Artikel ini berisi tentang teorema mengenai takhingga banyaknya bilangan prima. Untuk teorema mengenai bilangan sempurna dan bilangan prima Mersenne, lihat Teorema Euclid–Euler. Untuk teorema mengenai keterbagian hasil-kali bilangan bulat oleh bilangan prima, lihat Lema Euclides.
Dalam teori bilangan, teorema Euclid menyatakan bahwa terdapat takhingga banyaknya bilangan prima. Pernyataan tersebut pertama kali dibuktikan oleh Euclid dalam karya miliknya, Elements. Terdapat setidaknya 200 bukti dari teorema ini.[1]
Jika merupakan bilangan prima, maka terdapat setidaknya satu bilangan prima yang tidak ada pada himpunan , salah satunya ialah itu sendiri.
Jika merupakan bilangan komposit, maka terdapat suatu faktor prima yang habis membagi . Jika merupakan anggota dari , maka habis membagi . Oleh karena habis membagi dan habis membagi , maka habis membagi selisih[note 1] dari dua bilangan tersebut, yaitu . Oleh karena tidak ada bilangan prima yang habis membagi 1, maka bukanlah anggota dari . Akibatnya, terdapat setidaknya satu bilangan prima yang tidak ada pada himpunan , salah satunya ialah itu sendiri.
Berdasarkan kedua kasus di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk setiap himpunan berhingga bilangan prima, terdapat suatu bilangan prima yang tidak termuat pada himpunan tersebut.
Pada karya orisinalnya, Euclid menulis sembarang himpunan berhingga bilangan prima sebagai , , [4]
Variasi
sunting
Terdapat beberapa variasi dari bukti Euclid, salah satunya ialah sebagai berikut:
Variasi dari bukti Euclid —
Berdasarkan definisi dari faktorial, maka bilangan habis dibagi oleh setiap bilangan asli dari sampai dengan , sebab merupakan hasil kali dari mereka semua. Akibatnya, bilangan tidak habis dibagi oleh sembarang bilangan asli dari sampai dengan , sehingga dapat berupa bilangan prima, atau habis dibagi oleh suatu bilangan prima yang lebih dari . Dalam kedua kasus tersebut, maka untuk setiap bilangan asli , terdapat setidaknya satu bilangan prima yang lebih dari , sehingga dapat disimpulkan bahwa banyaknya bilangan prima ialah takhingga.[5]
Dengan menggunakan rumus deret geometrik beserta sifat distributif, maka
Saat menjabarkan darab dari deret takhingga pada baris kedua, hasil penjabarannya ialah faktorisasi prima dari . Berdasarkan teorema dasar aritmetika, maka setiap bilangan asli selain 1 akan memiliki faktorisasi prima yang bersifat tunggal. Akibatnya, setiap akan muncul tepat satu kali, sehingga dapat disimpulkan bahwa
yang dikenal sebagai rumus darab Euleruntuk fungsi zeta Riemann.
Andaikan hanya terdapat berhingga banyaknya bilangan prima, maka hasil darab pada ruas kiri memiliki nilai yang berhingga. Akan tetapi, telah dibuktikan sebelumnya bahwa deret pada ruas kanan bersifat divergen.[note 2] Oleh karena terjadi kontradiksi, maka asumsi di awal paragraf ini—bahwa hanya terdapat berhingga banyaknya bilangan prima—tidaklah benar, sehingga dapat disimpulkan bahwa banyaknya bilangan prima adalah takhingga.
