Kekhalifahan Fatimiyah

ุงู„ุฎู„ุงูุฉ ุงู„ูุงุทู…ูŠุฉ
Al-Khilafah al-Fฤแนญimฤซyah
909โ€“1171
Bendera Kekhalifahan Fathimiyah
Bendera
Perkembangan wilayah Kekhalifahan Fathimiyah
Perkembangan wilayah Kekhalifahan Fathimiyah
Ibu kota
Agama
Islam Syiah Ismailiyah
PemerintahanTeokrasi
Khilafah
Khalifahย 
โ€ขย 909-934 (pertama)
Ubaidillah al-Mahdi Billah
โ€ขย 1160-1171 (terakhir)
Al-'ฤ€แธid
Sejarahย 
โ€ขย Didirikan
5 Januari 909
โ€ขย Pendirian Kairo
8 Agustus 969
โ€ขย Dibubarkan
1171
Luas
9.000.000ย km2 (3.500.000ย sqย mi)
Populasi
โ€ขย 
62000000
Mata uangDinar
Didahului oleh
Digantikan oleh
klfKekhalifahan
Abbasiyah
Aghlabiyyah
dnsDinasti
Ikhsyidiyah
dnsDinasti
Ayyubiyyah
Muwahidun
Murabitun
krjKerajaan
Yerusalem
Kepangeranan Antiokhia
County Edessa
County Tripoli
dnsDinasti
Zirid
Emirat Sisilia
Negara Sisilia
Sekarang bagian dariย Aljazair
ย Arab Saudi
ย Israel
ย Italia
ย Lebanon
ย Libya
ย Malta
ย Maroko
ย Mesir
ย Palestina
ย Suriah
ย Tunisia
ย Yordania
Sunting kotak info
Sunting kotak infoย โ€ข Lihatย โ€ข Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Fathimiyah, atau al-Fฤthimiyyลซn (bahasa Arab: ุงู„ูุงุทู…ูŠูˆู†, translit.ย al-Fฤthimiyyลซn) adalah kekhalifahan Syiah Isma'iliyah yang berdiri sejak abad kesepuluh hingga kedua belas Masehi. Dinasti ini mencakup wilayah yang luas di Afrika Utara, mulai dari Samudra Atlantik di barat hingga Laut Merah di timur. Dinasti Fathimiyah, sebuah dinasti asal Arab, menelusuri nenek moyang mereka hingga putri Muhammad, Fatimah dan suaminya, 'Ali bin Abi Thalib. Khalifah Fathimiyah diakui sebagai imam yang sah oleh berbagai komunitas Isma'ili (Ismail bin Ja'far Shadiq) serta oleh denominasi di banyak negeri Muslim lain dan wilayah sekitarnya.[1][2] Berasal pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, Fatimiyah menaklukkan Ifriqiyah (Tunisia) dan mendirikan kota al-Mahdiyya. Dinasti Ismaili menguasai wilayah di sepanjang pantai Mediterania Afrika dan akhirnya menjadikan Mesir sebagai pusat kekhalifahan. Pada puncaknya, kekhalifahan mencakupโ€”selain Mesirโ€”berbagai wilayah di Maghreb (wilayah), Sudan, Sisilia, Levant, dan Hejaz.

Antara tahun 902 dan 909, fondasi negara Fathimiyah terwujud di bawah pimpinan da'i (pendakwah) Abu Abdallah, yang penaklukannya atas Aghlabiyyah Ifriqiyah dengan bantuan pasukan Kutama membuka jalan bagi pembentukan Khilafah.[3][4][5] Setelah penaklukan, Abdullah al-Mahdi Billah diambil kembali dari Sijilmasa dan kemudian diterima sebagai Imam gerakan, menjadi Khalifah pertama dan pendiri dinasti pada 909.[6][7] Pada 921, kota al-Mahdiyya ditetapkan sebagai ibu kota. Pada 948, mereka memindahkan ibu kota mereka ke al-Mansuriyya, dekat Kairouan (Tunisia). Pada 969, pada masa pemerintahan al-Mu'izz, mereka menaklukkan Mesir, dan pada 973, kekhalifahan dipindahkan ke ibu kota Fathimiyah yang baru didirikan di Kairo. Mesir menjadi pusat politik, budaya, dan agama kekaisaran dan mengembangkan budaya Arab baru dan "asli".[8] Setelah penaklukan awalnya, kekhalifahan sering mengizinkan toleransi beragama terhadap sekte Islam non-Syiah, serta terhadap Yahudi dan Kekristenan.[9] Namun, para pemimpinnya tidak membuat banyak kemajuan dalam membujuk penduduk Mesir untuk mengadopsi kepercayaan agamanya.[10]

