Uang kertas dolar Selat tahun 1935

Dolar Selat adalah mata uang di Negeri-Negeri Selat pada tahun 1898 hingga 1939.[1] Mata uang ini juga digunakan di Negeri-Negeri Melayu Bersekutu, Negeri-Negeri Melayu Tidak Bersekutu, Sarawak, Brunei, dan Borneo Utara Britania.

Sejarah

sunting

Pada awal abad ke-19, mata uang yang paling umum digunakan di Hindia Timur adalah dolar Spanyol. Uang koin yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat adalah keping Trengganu, keping Kelantan, dan dolar Penang. Pada tahun 1837, rupee India ditetapkan sebagai mata uang tunggal di Negeri-Negeri Selat karena wilayah ini dikelola sebagai bagian dari India Britania. Meskipun demikian, dolar Spanyol tetap saja beredar dan pada 1867, pengelolaan Selat dpisahkan dari India dan dolar dijadikan sebagai mata uang standar.

Dari tahun 1898, dolar Selat diterbitkan oleh Dewan Komisaris Mata Uang, dan bank swasta dilarang menerbitkan uang kertas. Dolar Selat kemudian digantikan oleh dolar Malaya pada tahun 1939, dengan nilai setara. Saat ini, Brunei dan Singapura masih menggunakan dolar sebagai alat tukar, meskipun Malaysia telah menggantinya dengan ringgit pada 1973.

Penggunaan

sunting

Mata uang standar di Hindia Belanda

sunting

Dolar Selat digunakan sebagai mata uang standar pada daerah-daerah di Hindia Belanda yang berada di luar Pulau Jawa. Penggunaan Dolar Selat di Hindia Belanda dilakukan oleh penduduk yang bekerja pada kawasan perkebunan karet di wilayah Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, dan Kalimantan Selatan. Dolar Selat digunakan pada daerah-daerah tersebut karena terhubung dengan jalur perdagangan yang berpusat di Singapura. Penggunaan Dolar Selat juga berlaku di Aceh dan pantai timur Sumatera yang terhubung dengan jalur perdagangan di Pulau Pinang.[2]

Referensi

sunting
  1. ^ Linzmayer, Owen (2013). "Straits Settlements". The Banknote Book. San Francisco, CA: www.BanknoteNews.com.
  2. ^ Dick, Howard (2011). "Ekonomi Indonesia pada Tahun 1950an: Kurs Beraneka, Jaringan Bisnis serta Hubungan Pusat-Daerah". Dalam van Bemmelen. S., dan Raben, R. (ed.). Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun 1950-an (Pembongkaran Narasi Besar Integrasi Bangsa). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia & KITLV‑Jakarta. hlm. 44–45. ISBN 978‑979‑461‑772‑4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

sunting
Didahului oleh:
Rupee India
Alasan: Pemisahan administrasi dari India
Mata uang Negeri-Negeri Selat
1845 – 1901
Bersamaan dengan: Rupee India (1845-1867)
Mata uang Brunei, Negeri-Negeri Selat
1901 – 1939
Digantikan oleh:
Dolar Malaya
Lokasi: Negeri-Negeri Selat, Negeri-Negeri Melayu Bersekutu, Brunei, Labuan
Didahului oleh:
Pitis Brunei
Alasan: Kesepakatan protektorat

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Dolar Brunei

Inggris (‘'British protectorate), dolar Penempatan Selat (STSD) menjadi mata uang resmi negeri-negeri selat. Dolar Selat ini ditautkan di Pound sterling

Dolar Singapura

Satu dolar Singapura dibagi menjadi 100 sen. Antara tahun 1845 dan 1939, Singapura menggunakan Dolar Selat. Mata uang ini digantikan oleh dolar Dolar Malaya

Dolar Sarawak

Dolar adalah mata uang Sarawak dari 1858 sampai 1953. Mata uang tersebut tersubdivisi dalam 100 sen. Dolar tersebut masih sezaman dengan dolar Selat dan

Dolar Amerika Serikat

Dolar Amerika Serikat ( simbol : $ ; kode : USD ; juga disingkat US$ atau Dolar A.S., untuk membedakannya dari mata uang denominasi dolar lainnya ; disebut

Negeri-Negeri Selat

Negeri-Negeri Selat (bahasa Inggris: Straits Settlementscode: en is deprecated ) adalah sekelompok bekas wilayah kekuasaan Perusahaan Hindia Timur Britania

Terang Boelan

sukses komersial di Hindia Belanda dan wilayah lainnya, meraih 200.000 Dolar Selat di Malaya Britania. Kesuksesan ini menghidupkan kembali industri film

Kartolo

Terang Boelan sukses secara komersial, meraup pendapatan hampir 200.000 dolar Selat ketika dirilis secara internasional di Malaya Britania (kini Malaysia)

Thailand Terbuka 2026

Thailand dari tanggal 12 hingga 17 Mei 2026 dengan total hadiah 500.000 dolar AS. Kunlavut Vitidsarn, Chen Yufei, Aaron Chia dan Soh Wooi Yik, Pearly