konvergen ke bilangan 2, maka terdapat lebih banyak[note 3] bilangan prima daripada bilangan persegi.[6] Dengan kata lain, untuk bilangan asli yang cukup besar, terdapat lebih banyak bilangan prima pada selang daripada banyaknya bilangan persegi pada selang yang sama.[butuh rujukan]
Pada paper yang sama, Euler menggunakan persamaan
untuk membuktikan teorema yang jauh lebih kuat dan belum diketahui sebelum Euler, yaitu deret
Misalkan adalah bilangan asli dan menyatakan banyaknya bilangan prima yang kurang dari atau sama dengan , maka bilangan-bilangan prima tersebut dapat dinyatakan sebagai , , , sampai dengan . Telah diketahui sebelumnya bahwa setiap bilangan asli dapat dinyatakan sebagai
dengan untuk setiap . Berdasarkan persamaan di atas, maka untuk setiap nilai yang tetap, terdapat paling banyak kemungkinan nilai yang dapat dibentuk.[note 5] Oleh karena , maka
sehingga banyaknya nilai yang mungkin untuk tidak lebih dari . Akibatnya, untuk setiap , terdapat paling banyak bilangan yang nilainya kurang dari atau sama dengan . Akan tetapi, jelas bahwa terdapat bilangan yang nilainya kurang dari atau sama dengan . Dengan kata lain, berlaku pertidaksamaan
yang berarti bahwa banyaknya bilangan prima yang kurang dari atau sama dengan itu paling sedikit bilangan. Oleh karena adalah sembarang bilangan asli, maka nilai dapat sebesar yang diinginkan dengan memilih nilai yang sesuai.
Misalkan menyatakan bilangan prima terkecil. Untuk setiap , perhatikan bahwa banyaknya bilangan asli pada selang yang habis dibagi oleh ialah , dengan menyatakan fungsi lantai. Dengan menerapkan tapis Eratosthenes menggunakan prinsip inklusi–eksklusi, maka banyaknya bilangan asli pada selang dapat dihitung melalui dua cara berbeda, sehingga didapatkan persamaan
Jika tidak ada bilangan prima selain sampai dengan , maka hasil kali di atas tidak mungkin bernilai nol. Akibatnya, terdapat bilangan prima selain sampai dengan .
Berdasarkan teorema dasar aritmetika, maka setiap bilangan asli yang lebih dari 1 akan memiliki setidaknya 1 faktor prima. Oleh karena setiap dua bilangan asli berurutan (yaitu dan ) tidak memiliki faktor persekutuan selain 1, maka bilangan memiliki faktor prima berbeda yang lebih banyak daripada faktor prima dari itu sendiri. Akibatnya, rantai bilangan pronik
dapat dipandang sebagai suatu barisan himpunan bilangan prima yang terus bertambah tanpa batas.
Bukti menggunakan argumen ganjil-genap
sunting
Romeo Meštrović menggunakan argumen ganjil-genap untuk menunjukkan bahwa jika banyaknya bilangan prima itu berhingga, maka 3 adalah bilangan prima terbesar.[12]
Bukti Meštrović —
Misalkan merupakan semua bilangan prima. Pandang bilangan
Perhatikan bahwa semua bilangan yang bersifat relatif prima dengan merupakan anggota dari himpunan
Oleh karena
, maka . Akibatnya, .
, maka merupakan bilangan ganjil. Akibatnya, juga merupakan bilangan ganjil.
Berdasarkan kedua informasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
Akan tetapi,
yang jelas menimbulkan kontradiksi.
Catatan —
Bukti Meštrović tetap berlaku meskipun bilangan prima diganti dengan sembarang bilangan prima , dengan . Dalam kasus ini, pandang bilangan
Perhatikan bahwa semua bilangan yang bersifat relatif prima dengan merupakan anggota dari himpunan
Oleh karena
, maka . Akibatnya, .
, maka . Akibatnya, .
Berdasarkan kedua informasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
Akan tetapi,
yang jelas menimbulkan kontradiksi.
Pernyataan yang lebih kuat
sunting
Teorema-teorema pada bagian ini mengakibatkan kebenaran teorema Euclid (beserta hasil-hasil lainnya).
Teorema Dirichlet menyatakan bahwa untuk setiap dua bilangan asli dan yang saling prima, terdapat takhingga banyaknya bilangan prima dengan bentuk umum , dengan adalah suatu bilangan asli. Dengan kata lain, terdapat takhingga banyaknya bilangan prima yang kongruen dengan modulo.
Misalkan menyatakan fungsi pencacahan bilangan prima—yang memberikan banyaknya bilangan prima yang kurang dari atau sama dengan —untuk setiap bilangan riil . Teorema bilangan prima menyatakan bahwa fungsi merupakan hampiran yang bagus untuk , dalam artian bahwa limit dari hasil bagi dari dua fungsi dan saat nilai meningkat tanpa batas ialah . Secara simbolis, maka
Dengan menggunakan notasi asimtotik, maka hasil ini dapat dinyatakan sebagai
Teorema bilangan prima mengakibatkan kebenaran dari teorema Euclid, sebab .