Setelah masa pemerintahan al-'Aziz dan al-Hakim, pemerintahan panjang al-Mustansir mengukuhkan rezim di mana khalifah tetap menjauh dari urusan negara dan wazir mengambil kepentingan yang lebih besar.[11] Fraksionalisme politik dan etnis dalam militer menyebabkan perang saudara pada tahun 1060-an, khusuhnya dengan faksi sunni,[12] yang mengancam kelangsungan hidup kekaisaran.[13] Setelah masa kebangkitan selama masa jabatan wazir Badr al-Jamali, kekhalifahan Fathimiyah menurun dengan cepat selama akhir abad ke-11 dan kedua belas.[13] Selain kesulitan internal, kekhalifahan tersebut melemah akibat masuknya bangsa Turki Seljuk ke Suriah pada tahun 1070-an dan kedatangan Perang Salib di Levant pada tahun 1097.[14] Pada tahun 1171, Salahuddin menghapuskan kekuasaan dinasti tersebut dan mendirikan Dinasti Ayyubiyah, yang memasukkan kembali Mesir ke dalam lingkup otoritas nominal Kekhalifahan Abbasiyah.[15][16]

Nama

sunting

Dinasti Fathimiyah mengklaim keturunan dari Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad. Dinasti ini melegitimasi klaimnya melalui keturunan dari Muhammad melalui putrinya dan suaminya Ali bin Abi Thalib, Imam Syiah pertama, maka nama dinasti ini adalah Fฤแนญimiyy (bahasa Arab: ููŽุงุทูู…ููŠู‘), kata sifat relatif bahasa Arab untuk "Fฤแนญima".[17][4][5][18]

Untuk menekankan garis keturunan Ali, dinasti ini menamakan dirinya sendiri dengan sebutan 'Dinasti Ali' (al-dawla al-alawiyya),[19] namun banyak sumber Sunni yang memusuhi mereka hanya menyebut mereka sebagai Ubaydi (Banu Ubayd), yang diambil dari bentuk kecil Ubayd Allah untuk nama khalifah Fathimiyah pertama.[19]

Kebangkitan Fatimiyah

sunting

Fatimiyah berasal dari suatu tempat yang kini dikenal sebagai Tunisia ("Ifriqiyah") namun setelah penaklukan Mesir sekitar 971, ibu kotanya dipindahkan ke Kairo, setelah tiga kali upaya percobaan gagal karena dikalahkan pasukan Abbasiyah dalam 10 tahun.[20]

Pada masa Fatimiyah, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz. Pada masa Fatimiyah, Mesir berkembang menjadi pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudra Hindia, yang menentukan jalannya ekonomi Mesir selama Abad Pertengahan Akhir yang saat itu dialami Eropa.

Fatimiyah didirikan pada 909 oleh Abdullah al-Mahdi Billah, yang melegitimasi klaimnya melalui keturunan dari Muhammad dari jalur Fฤthimah az-Zahra dan suaminya หคAlฤซ ibn-Abฤซ-Tฤlib, Imฤm Shฤซหคa pertama. Oleh karena itu negeri ini bernama al-Fฤtimiyyลซn "Fatimiyah".

Dinar Fatimiyah.

