C-47 Skytrain
C-53 Skytrooper
Dakota C-47
Dakota C-47
Informasi umum
JenisPesawat transportasi militer
PabrikanDouglas Aircraft Company
Perancang
StatusTidak diproduksi, dalam pelayanan (di Kolombia, El Salvador dan Afrika Selatan)

Douglas C-47 Skytrain atau Dakota (sebutan dari RAF) adalah pesawat angkut militer sayap rendah (low wing) yang dikembangkan dari pesawat Douglas DC-3.

Pesawat ini digunakan secara luas oleh Sekutu selama Perang Dunia II dan tetap di garis depan pelayanan dengan berbagai operator militer selama 1950.

Selain itu pesawat ini juga dipergunakan oleh TNI AU sebagai bagian dari alut sista (alat utama sistem senjata) yang diterima Indonesia atas pengakuan kedaulatannya dari Belanda dan pernah memperkuat Skadron Udara 2, Skadron Udara 1 dan Skadron DAUM.

Di TNI AU, ia telah turut serta dalam operasi militer penumpasan pemberontakan RMS, DI/TII, PRRI/Permesta, Operasi Trikora dan Operasi Seroja. Pesawat ini di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, berkiprah dari tahun 1950-an hingga akhirnya pada tahun 1978 diabadikan sebagai salah satu koleksi alat utama sistim senjata (alutsista) dari Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.[1]

Sejarah

sunting

Dunia

sunting

C-47 Dakota berkiprah sejak Perang Dunia II hingga Perang Vietnam

Perang Dunia II

sunting
Kru Penerbangan U.S. Army Pathfinders dan USAAF sebelum D-Day, Juni 1944, di depan sebuah C-47 Skytrain di RAF North Witham

Di Eropa, C-47 dan versi yang khusus untuk mengangkut pasukan yang lebibh dikenal sebagai C-53 Skytrooper, sangat banyak dipergunakan dalam perang, khususnya untuk menarik glider dan menerjukan pasukan. Pada pendudukan Sisilia di Juli 1943, ia menerjukan tidak kurang dari 4,381 pasukan terjung payung sekutu. Selain itu, tidak kurang dari 50,000 pasukan terjun payung diterjunkannya selama beberapa hari pertama dari D-Day yang dikenal juga sebagai Invasi Normandia, Prancis, pada Juni 1944.[2] Selama Perang Pasifik, dengan mempergunakan beberapa landasan pendaratan di beberapa pulau di Lautan Pasifik, pesawat ini dipergunakan untuk membawa para tentara yang bertugas di sana kembali ke Amerika Serikat.

C-47 sedang menurunkan muatan di Bandara Tempelhof, Berlin selama operasi Berlin Airlift

C-47 Dakota di TNI AU

sunting

Tiga pesawat ini, termasuk salah satu alut sista yang diserahkan oleh Belanda kepada Indonesia, ketika mereka mengakui kedaulatannya, di mana pada masa itu, kekuasaannya diserahkan kepada negara Republik Indonesia Serikat sejak tanggal 27 Desember 1949.[3] Berdasarkan Surat Perintah KASAU No. 0493,Pr/KSAU/50 tanggal 1 Agustus 1950, ia ditempatkan di Skadron Udara 2 yang berkedudukan di Pangkalan Udara Andir (PU Andir), di Bandung. Pada saat itu para penerbangnya hanyalah:[4]

Pada 1 Januari 1951, Skadron Udara 2 yang tadinya berkedudukan di PU Andir, Bandung dipindahkan ke Pangkalan Udara Cililitan yang selanjutnya membawahi semua pesawat Dakota termasuk yang tadinya ada di Skadron Udara 1. Sedangkan mantan Skadron Udara 2 yang di PU Andir, diubah menjadi Skadron Djawatan Angkutan Udara Militer (DAUM).[5] DAUM dengan pesawat C-47 Dakota bertugas sebagai penerbangan reguler, menjelajah ke seluruh Pangkalan Udara AURI untuk menjaga kontinuitas pasokan logistik, sehingga ia juga berfungsi sebagai jembatan udara nusantara untuk menyatukannya.[5]

Operasi

sunting

Pesawat ini hingga paruh akhir 1950-an, menjadi satu-satunya pesawat transportasi udara militer dan tulang punggung untuk pergeseran pasukan dan logistik ke garis depan.

Operasi militer penumpasan pemberontakan organisasi Republik Maluku Selatan (RMS)
sunting

Pesawat ini juga pernah mendukung operasi militer penumpasan Organisasi Republik Maluku Selatan (RMS). Salah satu tugasnya adalah mempersiapkan Pangkalan Udara Kendari sebagai pangkalan aju, di mana untuk itu diterbangkan pesawat ini dengan nomor ekor T-457 dari Pangkalan Udara Cililitan menuju Kendari. Pesawat ini dipiloti LU I Sudarjono dan LU I Sutardjo Sigit, yang bertujuan membantu pergeseran pasukan dan logistik. Pesawat ini mendarat pertama kali pada 14 Juli 1950 di Pulau Buru di mana 2 hari kemudian Namlea berhasil diduduki oleh Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), yaitu gabungan antara Angkatan Perang Republik Indonesia dengan KNIL.[6] Dengan direbutnya Namlea, maka APRIS, memiliki pangkalan udara yang bisa dipakai sebagai pangkalan aju. Pada September 1950, diadakan uji coba pendaratan dengan C-47 Dakota untuk memastikan kelayakan pangkalan, di mana pesawat ini diterbangkan oleh Kapten Udara Noordraven. Setelah kondisi aman, barulah mendarat pesawat-pesawat pembom B-25 Mitchell. Pangkalan ini menjadi sangat penting sebagai pangkalan aju atau pangkalan terdepan, karena dari tempat ini, akan lebih mudah untuk mengepung kota Ambon dari pelbagai arah. Dalam hal ini pesawat ini bertugas untuk mendukung pasokan logistik dan pasukan.[6]

Operasi militer penumpasan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)
sunting

Dalam operasi ini, pesawat ini juga bertugas untuk mensuplai logistik lewat udara dikarenakan tidak memungkinkan melalui jalan darat.[7]

Operasi militer penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta
sunting

Dalam operasi militer, PRRI di Sumatra, C-47 Dakota merupakan bagian dari operasi gabungan, di mana ia bertugas untuk memberikan perlindungan udara (air cover), dan juga pasokan logistik serta pasukan. Dalam operasi tersebut, andilnya cukup besar dengan menerjunkan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI dan RPKAD dan mereka tergabung dalam tim Komando X Ray dipimpin oleh LU (Letnan Udara) Sugiri Sukani, sehingga TNI mengusai lapangan terbang Simpang Tiga, Pekanbaru pada 12 Maret 1958. Begitu juga lapangan terbang Polonia, Medan berhasil dikuasai pada 17 Maret 1958. Penguasaan kedua lapangan terbang ini membuat pihak pemberontak tidak bisa mempergunakannya sebagai lapangan aju. Tercatat tidak kurang dari 26 pesawat C-47 Dakota dikerahkan ke Tanjung Pinang, sebagai pangkalan aju.[8]

Selanjutnya pesawat-pesawatnya digeser ke Sulawesi, untuk penumpasan Permesta, dengan sandi Operasi Merdeka, yang terbagi menjadi Operasi Mena dan Operasi Saptamarga. Dalam pemberontakan ini, pihak musuh didukung oleh B-26 Invader dan P-51 Mustang yang didukung oleh penerbang-penerbang asing. Kali ini, pesawat ini bertugas untuk penerjunan pasukan beserta perbengkalannya guna merebut pangkalan udara dari tangan pemberontak.[8]

Operasi Trikora
sunting

Dalam operasi ini pihak TNI AU melibatkan kekuatan yang sangat besar hingga membentu AULA (Angkatan Udara Mandala), sebagai salah satu unsur Komando Mandala. Dalam operasi ini, pesawat ini dipergunakan untuk mempersiapkan pangkalan-pangkalan aju di perbatasan Maluku dan Irian Barat, seperti Morotai, Amahai, Letfuan, Kendari, Kupang, Gorontalo, Namlea, Laha, Langgur, Doka Barat dan Selaru.[8]

Penyiapan ini dilakukan oleh C-47 Dakota dengan registrasi T-477 dan T-474 dengan mendarat di landasan Kendari yang antara lain diterbangkan oleh LU I Suhardjo. Dalam operasi inilah timbul ide untuk mempersenjatai pesawat ini sehingga bisa memiliki kemampuan serang. Sehingga, ia tidak hanya membantu pergeseran pasukan maupun medis udara, ia dapat digunakan sebagai bantuan tembakan udara.[9]

Perubahan atas dua pesawat ini dilakukan oleh tim Depo Pesbang 10 Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Perubahan yang dilakukan dengan menempatkan masing-masing 3 pucuk senapan kaliber 12,7ย mm yang ditempatkan di jendela-jendela di belakang sayap. Dan Dakota C-47 hasil modifikasi ini dikenal dengan julukan "C-47 Dakota Gunship".[9]

Operasi Seroja
sunting

Dalam operasi inilah dipergunakan untuk pertama kalinya C-47 Dakota Gunship yang bertugas mendampingi B-26 Invader dalam melakukan serangan udara langsung guna menghadapi senapan mesin pihak Fretilin. Ujicoba modifikasi ini, dengan penembakan di Pameungpeuk, Jawa Barat dan Lanud Penfui, Kupang. Namun akhirnya pesawat tidak dipergunakan karena berdasarkan informasi intelejen, kekuatan musuh telah melemah.[9]

Sebagai pengabdian terakhirnya dan juga untuk mengenang peranan, pengabdian dan jasa-jasanya dalam menegakkan kedaulatan NKRI dan juga pembinaan potensi dirgantara, maka satu pesawat ditempatkan di kantor Wing Udara 1, Lanud Halim Perdanakusuma, lainnya ditempatkan di Lakespra Dr Saryanto serta di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta pada tahun 1978.[10][1]

Operator

sunting
Sebuah Dakota dalam peringatan perang Inggris Raya dengan pintu parasut terbuka di Duxford tahun 2008

Spesifikasi

sunting
An orthographically projected diagram of the C-47 Skytrain
An orthographically projected diagram of the C-47 Skytrain

Data from Buku McDonnell Douglas aircraft since 1920ย : Volume I

General characteristics

  • Crew: 4 (pilot, co-pilot, navigator dan radio operator)
  • Capacity: 28 personil
  • Length: 63ย ft 9ย in (19,43ย m)
  • Wingspan: 95ย ft 6ย in (29,11ย m)
  • Height: 17ย ft 0ย in (5,18ย m)
  • Wing area: 987ย sqย ft (91,7ย m2)
  • Airfoil: root: NACA 2215; tip: NACA 2206[14]
  • Empty weight: 18.135ย pon (8.226ย kg)
  • Gross weight: 26.000ย pon (11.793ย kg)
  • Max takeoff weight: 31.000ย pon (14.061ย kg)
  • Powerplant: 2 ร— Pratt & Whitney R-1830-90C Twin Wasp 14-cylinder air-cooled radial piston engines, 1.200ย hp (890ย kW) each
  • Propellers: 3-bladed constant-speed propellers

Performance

  • Maximum speed: 224ย mph (360ย km/h; 195ย kn) at 10.000ย ft (3.000ย m)
  • Range: 1.600ย mi (1.390ย nmi; 2.575ย km)
  • Ferry range: 3.600ย mi (3.128ย nmi; 5.794ย km)
  • Service ceiling: 26.400ย ft (8.047ย m)
  • Time to altitude: 10.000ย ft (3.000ย m) in 9 minutes 30 seconds
  • Wing loading: 263ย pon/sqย ft (1.280ย kg/m2)
  • Power/mass: 00.926ย hp/lb (1.522ย kW/kg)

Referensi

sunting

Catatan kaki

sunting
  1. ^ a b Tarigan 2015, hlm.ย 95.
  2. ^ The world's greatest aircraftย : an illustrated history of the most famous civil and military planes. New York, NY: Exeter Books. 1988. ISBNย 0791700119. OCLCย 18771089. Pemeliharaan CS1: Tahun (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
  3. ^ Saragih 2019, hlm.ย 29.
  4. ^ Saragih 2019, hlm.ย 31.
  5. ^ a b Saragih 2019, hlm.ย 32.
  6. ^ a b Saragih 2019, hlm.ย 33.
  7. ^ Saragih 2019, hlm.ย 34.
  8. ^ a b c Saragih 2019, hlm.ย 35.
  9. ^ a b c Saragih 2019, hlm.ย 36.
  10. ^ Saragih 2019, hlm.ย 37.
  11. ^ "Douglas DC-3 (CC-129) Dakota". Angkatan Udara Kanada. 11 Juni 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-06-11. Diakses tanggal 14 Oktober 2009. ; ;
  12. ^ "Das Archiv der Deutschen Luftwaffe." (in German) LuftArchiv.de. Retrieved: 5 July 2010.
  13. ^ a b "Trade Registers". Armstrade.sipri.org. Diakses tanggal 2013-06-20.
  14. ^ Lednicer, David. "The Incomplete Guide to Airfoil Usage". m-selig.ae.illinois.edu. Diakses tanggal 16 April 2019.

