Kiai Haji
Nahrowi Dalhar
Simbah Dalhar (didepan) bersama Simbah Siradj Romo Agung (dibelakang)
Namaย asalู†ุญุฑุงูˆู‰ ุฏู„ู‡ุงุฑ
Lahirู†ุญุฑุงูˆู‰
12 Januari 1870
Magelang, Jawa Tengah
Meninggal8 April 1959
MakamPuroloyo Gunungpring, Muntilan, Magelang
Namaย lainMbah Dalhar
AlmamaterPP. Ushuluddin (Kiai Muhammad Ushul III), PP Al Kahfi Sumolangu, Madrasah Sayyid Muhammad Babashol dst.
PekerjaanKyai, Ulama, Mursyid, Wali
Anak
  1. K. H. Ahmad Abdul Haq
  2. Ny. Hj. Chunnah Dalhar, isteri pertama KH. Chudlori, pendiri PP. A.P.I. Tegalrejo.
  3. Ny. Hj. Nur Hannah Hasanah Maryam, pengasuh PP. Tahfidzul Qur'an Ad Dalhariyyah.
Orang tuaK. H. Abdurrahman bin Abdur Rouf bin Hasan Tuqa (Ayah)
KerabatLeluhur: Amangkurat III

K. H. Nahrowi Dalhar bin Abdurrahman (lahir: 10 Syawal 1286 H/ 12 Januari 1870 dan wafat: Rabu Pon, 29 Ramadhan 1890 โ€“ Jimakir 1378 H atau 8 April 1959) adalah seorang Ulama', Wali dan Sesepuh masyarakat di Magelang dan sekitarnya. Beliau juga pengasuh Pondok Pesantren Darussalam,[1] Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Magelang.

Biografi

sunting

Beliau lahir dengan nama Nahrowi, sebagai putra K. H. Abdurrahman bin K. H. Abdur Rauf bin K. H. Hasan Tuqa (Raden Bagus Kemuning, yang adalah salah satu ajudan Pangeran Diponegoro).[2] Jika kita menelusuri keluarga beliau, maka silsilahnya bersambung dengan Susuhunan Amangkurat III dari Kasunanan Kartasura. Keluarga beliau telah lama menjadi semacam Ndoro (Tuan) di kawasan Muntilan, Magelang dan keluarganya banyak menurunkan Kiai-kiai yang Alim.

Keluarga

sunting

Ayah: K. H. Abdurrahman bin K. Abdurrauf bin K. Hasan Tuqa

Putra-putri:

  1. K. H. Ahmad Abdul Haq Dalhar
  2. Ny. Hj. Chunnah Dalhar, isteri pertama KH. Chudlori Ihsan, pendiri PP. API Tegalrejo. Yang menurunkan K. H. Abdurrahman dan K. H. Ahmad Muhammad.
  3. Ny. Hj. Nur Hannah Hasanah Maryam, pengasuh PP. Tahfidzul Qur'an Ad Dalhariyyah.[3]
  4. K. H. Ronodrono

Cucu:

  1. K. H. 'Abdul Karim Ahmad Abdul Haq Dalhar
  2. K. H. 'Ali Qoishor Ahmad Abdul Haq Dalhar
  3. K H. Nurul Hidayat Ahmad Abdul Haq Dalhar
  4. Ny. Hj. Siti Sa'adah Ahmad, isteri K H. Ahmad Chalwani Nawawi, pengasuh PP. An-Nawawi, Berjan, Gintungan, Gebang, Purworejo
  5. K H. Abdurrahman Chudlori
  6. K H. Ahmad Muhammad Chudlori
  7. H. Sai'in

Leluhur: Susuhunan Amangkurat III dari Kasunanan Kartasura, melalui Kiai Hasan Tuqa atau R. Bagus Kemuning.

Pendidikan

sunting

Beliau awalnya mondok di tempat Simbah Kiai Muhammad Ushul III di kawasan Bawang, Ngadirejo, Salaman, Magelang.[4] Kemudian beliau melanjutkan di PP. Al-Kahfi Sumolangu, Kebumen yang di asuh ketika itu oleh Syaikh as-Sayyid Ibrahim bin Muhammad al-Jilani al-Hasani, atau dikenal sebagai Syaikh Abdul Kahfi ats-Tsani. Kiai Dalhar mengabdi di ndalem Syaikh selama delapan tahun. Hal ini, merupakan permintaan K H. Abdurrahman sendiri kepada Syaikh Abdul Kahfi ats-Tsani.