Dengan cepat kendali Abdullฤh al-Mahdi meluas ke seluruh Maghreb (wilayah), wilayah yang kini adalah Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya, yang diperintahnya dari Mahdia, ibu kota yang dibangun di Tunisia.

Fatimiyah memasuki Mesir pada 972, menaklukkan dinasti Ikhsyidiyah dan mendirikan ibu kota baru di al-Qฤhirat "Sang Penunduk" (Kairo modern)- rujukan pada munculnya planet Mars pada periode Khalifah keempat[20] al-Muiz. Mereka terus menaklukkan wilayah sekitarnya hingga mereka berkuasa dari Tunisia ke Suriah dan malahan menyeberang ke Sisilia dan Italia selatan.

Tak seperti pemerintahan di sama, kemajuan Fatimiyah dalam administrasi negara lebih berdasarkan pada kecakapan daripada keturunan. Anggota cabang lain dalam Islฤm, seperti Sunni, sepertinya diangkat ke kedudukan pemerintahan sebagaimana Syi'ah. Toleransi dikembangkan kepada non-Muslim seperti orang-orang Kekristenan dan Yahudi, yang mendapatkan kedudukan tinggi dalam pemerintahan dengan berdasarkan pada kemampuan (pengecualian pada sikap umum toleransi ini termasuk "Mad Caliph" Al-Hakim bi-Amrillah).

Masyarakat

sunting

Komunitas Beragama

sunting

Masyarakat Fatimiyah sangat pluralistik. Syi'ah Ismailiyah adalah agama negara dan istana khalifah, tetapi sebagian besar penduduknya menganut agama atau denominasi yang berbeda. Sebagian besar penduduk Muslim tetap Sunni, dan sebagian besar penduduk tetap beragama Kristen. Orang Yahudi adalah minoritas yang lebih kecil. Seperti dalam masyarakat Islam lainnya pada masa itu, non-Muslim diklasifikasikan sebagai dzimmi, sebuah istilah yang menyiratkan pembatasan dan kebebasan tertentu, meskipun keadaan praktis dari status ini bervariasi dari konteks ke konteks. Para ahli umumnya sepakat bahwa, secara keseluruhan, pemerintahan Fatimiyah sangat toleran dan inklusif terhadap komunitas agama yang berbeda. Tidak seperti pemerintah-pemerintah Eropa Barat pada masa itu, kemajuan dalam jabatan-jabatan negara Fatimiyah lebih bersifat meritokratis daripada turun-temurun. Anggota aliran Islam lainnya, seperti Sunni, mempunyai kemungkinan yang sama untuk diangkat ke jabatan-jabatan pemerintahan seperti halnya kaum Syiah. Toleransi diperluas ke non-Muslim, seperti Kristen dan Yahudi, yang menduduki tingkat tinggi dalam pemerintahan berdasarkan kemampuan, dan kebijakan toleransi ini memastikan aliran uang dari non-Muslim untuk membiayai pasukan besar Mamluk yang dibawa oleh Khalifah. masuk dari Circassia oleh pedagang Genoa.

Ismailiyah

sunting

Kekhalifahan Fathimiyah menyebarkan ajaran Syiah dengan aliran Ismailiyah. Ajaran ini mulai disebarkan di Kairo dan wilayah sekitarnya. Proses penyebarannya bersamaan dengan konflik militer dan budaya dengan Kekhalifahan Abbasiyah yang mengikuti aliran Sunni.[21]

Para Ulama Sunni melakukan penentangan sepanjang kekuasaan Fatimiyah. Beberapa di antaranya ulama Abdushomad yang mendoakan keburukan untuk Ubaidillah ketika membacakan doa pengobatan di masyarakat. Para ulama sunni juga memboikot buku karangan ulama Khalaf bin Abul Qahim yang memuji para pemimpin Fatimiyah. Sebagian ulama sunni lainnya seperti Ibnu Tabban dan Abu Ustman Said bin Haddad (302 H) berani mendebat depan umum para pemimpin dan ulama syiah Ismailiyah di Afrika Utara.[12]

Konflik senjata juga terjadi pada 336 H, dimana beberapa ulama sunni seperti Abul Arab Ibnu Tamim, Abu Abdul Maluk Marwan, Abu Ishaq as-Saja'i, Abul Fadhl, Abu Salman Rabi bin Qathani, melakukan perlawanan di medan perang melawan pasukan Fatimiyah, namun mereka berhasil ditumpas.[12] Saat Kekuasaan Fatimiyah berpindah ke Mesir, barulah kekuatan Sunni bisa menumbangkan Fatimiyah di Maroko.