Daftar Pustaka

sunting
  • Saragih, Kol. Sus Dra. Maylina (2019). Alat Utama Sistem Senjata TNI AU Periode Tahun 1951 - 1960. Jakarta: Sub Dinas Sejarah Dinas Penerangan TNI AU. Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
  • Tarigan, Kol Sus Dra. Lisa M. (2015). Monumen Angkatan Udara (Revisi I). Jakarta: Sub Dinas Sejarah Dinas Penerangan TNI AU. Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
  • Donald, David. The Complete Encyclopedia of World Aircraft. New York: Barnes & Noble, 1997. ISBN 0-7607-0592-5.
  • Flintham, Victor. Air Wars and Aircraft: A Detailed Record of Air Combat, 1945 to the Present. New York: Facts on File, 1990. ISBN 0-8160-2356-5.
  • Francillon, Renรฉ J. McDonnell Douglas Aircraft Since 1920. London: Putnam & Company Ltd., 1979. ISBN 0-370-00050-1.
  • Gradidge, Jennifer M. The Douglas DC-1, DC-2, DC-3: The First Seventy Years. Two volumes. Tonbridge, UK: Air-Britain (Historians) Ltd., 2006. ISBN 0-85130-332-3.
  • Pearcy, Arthur Jr. "Douglas R4D variants (US Navy's DC-3/C-47)". Aircraft in Profile, Volume 14. Windsor, Berkshire, UK: Profile Publications Ltd., 1974, pp.ย 49โ€“73. ISBN 0-85383-023-1.
  • Yenne, Bill. McDonnell Douglas: A Tale of Two Giants. Greenwich, Connecticut: Bison Books, 1985. ISBN 0-517-44287-6.

Pranala luar

sunting


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Douglas DC-3

dunia penerbangan, pesawat DC-3 Dakota atau dalam versi militer disebut C-47 merupakan pesawat penumpang sipil (airliner) sayap rendah (low wing) legendaris

Injourney

mulai membeli pesawat terbang sendiri, yakni Cessna 402, Douglas C-47 Skytrain, Douglas DC-6, dan Dornier Do-28. Pada tahun 1974, pemerintah mengubah status

Kecelakaan dan penyelamatan Gremlin Special di Papua 1945

Gremlin Special adalah pesawat Douglas C-47 Skytrain yang jatuh saat penerbangan di atas Lembah Baliem di Nugini Belanda (sekarang Papua), Hindia Belanda

Dakota VT-CLA

Insiden Dakota Yogyakarta 1947 terjadi ketika Douglas C-47 Skytrain yang membawa pasokan medis untuk pemerintah de facto Republik Indonesia di Yogyakarta

Airfast Service

BAe-146-100 1 Beech 1900D 3 Bell 412 & 412EP 1 Bell 212 2 Bell 407 Douglas C-47 Skytrain Grumman G-21 Goose Piper PA-23 Sikorsky S-58 Grumman HU-16 Albatross

Douglas Aircraft Company

diproduksi versi militernya dengan nama C-47 Skytrain atau lebih dikenal dengan "Dakota" di Inggris. Douglas Aircraft pun telah sejak lama mendesain dan

Dakota RI-002

kemerdekaan Indonesia. Pesawat angkut sedang jenis C-47 Skytrain atau Dakota (julukan dari RAF) buatan pabrikan Douglas Aircraft AS ini disewa dari seorang veteran

C-54 Skymaster

Douglas C-54 Skymaster adalah pesawat bermesin empat digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat saat Perang Dunia II . Seperti C-47 Skytrain, C-54 dimodifikasi