Dolmen di Desa Gunung Sugih Kecamatan Batu Brak, Lampung Barat (foto diambil pada tahun 1931)
Dolmen Poulnabrone di the Burren, County Clare, Irlandia

Dolmen adalah Salah satu peninggalan pada zaman Megalitikum atau zaman Batu Besar, yang masyarakatnya masih menganut kepercayaan animisme pada masa pra Islam. Meja batu tempat meletakkan sesaji pengorbanan yang bedasarkan kepercayaan tradisional kuno. Di bawah dan disekitar dolmen biasanya sering ditemukan kubur kuno yang memiliki prasasti batu nisan pada jaman itu.[1]

Dolmen ditemukan di Eropa, Asia, dan Afrika, terutama di sepanjang pesisir pantai Benua Asia yang memiliki akses langsung dalam penyebaran agama dari Saudi Arabia penyebaran menuju Yeman, Oman, Pakistan, India, Srilanka, dan Indonesia hingga Malaysia. Mereka berasal dari periode Megalithikum awal, sekitar sebelum 40.000 tahun yang lalu.[2]

Dolmen ialah sebuah meja yang terbuat dari batu yang berfungsi sebagai tempat meletakkan saji-sajian untuk pemujaan. Adakalanya di bawah dolmen dipakai untuk meletakkan mayat, agar mayat tersebut tidak dapat dimakan oleh binatang buas maka kaki mejanya diperbanyak sampai mayat tertutup rapat oleh batu. Hal ini menunjukan kalau masyarakat pada masa itu meyakini akan adanya sebuah hubungan antara yang sudah meninggal dengan yang masih hidup, mereka percaya bahwa apabila terjadi hubungan yang baik akan menghasilkan keharmonisan dan keselarasan bagi kedua belah pihak.[3]

Dolmen di Indonesia

sunting

Dolmen yang merupakan tempat pemujaan misalnya ditemukan di Telagamukmin. Dan di desa Pekon Balak Kabupaten Lampung Barat, Situs Dolmen Batu Brak[4] di pemukiman ini terdapat makam kuno, gedung dalom kepaksian dan pemukiman tempat pertama kali menetap Suku Lampung, suku yang mempunyai aksara tulisan disebut Surat Lampung. Dolmen yang mempunyai panjang 325 cm, lebar 145 cm, tinggi 115 cm ini disangga oleh beberapa batu besar dan kecil. Hasil penggalian tidak menunjukkan adanya sisa-sisa penguburan. Benda-benda yang ditemukan pada umumnya dolmen banyak ditemukan di Jawa Timur dan Sumatra bagian Selatan Dolmen merupakan hasil kebudayaan megalitikum, di mana pada zaman megalit bangunannya selalu berdasarkan kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman pertanian. Dolmen ini merupakan sebuah media atau peralatan yang dipergunakan untuk mengadakan upacara pemujaan terhadap kepercayaan tradisional.[5]

Menurut pengamatan Hoop, dolmen-dolmen yang paling baik terdapat di Batucawang. Papan batunya yang berukuran 3 x 3 meter dengan tebal 7 cm, terletak di atas empat buah batu penunjang. Salah satu dolmen yang digali di Tegurwangi diduga berisi tulang-tulang manusia. Namun, benda-benda lain yang dianggap sebagai bekal kubur tidak ditemukan. Selain dolmen, di daerah ini banyak ditemukan patung-patung batu, yang diduga merupakan patung nenek moyang. Di antara dolmen-dolmen tersebut terdapat juga dolmen yang papan batunya ditunjang oleh enam batu tegak. Tradisi setempat menyatakan bahwa tempat ini merupakan pusat kegiatan upacara pemujaan nenek moyang dan tempat tempat untuk penguburan. Di daerah ini ditemukan pula dolmen bersama-sama menhir. Temuan dolmen-dolmen lainnya terdapat di Pamatang dan pulau Panggung, dan di kedua tempat pula ditemukan patung batu. Daerah temuan lain ialah Nanding, Tanjungara, Pajarbulan (di sini dolmen ditemukan bersama-sama dengan lesung batu), Gunungmegang, Tanjungsakti, Pagerdewa, Lampung Barat dan Sumbawa. Dolmen diperkirakan mulai dikenal dalam masyarakat Indonesia pada zaman bercocok tanam.[5]