Kejatuhan

sunting

Pada 1040-an, Ziriyah (gubernur Afrika Utara pada masa Fatimiyah) mendeklarasikan kemerdekaannya dari Fatimiyah dan berpindahnya mereka ke Islฤm Sunnฤซ, yang menimbulkan serangan Banลซ Hilal yang menghancurkan. Berawal dari ulama Sunni Al-Allamah Abul Hasan yang berhasil memengaruhi Muiz bin Shunhaji, penguasa Fatimiyah di Afrika Utara / Maroko sehingga pada 435 H ia mengusir pengikut Syiah Ismailiyah di masa Khalifah Abลซ Tamฤซm Ma'add al-Mustanแนฃir bi-llฤh (1036-1094) yang fokus ekspansi ke arah Irak.[12]

Setelah 1070, Fatimiyah mengendalikan pesisir Syam dan bagian Suriah terkena serangan bangsa Turki, kemudian Pasukan Salib, sehingga wilayah Fatimiyah menyempit sampai hanya meliputi Mesir.

Setelah terjadi pembusukan sistem politik Fatimiyah pada 1160-an, penguasa Zengid Nลซr ad-Dฤซn memerintahkan jenderalnya yaitu Salahuddin Ayyubi untuk menaklukkan Mesir. Penaklukan berhasil dilakukan pada tahun 1169 M.[butuh rujukan]Dinasti Ayyubiyah terbentuk pada tahun 1174 M dengan pengangkatan Salahuddin Ayyubi sebagai sultan.[22]

Ibu kota

sunting
Pintu masuk Masjid Agung Mahdiya (abad ke-10)

Al-Mahdiyya

sunting

Al-Mahdiyya, ibu kota pertama dinasti Fathimiyah, didirikan oleh khalifah pertamanya, 'Abdullฤh al-Mahdฤซ (297โ€“322 H/909โ€“934 M) pada tahun 300 H/912โ€“913 M. Khalifah tersebut sebelumnya tinggal di dekat Raqqada, tetapi memilih lokasi baru yang lebih strategis ini untuk mendirikan dinastinya. Kota al-Mahdiyya terletak di semenanjung sempit di sepanjang pantai Laut Mediterania, di sebelah timur Kairouan dan tepat di sebelah selatan Teluk Hammamet, di wilayah Tunisia modern. Perhatian utama dalam pembangunan dan lokasi kota tersebut adalah pertahanan. Dengan topografi semenanjung dan pembangunan tembok setebal 8,3 m, kota tersebut menjadi tidak dapat ditembus melalui darat. Lokasi strategis ini, bersama dengan angkatan laut yang diwarisi Fathimiyah dari Aghlabiyyah yang ditaklukkan, menjadikan kota Al-Mahdiyya sebagai pangkalan militer yang kuat tempat สฟAbdullฤh al-Mahdฤซ mengonsolidasikan kekuasaan dan menumbuhkan bibit kekhalifahan Fathimiyah selama dua generasi. Kota ini mencakup dua istana kerajaanโ€”satu untuk khalifah dan satu untuk putra dan penerusnya al-Qฤสพimโ€”serta sebuah masjid, berberapa gedung administrasi, dan gudang senjata.[23]

Al-Mansuriyya

sunting

Al-Manแนฃลซriyya (juga dikenal sebagai แนขabra al-Manแนฃลซriyya) didirikan antara 334 dan 336 H (945 dan 948 M) oleh khalifah Fathimiyah ketiga al-Manแนฃลซr (334โ€“41 H/946โ€“53 M) di sebuah pemukiman yang dikenal sebagai แนขabra, yang terletak di pinggiran Kairouan di Tunisia modern. Ibu kota baru didirikan untuk memperingati kemenangan al-Manแนฃลซr atas pemberontak Khawarij Abลซ Yazฤซd di แนขabra.[24] Pembangunan kota itu belum sepenuhnya selesai ketika al-Manแนฃลซr meninggal pada tahun 953, tetapi putranya dan penggantinya, al-Mu'izz, menyelesaikannya dan merampungkan masjid kota itu pada tahun yang sama. Seperti Bagdad, rencana kota Al-Manแนฃลซriyya berbentuk bulat, dengan istana khalifah di pusatnya. Karena sumber air yang melimpah, kota itu tumbuh dan berkembang pesat di bawah al-Manแนฃลซr. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa ada lebih dari 300 hammam yang dibangun selama periode ini di kota itu serta banyak istana.[24] Ketika penerus al-Manแนฃลซr, al-Mu'izz, memindahkan kekhalifahan ke Kairo, ia meninggalkan wakilnya, Buluggin bin Ziri, sebagai wali penguasa Ifriqiyah, menandai dimulainya periode Zirid kota itu. Pada 1014โ€“15 penguasa Zirid Badis bin al-Mansur memerintahkan para pedagang dan perajin Kairouan untuk dipindahkan ke al-Manแนฃลซriyya, yang mungkin telah membantu memprovokasi pemberontakan pada 1016 yang merusak kota itu. Pada tahun 1057, di bawah tekanan invasi Banu Hilal, kaum Zirid meninggalkan al-Manแนฃลซriyya dan pindah ke Mahdiyya, sehingga kota itu hancur. Tidak seperti Kairouan, kota itu tetap menjadi reruntuhan setelahnya dan tidak pernah dibangun kembali. Situs itu dijarah dari waktu ke waktu. Penggalian arkeologi modern di sini dimulai pada tahun 1921.[24]

Kairo

sunting
Jalan al-Muiz di Kairo.

Kairo didirikan oleh khalifah Fathimiyah keempat, al-Mu'izz, pada tahun 359 H/970 M dan tetap menjadi ibu kota kekhalifahan Fathimiyah selama dinasti tersebut. Kota ini secara resmi bernama al-Qฤhirah al-Mu'izziyya (bahasa Arab: ุงู„ู‚ุงู‡ุฑุฉ ุงู„ู…ุนุฒูŠุฉ), yang dapat diterjemahkan sebagai "Kota Kemenangan al-Mu'izz", yang kemudian dikenal hanya sebagai al-Qฤhira dan memberi kita nama modern "Kairo".[25][26] Dengan demikian, Kairo dapat dianggap sebagai ibu kota produksi budaya Fathimiyah. Meskipun kompleks istana Fathimiyah asli, termasuk bangunan administratif dan tempat tinggal kerajaan, tidak ada lagi, para cendekiawan modern dapat memperoleh gambaran yang baik tentang struktur asli berdasarkan catatan al-Maqrฤซzฤซ dari era Mamluk. Mungkin monumen Fathimiyah terpenting di luar kompleks istana adalah Masjid Al-Azhar (359โ€“61 H/970โ€“72 M) yang masih berdiri hingga kini, meskipun bangunannya diperluas dan dimodifikasi secara signifikan pada periode selanjutnya. Demikian pula masjid Fathimiyah penting al-แธคฤkim, yang dibangun dari tahun 380 hingga 403 H/990โ€“1012 M di bawah dua khalifah Fathimiyah, dibangun kembali dan direnovasi secara signifikan pada tahun 1980-an. Kairo tetap menjadi ibu kota, termasuk al-Mu'izz, selama sebelas generasi khalifah, setelah itu Kekhalifahan Fathimiyah akhirnya jatuh ke tangan pasukan Ayyubiyah pada tahun 567 H/1171 M.[27][28]

Dinasti

sunting

Putih adalah warna dinasti Fathimiyah, yang berlawanan dengan warna hitam dinasti Abbasiyah, sedangkan bendera merah dan kuning dikaitkan dengan pribadi khalifah Fathimiyah.[29] Hijau juga disebut sebagai warna dinasti mereka, berdasarkan tradisi bahwa nabi Islam Muhammad mengenakan jubah hijau.[30]

Khalifah

sunting

Khalifah Fathimiyah juga sekaligus sebagai "Imฤm", sebagaimana yang digunakan dalam Islฤm Shฤซหคa berarti pemimpin pengganti dalam komunitas muslim dari keturunan langsung หคAlฤซ ibn-Abฤซ-Tฤlib.

  1. Abลซ Muแธฅammad หคAbdu l-Lฤh (หคUbaydu l-Lฤh) al-Mahdฤซ bi'llฤh (910-934) pendiri Fatimiyah[31]
  2. Abลซ l-Qฤsim Muแธฅammad al-Qฤ'im bi-Amr Allฤh bin al-Mahdi Ubaidillah(934-946)[31]
  3. Abลซ แนฌฤhir Ismฤ'il al-Manแนฃลซr bi-llฤh (946-953)[31]
  4. Abลซ Tamฤซm Ma'add al-Mu'izz li-Dฤซn Allฤh (953-975)[31] Mesir ditaklukkan semasa pemerintahannya
  5. Abลซ Manแนฃลซr Nizฤr al-'Azฤซz bi-llฤh (975-996)[31]
  6. Abลซ 'Alฤซ al-Manแนฃลซr al-แธคฤkim bi-Amr Allฤh (996-1021)[31]
  7. Abลซ'l-แธคasan 'Alฤซ al-แบ’ฤhir li-I'zฤz Dฤซn Allฤh (1021-1036)[31]
  8. Abลซ Tamฤซm Ma'add al-Mustanแนฃir bi-llฤh (1036-1094)
  9. al-Musta'lฤซ bi-llฤh (1094-1101)[31] pertikaian atas suksesinya menimbulkan perpecahan Isma'ilisme Nizari.
  10. al-ฤ€mir bi-Aแธฅkฤm Allฤh (1101-1130)[31] Penguasa Fathimiyah di Mesir setelah tak diakui sebagai Imam oleh tokoh Ismailiyah Mustaali Taiyabi.
  11. 'Abd al-Majฤซd al-แธคฤfiแบ“ (1130-1149)[31]
  12. al-แบ’ฤfir (1149-1154)[31]
  13. al-Fฤ'iz (1154-1160)[31]
  14. al-'ฤ€แธid (1160-1171)[31][32]

Selir

sunting
  1. Rashad, istri khalifah ketujuh Ali al-Zahir dan ibu khalifah kedelapan al-Mustansir bi-llฤh.[33]

Referensi

sunting
  1. ^ Daftary, 1990, pp. 144โ€“273, 615โ€“59; Canard, "Fatimids", pp. 850โ€“62
  2. ^ Lascoste (1984). Ibn Khaldun: The Birth of History and the Past of the Third World. Verso. hlm.ย 67. ISBNย 978-0860917892. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 September 2024. Diakses tanggal 20 October 2022.
  3. ^ "Governance and Pluralism under the Fatimids (909โ€“996 CE)". The Institute of Ismaili Studies. Diarsipkan dari asli tanggal 23 May 2021. Diakses tanggal 2022-03-12.
  4. ^ a b Nanjira, Daniel Don (2010). African Foreign Policy and Diplomacy from Antiquity to the 21st Century (dalam bahasa Inggris). ABC-CLIO. hlm.ย 92. ISBNย 978-0-313-37982-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 March 2023. Diakses tanggal 3 May 2021.
  5. ^ a b Fage, J. D. (1958). An Atlas of African History (dalam bahasa Inggris). E. Arnold. hlm.ย 11. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 March 2023. Diakses tanggal 3 May 2021.
  6. ^ Gall, Timothy L.; Hobby, Jeneen (2009). Worldmark Encyclopedia of Cultures and Daily Life: Africa (dalam bahasa Inggris). Gale. hlm.ย 329. ISBNย 978-1-4144-4883-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 March 2023. Diakses tanggal 3 May 2021.
  7. ^ American University Foreign Area Studies (1979). Algeria, a Country Study (dalam bahasa Inggris). Washington, D.C.: Department of Defense, Department of the Army. hlm.ย 15. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 March 2023. Diakses tanggal 3 May 2021.
  8. ^ Julia Ashtiany; T.M. Johnstone; J.D. Latham; R.B. Serjeant; G. Rex Smith, ed. (1990). Abbasid Belles Lettres. Cambridge University Press. hlm.ย 13. ISBNย 978-0-521-24016-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 September 2024. Diakses tanggal 24 May 2018. ... it was at this time that an indigenous Arabic culture was developed in Egypt, and Arab Egypt, so to speak, came of age to the extent that it was able to rival older centres like Baghdad as a seat of learning and intellectual activity.
  9. ^ Wintle, Justin (2003). History of Islam. London: Rough Guides. hlm.ย 136โ€“37. ISBNย 978-1-84353-018-3.
  10. ^ Robert, Tignor (2011). Worlds Together, Worlds Apart (Edisi 3rd). New York: W. W. Norton & Co., Inc. hlm.ย 338. ISBNย 978-0-393-11968-8.
  11. ^ Brett 2017.
  12. ^ a b c d Ash-Shalabi, Prof DR Ali Muhammad (2013). Shalahuddin al-Ayyubi. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, hal.187-210. ISBN 9789795926139
  13. ^ a b Brett 2017, hlm.ย 207.
  14. ^ Halm 2014.
  15. ^ Baer, Eva (1983). Metalwork in Medieval Islamic Art. SUNY Press. hlm.ย xxiii. ISBNย 978-0791495575. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 January 2023. Diakses tanggal 13 August 2015. In the course of the later eleventh and twelfth century, however, the Fatimid caliphate declined rapidly, and in 1171 the caliphate was dissolved and the Fatimid dynasty was overthrown by แนขalฤแธฅ ad-Dฤซn, the founder of the Ayyubid dynasty. He restored Egypt as a political power, reincorporated it in the Abbasid caliphate and established Ayyubid suzerainty not only over Egypt and Syria but, as mentioned above, temporarily over northern Mesopotamia as well.
  16. ^ Brett 2017, hlm.ย 294.
  17. ^ Dachraoui 1986, hlm.ย 1242โ€“44.
  18. ^ Hitti, Philip K. (1970). "A Shi'ite Caliphate- Fatimids". History of The Arabs. Palgrave Macmillan. ISBNย 0-06-106583-8.
  19. ^ a b Canard 1965, hlm.ย 852.
  20. ^ a b Nasution, Dr. H. Syamruddin (2013). Sejarah Peradaban Islam. Pekanbaruย : Yayasan Pusaka Riau. ISBN 9799339274
  21. ^ Zaghrut, Fathi (April 2022). Artawijaya (ed.). Tragedi-Tragedi Besar dalam Sejarah Islam. Diterjemahkan oleh Irham, Masturi. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm.ย 30. ISBNย 978-979-592-978-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  22. ^ Zakariya, Din Muhammad (2018). Sejarah Peradaban Islam: Prakenabian hingga Islam di Indonesia (PDF). Malang: CV. Intrans Publishing. hlm.ย 34. ISBNย 978-602-08996-4-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  23. ^ Talbi, M., "al-Mahdiyya", in: Encyclopaedia of Islam, 2nd ed., edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs.
  24. ^ a b c Talbi, M., "แนขabra or al-Manแนฃลซriyya", in: Encyclopaedia of Islam, 2nd ed., Edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs. [tanpaย ISBN] Templat:Page?
  25. ^ Brett 2017, hlm.ย 80.
  26. ^ Jiwa, Shainool (2017). The Fatimids: 1 โ€“ The Rise of a Muslim Empire (dalam bahasa Inggris). I.B. Tauris (in association with the Institute of Ismaili Studies). ISBNย 978-1-78672-174-7.
  27. ^ Rogers, J.M., J.M. Rogers and J. Jomier, "al-แธฒฤhira", in: Encyclopaedia of Islam, 2nd ed., Edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs.
  28. ^ O'Kane 2016.
  29. ^ Hathaway, Jane (2012). A Tale of Two Factions: Myth, Memory, and Identity in Ottoman Egypt and Yemen. SUNY Press. hlm.ย 97. ISBNย 978-0791486108. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 March 2024. Diakses tanggal 2 April 2018.
  30. ^ Podeh, Elie (2011). "The symbolism of the Arab flag in modern Arab states: between commonality and uniqueness*: The Symbolism of the Arab Flag". Nations and Nationalism (dalam bahasa Inggris). 17 (2): 419โ€“42. doi:10.1111/j.1469-8129.2010.00475.x. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 September 2024. Diakses tanggal 8 August 2023.
  31. ^ a b c d e f g h i j k l m Bosworth, Clifford Edmund (2004). "The Fatimids". The New Islamic Dynasties: A Chronological and Genealogical Manual (dalam bahasa Inggris). Edinburgh University Press. hlm.ย 63โ€“65. ISBNย 978-0748696482.
  32. ^ Wilson B. Bishai (1968). Islamic History of the Middle East: Backgrounds, Development, and Fall of the Arab Empire. Allyn and Bacon. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 August 2021. Diakses tanggal 11 November 2020. Nevertheless, the Seljuqs of Syria kept the Crusaders occupied for several years until the reign of the last Fatimid Caliph al-Adid (1160โ€“1171) when, in the face of a Crusade threat, the caliph appointed a warrior of the Seljuq regime by the name of Shirkuh to be his chief minister.
  33. ^ Delia Cortese and Simonetta Calderini (2006), Women and the Fatimids in the World of Islam, pp. 111โ€“14.

