📑 Table of Contents
Alkitab sering kita tafsirkan secara eksegesis.

Eksegesis (bahasa Yunani: ἐξήγησις) adalah sebuah istilah yang dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menafsirkan sesuatu.[1] Istilah eksegese sendiri berasal dari bahasa Yunani "ἐξηγεῖσθαι" (eksigisthe) yang dalam bentuk dasarnya berarti "membawa ke luar atau mengeluarkan".[1] Kata bendanya sendiri berarti "tafsiran" atau "penjelasan".[1][2] Inti dari eksegese adalah dapat menangkap inti pesan yang disampaikan oleh teks-teks yang kita baca.[1] Misalnya ketika kita mendapatkan sepucuk surat dari orang lain, kita pasti berupaya untuk dapat memahami dan mencoba untuk mengartikan apa maksud dari isi surat tersebut.[1] Dewasa ini kata eksegese kita gunakan sebagai sebuah komentar atau penafsiran teks Alkitab untuk menguraikan hal-hal yang tidak jelas dan mencari detail suatu kata atau teks dengan tujuan mendapatkan dan menentukan maknanya yang pasti.[2] Di dalam eksegese modern dimanfaatkan Kritik teks dan keahlian linguistik atau Kritik Sastra, keahlian di bidang sejarah dan sastra (Kritik Sejarah (Alkitab)).[2] Penemuan-penemuan arkeologis juga dapat membantu proses eksegese.[2] Kesalahan salah satu di antaranya akan mengakibatkan kesalahan eksegesis.[2] Kesalahan eksegese yang dapat terjadi misalnya mengenai perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Allah.[2] Kerajaan Allah itu selama ini selalu diidentikkan dengan Gereja.[2] Menafsir atau melakukan eksegesis sebenarnya sudah menjadi bidang pekerjaan atau profesi khusus.[1] Hal ini dijadikan sebuah bidang pekerjaan khusus karena adanya kebutuhan untuk menemukan inti pesan dari teks-teks yang ada.[1]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e f g John H. Hayes & Carl R. Holladay. 2006, Pedoman Penafsiran Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia. hlm. 1-4.
  2. ^ a b c d e f g W.R.F. Browning. 2009, Kamus Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia. hlm. 91.

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Abhidhamma Theravāda

ditemukan dalam Kanon Pali. Kemudian, juga ada kitab-kitab komentar (karya eksegesis Theravāda) yang disusun di Sri Lanka pada abad ke-5. Ada pula karya kitab-kitab

Kitab Ayub

memberikan tanggapan terhadap penjelasan atas adanya kuasa jahat. Berbagai eksegesis (penafsiran dan penjelasan kritis) atas Kitab Ayub menerangkan upaya-upaya

Sastra Pali

kitab subkomentar (subtafsir), puisi, sejarah, filologi, hagiografi, eksegesis kitab suci, dan kitab petunjuk meditasi. Bahasa Pali merupakan bahasa

Kitab Kidung Agung

Yahudi dan Kristen dahulu (dan terkadang hingga saat ini) sering melakukan eksegesis terhadap kitab ini dengan mencoba menghubungkannya dengan unsur-unsur

Bartolomeus

mereka adalah "para pembantu untuk pekerjaan Allah". Namun, karya-karya eksegesis Muslim dan komentari Qur'an menyebutkan nama-nama mereka, termasuk Bartolomeus

Katekismus Gereja Katolik

Patristik "eksegesis rohani" sebagaimana yang dikembangkan lebih lanjut melalui doktrin skolastik "empat arti" (four senses). Kembalinya ke eksegesis atau tafsir

Rita Wahyu

dan pengajar Alkitab Ibrani asal Indonesia. Ia menulis buku berjudul Eksegesis Peshat Kitab Kejadian dalam rangka menambah kumpulan kajian Alkitab dalam

Matius

Qur'an membuat daftar murid-murid, di mana Matius termasuk di dalamnya. Eksegesis Muslim memelihara tradisi bahwa Matius, bersama Andreas, adalah dua rasul