
Dinkus merupakan simbol kecil atau elemen grafis dalam tipografi yang biasanya terdiri dari tiga asteris atau titik bulat yang diberi jarak secara horizontal, sepertiโย โย โย โย โatauโย โขย โขย โขย โ. Simbol ini memiliki berbagai fungsi dan biasanya digunakan untuk menandakan penghilangan yang disengaja atau "jeda logis" dalam tingkatan yang bervariasi dalam sebuah karya tulis. Penggunaan terakhir mirip dengan subbagian, yang mengindikasikan pergantian konteks antara teks sebelum dan setelahnya. Saat digunakan dengan cara ini, dinkus biasanya diletakkan di tengah pada baris tersendiri dengan jarak vertikal sebelum dan sesudahnya. Dinkus telah digunakan dalam berbagai bentuk sejak caโ1850.[1][2] Secara historis, dinkus sering kali direpresentasikan sebagai asterisme, โ, meskipun penggunaan telah ditinggalkan dan hampir tidak digunakan lagi.[3]
Etimologi
suntingIstilah ini diciptakan oleh seorang seniman di majalah Australia, The Bulletin, pada tahun 1920-an dan berasal dari kata dinky.[4]
Penggunaan
suntingPemisah subbagian
suntingDinkus dapat digunakan untuk menonjolkan jeda antar subbagian dalam suatu bagian utama.[5] Ketika penulis memilih menggunakan dinkus untuk membagi bagian yang lebih besar,[6][7] tujuannya adalah untuk menjaga kesan kesinambungan cerita dalam bab atau bagian tersebut secara menyeluruh, sambil mengubah elemen pada latar atau alur.[8][9] Sebagai contoh, saat penulis memperkenalkan kilas balik atau perubahan adegan yang signifikan, dinkus dapat membantu menunjukkan pergantian latar dalam konteks tema bab secara keseluruhan. Pada kasus seperti ini, dinkus sering dianggap lebih tepat untuk digunakan dibanding memulai bab baru. [10] Teknik ini sering digunakan khususnya dalam fiksi sastra.[8][10]
Informasi yang dihilangkan dengan sengaja
suntingBanyak penggunaan dinkusโtermasuk yang umum dalam sejarahโmengindikasikan adanya penghilangan informasi yang disengaja.[1] Dalam kasus ini, dinkus digunakan untuk memberi tahu pembaca bahwa informasi tertentu telah dihilangkan.[2] Dinkus juga dapat digunakan untuk menyampaikan maksud "tanpa judul" atau bahwa nama penulis atau judulnya sengaja tidak dicantumkan. Contohnya dapat ditemukan dalam beberapa edisi Album for the Young oleh komposer Robert Schumann (โ 21, 26, and 30).[11]
Selain itu, dinkus juga dapat digunakan dalam konteks apa pun sebagai cara sederhana untuk menyingkat teks.[9] Dalam bidang pembuatan undang-undang, khususnya peraturan daerah, dinkus sering digunakan untuk menunjukkan singkatan dalam revisi atau perubahan peraturan ranpa menyiratkan penghapusan bagian yang dihilangkan.[12]
Ornamen
suntingSurat kabar, majalah, dan karya lainnya dapat menggunakan dinkus sebagai ornamen tipografi sederhana, untuk alasan estetika semata.[13] Saat dinkus digunakan untuk tujuan estetika, bentuknya sering kali berupa fleuron, seperti โง, atau terkadang berupa dingbat. [14] Meskipun fleuron, dingbat, dan dinkus biasanya memiliki perbedaan, penggunaannya dapat saling tumpang tindih.
Simbolisme puitis
suntingDalam beberapa kasus, penggunaan dinkus diterapkan dalam puisi untuk menyampaikan makna non-verbal. Hal ini dicontohkan dalam puisi Thresholes karya Lara Mimosa Montes, di mana sang penyair sering menggunakan dinkus berbentuk lingkaran,โโโ, sebagai bentuk "tanda baca pada tingkat keseluruhan teks, bukan hanya pada frasa atau kalimat" sepanjang karyanya.[15]
Variasi
suntingBanyak variasi dinkus menggunakan bentuk asteris sebagai bagian dari komposisi, baik sebagian maupun seluruhnya; meskipun simbol lain juga dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang sama. Beberapa contoh lain, misalnya serangkaian titik,[16][17] fleuron,[17] asterisme, atau gambar kecil.[4] Dalam tanda baca Braille bahasa Esperanto, dinkus biasanya menggunakan deret titik dua horizontal, โ โ โ .
Galeri
sunting-
Terjemahan Bahasa Polandia dari karya Prancis yang menggambarkan penggunaan rangkaian titik sebagai dinkus, berfungsi untuk memisahkan catatan penerjemah dari teks naskah.
-
Kombinasi fleuron dan dinkus berbentuk garis dalam karya yang sama.
-
Novel abad ke-19 karya Mrs. Henry Wood yang menggambarkan dinkus berbentuk garis dengan berlian di tengahnya, digunakan sebagai pemisah bab.
-
Foto Novel berbahasa Jerman, Infinite Adventures, yang menggunakan simbol takhingga rangkap tiga sebagai dinkus.
-
Alice in Wonderland karya Lewis Carrollโdalam cetakan yang usianya tidak dapat diperkirakanโmenampilkan dinkus berupa simbol asteris yang digunakan untuk membentuk gugusan bintang.
-
Novel Ulysses karya James Joyce menggunakan asterisme sebagai dinkus pada cetakan awal, yang kemudian diganti dengan tiga simbol asteris horizontal pada edisi yang lebih baru.
Penggunaan lain
suntingDi kalangan orang Hungaria Amerika dan Polandia yang lebih tua, dinkus merupakan istilah kuno untuk menyebut Senin Paskah.[18]
Dalam bahasa Inggris Australia, khususnya pada media berita, kata "dinkus" merujuk pada foto kecil penulis sebuah artikel berita.[19][20] Di luar Australia, istilah ini sering disebut sebagai headshot.
Referensi
sunting- ^ a b Butterford, Consul Willshire (1858). A Comprehensive System of Grammatical and Rhetorical Punctuation. Cincinnati: Longley Brothers. hlm.ย 37, 40.
- ^ a b Houston, Keith (2013). Shady Characters: The Secret Life of Punctuation, Symbols, and Other Typographical Marks.[perlu rujukan lengkap]
- ^ Peลกko, Radim; Lรผthi, Louis (2007). Bailey, Stuart; Bilak, Peter (ed.). Dot Dot Dot 13. Princeton Architectural Press. hlm.ย 193. ISBNย 978-90-77620-07-6.[perlu rujukan lengkap]
- ^ a b "Dinkus". Macquarie Dictionary. Sydney.
A dinkus is a small drawing used in printing to decorate a page, or to break up a block of type. It was coined by an artist on [Sydney's] The Bulletin magazine in the 1920s, and it is derived from the word dinky, meaning 'small'
- ^ "Glossary". The News Manual.
- ^ Hudson, Robert (2010). The Christian Writer's Manual of Style. hlm.ย 386.[perlu rujukan lengkap]
- ^ "D'Alliage ร Avertissement โ Orthotypographie, de Jean-Pierre Lacroux (Lexique des rรจgles typographiques franรงaises)". www-orthotypographie-fr.translate.goog.
- ^ a b Flann, Elizabeth; Hill, Beryl; Wang, Lan (2014). The Australian Editing Handbook.[perlu rujukan lengkap]
- ^ a b Lacroux, Jean-Pierre. Orthotypographie.[perlu rujukan lengkap]
- ^ a b "Five Ways I Hate Your Dinkus". Self-Publishing Review. August 26, 2021.
- ^ Taruskin, Richard (2005). The Oxford History of Western Music. Vol.ย 3. hlm.ย 311. ISBNย 978-0-19-516979-9.
- ^ "Did You Know? The Dinkus". Municode.
- ^ Quinn, Stephen (2012). Digital Sub-Editing and Design.[perlu rujukan lengkap]
- ^ Bringhurst, Robert (2004). The Elements of Typographic Style (Edisi 3rd). Hartley & Marks. hlm.ย 63, 290โ291. ISBNย 978-0-88179-206-5. Diakses tanggal 10 November 2020.
- ^ Gabbert, Elisa (December 29, 2020). "How Poets Use Punctuation as a Superpower and a Secret Weapon". The New York Times.
- ^ Lundmark, Torbjorn (2002). Quirky Qwerty: The Story of the Keyboard @ Your Fingertips. University of New South Wales. hlm.ย 120. ISBNย 9780868404363.
- ^ a b Crystal, David (2016). Making a Point: The Pernickety Story of English Punctuation. London Profile Books. ISBNย 9781781253519.
- ^ Pleck, Elizabeth Hafkin (2001). Celebrating the Family: Ethnicity, Consumer Culture, and Family Rituals. Harvard University Press. hlm.ย 90. ISBNย 9780674002302.
- ^ "Infinite Anthology". The Monthly. August 5, 2010.
- ^ Sadokierski, Zoe (27 March 2014). "Why The Saturday Paper's design breeds disappointment". The Conversation.
Lihat pula
sunting- Analisis Daisy Alioto tentang dinkus dalam The Paris Review: Ode to the Dinkus.