Sumber

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Kekhalifahan Abbasiyah

Nativist Prophets of Early Islam. Daftary, Farhad; Jiwa, Shainool (2017). The Fatimid Caliphate: Diversity of Traditions (dalam bahasa Inggris). I.B. Tauris

Dinasti Fathimiyah

Khalil (2016). "A Survey of Ismaili Studies (Part 1): Early Ismailism and Fatimid Ismailism". Religion Compass. 10 (8): 191โ€“206. doi:10.1111/rec3.12205.

Dinasti Ayyubiyah

Urbaine; De Smet, D.; Van Steenbergen, J. (2001), Egypt and Syria in the Fatimid, Ayyubid, and Mamluk eras III, Peeters Publishers, ISBNย 90-429-0970-6 Willey

Yerusalem

Books. hlm.ย 15. ISBNย 0-8146-5081-3. Zank, Michael. "Abbasid Period and Fatimid Rule (750โ€“1099)". Boston University. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-09-10

Musa

ย 319. ISBNย 9781741044560. Urbain Vermeulen (2001). Egypt and Syria in the Fatimid, Ayyubid, and Mamluk Eras III: Proceedings of the 6th, 7th and 8th International

Masjid

ISBN 0-521-26728-5. Bierman, Irene A. (December 16, 1998). Writing Signs: Fatimid Public Text. University of California Press. hlm.ย 150. ISBN 0-520-20802-1

Kesultanan Mamluk (Kairo)

ISBNย 978-90-04-11373-2. Vermeulen, Urbain; Smet, Daniel De (1995). Egypt and Syria in the Fatimid, Ayyubid and Mamluk Eras (dalam bahasa Inggris). Peeters Publishers. hlm

Nuruddin Zanki

dengannya pada waktunya kelak. Zengi Salahuddin Ayyubi Aleppo Damaskus Fatimid Pertempuran Ascalon Perang Salib Maalouf, Amin. The Crusades Through Arab