DNA probe adalah suatu fragmen DNA atau RNA atau protein pelacak target gen. DNA probe yang telah dilabel akan berkomplementasi dengan target melalui hibridisasi sehingga dapat mendeteksi keberadaan gen tertentu. Terdapat dua macam probe, yaitu homologus dan heterologus. Homologus adalah probe yang diperoleh dari DNA dengan sumber yang sama dengan DNA yang akan dilacak sehingga ikatan komplemen probe dengan DNA target cenderung lebih kuat dan presisi. Sedangkan heterologus adalah probe diperoleh dari sumber organisme yang berbeda atau dibuat secara sintetik sehingga ikatannya kurang presisi dengan gen target..[1]

Pelabelan

sunting

Pelabelan DNA probe dapat dilakukan melalui empat cara, yaitu:

  • label PCR
  • translasi nik
  • sintesis oligoprimer secara acak
  • pelabelan ujung

Senyawa untuk melabel probe dapat berupa senyawa radioisotop atau non-radioisotop. Pelabelan menggunakan radioisotop yang banyak digunakan yaitu fosfat radioaktif atau 32P. Proses pelabelan dengan menggunakan 32P dari ATP terlabel radioaktif dilakukan dengan menghilangkan 5’ fosfat dari oligonukleotida menggunakan enzim alkalin fosfatase dan menggantikannya dengan fosfat terlabel radioaktif menggunakan polinukleotida nuklease.[2] Sedangkan contoh senyawa non-radioisotop untuk melabel adalah biotin yang memiliki afinitas sangat tinggi terhadap avidin dan strepavidin.[3] Biotin adalah salah satu anggota kelompok vitamin B kompleks yang merupakan mikronutrien esensial yang larut dalam air.[4] Probe yang terlabel biotin menghasilkan resolusi hibridisasi yang tinggi, menurunkan interferensi latar belakang dan stabil pada suhu -20 °C untuk penyimpanan selama setahun.

Referensi

sunting
  1. ^ (Inggris) Furuya H, et al. 2005. An improved method for Southern DNA and Northern RNA blotting using a Mupid®-2 Mini-Gel electrophoresis unit. J Biochem Biophysi Meth 68: 139-143.
  2. ^ (Inggris) Carcillo JA, Parise A, Romkes-Sparks M. 1994. Comparisson of the enzyme-linked oligonucleotide sorbent assay to 32P-labeled PCR/Southern blotting technique in quantitative analysis of human and rat mRNA. PCR Methods Appl. 3: 292-297.
  3. ^ (Inggris) Kittigul L, Suthachana S, Kittigul C, Pengruangrojanachai V. 1998. Immunoglobulin M-capture biotin-strepavidin enzyme-linked immunosorbent assay for detection of antibodies to dengue viruses. Am J Trop Med Hyg 59(3): 352-356.
  4. ^ (Inggris) Said HM. 2002. Biotin: the forgotten vitamin. Am J Clin Nutr 75: 179–180.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Pratiwi Sudarmono

Moechtar, DC Edman, dan SL Hoffman menulis artikel berjudul Evaluation of a DNA probe for identifying Salmonella typhi in Peruvian and Indonesian bacterial

Moon Impact Probe

Moon Impact Probe (MIP) adalah alat penyelidik bulan yang dikembangkan oleh Indian Space Research Organisation (ISRO), badan antariksa India. Alat penyelidik

Mikro-larik DNA

adalah mengandalkan kemampuan DNA sampel yang telah dilabel dengan zat fluorescent untuk melakukan rekombinasi dengan probe yang telah ada pada chip microarray

BoBoiBoy

menghalangi Adu Du, alien berkepala kotak dan berwarna hijau, bersama dengan Probe dan Computer yang ingin menaklukan bumi untuk mendapatkan biji coklat. Di

Reaksi berantai polimerase

menghasilkan probe hibridisasi untuk blot Southern dan kloning DNA, yang membutuhkan jumlah DNA yang lebih banyak untuk mewakili wilayah DNA tertentu. PCR

Blot Southern

melacak suatu fragmen DNA spesifik, diperlukan suatu pelacak (probe). DNA dipisahkan terlebih dahulu dengan elektroforesis. Probe yang dilabel akan hibridisasi

Aryan Khan

tanggal 23 Agustus 2025. "CBI summons model arrested in Aryan Khan case in probe against Sameer Wankhede". India Today (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan

Evolusi

Pada tahun 1940-an, identifikasi DNA sebagai bahan genetika oleh Oswald Avery dkk. beserta publikasi struktur DNA oleh James Watson dan Francis Crick