Rencana penomoran telepon di Singapura, yang dikenal sebagai National Numbering Plan, dikelola oleh Info-communications Media Development Authority (IMDA) sesuai dengan standar ITU-T E.164 dengan kode negara +65.[1] Karena wilayah Singapura yang sangat kecil, tidak terdapat kode area maupun awalan trunk; seluruh nomor telepon di Singapura berada dalam satu wilayah penomoran dan memiliki format seragam delapan digit.
Sejarah
suntingLayanan telepon pertama di Singapura diperkenalkan pada tahun 1879, ketika Bennett Pell, manajer lokal Eastern Extension Telegraph Company, mendirikan sentral telepon swasta dengan kapasitas 50 saluran, menghubungkan Raffles Square dengan Tanjong Pagar. Singapura disebut sebagai salah satu kota pertama di Asia yang memiliki sistem telepon.[2] Pada Juli 1882, jaringan telepon dikelola oleh Oriental Telephone and Electric Company (OTEC) yang mendirikan sentral telepon umum pertama dengan 60 saluran.
Pada tahun 1955, Singapore Telephone Board (STB) dibentuk sebagai badan resmi pemerintah dengan hak eksklusif mengelola layanan telepon. Pada 1 April 1974, STB bergabung dengan Telecommunications Authority of Singapore (TAS) membentuk badan baru yang juga bertanggung jawab atas layanan internasional. Pada tahun 1992, entitas ini dikorporatisasi menjadi Singapore Telecom, kemudian dikenal sebagai Singtel, dan melaksanakan penawaran saham perdana (IPO) pada Oktober 1993.
Pasar telekomunikasi Singapura diliberalisasi sepenuhnya pada 1 April 2000, mengakhiri monopoli Singtel dan membuka persaingan bagi operator-operator baru. Liberalisasi ini mendorong lonjakan permintaan nomor telepon secara signifikan, yang menjadi salah satu alasan utama peralihan ke sistem penomoran delapan digit.
Perkembangan digit nomor
sunting| Tahun | Perubahan |
|---|---|
| Sebelum 1985 | Nomor telepon tetap terdiri dari 5–6 digit |
| 1985 | Diperluas menjadi 7 digit seiring pembangunan kota-kota baru (Tampines, Jurong East, Bukit Batok, Yishun, Hougang) |
| 1 September 1995 | Digit 9 ditambahkan di depan semua nomor seluler dan pager, menjadi 8 digit |
| 1 Maret 2002 | Digit 6 ditambahkan di depan semua nomor telepon tetap, menjadi 8 digit; masa paralel 7 digit dan 8 digit berlangsung hingga 31 Maret 2002 |
| Maret 2004 | Nomor seluler 8 digit berawalan 8 diperkenalkan untuk menampung pertumbuhan pelanggan seluler |
| 2005 | Nomor 8 digit berawalan 3 diperkenalkan untuk layanan IP Telephony (IPT) |
Format penomoran
suntingSingapura menggunakan sistem panggilan tertutup tanpa kode area maupun awalan trunk. Semua nomor telepon terdiri dari tepat delapan digit. Format internasional adalah +65 XXXX XXXX.
Nomor-nomor dikategorikan berdasarkan digit pertama, yang menunjukkan jenis layanan:
| Digit pertama | Jenis layanan | Keterangan |
|---|---|---|
| 3 | IP Telephony (IPT) dan layanan data seluler nirsanggan (user-centric data-only) | Diperkenalkan tahun 2005 untuk layanan VoIP bisnis dan korporat |
| 6 | Jaringan telepon tetap umum (PSTN) dan IP Telephony residensial | Ditambahkan di depan nomor tetap lama mulai 1 Maret 2002 |
| 8 | Seluler, layanan data, dan nomor prabayar | Diperkenalkan Maret 2004 untuk menambah kapasitas seluler |
| 9 | Seluler, layanan data, dan nomor prabayar (9y, dengan y = 0–8) | Ditambahkan di depan nomor seluler lama mulai 1 September 1995; sebelumnya juga digunakan untuk pager (hingga Mei 2012) |
| 1 (khusus) | Berbagai layanan khusus | Lihat tabel nomor khusus di bawah |
| 0 (khusus) | Kode akses internasional | Digunakan oleh operator sebagai awalan panggilan keluar internasional |
Digit pertama 2, 4, 5, dan 7 saat ini dicadangkan untuk penggunaan di masa mendatang.
Layanan khusus dan nomor non-geografis
suntingLayanan bebas pulsa
sunting| Format | Layanan | Keterangan |
|---|---|---|
| 1800 XXX XXXX | Bebas pulsa domestik (toll-free) | Gratis bila dipanggil dari telepon tetap; tarif airtime berlaku bila dipanggil dari seluler. Dapat juga dihubungi sebagai nomor berbayar dari luar Singapura dengan mengganti 1800 XXX XXXX menjadi +65 6XXX XXXX. |
| 800 XXX XXXX | International Toll Free Service (ITFS) | Layanan bebas pulsa yang dapat dihubungi dari luar Singapura |
Layanan tarif premium
sunting| Format | Layanan |
|---|---|
| 1900 XXX XXXX | Layanan tarif premium (premium rate services) |
Nomor layanan khusus lainnya
sunting| Format | Layanan |
|---|---|
| 13xx | Layanan pesan suara (voicemail) |
| 16xx | Layanan pelanggan operator (customer service) |
| 18xx | Nomor akses kartu panggilan internasional |
Layanan VoIP
suntingAwalan akses VoIP dibedakan berdasarkan tingkat penyedia:
- Tier 1 (penyedia VoIP utama): menggunakan awalan dalam rentang 0xx, misalnya 018 (StarHub VoIP) dan 019 (SingTel VoIP).
- Tier 2 (penyedia VoIP lainnya): menggunakan awalan dalam rentang 15xx, misalnya 1511.
Kode akses internasional
suntingUntuk melakukan panggilan internasional dari Singapura, penelepon terlebih dahulu memutar kode akses internasional diikuti kode negara tujuan dan nomor pelanggan. Kode akses umum yang berlaku adalah 000, yang diwajibkan untuk didukung oleh semua operator. Selain itu, masing-masing operator memiliki kode akses spesifik:
| Kode akses | Operator | Keterangan |
|---|---|---|
| 000 | (semua operator) | Kode akses internasional umum; wajib didukung semua operator |
| 001 | Singtel | Kode paling umum digunakan |
| 002 | M1 | — |
| 008 | StarHub | — |
| 011 | Singtel | Kode khusus untuk panggilan ke wilayah tertentu di Indonesia yang berdekatan (Batam, Samarinda, Pekanbaru, Tanjung Pinang), tanpa perlu kode negara +62 |
| 013, 018, 019, 020, 021 | Berbagai operator | Kode-kode operator tambahan |
Panggilan ke Malaysia dan Indonesia
suntingHingga tahun 1995, panggilan dari Singapura ke Malaysia dilakukan seperti panggilan domestik, cukup dengan memutar kode area Malaysia tanpa kode negara +60. Pada tahun 1995, seiring divergensi rencana penomoran kedua negara, awalan khusus 020 (operator: SingTel) diperkenalkan untuk panggilan ke Malaysia. Misalnya, untuk menelepon nomor di Kuala Lumpur, penelepon memutar 020 diikuti kode area 3 (tanpa angka nol di depan) dan nomor pelanggan.[3]
Untuk panggilan ke kota-kota tertentu di Indonesia yang berdekatan dengan Singapura (Batam, Samarinda, Pekanbaru, dan Tanjung Pinang), penelepon SingTel dapat menggunakan awalan 011 diikuti kode area (tanpa angka nol di depan) dan nomor pelanggan, tanpa harus menggunakan kode negara +62. Panggilan ke wilayah Indonesia lainnya, termasuk ke nomor seluler, memerlukan kode internasional penuh.
Operator lain (M1 dan StarHub) tidak menawarkan pengaturan panggilan khusus seperti ini dan mengharuskan penggunaan kode internasional lengkap untuk semua panggilan ke Malaysia maupun Indonesia.
Operator utama
sunting| Operator | Jenis layanan | Keterangan |
|---|---|---|
| Singtel | Tetap, seluler, internet, TV berbayar | Operator tertua; akar sejak 1879. Mayoritas saham dimiliki oleh Temasek Holdings (pemerintah). Operator seluler terbesar dengan sekitar 47% pangsa pasar seluler. |
| StarHub | Tetap, seluler, internet, TV berbayar | Salah satu dari tiga operator utama (Big Three). |
| M1 (M1 Limited) | Seluler, internet, telepon tetap | Salah satu dari tiga operator utama (Big Three). |
| TPG Telecom | Seluler | Operator keempat; memasuki pasar seluler Singapura sebagai pendatang baru. |
Nomor darurat
sunting| Nomor | Layanan | Keterangan |
|---|---|---|
| 995 | Pemadam Kebakaran / Ambulans darurat | Singapore Civil Defence Force (SCDF) |
| 999 | Polisi | Singapore Police Force (SPF) |
| 993 | Ambulans khusus Kementerian Kesehatan | Sebelumnya digunakan untuk penanganan kasus H1N1, SARS, dan COVID-19 |
| 1777 | Ambulans non-darurat | — |
| 70995 | SMS darurat kebakaran/ambulans | Untuk situasi di mana tidak aman untuk berbicara |
| 70999 | SMS darurat polisi | Untuk situasi di mana tidak aman untuk berbicara |
Referensi
sunting- ^ "National Numbering Plan and Allocation Process". Info-communications Media Development Authority (IMDA). Diakses tanggal 2024-01-15.
- ^ "Singapore Telecom Goes Public". National Library Board Singapore. Diakses tanggal 2024-01-15.
- ^ "Telephone numbers in Singapore". Wikipedia. Diakses tanggal 2024-01-15.