Pernyataan ini pertama kali dikonjekturkan pada tahun 1845 oleh Joseph Bertrand.[13] Bertrand sendiri memverifikasi pernyataan tersebut untuk setiap bilangan pada selang. Konjektur Bertrand berhasil dibuktikan oleh Chebyshev pada 1852[14] sehingga postulatnya juga dinamai sebagai teorema Bertrand–Chebyshev atau teorema Chebyshev.
Catatan
sunting
^Secara umum, untuk sembarang bilangan bulat, , dan (dengan ), jika dan , maka . Untuk informasi lebih lanjut, lihat Keterbagian.
^Euler menulis hasil jumlah deretnya sama dengan "nilai" . Dalam terminologi modern, hal ini setara dengan mengatakan bahwa jumlahan parsial sampai dengan dari deret harmonik berperilaku seperti secara asimtotik.
^Euler menulis hasil jumlah deretnya sama dengan "nilai" , yang dalam terminologi modern setara dengan mengatakan bahwa jumlahan parsial sampai dengan dari deret ini berperilaku secara asimtotik seperti .
^sebab mungkin saja nilai , seperti pada kasus , , dan
Referensi
sunting
^Meštrović, Romeo (2023-07-25). "Euclid's theorem on the infinitude of primes: a historical survey of its proofs (300 B.C.--2022) and another new proof" (dalam bahasa en). arΧiv:1202.3670 [math.HO].
^Ore, Øystein (1988) [1948], Number Theory and its History [Teori Bilangan beserta Sejarahnya] (dalam bahasa Inggris), Dover, hlm. 65
^Katz, Victor J. (1998), A History of Mathematics/ an Introduction (dalam bahasa Inggris) (Edisi 2nd), Addison Wesley Longman, hlm. 87
^Bostock, Linda; Chandler, Suzanne; Rourke, C. (2014-11-01). Further Pure Mathematics (dalam bahasa Inggris). Nelson Thornes. hlm. 168. ISBN9780859501033.
^Whang, Junho Peter (Februari 2010). "Another Proof of the Infinitude of the Prime Numbers". The American Mathematical Monthly (dalam bahasa Inggris). 117: 181. Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
^Tchebychev, P. (1852), "Mémoire sur les nombres premiers."(PDF), Journal de mathématiques pures et appliquées, Série 1 (dalam bahasa Prancis): 366–390. (Bukti postulat: 371–382). Lihat juga Mémoires de l'Académie Impériale des Sciences de St. Pétersbourg, vol. 7, hal. 15–33, 1854
SM geometri dimasukkan ke dalam bentuk aksiomatik oleh Euclid, yang dibantu oleh geometri Euclid, menjadi standar selama berabad-abad. Archimedes mengembangkan
nantinya. Sebuah contoh prototipikal dari suatu algoritma adalah algoritma Euclid untuk menentukan bilangan pembagi terbesar dari dua integer; sebagai contohnya
Pada geometri bidang Euclid, garis singgung lingkaran adalah garis yang menyentuh lingkaran tepat di satu titik, tidak pernah memasuki bagian dalam lingkaran
adalah sama. Garis pembatas disebut kelilingnya dan titiknya, pusatnya. — Euclid, Elements, Book I:4 Di bidang topologi, lingkaran tidak terbatas pada konsep
tak bisa dibelah, Theoprastus menulis buku botani tertua di dunia, dan Euclid menulis yang nantinya menjadi buku dasar geometri di Eropa. Peristiwa Archimedes
dapat melihat pada malam hari. Sekitar 300 SM, Euclid menulis Optica yang membahas sifat-sifat cahaya. Euclid menyatakan bahwa cahaya bergerak dalam garis
kecil dengan rasio aspek yang sama persis. Para ahli matematika sejak zaman Euclid telah mempelajari rasio emas karena sifatnya yang unik dan menarik. Rasio