Pada 1314 H/1896, Syaikh Abdul Kahfi ats-Tsani memerintahkan Kiai Dalhar untuk menemani putranya, Sayyid Muhammad belajar di Makkah (kala itu masih dibawah Kesyarifan Makkah, Kekhalifahan Utsmaniyah). Mereka berdua kemudian mengaji pada Syaikh Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani yang masih pernah keluarga dengan Sayyid Muhammad. Syaikh Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani kala itu merupakan Mufti Syafi'i di Makkah. Kiai Dalhar dan Sayyid Muhammad menetap di rubath atau pondokan di kawasan Misfalah.

Pada tahun pertama Kiai Dalhar mengaji di Makkah, terjadi Perang di kawasan Hijaz. Sayyid Muhammad mendapat tugas membantu Makkah, sedangkan Kiai Dalhar dapat tetap belajar selama 25 tahun. Kiai Dalhar yang sebelumnya bernama Nahrowi kemudian diberi nama "Dalhar" oleh Syaikh Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani. Kiai Dalhar juga memperoleh ijazah mursyid Tarekat Syadziliyah dari Syaikh Muhtarom al-Makki dan ijazah aurad Dalailul Khairat dari Sayyid Muhammad Amin al-Madani. Nantinya Kiai Dalhar menurunkan ijazah Tarekat Syadziliyah kepada 3 orang muridnya, yakni Kiai Iskandar Salatiga, Kiai Dimyati Banten,[5] dan putranya, Kiai Ahmad Abdul Haq.[6]

Peran

sunting

Beliau bersama K. H. Siradj Abdurrasyid dari Payaman adalah dua Kiai besar yang makamnya termasuk paling banyak diziarahi di Magelang.

Referensi

sunting
  1. ^ "Kabupaten Magelang". www.magelangkab.go.id. Diakses tanggal 2022-07-24.
  2. ^ Admin (2020-02-16). "Mbah Kyai Dalhar, Wali Allah Keturunan Raja yang Tak Gila Harta โ€ข BangkitMedia". BangkitMedia. Diakses tanggal 2022-03-12.[pranala nonaktif permanen]
  3. ^ Guru, Dawuh (2022-04-22). "Bu Nyai Nur Watucongol (Nyai Hj. Nur Hannah Hasanah)". Dawuh Guru. Diakses tanggal 2022-12-13.
  4. ^ "Pondok Pesantren Ushuluddin (Bawang, Salaman, Magelang), Bawang, Ngadirejo, Salaman., Magelang (2022)". www.schoolandcollegelistings.com. Diakses tanggal 2022-07-24.
  5. ^ DIA, Yayasan (2019-03-14). "Biografi KH. Muhammad Dimyati al-Bantani (Abuya Dimyati)". Biografi KH. Muhammad Dimyati al-Bantani (Abuya Dimyati) (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-07-24.
  6. ^ "KH Dalhar Watucongol, Kiai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa". nu.or.id. Diakses tanggal 2022-03-12.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Hamim Tohari Djazuli

pergi dan melanjutkan belajarnya ke sebuah Pondok Pesantren asuhan K.H. Dalhar di Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Abdurrahman

Djamiat Dalhar

Muhammad Djamiat Dalhar (25 November 1927ย โ€“ย 23 Maret 1979; lebih dikenal dengan nama Djamiat Dalhar) adalah seorang mantan pemain sepak bola nasional dan

KH. Chudlori Tegalrejo

Pendiri Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, merupakan menantu KH. Dalhar Watucongol, ulama' yang luas keilmuannya, masyhur laku riyadhohnya. Nama

Abdul Kahar Mudzakkir

pengikut Pangeran Diponegoro. Nama masa kecil Abdul Kahar Mudzakkir adalah Dalhar. Mudzakkir menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Muhammadiyah Selokraman

Abdul Kadir (pemain sepak bola)

kepelatihan Indonesia ketika itu berpindah dari Wiel Coerver ke Djamiat Dalhar dan ban kapten timnas berpindah ke tangan Aang Witarsa. Sayangnya Timnas

Saleh Darat as-Samarani

Pengulu Tabshirul Anam, Surakarta Jawa Tengah (Ahli Tafsir Keraton Solo) KH Dalhar - Watucongol, Magelang, Jawa Tengah KH Bisri Syansuri - Jombang, Jawa Timur

Siradj Abdurrasyid

masyarakat terutama kawasan Payaman, Secang, Magelang. Beliau bersama KH. Dalhar Watucongol adalah "Paku Magelang" pada masa itu. Pertama tentu dekat rumah

Tim nasional sepak bola Indonesia

(1954โ€“1963) Ernest Alberth Mangindaan (1966โ€“1970) Endang Witarsa (1970) Djamiat Dalhar (1970โ€“1972) Suwardi Arland (1972โ€“1974) Aang Witarsa (1974โ€“1975) Wiel Coerver