Tradisi megalitik di pulau Sumba merupakan hal yang menarik. Tidak hanya bentuk-bentuknya yang sangat besar yang mempunyai berat berton-ton tetapi keunikan ini tampak sekali pada pelaksanaan pendiriannya maupun pada upacara-upacara yang dilaksanakan dalam pendirian bangunan tersebut. Dalam usaha pencarian batu, dalam pengangkutan batu maupun dalam upacara memasukkan mayat di dalam dolmen semuanya itu merupakan kegiatan yang menjadi satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Peristiwa-peristiwa itu mengandung nilai historis arkeologis yang sangat tinggi.[5]

Kepercayaan

sunting

Masyarakat masa bercocok tanam memiliki ciri khas yang sesuai dengan perkembangan penemuan-penemuan barunya. Nilai-nilai hidup semakin berkembang dan manusia pada waktu itu tidak lagi menggantungkan hidupnya pada alam, tetapi sudah menguasai alam lingkungan sekitarnya dan aktif membuat kesetaraan kesejahteraan kehidupan.[6][7]

Sebagai masyarakat petani, penduduk sudah dapat memproduksi makanan sehari-hari. Salah satu segi yang menonjol dalam masyarakat adalah sikap terhadap kehidupan yang sudah mati. Kepercayaan tradisional bahwa roh seseorang tidak lenyap pada saat orang meninggal, sangat memengaruhi kehidupan manusia dalam hal yang positif. Roh dianggap mempunyai kehidupan di alamnya tersendiri sesudah orang meninggal.[7]

Dolmen-dolmen yang masih dapat disaksikan sampai sekarang tidak harus mempunyai bentuk-bentuk besar, namun tertata memiliki nilai seni dan sejarah, sehingga kadang-kadang sulit dibayangkan bagaimana batu tersebut dan dengan berat terkadang berton-ton itu dapat diangkut dan tersusun di lokasi yang luas. Pengangkutan batu sampai setinggi atau lebar dua meter lebih tentu mempunyai teknik tersendiri di dalam cara pengangkutannya. tiang-tiang penyangga biasanya disesuaikan dengan besar batu datarnya. Semakin besar batu datar maka semakin besar pula tiang penyangganya ada yang tinggi dan ada juga yang pendek bahkan ada pula batu yang tegak berdiri kokoh.[7]

Referensi

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Situs Dolmen Gochang, Hwasun dan Ganghwa

Situs Dolmen Gochang, Hwasun dan Ganghwa adalah situs bersejarah yang terletak di Korea Selatan yang melindungi ratusan dolmen yang digunakan oleh manusia

Lampung

mengalami masa megalitikum selama masa prasejarah dengan adanya penemuan dolmen. Pada abad ke-7 tahun 671 Masehi zaman pra-sejarah Lampung di Sumatra, Sriwijaya

Menhir

juga ada yang diletakkan terlentang di tanah. Menhir, bersama-sama dengan dolmen dan sarkofagus, adalah megalit. Sebagai salah satu penciri utama budaya

Neolitikum

sekumpulan pilar (dolmen). Menhir sering menandai sebuah makam; dolmen biasanya berfungsi sebagai makam untuk mayat. Menhir dan dolmen adalah monumen kasar

Pulau Sumba

ini. Peninggalan megalitik yang terdapat di Pulau Sumba antara lain makam dolmen, batu tegak, arca megalitik, dan kandang batu, Tradisi megalitikum Sumba

Jawa

Beberapa struktur megalitik telah ditemukan di Pulau Jawa, misalnya menhir, dolmen, meja batu, dan piramida berundak yang lazim disebut Punden Berundak. Punden

Gunung Lawu

Dongson atau Deutro-Melayu. Peninggalan gelombang kedua seperti kubur batu, dolmen, dan arca dinamis. Peninggalan zaman megalitik di Gunung Lawu dapat dilihat

Suku Dayak

tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat penguburan di dalam peti batu (dolmen) penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan