Struktur epoksida.

Epoksida adalah suatu eter siklik dengan cincin beranggota-tiga. Cincin ini kira-kira membentuk suatu segitiga sama sisi, yang membuatnya tegang, dan karenanya sangat reaktif, lebih dibandingkan eter lainnya. Senyawa ini diproduksi dalam skala besar untuk berbagai aplikasi. Secara umum, epoksida dengan berat molekul rendah tidak berwarna dan tidak reaktif, serta sering kali mudah menguap.[1]

Tata nama

sunting
Epiklorohidrin, disiapkan dengan metode klorohidrin. Senyawa ini merupakan prekursor dalam produksi resin epoksi.[2]

Senyawa yang mengandung gugus fungsional epoksida dapat disebut sebagai epoksi, epoksida, oksirana, dan etoksilin. Epoksida sederhana terkadang dirujuk sebagai oksida. Karenanya, epoksida etilena (C2H4) merupakan etilena oksida (C2H4O). Kebanyakan senyawa ini memiliki nama trivial, etilena oksida disebut sebagai "oksirana." Beberapa nama menekankan kehadiran gugus fungsional epoksida, seperti pada senyawa 1,2-epoksisikloheptana, yang dapat pula disebut sebagai 1,2-heptena oksida.

Suatu polimer yang terbentuk dari prekursor epoksida disebut sebagai epoksi, tapi material tersebut tidak mengandung gugus epoksida (atau hanya berisi beberapa gugus epoksi sisa yang tetap tidak bereaksi dalam pembentukan resin).

Sintesis

sunting

Kebanyakan epoksida yang secara industri diproduksi adalah etilena oksida dan propilena oksida, yang diproduksi masing-masing pada skala sekitar 15 dan 3 juta ton/tahun[3]

Reaksi

sunting

Reaksi pembukaan-cincin mendominasi reaktivitas epoksidaโ€”mereka adalah elektrofil yang potensial. Alkohol, air, amina, tiol dan banyak pereaksi lainnya dapat bertindak sebagai nukleofil untuk reaksi ini. Reaksi ini adalah dasar bagi pembentukan perekat epoksi dan produksi glikol. Dalam kondisi asam, posisi serangan nukleofil dipengaruhi baik oleh efek sterik (seperti yang biasa terlihat dalam reaksi SN2) dan oleh kestabilan karbokation (seperti yang biasa terlihat dalam reaksi SN1). Hidrolisis suatu epksida dalam kehadiran suatu katalis asam menghasilkan suatu glikol. Hidrolisis mensyaratkan adisi nukleofilik air ke epoksida. Dalam kondisi basa, nukleofil menyerang karbon yang kurang tersubstitusi, sesuai dengan pola standar untuk proses SN2. Ketika diperlakukan dengan tiourea, epoksida diubah menjadi sulfida, yang disebut thiirana.

Polimerisasi epoksida menghasilkan polieter, misalnya etilena oksida terpolimerisasi menghasilkan polietilena glikol, juga dikenal sebagai polietilena oksida.

Epoxides juga mengalami reaksi ekspansi cincin, diilustrasikan dengan penyisipan karbon dioksida untuk menghasilkan karbonat siklik.

Penggunaan

sunting
Linolein terepoksidasi, suatu komponen utama dari minyak kedelai terepoksidasi (ESBO).

Etilena oksida banyak digunakan untuk menghasilkan deterjen dan surfaktan oleh etoksilasi.[2] Hidrolisisnya menghasilkan etilena glikol.

Reaksi epoksida dengan amina adalah dasar bagi pembentukan lem epoksi da material struktur. Suatu pengeras-amina yang umum digunakan adalah trietilenatetramina (TETA).

Epoksida merupakan gugus fungsional pengalkilasi yang potensial, membuatnya sangat beracun.[4]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Guenter Sienel; Robert Rieth; Kenneth T. Rowbottom (2005), "Epoxides", Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Weinheim: Wiley-VCH, doi:10.1002/14356007.a09_531
  2. ^ a b Pham, Ha Q.; Marks, Maurice J. "Epoxy Resins". Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. doi:10.1002/14356007.a09_547.pub2.
  3. ^ Siegfried Rebsdat, Dieter Mayer "Ethylene Oxide" in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Wiley-VCH, Weinheim, 2005.doi:10.1002/14356007.a10_117 Article Online Posting Date: March 15, 2001.
  4. ^ Niederer, Christian; Behra, Renata; Harder, Angela; Schwarzenbach, Renรฉ P.; Escher, Beate I. (2004). "Mechanistic approaches for evaluating the toxicity of reactive organochlorines and epoxides in green algae". Environmental Toxicology and Chemistry. 23 (3): 697โ€“704. doi:10.1897/03-83.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Eter

Biasanya merkuri trifluoroasetat (Hg(OCOCF3)2) digunakan sebagai katalis. Epoksida biasanya dibuat melalui oksidasi alkena. Eposida yang paling penting dalam

Epoksi

polimer dan prepolimer reaktif epoxide thermosetting yang mengandung gugus epoksida, yang bertambah bagus bila dicampur dengan sebuah agen katalis atau "pengeras"

Etilena oksida

mudah terbakar pada suhu ruangan dan berbau manis. Senyawa ini merupakan epoksida paling sederhana: cincin tiga-anggota dengan 1 oksigen dan 2 karbon. Karena

Benzena

yang membawa varian NAD(P)H: kuinona oksidoreduktase 1 (NQ01), mikrosomal epoksida hidrolase (EPHX) dan penghapusan glutation S-transferase T1 (GSTT1) menunjukkan

Tar (residu tembakau)

(reaksi oksidasi ikatan rangkap oleh oksigen aktif yang membentuk senyawa epoksida). PAHs sendiri merupakan produk dari pembakaran tidak sempurna. Tidak hanya

Steroid

bergabung ekor-ekor membentuk skualena. Skualena teroksidasi membentuk epoksida, memungkinkan terjadinya siklisasi membentuk lanosterol (Inggris) "Steroids"

Alkena

katalitik dengan oksigen atau reaksi dengan asam perkarboksilat menghasilkan epoksida. Reaksi dengan ozon pada ozonolisis menyebabkan pemutusan ikatan rangkap

Etoksilasi

alkoksilasi yang paling banyak dipraktikkan, yang melibatkan penambahan epoksida pada substrat. Dalam aplikasi yang biasa, alkohol dan fenol diubah menjadi