yang sangat mendalam ,bahasa yang di gunakan pun halus dan bermakna ambigu atau memiliki dua atau

Sunan Kalijaga

sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Ratu"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan

Dedi Hamdun

Dadi Hamdun atau nama lengkapnya Dedi Umar Hamdun adalah pengusaha dan politikus Partai Persatuan Pembangunan yang menghilang saat era reformasi 1998,

Superglad

dari Lukman 'Buluk' Laksamana, Agus 'Giox' Purnomo, Frid 'Barche' Akbar dam Dadi 'Berry' Yudhistira ini terbentuk pada tahun 2003. Sepanjang kariernya mereka

Jikustik

adalah: Pongki Barata (vokal dan gitar), Aji Mirza Hakim (bass, vokal), Dadi (gitar dan vokal), Adhit (keyboard) dan Carlo (drum). Setelah album Malam

Ramalan Jayabaya

wibawanya. Bupati dadi rakyat---> Pegawai tinggi menjadi rakyat. Wong cilik dadi priyayi---> Rakyat kecil jadi priyayi. Sing mendele dadi gedhe---> Yang

Emha Ainun Nadjib

nasihatnya, yang kemudian celetukannya diadopsi oleh Soeharto berbunyi "Ora dadi presiden ora pathรจkenโ€ (arti dalam bahasa Indonesia adalah "tidak jadi presiden