| Dulmuluk | |
|---|---|
| Penulis | Raja Ali Haji bin Raja Achmad |
| Bahasa asli | Melayu |
| Genre | Tradisional, religi |
| Latar | Masyarakat Melayu Palembang, Sumatera Selatan |
Dulmuluk adalah teater kesenian tradisional yang berasal dari Kota Palembang, Sumatera Selatan.[1] Teater Dulmuluk terinspirasi dari seorang pedagang keturunan Arab yang bernama Wan Bakar. Ia datang ke Kota Palembang pada abad ke-20. Di Kota Palembang, Wan Bakar menggelar pembacaan kisah petualangan Abdul Muluk Jauhari.[2] Salah satu manuskrip syair ini (Cod.Or. 3368) memuat kolofon yang menyebutkan bahwa Raja Ali Haji selesai mengarang syair ini pada tanggal 8 Rajab 1262 yang bertepatan dengan 2 Juli 1846 (Iskandar, 1999: 174). Ada dua pendapat penulis kitab ini yaitu Raja Ali Haji bin Raja Achmad dari Pulau Penyengat, Riau dan Saleha, sepupu Raja Ali Haji. Kitab ini kemudian dipentaskan dalam bentuk teater.
Sejarah
suntingTeater Dulmuluk adalah teater tradisional Sumatera Selatan yang lahir di Kota Palembang. Awal mula terbentuknya teater ini adalah berupa pembacaan syair oleh Wan Bakar yang membacakan tentang syair Abdul Muluk disekitar rumahnya di Tangga Takat 16 Ulu. Agar lebih menarik pembacaan syair kemudian disertai dengan peragaan oleh beberapa orang ditambah iringan musik gambus dan terbangan. sekarang karena sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman, juga sudah menggunakan alat musik modern, sepertiย : orgen, keyboard.
Kisah
suntingAda dua pendapat penulis kitab ini yaitu Raja Ali Haji bin Raja Achmad dari Pulau Penyengat Indra Sakti (Riau) โ versi DR. Philipus Pieter Voorda Van Eysinga (seorang hakim di Batavia) sedangkan versi Von de wall menyebut Saleha, sepupu raja Ali Haji. Kitab ini kemudian dipentaskan dalam bentuk teatrikal.[butuh rujukan]
Dalam setiap pementasan, ada enam orang pemain dan 4 orang pengiring musik, yang memperagakan aktingnya di depan para penonton. Teater khas Sumsel ini menceritakan tentang kisah Abdul Muluk dan pantun-pantun jenakanya.
Para pemain dulmuluk yang terkenal diantaranyaย : Jonhar Saad, Kemas Mangcek Abie Torik, Randi Jonhar, dan Mang Wahab Wakpet. [1]
Penghargaan
suntingTeater Dulmuluk kental dengan cerita rakyat ini, merupakan tradisi seni peninggalan abad ke-19. Penampilannya selalu sukses menghibur para penontonnya, salah satunya dari grup Teater Dulmuluk dari Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS).[3] Pada tanggal 16 Desember 2013, teater Dulmuluk ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Bangsa oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.[4]
Referensi
sunting- ^ "Dulmuluk". Dirjen Kebudayaan Kemendikbud. 17 Desember 2015. Diakses tanggal 17 Februari 2019.
- ^ "Teater Dul Muluk". ePalembang. Desember 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-02-18. Diakses tanggal 17 Februari 2019.
- ^ Inge, Nefri (2019-06-29). Syah, Moch Harun (ed.). "Teater Dulmuluk, Tradisi Seni Teaterikal Sumsel yang Jenaka". Liputan6.com. Diakses tanggal 2019-09-22.
- ^ Tarso (19 Desember 2013). "Songket dan Dulmuluk Masuk Warisan Udaya Bangsa". Tribunnews.com. Tribun Sumsel. Diakses tanggal 17 Februari 2019.